
Nia tidak dapat tidur malam ini. Pikiran Nia terus tertuju pada seorang Deni yang telah 3 hari, tidak Nia tegur. Mungkin ini hari yang tepat bagi Nia untuk memaafkan seorang Deni. Apalagi tidak baik bagi sepasang kekasih untuk berlama-lama tidak bicara. Itu sangat bahaya dalam hubungan pernikahan.
Terdengar bunyi klakson mobil Deni. Nia yang tidak bisa tidur, langsung segera bergegas menuju luar rumah. Dia ingin menyambut kedatangan dari seorang Deni dari acara ulang tahun Gina.
Nia membuka pintu, tepat saat Deni juga akan membuka pintu rumahnya. Keduanya pun saling berpapasan. Nia terlihat begitu malu-malu saat Deni menatap wajahnya. Terlebih melihat wajah Deni yang terlihat begitu lelah.
Dalam hatinya, Nia ingin sekali menyapa seorang Deni. Tapi Nia masih cukup takut untuk menyapa Deni. Terlebih Deni yang terlihat lelah dengan aktivitas yang telah di jalani.
Deni sendiri yang takut Nia tidak akan membalas sapaan dari dirinya. Terlihat canggung untuk menyapa istrinya tersebut. Hingga Deni hanya mencuri pandang ke arah Nia. Dia berharap Nia akan menyapa dirinya terlebih dahulu.
Satu menit tanpa suara itu, akhirnya berubah saat Deni memberanikan diri untuk menyapa Nia. Melihat Nia yang masih belum tidur. Mungkin obrolan seputar tidur akan menarik untuk di bahas. Sehingga Deni memilih obrolan tersebut untuk di jadikan bahan pembicaraan dengan Nia.
__ADS_1
"Kamu masih belum tidur?" tanya Deni masih canggung.
"Belum. Aku tidak bisa tidur." jawab Nia yang juga terlihat canggung.
"Bagaimana dengan anak-anak?" tanya Deni kembali.
"Mereka sedari tadi sudah tidur. Keduanya tidur dengan pulas." jawab Nia mulai santai.
"Bagaimana dengan pesta ulang tahunnya?" tanya Nia penasaran.
"Meriah. Aku pikir pesta itu meriah." jawab Deni singkat.
__ADS_1
"Aku harap demikian. Tapi apakah kamu memakan potongan kue itu, mungkin kamu memakan beberapa potong kue tersebut?" tanya Nia sedikit mencairkan suasana.
"Maksud kamu?" tanya Deni mulai tersenyum.
Ucapan dari Nia itu langsung mengingatkan momen saat Deni kekencangan menyantap sebuah kue ulang tahun dari salah seorang kerabat Nia. Saat itu, Deni terlihat begitu bernafsu untuk makan. Hingga Deni kekenyangan.
Deni yang tak terima dengan ucapan dari Nia, mencoba menggelitik tubuh Nia. Seketika Nia yang tidak tahan dengan gelitikan yang di lakukan oleh Deni. Langsung berlari masuk ke dalam rumah.
Deni yang masih cukup dendam pada Nia yang telah membongkar aibnya. Terus mengejar Nia dengan sekuat tenaga. Sampai akhirnya Deni menangkap Nia tepat di atas sofa rumah. Deni langsung memeluk tubuh Nia yang terus berontak pada seorang Deni.
Di momen itu, akhirnya Deni kembali mengucapkan permohonan maafnya pada seorang Nia. Deni mengatakan jika dirinya benar-benar menyesal telah membentak Nia. Padahal apa yang Nia ucapkan adalah sebuah kebenaran. Deni selama ini memang terlalu egois. Hingga Deni tidak pernah mau mendengarkan ucapan dari orang lain. Termasuk istrinya sendiri.
__ADS_1
Nia pun tidak mempermasalahkan semua itu. Dia tetap merasa apa yang telah Deni lakukan telah benar. Tapi terkadang Deni harus lebih dewasa lagi dalam menyikapi setiap hal yang terjadi. Sehingga Deni tidak akan