
Nia dan Deni harus bekerja keras untuk merapikan kembali rumah mereka yang di acak-acak oleh Bella. Selama Deni dan Nia di luar, Bella mengacak-acak seisi rumah Deni. Pakaian Deni di lempar entah kemana. Begitu juga dengan beberapa koleksi guci Deni dan Nia yang pecah di buat oleh Bella.
Deni dan Nia bahu membahu membersihkan semua pecahan guci dan beberapa piring yang di pecahkan oleh Bella. Sekali pun Deni dan Nia nampak begitu lelah, namun keduanya harus tetap untuk sabar menghadapi Bella yang mengalami gangguan pada mentalnya.
Baru merapikan pecahan piring dan guci. Terdengar dari suara seseorang mengucap salam. Deni meminta Nia untuk melihat orang yang mengetuk pintu rumahnya tersebut. Mungkin ada urusan penting yang hendak di tanyakan pada Nia dan Deni.
Begitu Nia membuka pintu kamarnya. Nia terkejut dengan kedatangan pak RT serta beberapa warga. Terlihat raut wajah marah warga begitu jelas. Begitu juga dengan pak RT yang nampaknya ingin menyampaikan sesuatu yang penting.
Tanpa berlama-lama lagi, Nia langsung meminta pak RT dan rombongan untuk masuk ke dalam rumahnya. Begitu pak RT dan rombongan warga masuk, mereka langsung terkejut. Kondisi rumah Deni dan Nia begitu berantakan. Mungkin ini bukan kapal pecah lagi, tapi kapal yang karam.
"Rumah sebagus apapun kalau berantakan, tetap terlihat kumuh banget yah." ucap salah seorang warga dengan berbisik.
Banyaknya rombongan warga yang datang ke rumah Deni. Membuat sofa di rumah Deni tak cukup untuk menampung mereka. Hanya pak RT serta beberapa warga saja yang bisa duduk di sofa. Sisanya terpaksa harus berdiri di samping sofa.
"Pak RT dan bapak-bapak semua tunggu dulu yah. Saya panggil dulu suami sayanya." pinta Nia.
Nia segera menghampiri Deni yang mulai merapikan bajunya ke dalam lemari. Baru beberapa langkah di hadapannya. Nia langsung di todong sebuah pertanyaan oleh seorang Deni.
"Siapa yang bertamu?" tanya Deni sambil terus merapikan bajunya.
__ADS_1
"Pak RT dan beberapa warga." jawab Nia.
"Buat apa mereka kesini?" tanya Deni menutup pintu lemari.
"Tidak tahu. Tapi mereka meminta untuk bertemu dengan kamu." jawab Nia.
Dengan segera Deni mendatangi pak RT dan beberapa warga di ruang tamunya.
Deni begitu heran dengan kerumunan warga yang memenuhi ruang tamunya. Rumah Deni seperti sedang ada pembagian sembako, hingga banyak warga yang datang. Untuk apa kedatangan mereka ke rumahnya? Tanya Deni dalam hatinya.
"Ada apa pak RT dan para warga datang ke rumah saya?" tanya Deni sambil duduk dengan begitu penasaran.
"Menyampaikan sesuatu?" Deni semakin penasaran.
"Saya mewakili para warga di kompleks ini, meminta agar mbak Bella untuk di kurung di kamar. Bisa juga di pasung. Sebab selama ini kita merasa resah dengan apa yang di lakukan oleh mbak Bella terhadap warga di sini." ucap pak RT.
Deni yang tak terima dengan saran dari pak RT, langsung memukul keras meja. Lalu Deni berdiri, sambil menunjuk dengan jarinya ke arah wajah pak RT.
"Saya tidak akan melakukan itu pada adik saya. Dia sedang sakit, tidak seharusnya di perlakukan demikian. Seharusnya seluruh warga di sini, khususnya pak RT. Bisa mengerti kondisi adik saya. Bukan malah meminta hak yang tidak masuk akal." Bentak Deni.
__ADS_1
Mendengar suara Deni yang terdengar begitu marah. Bella segera mendatangi ruang tamu. Dia mencoba menenangkan Deni yang begitu emosi.
Pak RT yang tidak ingin terjadi keributan. Tidak membalas ucapan dari seorang Deni dengan nada tinggi. Dia juga meminta warga lain untuk tidak emosi pada Deni. Pak RT dengan ucapan yang begitu halus, menyampaikan alasan mengapa hal itu perlu di lakukan oleh Deni terhadap Bella.
"Saya mengerti mas Deni. Tapi dari kejadian tadi, seharusnya mas Deni bisa lebih baik lagi dalam menjaga adiknya. Jangan sampai adiknya di biarkan sendiri di rumah. Sebab itu membahayakan warga lain." Lanjut pak RT.
Deni kembali duduk. Dia terlihat begitu bingung dengan saran dari pak RT. Antara mengiyakan dan menolak, rasanya begitu berat Deni ucapkan. Hingga akhirnya Nia yang mewakili Deni membalas ucapan dari pak RT.
"Kita pikir-pikir lagi pak. Kita juga tidak ingin, hal seperti ini terjadi. Tapi kadang kita tidak bisa mengontrol semuanya. Akhirnya kita juga kecolongan." ucap Nia.
"Baik kalau seperti itu adanya. Kita semua pulang dahulu, mbak dan mas." salam pak RT.
"Iya pak, terima kasih sarannya." balas Nia.
Begitu rumahnya sudah tidak ada orang lagi. Deni akhirnya mengamuk dengan begitu hebatnya. Deni mengeluarkan kata-kata kotor yang dia ucapkan untuk para warga. Deni begitu membenci warga di kompleks rumahnya. Mereka bisa seenaknya saja meminta Deni untuk mengurung Bella. Tanpa merasakan perasaan Bella sendiri.
Nia terus menenangkan Deni yang tidak henti membabi buta dalam menanggapi permintaan dari pak RT dan warga sekitar rumahnya. Nia meminta Deni lebih dewasa lagi dalam merespon ucapan serta permintaan pak RT dan warga. Sebab itu saran yang baik untuk Bella. Walaupun tidak harus memasung Bella, tapi setidaknya mereka masih peduli pada Bella. Bukan tidak mungkin Bella akan banyak di sakiti, jika kembali melakukan tindakan kekerasan pada warga lain. Itu baik untuk Bella, dalam pandangan Nia.
Tidak bagi seorang Deni. Dia tetap menolak permintaan dari pak RT dan para warga. Baginya mereka terlalu berlebihan dalam menyikapi Bella. Bella hanya depresi, bukan orang jahat yang harus di musuhi. Sudah seharusnya warga warga mendukung Bella.
__ADS_1
Tidak ingin berdebat kusir. Nia memilih untuk mengakhiri perdebatan yang tiada akhir antara dirinya dengan Deni.