
Menikmati secangkir kopi serta setoples biskuit di halaman rumahnya. Deni begitu menikmati setiap berita yang dia baca akan Bio. Deni tak henti tersenyum membaca berita yang benar-benar menyudutkan Roy dan Bio tersebut. Apalagi banyak yang memprediksi Bio dan Roy akan tamat dengan berita yang tersebar tersebut. Pasalnya Roy telah menyembunyikan keberadaan Bio yang depresi berat.
Tak hanya dari media online saja, Deni di buat tersenyum juga akan komentar dari beberapa orang di akun sosial media dari Bio. Photo-photo Bio sedang liburan di luar negeri. Menjadi perhatian tersendiri bagi banyak orang. Mereka yang akhirnya tahu akan kebenaran dari photo itu. Banyak mengedit photo itu dengan photo lain. Beberapa komentar pedas dan lucu yang di lontarkan oleh beberapa akun di sosial media Bio. Terus mengocok perut seorang Deni. Rasanya dia begitu luas dengan apa yang terjadi pada Bio dan Roy. Ini akan semakin menjadi tamparan yang keras bagi keduanya. Apalagi Bio dan Roy telah membuat Deni sakit hati. Akibat perbuatan dari Bio dan Roy, Deni sempat di landa sebuah kesedihan. Untungnya Deni bisa bangkit, hingga Deni tidak mengalami depresi seperti yang Bella alami.
Nia yang mengantarkan kue berikutnya pada Deni. Tertarik pada senyum tipis yang Deni perlihatkan. Deni yang terlihat bahagia, menjadi pertanyaan tersendiri bagi Nia. Deni tidak pernah terlihat sebahagia seperti itu sebelumnya. Hingga itu jadi pertanyaan tersendiri bagi seorang Nia.
"Ada apa, kamu tidak seperti biasanya?" Tanya Nia duduk di samping Deni.
"Tidak ada apa-apa. Aku hanya membaca beberapa komentar lucu dari beberapa akun di sosial media Bio. Mereka melontarkan kata-kata yang membuatku tersenyum." Jawab Deni sambil meminum teh hangat yang Nia hidangkan.
Nia yang penasaran langsung mengecek beberapa komentar yang masuk ke akun sosial media Bio. Dari beberapa komentar yang ada, memang ada yang lucu dan mengocok perut. Tapi lebih banyak komentar jahat yang di layangkan oleh netizen pada sosial media seorang Bio. Tentu komentar jahat itu tidak pantas di tulis untuk Bio. Sebab komentar itu akan sangat menyakitkan hati seorang Bio saat dia melihatnya nanti. Apalagi Bio sedang berada dalam keadaan depresi berat.
__ADS_1
"Apa kamu ikut tertawa saat beberapa akun menulis komentar yang cukup pedas pada Bio?" Tanya Nia dengan cukup serius.
"Tentu saja, aku rasa dia layak mendapatkannya." Jawab Deni dengan santainya.
"Aku pikir kamu sama jahatnya seperti Bio dan Roy. Kamu memperjuangkan hak atas Bella, tapi kamu sendiri melakukan kejahatan yang sama pada Bio dan Roy. Apa bedanya kamu dengan mereka." Balas Nia dengan begitu tegasnya.
Deni yang tak terima dengan ucapan dari Nia. Langsung melempar gelas berisi air teh yang di pegangnya. Dia nampak tidak terima dengan ucapan dari Nia tersebut. Setelah melempar gelas tersebut, Deni langsung memaki Nia dengan begitu kasarnya.
"Ini bukan soal peduli atau tidak, tapi kamu sebagai seorang psikiater seharusnya bisa lebih menghargai perasaan dari Bio. Itu yang aku minta Deni." Balas Nia dengan nada tinggi.
Mendengar keributan yang terjadi antara Nia dan Deni. Kedua anaknya yang mengintip di balik pintu rumah mereka. Terlihat cukup bersedih. Mereka kerap melihat Nia dan Deni yang bertengkar dengan begitu hebatnya di depan mereka.
__ADS_1
Psikis dari kedua anak Nia dan Deni semakin terganggu, saat dengan ringannya. Deni menampar wajah Nia. Nia yang merasakan kesakitan atas tamparan yang Deni lakukan, seketika menangis. Dia merasakan bagaimana sakitnya tangan suaminya tersebut menampar wajahnya.
"Aku pikir kamu sudah berubah, aku pikir kamu telah menjadi Deni yang lebih baik lagi. Ternyata aku salah. Aku salah besar. Kamu tetap menjadi seorang Deni yang kasar. Tidak memiliki hati, juga tidak pernah menghargai istri kamu sendiri." Amuk Nia yang mendorong Deni.
Deni yang sebenarnya menyesali perbuatannya pada Nia. Hanya membiarkan tubuhnya di pukuli oleh Nia dengan begitu hebatnya. Nia merasa apa yang telah Deni lakukan pada dirinya sangat tidak beralasan. Deni menampar Nia dengan begitu kerasnya, hanya karena Nia mengingatkan Deni akan perasaan seseorang. Deni begitu mudah menampar Nia dengan tangan kanannya. Padahal Deni tahu betul, akan perasaan seseorang. Sebab Deni adalah seorang psikiater yang mempelajari akan perasaan seseorang. Dengan seperti itu, Deni seakan melupakan semua tanggung jawab dari dirinya akan nilai dari sebuah perasaan.
Nia masuk kedalam rumahnya, menangis hebat dengan sikap kasar yang Deni tunjukkan pada dirinya. Kedua anak Nia mencoba menenangkan Nia, keduanya meminta Nia untuk lebih bersabar lagi.
Deni yang mulai sadar akan sikapnya terlalu arogan. Begitu menyesali apa yang telah di lakukan oleh dirinya pada Nia. Baginya apa yang telah di lakukan pada Nia sangat tidak pantas. Deni melakukan hal yang tidak pantas pada Nia. Dia menampar Nia dengan begitu kerasnya. Padahal Nia hanya mengingatkan Deni akan hal kebaikan. Tapi Deni malah menamparnya dengan begitu keras.
Deni kembali duduk di kursi miliknya. Dia mulai menangis dengan begitu hebatnya. Dia menyesali perbuatannya yang tidak terpuji tersebut. Deni seharusnya bersyukur memiliki seorang Nia yang selalu mengingatkan Deni akan hal kebaikan. Tapi Deni justru malah melupakan itu. Dia malah membuat Nia menangis dengan perkataan kasar serta sikapnya yang kasar. Hal yang tidak harus di lakukan oleh Deni pada Nia.
__ADS_1
Deni ingin meminta maaf pada Nia, tapi apa Nia akan memaafkan seorang Deni. Rasanya berat bagi Nia untuk memaafkan Deni yang telah berulang kali membuat Nia menangis hebat. Baik dari sikap Deni yang arogan, maupun dari perkataan dari Deni yang tak kalah menyakitkan untuk Nia. Deni melakukan itu hampir berulang kali.