
Pak Pandu menuju kamar Zilla
"Ada apa Bu dengan Zilla? Teriak Pak Pandu dengan sangat keras
Huhuhuhu... Suara tangis Bu Ain yang pecah dan membuat panik seisi rumah terutama untuk Pak Pandu.
"Sudah Bu tenang dulu jangan bikin panik orang. Mungkin Zilla hanya cuma pingsan saja Bu" Ucap Pak Tejo menenangkan Bu Ain
"Bapak ini bagaimana sih kok Ibu di suruh diam. Apa Bapak tidak panik melihat keadaan Nak Zilla seperti ini. Lihat Pak Nak Zilla" Jawab Bu Ain
"Kita berdoa Bu. Tidak akan terjadi sesuatu hal buruk kepada Nak Zilla" Ucap Pak Tejo
"Zilla... Nak Zilla" Panggil Bu Ain
"Nak Zilla" Bu Ain manggil nama Zilla berulangkali namun tidak ada sahutan dari Zilla.
"Pak coba ambilkan minyak kayu putih di atas meja itu Pak" Ucap Bu Ain menyuruh Pak Tejo untuk mengambil minyak kayu putih yang berada di atas meja rias Zilla
Pak Tejo lari untuk mengambilkannya.
"Ini Bu. Coba oleskan ke hidungnya siapa tau dia siuman" Ucap Pak Tejo menyuruh Bu Ain
"Iya Pak. Pak coba gosok-gosok tanggan Zilla Pak agar terasa hangat" Ucap Bu Ain menyuruh Pak Tejo
"Nak bangun Nak" Panggil Bu Ain
"Zilla... Zilla Nak" Pak Tejo juga mencoba menepuk pipi Zilla agar meresponnya.
.
.
.
Astagfirullah Zilla.
"Zilla anakku Pak Pandu mengangkat kepalanya Zilla di atas pangkuannya dan memeluk anaknya sambil menepuk-nepuk pipi Zilla. Zilla kamu kenapa Nak? Ayo buka matamu Nak. Papa ada di sini untukmu Nak. Papa sayang sama kamu Nak" Ucap Pak Pandu memohon
"Zilla kenapa jadi begini Bu Ain? Tanya Pak Pandu
"Tadi saat pintu kamarnya di buka. Nak Zilla sudah tergeletak di lantai Pak" Jawab Bu Ain
"Pak Tejo cepat siapkan mobil kita pergi ke rumah sakit sekarang juga" Ucap Pak Pandu menyuruh Pak Tejo
"Iya Pak saya siapkan" Jawab Pak Tejo
PakTejo terburu-buru mengambil kunci mobil dan menuju ke garasi mobil dia segera memarkirkan mobilnya di halaman depan rumah. Pak Tejo kembali ke kamar Zilla dan memberitahukan kepada Pak Pandu kalau mobilnya sudah siap.
"Pak sudah siap mobilnya" Ucap Pak Tejo
"Ayo pak bantu angkat Zilla! Ajak Pak Pandu
"Iya Pak" Jawab Pak Tejo
__ADS_1
Huhuhuhu... Bu Ain Hanya bisa menangis melihat keadaan Zilla seperti itu. Bu Ain mengikutinya dari belakang mereka.
"Sudah Bu berhenti menangis" Bentak Pak Tejo kepada Bu Ain
"Bapak" Bu Ain yang di bentak Pak Tejo malah menangis dengan sangat kencang.
"Bu Ain tenang iya. Kalau Bu Ain mau ikut cepat masuk ke dalam mobil dan jangan menangis" Perintah Pak Pandu
"Baik Pak" Ucap Bu Ain buru-buru mengelap air matanya dan masuk ke dalam mobil.
.
.
.
Di rumah sakit.
Dok...
Dok...
Dokter... Tolong selamatkan anak saya Dok! Ucap Pak Pandu meminta tolong
Tolong!
"Bapak tenang iya Pak" Ucap Pak Dokter yang berada di situ
"Ayo, Sus segera bawa pasien ke ruang tindak"
Pak Pandu, Pak Tejo, dan Bu Ain mengikuti dari belakang Dokter dan Suster yang membawa Zilla.
"Dok..." Panggil Pak Pandu yang hendak ingin masuk ke ruangan tindak
"Maaf Pak. Bapak sebaiknya menunggu di luar saja iya" Ucap Suster
"Tapi Sus" Ucap Pak Pandu
"Tolong percayakan kepada kami iya Pak. Kami akan melakukannya semaksimal mungkin. Bapak dan keluarganya yang lain boleh menggu di luar dan berdoa agar pasien selamat dan sehat kembali" Ucap Suster
"Sus" Panggil Pak Pandu
"Kami akan melakukan yang terbaik untuk anak Bapak" Ucap Suster dengan menutup pintu
"Iya baiklah Sus" Ucap Pak Pandu dengan lirih
.
.
"Pak aku takut dengan Zilla kalau kenapa-kenapa" Bisik Bu Ain ke Pak Tejo
"Hus... Ibu ini pikirannya ngawur saja. Kita doakan untuk Zilla yang terbaik supaya dia cepat sadarkan diri" Ucap Pak Tejo
__ADS_1
"Iya Pak. Ini semua salahku" Jawab Bu Ain menyesali apa yang sudah terjadi kepada Zilla
"Kenapa Ibu menyalahkan diri sendiri? Tanya Pak Tejo dengan tegas
"Ibu teledor tidak memperhatikan Zilla. Coba saja tadi siang aku menelpon Pak Pandu masalah Zilla tidak mau makan dan tidak keluar kamar. Mungkin tidak akan terjadi hal seperti ini kepada Nak Zilla" Jawab Bu Ain dengan wajah murung
"Sudahlah Bu ini bukan salah Ibu" Ucap Pak Tejo menenangkan Bu Ain
"Tapi kan Pak" Ucap Bu Ain membantah perkataan Pak Tejo
Dokter yang menangani Zilla keluar dari kamar periksa.
"Alhamdulillah Dokternya sudah keluar Bu. Ayo kita ke sana mendekat Pak Tejo agar kita tau apa yang di sampaikan oleh Pak Dokter itu" Ajak Pak Tejo kepada Bu Ain istrinya yang masih merasa bersalah karena keteledoran yang dia lakukan hari ini. Toh semua itu juga sebenarnya bukan salah Bu Ain, hanya Bu Ain saja yang merasa baper.
.
.
"Apa yang terjadi dengan anak saya Dok? Tanya Pak Pandu dengan cemas
"Hmm... Begini Pak anak Bapak hanya kelelahan. Apa dia akhir-akhir ini punya masalah yang cukup berat? Tanya Pak Dokter
"Seperti nya tidak ada masalah di antara kami yang begitu berat Dok" Jawab Pak Pandu
"Tolong jaga mood anak Bapak karena dia sedang hamil di usia yang masih sangat muda. Janin yang ada di kandungannya akan bermasalah jika terdapat tekanan-tekanan buruk dari luar. Tolong di jaga janinnya dengan baik" Ucap Pak Dokter
"Apa janin! Jawab Pak Pandu dengan bingung
"Iya janin. Selamat iya Pak, anak Bapak sedang mengandung dan usia kandungannya sudah 2 Minggu" Ucap Pak Dokter
"Deg... Suara jantung Pak Pandu berdetak dengan cepat"
"Zilla mengandung" Batin Pak Pandu
"Anak siapa yang dia kandung? Apa dengan si anak tengil itu? Ahhh sial bener-bener sial. Aku belum membereskan dia kenapa malah duluan dia membobol gawang anakku" Batin Pak Pandu
"Pak... Pak... Apa Bapak mendengarkan saya? Tanya Pak Dokter. Namun Pak Pandu tidak merespon Pak Dokter.
"Pak Pandu" Sambung Pak Tejo dengan menepuk bahu Pak Pandu yang membuyarkan lamunannya
"Iya kenapa? Tanya Pak Pandu
"Pak Dokter sedang berbicara dengan Bapak" Jawab Pak Tejo
"Oh... Iya maaf-maaf saya dengar kok" Ucap Pak Pandu
"Apa saya boleh masuk ke dalam Dok? untuk melihat anak saya? Tanya Pak Pandu
"Iya mari silakan Pak" Jawab Pak Dokter
Pak Pandu melangkahkan kakinya menuju kamar Zilla. Astagfirullah kata yang di ucapkan Pak Pandu. Dosa apa yang kau berikan kepadaku ya Allah sehingga kau memberikan cobaan seperti ini terhadap anakku.
Bersambung... โ๏ธ
__ADS_1
Jangan lupa berikan komentar kalian
Salam sayang paling di sayang๐๐๐