
Hampir saja lupa, jika Brian menitip sebuah mainan yang bernama lato-lato pada Deni. Brian begitu menginginkan mainan itu, hingga Deni tidak boleh lupa untuk membeli mainan yang sangat di dambakan oleh Brian tersebut.
Tak jauh dari tempatnya bekerja, Deni mendatangi sebuah pusat perbelanjaan. Disana mungkin Deni akan menemukan dengan mudah mainan yang bernama lato-lato tersebut.
Deni memasuki pusat perbelanjaan itu, mencari tenan yang menjual beragam mainan. Tenan pertama, Deni tidak menemukan mainan yang diinginkan oleh Brian. Hingga Deni harus mencari ke tenan lainnya.
Tenan lainnya yang berada di lantai atas, terpaksa harus membuat Deni menaiki eskalator. Sambil memandangi setiap tenan yang ada. Deni mulai naik ke lantai atas mall tersebut.
Deni melihat tulisan besar yang sepertinya disana menjual mainan anak-anak. Deni langsung bergegas menuju tenan tersebut. Namun baru akan masuk ke dalam tenan itu. Deni langsung mengurungkan niat, setelah dia berpapasan dengan seorang Roy. Kini Roy hanya seorang diri saja, tidak ada bodyguard yang biasanya mengawal dirinya kemana pun dia pergi.
"Aku pikir kamu tidak akan berani pergi sendiri. Tanpa bodyguard berbadan besar, kamu akan jadi ayam sayur. Ternyata kamu berani juga yah." ucap Deni dengan begitu kerasnya di hadapan Roy.
Roy yang terpancing emosi oleh ucapan Deni. Langsung emosi, hingga Roy langsung mendorong tubuh Deni dengan begitu kencangnya.
"Apa maksud loe!" Bentak Roy mendorong Deni.
__ADS_1
Deni yang tak terima, langsung mendorong balik Roy.
"Kalau loe berani, kita duel satu lawan satu. Jangan kayak kakak loe, pecundang. Cuman berani pada perempuan saja." Provokasi Deni.
Tak terima, Roy langsung melayangkan sebuah pukulan keras di pipi kanan seorang Deni. Kemudian langsung di balas oleh Deni dengan pukulan tak kalah keras. Keduanya langsung berantem tepat di depan tenan mainan.
Beberapa orang langsung mencoba memisahkan perkelahian dari Roy dan Deni. Juga sekuriti yang ada di mall itu. Mereka langsung memisahkan Deni dan Roy yang saling baku hantam.
Begitu keduanya dapat di pisahkan, baik Roy dan Deni di bawa ke tempat sekuriti. Keduanya di mintai keterangan alasan berantem di mall tersebut.
"Kalian kenapa berantem?" tanya kepala sekuriti.
Baik Roy dan Deni, sama-sama terdiam. Keduanya saling mencuri pandang satu sama lain. Baik Roy dan Deni sama-sama mengira salah satu dari mereka akan berbicara. Padahal keduanya sama-sama diam.
"Jawab!" Bentak kepala sekuriti sambil memukul meja.
__ADS_1
"Orang ini duluan yang menyerang saya. Dia tiba-tiba memancing emosi saya." Terang Roy.
"Tapi yang mengunakan fisik duluan adalah dia. Dia mendorong saya, juga memukul saya terlebih dahulu. Jadi dia adalah pelaku utama di sini." balas Deni dengan tegasnya.
Roy yang tak terima, langsung berdiri. Sambil menunjuk ke arah wajah Deni. Roy langsung memaki Deni dengan begitu kasar. Deni menjelaskan jika Deni tidak memancing dirinya dengan perkataan. Mungkin Roy tidak akan marah. Tapi Deni melakukan itu, hingga akhirnya Roy terpancing emosi. Akhirnya Roy mendorong Deni, juga menonjok dirinya.
Tak terima Roy menunjuk dirinya. Deni juga turut berdiri. Bahkan Deni berani memukul meja dengan begitu kerasnya. Sebelum akhirnya berdiri untuk saling bertatapan dengan Roy. Kata-kata makian langsung Deni lontarkan untuk Roy. Hingga keduanya adu mulut.
Adu mulut di antara keduanya akhirnya berakhir, setelah kepala sekuriti kembali meminta Deni dan Roy untuk diam. Kepala sekuriti itu meminta pada Deni dan Roy untuk tidak berbicara lagi. Mengingat dirinya yang akan memutuskan siapa yang bersalah. Hingga hukuman apa yang akan di jatuhkan pada keduanya.
Demi keadilan bersama, akhirnya kepala sekuriti itu memutuskan untuk menghukum keduanya. Sebagai hukuman untuk keduanya, mereka berdua harus membayar biaya kerusakan yang ada di tenan. Begitu juga sanksi administratif yang harus di bayar oleh Deni dan Roy. Selain itu, Deni dan Roy di larang untuk masuk kembali ke dalam mall tersebut seumur hidup. Sanksi yang di rasa sudah cukup adil bagi keduanya.
Tak ada keberatan untuk keduanya. Deni mengeluarkan uang dari dalam dompetnya. Sebelum akhirnya dia pergi tanpa permisi. Dia mengakui kesalahannya, walaupun dia masih memiliki dendam pada seorang Roy.
Begitu juga dengan Roy. Dia tak menolak sanksi yang di berikan pihak mall kepada dirinya. Roy menerima sanksi itu, berupa denda yang harus di bayar Roy. Roy membayar dengan nominal yang telah di sepakati. Tak lama setelah Deni pergi, Roy pun meninggalkan kantor sekuriti tersebut.
__ADS_1