Papa Untuk Anakku

Papa Untuk Anakku
Episode 15


__ADS_3

Setelah Pak Pandu pergi meninggalkan gudang yang berada di dekat pabrik. Langsung saja Boy dan teman-temannya melangsungkan aksinya. Mereka tidak menyyia-nyiakan kesempatan untuk meloloskan Asril. Asril mereka bopong dan memasukkannya ke dalam bagasi mobil.


"Aaa.. Sial berat sekali" Umpat salah satu teman Boy


"Ayo semua segera naik ke mobil! Ajak Boy


"Bos kita mau buang ke mana ini orang? Tanya teman Boy


"Udah kita jalan dulu. Soal temannya di mana nanti kita pikirkan kembali terlebih dahulu agar tidak meninggal jejak yang membuat orang lain curiga terhadap kita maupun Pak Pandu nantinya" Ucap Boy


"Baik Bos"


Mobil yang membawa Asril kini melaju membelah jalan di perkotaan untung saja hari ini tidak ada polisi yang berlalu-lalang di jalanan. Iya benar nasib mereka mungkin lagi baik.


Asril di bawah oleh Boy di salah satu desa X yang di mana desa tersebut sangat jauh dari kota tempat tinggal keluarga Pak Pandu. Di desa X nampak masih sepi rumah pun sangat berjauhan dan jalanan pun masih sulit untuk di lintasi.


"Sepertinya desa ini tepat untuk kita buang Asril" Ucap Boy


"Ayo kalian semua turun! Dan kamu dua orang tetap berjaga di sini lihat situasi jangan sampai ada orang yang melihat kita, mengerti" Ucap Boy


"Mengerti Bos" Jawab teman Boy


Sampai pada akhirnya Boy dan teman-temannya meletakkan Asril ke dalam hutan yang berada di desa X. Boy berharap Asril tidak menemukan jalan untuk keluar dan pulang ke rumah.


"Hallo"


"Hallo Boy"


"Lapor Asril sudah kami bereskan"


"Ok"


.


.


.


Zilla baru saja menuruni anak tangga dan hendak pergi ke kampus.


"Selamat pagi Nak Zilla" Sapa Bu Ain


"Pagi Bu" Jawab Zilla


"Sarapannya sudah siap Nak Zilla" Ucap Bu Ain


"Aku tidak ingin sarapan Bu" Jawab Zilla


"Tapikan Nak Zilla harus minum obatnya. Sarapan dulu iya Bu Ain sudah siapkan lho. Nak Zilla harus jaga kesehatan" Ucap Bu Ain yang mencoba membujuk Zilla agar makan dan meminum obat yang di berikan oleh Dokter


"Lagi gak napsu Bu" Jawab Zilla singkat


"Iya sudah nanti di kampus jangan lupa makan iya. Di depan sudah asa Ismail yang siap mengantar jemput Nak Zilla pergi ke kampus" Ucap Bu Ain


"Ismail...! Aku tidak butuh supir. Aku bisa nyetir sendiri kemanapun aku mau pergi" Jawab Zilla


"Ini perintah dari Pak Pandu" Ucap Bu Ain


"Papa..." Jawab Zilla


"Iya" Ucap Bu Ain

__ADS_1


Zilla yang mendengarkan Ucapan Bu Ain Zilla langsung menelepon Papa Pandu.


"Hallo Pa"


"Hallo Zilla"


"Pa. Kenapa Papa memilih supir untuk mengantar jemput Zilla. Zilla kan bisa nyetir sendiri Pa"


"Zilla dengarkan Papa ini perintah Papa dan kamu harus mengikutinya"


Tut... Tut... Tut...


Zilla melangkah kakinya untuk keluar rumahnya iya benar apa yang di ucapkan Bu Ain kalau Ismail sudah siap dengan mobilnya.


"Sejak kapan kamu bekerja dengan Papaku? Tanya Zilla kepada Ismail tanpa basa-basi


"Sudah lima hari Bu" Jawab Ismail yang dikejutkan dengan kehadiran Zilla


"What Bu? Kamu pangil aku Ibu. Hahaha... Zilla tertawa terbahak-bahak


"Maaf kalau saya salah manggilnya" Jawab Ismail menundukkan kepalanya dengan rasa bersalah


"Panggil aku Zilla. Gak usah pake Ibu" Ucap Zilla ketus


"Hm... Baik Bu. Eh... Maaf-maaf Baik Zilla" Ucap Ismail terbata-bata


"Mari saja antar ke kampus! Ajak Ismail


"Tidak usah kamu cukup di sini saja tidak perlu antar saya. Saya akan naik taxi saja" Ucap Zilla meninggalkan Ismail yang masih diam terpaku


"Tapikan ini perintah Pak Pandu. Apa yang akan saya katakan ke pada Pak Pandu kalau saya tidak menghantarkan kamu pergi ke kampus dan lagian ini hari pertama aku kerja masa kamu tega berbuat seperti itu kepada ku" Ucap Ismail menghentikan langkahnya Zilla dan memohon agar Zilla bisa berubah pikiran


Di dalam mobil hanya ada keheningan di antara mereka. Tidak ada satu kata pun yang di ucapkan Zilla maupun Ismail.


"Ini orang patung atau boneka sih. Ngajak berbicara saja tidak" Batin Zilla dengan memperhatikan Ismail


Ismail yang diperhatikan oleh Zilla hanya diam saja. Dia lebih memilih fokus untuk menyetirnya ketimbang harus berbasa-basi dengan Zilla.


"Hm... Hm... Zilla berdehem agar Ismail memberikan sebuah tanggapan namun Ismail tidak meresponnya.


"Hm... Hm... Zilla mengulanginya kembali.


"Apa kamu mau membeli minum, kalau mau membelinya aku akan meminggirkan mobilnya? Tanya Ismail penuh perhatian


"Minum" Jawab Zilla


"Iya minum. Agar batuk mu berhenti atau kita pergi ke apotik untuk membeli obat terlebih dahulu? Tanya Ismail


"Gak perlu" Jawab Zilla


"Tapikan" Ucap Ismail


"Tidak" Ucap Zilla dengan membentak Ismail


"Dasar aneh" Batin Ismail mengelus dadanya agar sabar menghadapi Zilla


.


.


.

__ADS_1


"Akhirnya sampai juga kita di kampus. Tunggu sebentar iya" Ucap Ismail yang lebih turun dari mobil


"Mau apa sih? Batin Zilla


"Silahkan Zilla. Turunlah dengan kaki kiri kamu terlebih dahulu, tundukan kepalamu" Ucap Ismail membuat Zilla merasa enek


"Mari saya bawakan tasnya dan saya antarkan sampai ke dalam kelas" Ucap Ismail dengan ramah


"Enggak usah Ismail aku ini bukan anak-anak" Jawab Zilla yang sudah di buat gereget dengan Ismail


"Baiklah aku akan menunggumu di tempat parkir" Ucap Ismail


"Enggak perlu Ismail" Jawab Zilla geregetan


"Ini Perintah Pak Pandu" Ucap Ismail


"Terserah" Jawab Zilla dengan mengejar suku katanya


"selamat belajar Zilla" Ucap Ismail memberikan senyuman manis untuk Zilla


Tidak jauh dari tempat mereka ada dua orang yang sedang mempersiapkan mereka dengan seksama. Dan banyak pertanyaan yang ingin mereka tanyakan.


"Zilla" Panggil Nidya


"Hai Nidya... Hai Mira..." Sapa Zilla


"Sini-sini kamu duduk sini aku mau bertanya kepada mu" Ucap Mira


"Apa yang mau kamu tanyakan?


"Kamu tadi di antar sama siapa? Tanya Nidya


"Supir" Jawab Zilla


"What... Supir" Sambung Mira


"Iya benar dia hanya supir pribadi ku" Jawab Zilla


"Kamu tidak mencoba menipu kami kan Zill" Ucap Nidya


"Tidak lah" Jawab Zilla


"Kamu kenal dia dari mana? Dimana dia tinggal? Siapa namanya? Tanya Mira


"We... We... Satu-satu donk tanyanya. Aku tidak mengenal dia, dia hanya orang suruhan Papa namanya Ismail" Jawab Zilla


"Tapikan Hem... Wajahnya ganteng banget" Ucap Nidya membayangkan Ismail


"Ah... Perasaan dia biasa-biasa saja ganteng Asril lha kalau di bandingkan" Jawab Zilla


"Wah... Wah... Gak bener ni matamu. Kamu harus periksa mata ke Dokter" Sambung Mira


"Awas aja kalau kamu suka Ismail" Ucap Nidya


"Iya tidak lah. Mana Mungkin" Jawab Zilla


Bersambung... โœ๏ธ


Jangan lupa berikan komentar kalian


Salam sayang paling di sayang๐Ÿ˜‚๐Ÿ˜‚๐Ÿ˜‚

__ADS_1


__ADS_2