
Perban putih masih membungkus tangan kanannya yang terluka oleh sayatan beling dari Gina. Menggunakan tangan kirinya yang sehat wal afiat, Deni menyuap sendok demi sendok nasi goreng yang disajikan oleh Nia sebagai menu sarapan.
Nia yang masih sedih dengan perkataan Deni di rumah sakit. Memilih bungkam kala sarapan bersama Deni dan dua anaknya. Nia lebih fokus menyuapi dua anaknya. Deni yang menyadari kesalahannya pun seolah mementingkan egonya yang tinggi. Dia tak mau meminta maaf pada Nia yang berharap Deni akan meminta maaf padanya.
Tetapi harapan Nia tinggal harapan. Deni tak urung meminta maaf padanya. Saat satu suapan terakhir masuk kedalam mulutnya. Nia tak mendapatkan permohonan maaf dari Deni yang dikenal sedikit egois.
Tanpa berpamitan pada Nia, Deni langsung berangkat kerja. Hanya ciuman kecil Deni berikan pada dua anaknya yang masih kecil. Sementara Deni melewatkan untuk memberi ciuman pada Nia. Sedikit terkoyak, tetapi Nia harus menerima semuanya begitu saja. Pasalnya Deni adalah seorang yang egois. Wajar jika Deni bersikap seperti itu.
Dianter oleh Iwan sopirnya. Deni segera berangkat menuju klinik tempatnya praktek. Sepanjang perjalanan Deni masih teringat kata-kata menyakitkan yang diucapkan pada Nia. Dia menyadari kata-katanya tersebut cukup menyakitkan hati Nia. Tetapi Deni yang mulai merasa bosan dengan hubungannya dengan Nia. Tak sedikit pun menyesali apa yang dia ucapkan pada Nia. Cinta Nia yang terlalu sempurna untuk Deni dianggap sebagai suatu hal yang berlebihan. Sehingga Deni menginginkan suatu hubungan yang apa adanya. Tanpa salah satu pihak mencoba untuk begitu sempurna untuk pihak lainnya.
__ADS_1
Sementara Nia yang kembali mengingat ucapan Deni. Mencoba mengevaluasi dirinya. Apakah selama ini cinta dia pada Deni berlebihan, sehingga Deni merasa hal itu sebagai cinta yang berlebihan. Tetapi Nia ingin jadi yang terbaik untuk Deni. Sehingga Nia berusaha menjadi istri terbaik untuk Deni. Nia ingin menceritakan, tetapi Nia sadar hal itu akan semakin membuat rumah tangganya dengan Deni semakin bermasalah.
Nia memilih untuk menyerahkan semuanya pada Tuhan. Nia berdoa meminta petunjuk yang terbaik untuk dirinya dan pernikahannya dengan Deni. Nia ingin semuanya berjalan sesuai dengan apa yang dia harapkan. Walaupun Deni mulai merasa bosan dengan hubungan pernikahan mereka.
Permasalahan rumah tangganya, berusaha Deni tutupi pada semua rekan kerjanya. Deni berusaha bekerja seprofesional mungkin. Sehingga Deni tetap menunjukkan sikap ramah tamah pada semua orang. Walaupun ada rasa kesal pada Nia di hatinya.
Tak ingin membawa tangan kosong kedalam kamar Gina. Deni membawa dua potong roti dengan tangan kirinya. Sementara dengan menahan rasa sakit, Deni membawa segelas susu ditangan kanannya kedalam kamar Gina.
Baru membuka pintu kamar Gina. Deni langsung dihadiahi lemparan bantal oleh Gina. Belum makian yang dilontarkan oleh Gina. Semakin membuat pagi Deni semakin berwarna.
__ADS_1
Tak peduli dengan perlakuan Gina yang sudah benar-benar abnormal. Deni tetap menghampiri Gina dengan makanan dan minuman dikedua tangannya. Deni tetap ingin membuat Gina segera sembuh dari depresi yang dialaminya.
Dengan tatapan tajam serta senyuman yang manis. Deni menyapa Gina yang begitu ketakutan di pojokan ruangan.
"Pagi Gina. Gina sudah sarapan?" Tanya Deni dengan manisnya.
Gina tak menjawab. Dia hanya menatap datar wajah Deni. Kemudian dengan penuh kelembutan yang diberikan. Deni memberikan sepotong roti yang berada di tangan kirinya pada Gina. Tetap dengan senyuman manis, Deni berusaha membuat Gina tenang dengan kedatangannya.
Gina akhirnya luluh, tangan kanannya mulai menerima
__ADS_1