
Ivan, pasien baru itu bernama Ivan. Seperti yang di ceritakan oleh perawat sebelumnya, Ivan adalah seorang pria yang depresi usai di tinggal nikah oleh tunangannya sendiri. Tentu hal yang tidak mudah bagi seseorang. Ketika harus kehilangan orang yang di cintai. Apalagi sudah menjadi seorang tunangan. Hal yang tidak akan mudah bagi Ivan tentunya.
Hampir seharian obat bius itu bekerja, kini Ivan mulai sadar. Namun Ivan yang terlihat malas untuk bangun dari ranjangnya. Hanya menatap ruangan kosong di salah satu sudut ruang praktek dari Deni. Dia enggan membangun tubuhnya yang sebenarnya sudah mampu dia gerakkan.
Ruangan ini hampir sama dengan ruangan di rumah sakit jiwa. Ruang kosong tanpa apapun, dengan dinding berwarna putih yang hampir mirip. Ini kembali mengingatkan Ivan pada rumah sakit jiwa. Tempat di mana Ivan begitu membenci dirinya. Dirinya harus bersama orang-orang yang menurut Ivan tidak layak untuk bersama dirinya.
Ivan yang sejak kedatangannya ke tempat praktek Deni memanggil nama Indah, kembali teringat sosok perempuan cantik yang sempat bertukar cincin dengan dirinya tersebut. Hingga Ivan kembali berteriak memanggil nama Indah. Ivan meneriakkan nama Indah yang langsung terdengar ke seluruh penjuru tempat praktek dari Deni.
Beberapa perawat langsung menghampiri Ivan di ruangannya. Mereka berusaha menenangkan Ivan yang terlihat tidak nyaman berada di ruangan kosong tersebut. Hingga Ivan terus meneriakkan nama seorang Indah. Kedua perawat itu juga harus menutup telinga mereka masing-masing. Maklum, suara keras yang di hasilkan dari mulut seorang Ivan. Begitu cukup keras, hingga kedua perawat itu harus menutup rapat telinga mereka berdua.
Teriakan keras dari seorang Ivan, akhirnya juga terdengar ke telinga seorang Deni. Deni yang sebenarnya ingin mengerjakan beberapa dokumen yang harus di kirim pada kantor pusat. Terpaksa harus menunda pekerjaannya. Deni pun langsung menghampiri Ivan di ruangannya yang semakin kencang teriak.
"Kenapa dia?" Tanya Devi pada kedua perawat.
"Tidak tahu pak, dia terus berteriak dari tadi. Kuping kami saja begitu sakit mendengar dia berteriak dengan begitu kerasnya." Ucap salah seorang perawat sambil menutup kupingnya.
Deni mulai mendekati Ivan, namun dengan respon Ivan yang cepat. Deni di dorong oleh Ivan dengan begitu keras. Kedua perawat itu mencoba menolong Deni, namun Deni yang memiliki kuda-kuda yang kuat. Masih kokoh berdiri, dengan dorongan kuat yang di lakukan oleh Ivan tersebut.
Deni tidak menyerah begitu saja, dia tetap berusaha untuk kembali mendekati seorang Ivan. Deni kita menggunakan beberapa teknik yang selam ini ampuh untuk membuat seorang pasien bisa menjadi lebih tenang. Kedua mata Deni langsung menatap ke arah bola mata Ivan. Hingga Ivan pun langsung terhipnotis dengan tatapan yang Deni lakukan.
Ivan yang sedari tadi berteriak dengan begitu kencangnya. Perlahan mulai menurunkan volume teriakannya. Dia mulai berfokus pada kedua bola mata seorang Deni. Ivan terlihat begitu luluh dengan apa yang Deni lakukan.
__ADS_1
Melihat Ivan yang sudah mulai melunak, Deni pun langsung mengambil inisiatif cepat. Dia berjalan menghampiri Ivan. kemudian mengajak Ivan untuk mengobrol sejenak dengan Deni. Dengan cara itu, Deni mengharapkan Ivan akan semakin tenang lagi.
"Kamu kenapa?" Tanya Deni pada Ivan.
Ivan tidak menjawab pertanyaan dari Deni. Dia duduk di atas ranjangnya, dengan posisi kaki yang di tekuk. Hanya ada kesedihan di matanya. Dengan air mata yang mulai terbentuk di kedua bola matanya.
Melihat wajah Deni yang begitu meyakinkan, Ivan perlahan mulai terbuka pada Deni. Dia melihat sosok Deni yang kharismatik. Tentu sangat cocok untuk di ajak mengobrol dari hati ke hati. Dengan begitu, Ivan bisa mencurahkan isi hatinya pada seorang Deni.
Melihat Deni yang sudah mulai mengendalikan Ivan. Kedua perawat yang sempat mencoba menenangkan Ivan. Akhirnya memilih keluar dari ruangan Ivan. Mungkin keduanya harus memberikan waktu yang cukup bagi Ivan. Sebab Ivan benar-benar butuh waktu berdua bersama Deni.
Begitu pintu sudah tertutup dengan begitu rapatnya. Ivan mulai menceritakan kesedihan yang di alami oleh dirinya. Dimana Ivan harus merasakan sebuah gambaran kesedihan dari hidupnya yang cukup malang. Dia kehilangan orang yang paling dia cintai. Sosok perempuan yang menurutnya mampu mengubah dunianya.
Semuanya bermula saat Ivan harus bekerja keluar kota. Ivan dan tunangannya itu harus menjalani hubungan jarak jauh atau LDR. Ivan awalnya percaya, jika pacarnya itu akan tetap setia pada dirinya. Namun semuanya berubah, saat tunangannya itu mulai berkenalan dengan pria baru. Dia yang sudah bertunangan dengan Ivan, memilih untuk memulai kisah baru dengan pria lain. Pria yang baru di kenal oleh dirinya. Hingga rela meninggalkan Ivan yang telah bertunangan dengan dirinya.
Deni terus menguatkan Ivan. Dia menepuk pundak Ivan sebagai penyaluran energi positif bagi Ivan. Deni ingin Ivan lebih kuat lagi. Walaupun Deni sadar, itu bukan hal yang mudah bagi Ivan. Sabar dan ikhlas adalah dua hal yang sulit untuk di lakukan oleh manusia. Sekalipun itu adalah perintah dari Tuhan. Namun sabar dan ikhlas memiliki tingkatan yang cukup tinggi, yang jarang bisa di gapai oleh setiap manusia yang biasa tersebut.
Ivan yang sebenarnya ingin menangis, akhirnya menangis dengan begitu hebatnya. Dia mengeluarkan semua beban yang ada dalam pikirannya itu dengan menangis begitu hebatnya. Menangis adalah cara terbaik yang Ivan harus lakukan saat ini. Mengingat Ivan menyimpan semua amarah dan sebagainya dalam pikirannya.
Deni tidak langsung memberikan masukan atau kata mutiara yang biasa Deni berikan pada setiap pasiennya. Deni hanya meminta Ivan untuk bisa sabar terdahulu. Deni bersabar, Deni yakin Ivan akan berada di level yang lebih tinggi lagi.
Perlahan Ivan mulai tenang, hingga Ivan bisa di ajak untuk berbicara dengan sangat baik. Deni pun terus mengajak Ivan untuk mengobrol lebih jauh. Hingga rasa penasaran dari Deni akan gelang yang di kenakan oleh Ivan mungkin akan terpecahkan. Gelang biru yang hanya di miliki oleh Bella dan Bio. Namun juga di kenakan oleh Ivan.
__ADS_1
"Van, apa aku boleh tanya sesuatu sama kamu?" Tanya Deni.
"Tanya apa dok?" Tanya balik Ivan.
Deni sebenarnya ragu untuk menayangkan hal tersebut. Sebab itu lebih ke arah privasi dari seorang Ivan. Mungkin Deni akan menggunakan bahasa lain yang akan lebih terlihat psikologi lainnya dengan pertanyaan yang dia lontarkan.
"Aku boleh tahu sesuatu dari kamu?" Tanya Deni ragu-ragu.
"Boleh dok, apapun saya rasa boleh dokter tanyakan pada saya." Ivan yang mulai terbuka.
"Kamu dapat gelang berwarna biru itu dari mana?" Tanya Deni dengan begitu tegasnya.
Ivan melirik ke arah gelang yang di kenakan olehnya. Dia melihat gelang itu beberapa saat. Sebelum Ivan kembali mengingat asal-usul dari gelang yang di kenakan oleh dirinya tersebut.
"Emm...." Ivan masih mengingatnya.
Deni yang sudah tidak sabar untuk mendapatkan jawaban dari Ivan. Begitu tak sabar untuk menunggu jawaban dari Ivan yang cukup lama tersebut. Deni hanya ingin tahu saja, tapi Ivan begitu lama. Namun dia harus tetap sabar. Sebab untuk menjadi orang yang berada di puncak, Deni harus bersabar dengan sekuat tenaga.
Akhirnya Ivan mengatakan asal-usul dari gelang yang di kenakan oleh dirinya. Gelang biru itu Ivan dapat dari salah satu temannya yang berada di rumah sakit jiwa. Salah satu teman dari Ivan itu tentu Bio. Mengingat Ivan dan Bio sama-sama pernah di rawat di rumah sakit jiwa yang sama. Namun Deni yang tidak tahu teman dari Ivan itu siapa. Tentu sangat penasaran.
Rasa penasaran Deni semakin besar, saat Deni mendengar Ivan menyebutkan ciri-ciri dari temannya tersebut. Ciri-ciri teman Ivan begitu mirip dengan sosok seorang Bio. Tapi apakah Bio berada di rumah sakit jiwa. Sedang apa Bio di rumah sakit jiwa? Tentu itu adalah pertanyaan yang cukup sulit untuk Deni temukan jawabannya.
__ADS_1
Deni curiga Bio mengalami gangguan jiwa. Tapi sepengetahuan seorang Deni, Bio saat ini berada di luar negeri. Sesuai dengan photo-photo Bio di sosial media miliknya. Begitu juga dengan pemberitaan yang ada tentang Bio yang berada di luar negeri. Ini menjadi pertanyaan yang seakan sulit untuk dipecahkan oleh Deni. Deni harus mendatangi rumah sakit jiwa tempat Ivan di rawat. Sebab itu satu-satunya kunci dari Deni untuk mengetahui kebenaran yang sesungguhnya.