
Tak kunjung membaik hubungan antara Nia dan Deni. Keduanya masih perang dingin. Deni tidak mengeluarkan sepatah kata pun pada Nia. Sementara Love dan Brian terus mengobrol santai dengan Deni.
Begitu juga dengan Nia yang tidak terlalu untuk banyak bicara dengan Deni. Masih ada kekesalan dari dalam diri Nia akan sikap acuh seorang Deni. Hingga Nia memilih untuk tak banyak bicara pada Deni.
Selesai sarapan, Nia lebih tertarik untuk menyiapkan perlengkapan sekolah dari Love dan Brian. Padahal biasanya Nia begitu rajin untuk menyiapkan perlengkapan kerja yang akan di gunakan oleh Deni.
Deni juga seperti sudah sadar dengan sikap Nia. Dia memahami Nia yang masih cukup marah pada seorang Deni. Sehingga Deni harus menyiapkan segala perlengkapan kerja itu secara mandiri. Tanpa bantuan Nia sama sekali.
Tidak ada ciuman yang biasa di berikan Deni pada Nia ketika akan berangkat bekerja. Deni begitu dingin layaknya angin yang berhembus di pagi hari ini. Sikapnya yang dingin, semakin membuat suasana sulit untuk mencair. Padahal seharusnya Deni bisa lebih dewasa dalam menghadapi Nia sebagai istrinya.
__ADS_1
Deni adalah seorang psikiater hebat dengan track record yang baik. Tapi Deni adalah seorang manusia biasa yang juga memiliki banyak kekurangan. Dia tak lepas dari sebuah kesalahan yang mungkin saja bisa di lakukan oleh seorang Deni.
Ego Deni yang tinggi, terkadang menghancurkan dirinya sendiri. Dengan egonya yang tinggi itu, terkadang membuat Deni harus bertengkar dengan banyak pihak yang baginya tidak sesuai dengan pemikiran Deni. Hingga Deni sempat di juluki si kepala batu. Sebab Deni memang terkenal egois.
Deni tiba di tempat prakteknya. Tidak seperti biasanya, tidak ada orang di luar yang menyambut kedatangan Deni. Bahkan sekuriti yang setiap hari bertugas menyambut kedatangan Deni. Di hari ini tidak muncul. Hingga ada sesuatu yang janggal, Deni rasakan di hari ini.
Deni baru menyadari kejanggalan itu terjadi setelah melihat beberapa orang yang berlari dengan tergesa-gesa menuju ke sebuah kamar. Deni menghentikan langkah salah seorang itu.
"Di lantai atas ada seorang pasien yang bunuh diri Dok." jawab salah satu staf Deni.
__ADS_1
"Pasien siapa?" tanya Deni dengan wajah penuh ketakutan.
"Sepertinya pasien dokter Deni, saya pikir." jawab staf Deni itu kembali.
Tanpa pikir panjang, Deni langsung berlari menuju ke lantai atas. Dia ingin melihat pasien yang melakukan bunuh diri tersebut. Mungkin saja pasien itu benar adalah pasien dari Deni.
Kumpulan orang yang mengerubungi pasien yang bunuh diri, sedikit menyulitkan Deni untuk melihat wajah pasien yang bunuh diri tersebut. Hingga akhirnya dengan sedikit manuver dari seorang Deni. Akhirnya Deni pun berhasil merangsek untuk melihat pasien yang bunuh diri tersebut.
Deni terkejut! Air matanya perlahan jatuh saat melihat bagaimana pasiennya yang bernama Sharon melakukan bunuh diri. Pasien Deni yang masih remaja ini, sempat mengalami kemajuan dalam pengobatan yang di lakukan oleh Deni. Sehingga akan sangat berat bagi Deni saat melihat Sharon yang pada akhirnya melakukan tindakan bunuh diri. Ini hal yang cukup berat bagi seorang Deni.
__ADS_1
Tak lama dua orang polisi yang di hubungi oleh pihak klinik, datang untuk melihat kondisi dari seorang Sharon. Mereka pun membawa jasad seorang Sharon yang melakukan bunuh diri dengan menancapkan pecahan kaca pada bagian dada dan perutnya.
Deni meminta izin pada kepala klinik untuk bisa mendampingi Sharon selama di lakukan autopsi di rumah sakit. Deni tidak ingin membiarkan adanya sebuah kesalahpahaman yang terjadi nantinya.