Oktrouble

Oktrouble
Saran Nia


__ADS_3

Semua sudah selesai. Semua pecahan kaca yang ada di kamar Bella, langsung kembali bersih. Usai di sapu oleh Bella, lalu di pel oleh Deni. Kamar Bella kembali rapi. Terlihat sama seperti sebelum Bella menghancurkan kamarnya sendiri.


Bella masih dalam pengaruh obat bius. Deni mendekat ke arah Bella yang terlihat begitu payah. Dia duduk di samping Bella. Lalu dengan lembut mengusap rambut halusnya.


"Maafkan kakak sayang, kakak belum bisa sepenuhnya mengobati kamu. Kakak janji akan segera mencari formula untuk dapat mengobati kamu." ucap Deni mengiba.


Nia menghampiri Deni. Mengusap pundak Deni, memberikan sedikit kekuatan untuk Deni. Hingga Deni bisa kembali kuat dengan sendirinya.


"Ini ujian berikutnya untuk kamu. Kamu harus siap. Kamu harus kuat sayang." ucap Nia.

__ADS_1


"Tapi kenapa harus seperti ini?" tanya Deni mengiba.


"Kita tidak tahu apa yang terjadi. Tapi ini mungkin ujian buat kamu untuk naik level." jawab Nia dengan penuh keyakinan.


Deni kembali menunduk. Menghakimi dirinya yang tak berdaya untuk menyembuhkan Bella. Bagaimana bisa, Deni seorang psikiater yang namanya sudah tenar. Gagal menyembuhkan adiknya sendiri. Padahal Deni selama ini berhasil menyembuhkan orang-orang depresi dengan metodenya sendiri. Tapi Deni yang setiap hari bertemu dengan Bella, bercengkrama dengan dirinya. Tapi Deni tidak mampu, ia seolah tidak bisa berbuat banyak dalam membantu adiknya sendiri terbebas dari depresi berat yang di hadapi.


"Apa aku masih pantas untuk di sebut psikiater. Sementara aku gagal dalam membantu adikku sendiri untuk sembuh." ucap Deni yang semakin tak berdaya.


Sekali pun motivasi telah Nia berikan. Deni nampak masih terlihat begitu bersedih. Dia tetap tak bisa melihat dirinya dalam hal yang positif. Deni masih saja terus menyalah dirinya sendiri yang benar-benar payah dalam menangani kasus depresi yang di hadapi oleh Bella.

__ADS_1


Nia sebenarnya ragu untuk memberikan saran pada Deni. Deni adalah seorang yang di kenal sedikit egois. Semua keputusan dari Deni, terkadang sifatnya mutlak. Hingga Deni kadang sulit untuk menerima saran dari orang lain.


Namun untuk kali ini, sepertinya Nia harus memberikan saran pada seorang Deni. Saran baik yang mungkin saja harus Deni terima dengan baik juga. Mengingat ini menyangkut akan kesembuhan daripada Bella sendiri. Deni harus mau untuk menerima saran dari Nia di kali ini. Mengingat ini sudah darurat.


Nia tidak langsung mengatakan sarannya pada Deni secara frontal. Tapi Nia berusaha membuka pembicaraan dengan sedikit lebih baik. Nia membukanya dengan pembukaan yang amat sangat indah. Nia memuji Deni sebagai seorang psikiater. Namun Nia juga tak lupa untuk membuat Deni tidak besar kepala. Nia menggunakan kalimat yang cukup baik dalam memberikan saran pada Deni.


Deni menerima semua ucapan dari seorang Nia. Mungkin ini bagus untuk dirinya. Namun saat Nia menyarankan pada Deni akan Bella yang seharusnya di bawa ke klinik tempat Deni praktek. Baru Deni meradang akan hal tersebut. Deni yang awalnya begitu senang dengan puja-puji yang diucapkan oleh Nia. Tiba-tiba marah saat mendengar saran dari seorang Nia.


Dengan kata-kata kasar, Deni membalas ucapan dari Nia tersebut. Deni tak terima Bella harus di bawa ke klinik tempat dia bekerja. Sebab jika itu di lakukan, akan banyak rekan kerja Deni yang tahu. Jika adiknya sendiri terkena depresi. Itu aib bagi seorang Deni. Hingga Deni enggan untuk melakukan hal tersebut.

__ADS_1


Nia yang mengira saran darinya akan di terima oleh Deni dengan baik. Langsung bersedih saat mendengar balasan dari Deni. Deni tetaplah Deni yang keras kepala. Dia tak mau untuk menerima saran dari orang lain. Mementingkan egonya sendiri yang di kenal besar. Hingga kebaikan pun di anggap Deni sebagai sebuah celana bagi dirinya.


__ADS_2