
Berita yang di muat di salah satu koran dan media online. Telah memancing emosi seorang Deni. Tanpa sepengetahuan dari Nia, Deni secara diam-diam mendatangi media yang telah membuat berita bohong tersebut.
Deni awalnya datang dengan baik-baik. Dia mendatangi resepsionis di kantor media tersebut. Sebelum akhirnya Deni meminta untuk bertemu dengan dewan redaksi dari media tersebut.
Tentu kedatangan Deni kali ini adalah untuk meminta pertanggungjawaban dari media yang telah membuat berita miring akan dirinya. Deni merasa sakit hati atas fitnah yang telah di lontarkan oleh media tersebut kepadanya. Ini fitnah paling besar dalam hidup seorang Deni. Sehingga Deni wajib meminta pertanggungjawaban dari media tersebut.
Mengetahui kedatangan dari Deni. Dewan redaksi dari media itu menolak untuk bertemu dengan Deni. Beralasan ada kepentingan lain, dia menolak mendatangi Deni yang tentu akan meminta pertanggungjawaban dari dirinya.
Deni yang masih tetap ingin bertemu dengan dewan redaksi dari media online tersebut. Meminta untuk mengobrol beberapa saat saja lewat panggilan telepon. Tapi permintaan dari Deni di tolak oleh resepsionis yang berjaga saat itu. Deni yang terus memaksa, akhirnya di bentak dengan keras oleh resepsionis tersebut. Dia meminta Deni untuk lebih sopan lagi, mengingat ini adalah sebuah kantor. Bukan rumahnya, yang bisa dengan kerasnya berteriak di sini.
__ADS_1
Deni menerima bentakan dari resepsionis itu, tapi Deni tetap berusaha untuk menemui dewan redaksi di kantor tersebut. Begitu resepsionis itu menerima panggilan lain, dengan segera Deni menerobos masuk ke dalam area kantor.
Resepsionis yang melihat aksi Deni, langsung memanggil pihak keamanan untuk mengamankan Deni. Dua orang satpam dengan tubuh gempal, berlari mengejar Deni. Namun Deni yang lebih dulu menaiki lift, meninggalkan dua satpam yang berlari begitu lamban tersebut.
Deni yang masih terus di kejar oleh kedua satpam tadi. Harus segera menemukan ruangan redaksi dari media tersebut. Tentu Deni ingin menanyakan maksud dari pembuatan berita bohong tersebut. Bagaimana sebuah media bisa memberitakan sebuah kebohongan yang menyesatkan publik. Itu yang ingin Deni tanyakan pada pihak redaksi.
Deni yang berlari sambil terus di kejar oleh kedua satpam berbadan gempal. Akhirnya menemukan ruangan dewan redaksi media tersebut. Dengan segera Deni memasuki ruangan dewan redaksi tersebut.
"Mau apa kamu kesini?" tanya dewan redaksi tersebut dengan begitu paniknya.
__ADS_1
Deni yang awalnya tidak begitu marah. Perlahan mulai marah saat melihat wajah dewan redaksi tersebut. Apalagi melihat wajah dari dewan redaksi itu yang nampak begitu menyebalkan. Deni semakin di buat emosi. Dengan langkah pasti, Deni mulai mengepalkan kedua tangannya. Dia bersiap untuk memberikan pelajaran penting bagi dewan redaksi tersebut.
"Apa maksud anda membuat berita bohong tersebut!" Amuk Deni dengan nada tinggi.
"Itu bukan bohong, tapi itu kenyataan. Kamu bisa lihat sendiri, di situ ada seorang narasumber. Jadi tidak mungkin itu bohong." jawab dewan redaksi itu semakin ketakutan.
"Kamu ingat satu hal, narasumber yang kamu wawancarai itu adalah bajingan. Dia selalu menghalalkan segala cara untuk mencapai keinginannya. Apa kamu tega melihat seorang perempuan yang jelas-jelas di siksa oleh kakaknya sendiri, di jatuhkan seperti itu. Kamu tega!" Amuk Deni semakin marah.
Saat Deni ingin menghujamkan sebuah pukulan pada dewan redaksi tersebut. Kedua satpam tadi langsung menahan. Mereka menarik tubuh Deni dari hadapan dewan redaksi. Deni berusaha melepaskan cengkeraman dari kedua satpam tersebut. Tapi kedua satpam itu terus membawa Deni menuju keluar dari ruangan dewan redaksi tersebut.
__ADS_1
Deni pun kembali beradu mulut dengan dua satpam tersebut. Dia meminta dua satpam itu untuk tidak menghalangi Deni dalam bertemu dengan dewan redaksi tersebut. Sebab Dewan redaksi itu sudah membuat sebuah berita bohong yang jelas-jelas merugikan Deni.
Tidak peduli dengan semua keluh kesah seorang Deni. Kedua satpam itu tetap mengusir Deni dari kantor media itu. Mereka berdua meminta Deni untuk tidak melakukan tindakan apapun lagi di kantor tersebut. Sebab Deni tidak lagi memiliki kepentingan di kantor itu. Hingga Deni harus segera pergi dari kantor itu sekarang juga.