
Satu hari kemudian kondisi Asril sudah membaik. Asril hari ini berencana akan pergi ke desa sebelah untuk pergi ke rumah Zilla.
"Abang mau pergi ke mana? Tanya Laila saat melihat Asril menaiki motor miliknya
"Mau tau aja urusan orang" Jawab Asril ketus
"Kan aku istri Abang. Jadi wajar donk kalau aku tanya seperti itu kepada Abang" Ucap Laila
"Udahlah aku mau pergi main dulu. Kau di rumah saja dengan Kak Astari" Jawab Asril menyalakan mesin motor miliknya
"Hati-hati Bang" Ucap Laila tersenyum
"Hm..." Jawab Asril langsung pergi begitu saja
Laila masuk ke dalam rumah dengan wajah yang kusut karena ucapan suaminya yang selalu saja ketus padanya.
"Apa salah ku. Ya Allah, bukakanlah hati untuk suamiku agar Asril bisa bersikap baik kepada ku seperti waktu pertama aku mengenalnya" Ucap Laila dengan mengusap wajahnya
.
.
Asril kali ini pergi sendiri ke desa sebelah, tidak ada Jamet yang menemaninya. Asril yang kemarin sudah mengetahui jalan menuju rumah Zilla. Mengingat kembali jalan tersebut dengan sangat hati-hati. Agar tidak tersesat dan salah rumah. Asril menghentikan motor miliknya dan memarkirkan di tepi jalan tak jauh dari rumah Zilla. Asril sedang mengintai rumah Zilla dari kejauhan.
"Kok rumahnya sepi iya" Ucap Asril
"Apa pintu rumahnya selalu tertutup? Tanya Asril pada dirinya sendiri
"Ah... Sudahlah lebih baik aku menunggu di sini saja sampai Zilla keluar dari rumah itu. Aku akan memastikannya terlebih dahulu itu benar Zilla atau bukan" Ucap Asril mengacak-ngacak rambut miliknya sendiri
Asril duduk di tepi jalan seperti orang linglung yang menunggu Zilla keluar dari rumahnya. Saat Asril sudah mulai merasa bosan dan akan pergi dari tempat itu. Ternyata keluarlah Zilla dari dalam rumah dengan membawa ember besar.
"Astaga apa yang dia lakukan dengan mengangkat ember itu? Tanya Asril saat Zilla keluar dari dalam rumahnya dan mata Asril tetap fokus pada wajahnya Zilla
Saat itu Zilla membawa ember yang berisikan baju yang habis dia cuci dan akan menjemurnya di samping rumah. Setelah Zilla selesai menjemur semua baju miliknya dan baju Ismail, Zilla segera masuk ke dalam rumah.
"Benar perempuan itu adalah Zilla" Ucap Asril
"Aku harus segera menemuinya! Aku akan tanyakan kepada Zilla bisa-bisanya berada di desa ini dan sudah menikah lagi. Apa dia sudah tidak waras? Anak yang dia kandung itu anakku. Ck" Ucap Asril geram
Asril segera pergi ke rumah Zilla.
"Tok... Tok...Tok..." Suara pintu di ketuk
"Siapa? Tanya Zilla dari dalam rumah
Tidak ada jawabannya
"Tok... Tok... Tok..." Suara pintu di ketuk kembali
"Siapa di luar? Jangan main-main dengan ku iya" Ucap Zilla dari dalam rumah
"Ah... Tinggal buka pintu saja, apa susahnya sih" Ucap Asril lirih
"Tok... Tok... Tok..." Suara pintu tidak hanya di ketuk saja, namun di gedor oleh Asril juga
"Siapa" Teriak Zilla
__ADS_1
"Sebaiknya aku tidak usah buka pintu itu. Seperti pesan Ismail jangan membukakan pintu untuk sembarang orang. Apalagi orang yang tidak kita kenal" Ucap Zilla mengingat pesan Ismail
"Zilla" Suara serak seseorang dari luar rumah yang memancing Zilla dengan menyebut nama Zilla. Agar Zilla keluar dari dalam rumahnya
"Hah... Dia tau namaku. Apa sebaiknya aku buka saja pintunya, ya" Ucap Zilla lirih
"Tok... Tok... Tok..." Suara pintu di ketuk
"Iya sabar aku akan membukakan pintunya" Jawab Zilla dari dalam rumah
"Bagus" Jawabnya
Zilla segera membuka pintu rumahnya dengan lebar-lebar dan saat pintu terbuka Zilla tidak percaya dengan apa yang di lihatnya saat ini.
"Asril" Ucap Zilla terbata-bata dan segera menutup pintu rumahnya kembali
"Zilla mau lari ke mana kamu! Buka pintunya" Teriak Asril menahan pintu tersebut dengan salah satu kakinya yang masih terjepit pintu
"Buka" Terik Asril lebih keras
"Pergi Asril. Pergi dari rumah ku" Ucap Zilla mengusirnya
"Berani kau mengusirku. Setelah apa yang Papamu lakukan kepada ku" Jawab Asril marah
"Ku mohon pergilah Asril" Ucap Zilla memohon
"Aku akan dobrak pintu ini dalam hitungan ke tiga. Aku kasih aba-aba satu... Dua... Ti..." Ucap Asril
Dengan segara Zilla melepaskan tangannya dari pintu tersebut, Zilla berlari menuju ke lantai atas, saat Asril masuk ke dalam rumah kaki Zilla gemetar dan tidak bisa melanjutkan untuk naik tangga berikutnya.
"Mau ke mana? Tanya Asril yang melihat Zilla ketakutan
"Di mana suamimu panggil dia" Perintah Asril
"Dia tidak ada di rumah" Jawab Zilla menanggis
"Baguslah. Jadi kita bisa berduaan" Ucap Asril mendekat ke arah Zilla
"Berhenti di situ dan jangan mendekati ku" Teriak Zilla
"Oke. Aku minta sekarang kau harus cerai dengan suamimu itu. Kau tau anak yang kau kandung itu anakku" Ucap Asril menunjuk ke perut Zilla yang sudah membesar
"Apa segampang itu kau mengucapkannya setelah apa yang kau lakukan kepadaku selama ini. Kau pergi ke mana Asril? Di mana kau saat itu? Tanya Zilla meneteskan air matanya
"Aku di sekap oleh Papamu! Aku di hajar oleh Papamu hingga aku hampir kehilangan nyawaku" Jawab Asril menjelaskannya
"Kau jangan berbohong Asril. Papaku tidak seperti itu!" Ucap Zilla tidak percaya dengan ucapan Asril
"Aku tidak sedang berbohong kepada mu Zilla. Sungguh saat kita berpacaran selalu saja ada orang jahat yang selalu mengikutiku. Dan aku tau itu orang suruhan Papamu. Papamu tau semua kalau aku yang sudah menidurimu saat kau sedang mabuk di acara pesta ulang tahun Mira dan Papamu juga tau kalau anak yang kamu kandung itu anakku"Jawab Asril memberitahu
"Aku tidak percaya dengan mu Asril. Selama ini aku mencari seperti orang gila. Aku mengandung anakmu dan kau malah menghilang entah kemana yang aku pacarmu sendiri saja tidak mengetahuinya" Ucap Zilla menanggis
"Aku bukan menghilang atau meninggalkanmu begitu saja. Tapi aku di sekap dan di culik oleh anak buah Papamu. Saat itu Papamu memukulku berulang kali saat mengetahui kau sedang hamil dan mengandung anakku. Aku yang masih dalam keadaan berlumuran darah dan tidak sadarkan diri di buang oleh anak buah Papamu ke dalam hutan desa Biawak" Jawab Asril menjelaskannya
"Papaku benar tidak menyukaimu saat kita memiliki hubungan. Tapi, Papaku bukan seperti seorang penjahat yang tega menghabisimu" Ucap Zilla menanggis sesenggukan
"Kau mungkin saat ini tidak percaya. Tapi suatu saat kau akan mengetahuinya sendiri. Aku mohon segeralah kau bercerai dengan suamimu dan menikahlah denganku. Aku akan membawamu dan anakku yang kau kandung itu pergi ke luar negeri ke tempat asalku. Agar kita bisa hidup bahagia tanpa gangguan dari Papamu" Jawab Asril merayu
__ADS_1
"Kau sudah terlambat Asril, Aku sudah menikah dengan Ismail dan aku bahagia bersama suamiku" Ucap Zilla memalingkan wajahnya
"Jangan berbohong Zilla. Aku tau kamu Zilla, kalau kau bukan perempuan yang bisa jatuh cinta dengan mudah. Kau milikku Zilla dan kau juga pasti merindukanku bukan" Jawab Asril
"Aku sudah tidak mencintaimu lagi Asril. Karena kamu aku di kurung oleh Papaku di rumahku sendiri, Karena dirimu juga aku cuti dari kampus, aku tidak punya teman, aku di paksa Papa untuk menggugurkan kandunganku, dan aku terpaksa menikah dengan Ismail" Ucap Zilla memangis histeris ketika menggingat semua kejadian itu
"Andai saja kalau Papamu merestui hubungan kita! Pasti saat ini kita sudah hidup bahagia bersama" Jawab Asril mendekat ke arah Zilla dan ingin segera memeluk Zilla, Asril tidak tega melihat Zilla yang sedang menanggis
"Tetaplah berhenti di situ. Aku tidak ingin kau mendekatiku, Aku sudah memiliki suami dan cepatlah pergi dari rumah ini" Teriak Zilla mengusir Asril
"Tenanglah Zill... Cobalah kau kontrol emosimu ingat saat ini kau sedang mengandung anakku" Ucap Asril lirih
"Bukan anakmu. Ini anakku dengan Isma" Teriak Zilla
"Zill... Ikutlah bersama ku dan tinggalkan tempat ini. Tempat ini tidak pantas untukmu" Ucap Asril merayu
"Pergi Asril. Sebelum suamiku datang pulang untuk makan siang" Jawab Zilla mengusir Asril kembali
"Aku tidak akan pernah pergi dari rumah ini sebelum kau ikut denganku" Ucap Asril
"Kalau kau tidak pergi baiklah aku akan melompat dari lantai atas ini" Jawab Zilla mengancam dan segera naik ke lantai atas
"Zilla stop apa kau sudah gila. Kau itu cinta matiku, jadi stop bertindak seperti orang bodoh" Umpat Asril
"Maka dari itu pergilah dari rumahku. Kalau kau tidak ingin melihatku dan anak yang ku kandung ini mati bersama" Ucap Zilla nekat
"Oke baiklah aku akan pergi. Tapi kau perlu ingat kembali aku akan tetap kemari untuk meminta bercerai dari suamimu" Jawab Asril pergi dari rumah Zilla
Setelah kepergian Asril, Zilla menanggis kembali rasanya seperti tidak ingin hidup kembali.
"Kenapa kau datang kembali setelah aku menikah dengan Ismail" Ucap Zilla lirih
Bersambung... βοΈ
Dukung novelku dengan cara kalian harus π
Rate β 5
vote
like
komen
favorit
share
dan berikan hadiah
* Bagi yang sudah memberikannya aku ucapkan semoga kalian sehat selalu guyss π€²
* Dan di lancarkan segala urusannya guyss π€²
Terimakasih semuanya π€
Salam sayang paling di sayang dariku ISNA IMUT π
__ADS_1
πππ