
Brian tidak seperti biasanya yang begitu aktif. Dia terlihat begitu murung, dengan wajah pucatnya di belakang mobil. Nia yang melihat Brian terlihat begitu pucat dari spion mobilnya. Sempat menanyakan pada anak keduanya tersebut, perihal kondisi dirinya. Tapi Brian dengan wajah penuh semangat mengatakan dirinya baik-baik saja. Dia hanya sedikit mengantuk, sebab dia tidak sempat tertidur kembali sewaktu shubuh.
Mendengar ucapan dari Brian yang baik-baik saja. Nia sempat sedikit lega, sebab tidak ada yang harus Nia khawatirkan lagi. Mengingat anak bungsunya tersebut tidak mengalami masalah seperti yang Nia khawatirkan. Sehingga Nia kembali memacu mobilnya menuju sekolah.
Love yang baru sembuh dari sakitnya, terlihat begitu bahagia saat kembali ke sekolah. Dia merasa telah kembali ke performa terbaiknya. Sehingga Love begitu aktif saat memasuki gerbang sekolah.
Tak seperti biasanya, Brian justru terlihat kurang bersemangat. Dia terlihat letih, dengan wajah pucatnya. Brian seperti tidak memiliki semangat seperti biasanya. Sehingga Nia kembali menanyakan kondisi Brian, tapi Brian mengatakan jika dirinya seratus persen baik-baik saja. Tidak ada masalah besar yang di hadapi oleh Brian. Semuanya baik-baik saja.
__ADS_1
Nia pun pulang dengan perasa lega. Sebab tidak ada yang harus di khawatirkan oleh dirinya akan Brian. Nia merasa kedua anaknya baik-baik saja. Love pun terlihat sudah kembali ceria untuk masuk sekolah. Sehingga Nia pulang dengan perasaan penuh kegembiraan.
Tapi keceriaan yang di tunjukkan oleh Brian, hanya berlangsung beberapa saat saja. Rasa pusing yang semakin menyiksa kepala Brian. Tak dapat di tahan terlalu lama oleh Brian. Hingga Brian pun akhirnya jatuh pingsan saat berada di depan kelasnya.
Sontak teman-teman sekelas Brian langsung mengerubungi Brian yang jatuh pingsan tak sadarkan diri. Beberapa teman lainnya mulai memberitahu pada Love akan kondisi Brian. Sementara sebagian lainnya mulai memanggil guru untuk membawa Brian yang jatuh pingsan.
Love sebagai seorang kakak, begitu panik saat mendengar adik satu-satunya tersebut pingsan. Love menangis saat meminta Brian untuk kembali bangun dari pingsannya. Love terus memanggil nama Brian dengan begitu kerasnya. Hingga suara tangis Love terdengar hingga ke seluruh sekolah.
__ADS_1
Perlahan Brian mulai siuman. Wajah Love yang berada tepat di samping Brian, langsung menyambut siuman dari seorang Brian. Love tersenyum bahagia saat melihat kedua mata Brian kembali terbuka. Love tidak ingin hal buruk terjadi pada adiknya tersebut. Hingga Love merasa ketakutan saat melihat tubuh adiknya itu begitu lemah.
"Apa kamu ingin pulang Brian, biar Bapak telepon Ibu kamu untuk menjemput kamu pulang." tanya pak Jasman.
"Jangan Pak. Saya mohon jangan. Saya tidak ingin membuat Mama saya bersedih. Setiap hari dia menangis, saya tidak ingin membuat Ibu saya menangis oleh saya." jawab Brian.
Pak Jasman pun akhirnya membatalkan niatnya untuk memberitahu Nia akan kondisi Brian. Terlebih wajah Brian sudah mulai kembali segar. Dia mengatakan jika dirinya sudah siap melanjutkan pelajaran di hari ini. Pak Jasman pun pergi meninggalkan Brian dan Love di ruang UKS.
__ADS_1
Tak hanya meminta pak Jasman untuk tidak menelepon Nia. Brian juga meminta Love untuk tidak menceritakan apa yang terjadi pada dirinya saat ini. Brian tidak ingin jika Nia tahu Brian yang sedang sakit. Nia dan Deni akan kembali ribut. Sehingga Nia akan kembali bersedih dengan apa yang ada. Brian tidak ingin itu terjadi pada dirinya. Sehingga Brian meminta dengan sangat pada Love untuk tidak memberitahu Nia akan kondisi dari Brian.
Love pun akhirnya menuruti permintaan dari Brian. Love yang juga merasa bersalah atas rasa sakit yang pernah dirasakan oleh dirinya. Sehingga kedua orangtuanya bertengkar akibat Love yang sakit saat itu. Hingga Love harus bisa juga menyembunyikan sakit dari Brian, demi pertengkaran yang tidak akan terjadi pada Nia dan Deni.