
Masih ada sedikit kekecewaan dari seorang Deni. Kekecewaan itu tidak bisa Deni sembunyikan begitu saja. Matanya nampak terlihat begitu sayu, ekspresi wajahnya terlihat begitu tidak semangat. Deni terlihat begitu tak bahagia di pagi ini.
Brian menceritakan keseruan yang terjadi di play group. Dia menceritakan semua teman-temannya yang terlihat bahagia dengan mainan yang di milikinya. Brian ingin mainan seperti yang di miliki oleh temannya tersebut. Sehingga Brian meminta Deni untuk membeli mainan yang sama seperti teman-temannya.
Deni yang tak fokus mendengar cerita dari Brian, nampak bingung. Dia terlihat bingung untuk menjawab pertanyaan dari Brian. Sebab sedari tadi Deni terus memikirkan kondisi dari Bella.
"Kamu ingin apa sayang?" Tanya Deni pada Brian.
Brian tak menjawab pertanyaan dari Deni. Brian terlihat begitu kesal pada Deni yang tak mendengarkan dirinya berbicara. Hingga Brian langsung cemberut saat Deni menanyakan benda yang ingin di beli oleh Brian.
__ADS_1
Deni melirik ke arah Nia yang sedikit tertawa melihat ekspresi marah seorang Brian. Nia pikir, Brian tak pernah semarah itu. Hingga Brian terlihat begitu lucu saat mempertontonkan ekspresi marahnya pada Deni.
"Dia ingin mainan baru yang sama kayak teman-temannya di kelas." Jawab Nia yang berusaha menahan tawa.
Dengan segera Deni memegangi tangan Brian. Dia meminta maaf pada Brian. Lalu Deni menanyakan mainan yang ingin di beli oleh Brian.
Melihat Deni sudah mendengarkan dirinya. Brian kembali tersenyum, dengan segera Brian mengatakan mainan yang ingin di belinya. Mainan itu adalah lato-lato. Mainan yang banyak di mainkan oleh teman-temannya di kelas.
Demam lato-lato turut melanda kelas Brian. Hingga Brian ingin memiliki mainan yang sama dengan beberapa temannya. Terutama lato-lato yang terbuat dari plastik yang berkualitas. Hingga Brian bisa menunjukkan pada teman-temannya akan lato-lato yang di miliki olehnya.
__ADS_1
Deni berjanji, sepulang dari tempat kerja. Deni akan membeli mainan yang di inginkan oleh Brian.. Seketika Brian langsung tersenyum bahagia mendengar ucapan dari Deni. Brian tak sabar untuk memainkan lato-lato bersama beberapa temannya.
Deni melirik ke arah jam dinding. Sebentar lagi jam kerja Deni akan segera di mulai. Hingga Deni harus segera pergi meninggalkan rumah. Sebelum Deni meninggalkan rumah, Deni menyempatkan diri untuk melihat kondisi seorang Bella.
Deni semakin sedih melihat kondisi Bella yang semakin memburuk. Gangguan mental, telah membuat Bella terlihat seperti seorang perempuan gila. Dia membuang sepiring nasi yang Nia hidangkan untuk sarapannya ke atas kasur. Kemudian Nia mengacak-acak nasi itu tersebut dengan sendoknya.
Deni hanya bisa menangis melihat kondisi Nia yang semakin tak menunjukkan perkembangan. Dirinya adalah seorang psikiater handal. Tapi Deni tidak mampu menyembuhkan gangguan mental yang di alami oleh adiknya sendiri. Pukulan paling berat dalam hidup seorang Deni.
Bella yang melihat Deni berada di depan pintu kamar. Langsung melempari Deni dengan nasi yang berada di atas kasurnya. Dia tertawa saat melemparkan nasi itu ke arah Deni. Pakaian Deni yang sudah rapi. Tentu tidak ingin terkena nasi yang di lemparkan oleh Bella.
__ADS_1
Deni dengan segera pergi meninggalkan kamar Bella. Bella sendiri langsung memaki seorang Deni, begitu dia pergi dari hadapannya. Bella terlihat begitu marah pada Deni.