
Malam itu tanpa Uswa sadari Asril berhasil masuk ke dalam rumah Ismail. Uswa yang melupakan untuk mengunci pintu rumahnya dengan begitu membuat mudah Asril masuk ke dalam rumah. di tambah lagi pada saat itu Uswa berada di dalam dapur sedang membuatkan susu Ziko.
Keesokan harinya Ismail dan Zilla pergi ke kantor polisi untuk melaporkan atas penculikan bayinya. Hari ini Ismail di bantu oleh para polisi untuk mencari di mana keberadaan bayinya dan juga Asril. Berita soal penculikan bayi Zilla sudah tersebar luas di desa Bunglon. Bahkan sudah sampai di desa sebelah yaitu desa Biawak. Laila yang merupakan istri Asril tidak mempercayai dengan beredarnya foto Asril dan seorang bayi yang di tempelkan di berbagai pohon, tiang listrik, dan tempat lainnya.
Kondisi Laila sangat terpuruk hanya mampu menangis dan mengurung dirinya di dalam kamar tidak mempercayai apa yang sudah terjadi kepada Asril, Zilla, dan dirinya. Kak Doni yang melihat Laila bersedih merasakan sakit hatinya.
"Abang. Mau pergi ke mana? Tanya Astari
"Aku akan pergi sebentar. Kau tetaplah di rumah dan tolong jaga Laila. Aku tidak sanggup melihat Laila seperti itu" Jawab Doni menghapus air matanya
"Bang" Ucap Astari lirih dan memeluk suaminya
"Aku tidak bisa berdiam di rumah seperti ini. Aku akan ikut Ismail untuk pergi mencari bajingan itu" Jawab Doni membalas pelukan Istrinya
"Hati-hati Bang. Aku di sini akan menjaga Laila" Ucap Astari segera melepaskan pelukannya
Setelah Doni pergi ke luar rumah, Astari segera masuk ke dalam rumah menuju ke kamar Laila. Lagi-lagi Astari harus menguatkan hati Laila atas kejadian yang di alaminya saat ini.
"Apa aku salah sudah memilih suami seperti Asril? Tanya Laila sesenggukan saat Kak Astari masuk ke dalam kamarnya
"Apa yang kau ucapkan Laila? Kau tidak pernah bersalah sayang. Kakak yang bersalah atas kejadian ini karena Kakak tidak mampu menjaga dengan baik adik, Kakak ini" Jawab Kak Astari memegang kedua tangan milik Laila
.
.
Di tempat lain
Uswa yang akan pergi ke rumah Ismail, saat itu melihat Hadi sedang duduk di tangga depan rumahnya dengan wajah murung. Tidak jauh dari Hadi ada Bu Zaroh yang berdiri tepat di depan pintu melihat Uswa sedang melintas di depan jalan rumahnya dengan tergesa-gesa. Uswa tidak menyapa Hadi maupun Bu Zaroh, pikiran Uswa hanya fokus tertuju kepada bayi Zilla.
"Hadi" Panggil Bu Zaroh lirih
Hadi tidak menjawab panggilan Bu Zaroh saat itu Hadi termenung jauh membayangkan hubungan dirinya dengan Uswa.
"Hadi" Panggil Bu Zaroh mendekat ke arah Hadi dan menepuk pundak Hadi
"Eh... Ibu" Ucap Hadi tersenyum
"Apa yang kau pikirkan Hadi? Jauh termenung Ibu lihat? Tanya Bu Zaroh duduk di sebelah Hadi
__ADS_1
"Tidak ada Bu. Hadi hanya bosan saja hidup di desa yang sunyi dan tidak memiliki banyak teman" Jawab Hadi berbohong
"Benar kah seperti itu? Atau kau masih memikirkan Uswa" Ucap Bu Zaroh
"Uswa" Jawab Hadi menaikan salah satu alisnya
"Iya Ibu tau. Kau itu suka dengan Uswa, tapi sebaliknya Uswa sepertinya tidak menyukai dirimu, Nak. Carilah perempuan lain. Masih banyak perempuan di desa ini" Ucap Bu Zaroh
"Tidak Bu. Aku hanya ingin bersama Uswa" Jawab Hadi
"Mau sampai kapan, Nak" Ucap Bu Zaroh tersenyum
"Sampai Uswa menerima ku, Bu" Jawab Hadi menangis di pelukan Ibunya
"Tinggalkan Uswa dan carilah perempuan lain" Ucap Bu Zaroh mengulanginya
"Aku tidak bisa Bu" Jawab Hadi segera berdiri dan membelakangi Ibunya
"Ibu tau ini sulit untuk mu. Tapi percayalah Allah akan memberikan mu pasangan yang terbaik" Ucap Bu Zaroh
"Aku tidak sanggup melewati semua ini Bu. Semakin aku menjauh dari Uswa, hatiku semakin tertantang untuk memilikinya" Jawab Hadi meneteskan air matanya
"Bagaimana dengan Ibu? Ibu hanya memiliki aku dan siapa yang akan menjaga Ibu saat aku pergi? Tanya Hadi membalikan badannya
"Kau tidak perlu cemas di sini Ibu akan baik-baik saja percayalah, Nak. Pergilah dan lupakan Uswa" Perintah Bu Zaroh
"Baiklah Bu aku akan pergi dari desa ini. Ibu jaga diri baik-baik, aku akan pasti kembali untuk melihat Ibu" Ucap Hadi dengan segera memeluk Ibunya
.
.
Polisi yang sedari tadi melacak keberadaan Asril sudah menemukannya. Dalam laporan warga setempat melihat Asril berada di desa Biawak tepatnya Asril berada di rumah Jamet. Jamet yang merupakan karyawan Pak Doni sekaligus tinggal di desa Bunglon membantu Asril melakukan aksi penculikan bayi Zilla. Jamet yang membantu Asril tidak cuma-cuma Karen Jamet di bayar oleh Asril dengan uang yang cukup besar.
Asril keluar dari rumah Jamet dengan mengendap-endap agar tidak terjadi sesuatu yang mencurigakan oleh orang di sekitarnya. Asril segera masuk ke dalam mobil milik Jamet dan Asril akan membawa bayi tersebut ke kota. Jamet dengan segera menyalakan mesin mobilnya saat berpapasan di jalan mereka bertemu dengan mobil Polisi.
"Sial. Pasti Polisi itu sedang mencari kita" Umpat Asril yang sedang menundukkan kepalanya agar tidak terlihat oleh mereka
Sedangkan di belakang mobil Polisi, ada sebuah mobil yang di kendarai oleh Ismail dan Zilla. Ismail yang melihat mobil Jamet dengan segera memutar balik mobilnya untuk mengejar mobil Jamet yang tidak jauh darinya. Awalnya Jamet mengendarai mobil tersebut dengan pelan tanpa Jamet sadari di belakang mobilnya ada sebuah mobil yang sedang mengikutinya dari belakang.
__ADS_1
"Jamet. Naikan kecepatan mobil ini" Teriak Asril
"Ada apa? Tanya Jamet
"Di belakang ada yang mengikuti kita. Cobalah lihat" Jawab Asril
"Hah itu mobil Ismail" Ucap Jamet melihatnya dari kaca mobilnya
Dengan segera Jamet menancap gas, saat itu hampir saja Ismail kehilangan jejak. Untung saja ada Polisi yang melintas dari arah berlawanan dengan menghadang mobil Asril.
"Ah... Sial" Umpat Asril
"Kita harus bagaimana ini Bos? Tanya Jamet
"Keluarlah. Kabur" Jawab Asril
"Aku tidak mau Bos. Aku tidak mau masuk penjara gara-gara kau" Ucap Jamet gemetar
"Bodoh. Menepilah dan kita akan berlari masuk ke dalam hutan" Perintah Asril
"Bos" Teriak Jamet saat mendapati Asril sudah berlari terlebih dahulu
"Ah... Mau ke mana kau" Ucap salah satu Polisi yang sudah menangkap Jamet
Polisi yang lain sedang mengejar Asril, Zilla yang melihat bayinya di bawa oleh Asril tidak hanya berdiam diri saja. Zilla segera berlari dan mengejar Asril, terjadilah kejar-kejaran di dalam hutan yang sampai pada akhirnya Zilla berhasil merebut bayinya dari tangan Asril. Dengan segera polisi tersebut menembak kaki Asril sebelah kiri yang akan merebut bayi itu kembali.
"A..." Teriak Asril terjatuh dan kesakitan
Kemudian datanglah Ismail dari arah belakang yang mendapatkan Zilla sudah mengendong bayinya dengan selamat. Ismail berlari dan menghamburkan pelukannya kepada Zilla dan bayinya.
"Apa kau baik-baik saja? Tanya Ismail melihat Zilla dengan intens
"Aku baik-baik saja" Jawab Zilla tersenyum
"Sayang maafkan Papa" Ucap Ismail segera mengambil bayi tersebut dari gendongan Zilla dan menciumnya
"Dia baik-baik saja Bang. Kau jangan terlalu menghawatirkannya" Jawab Zilla Mengelus-ellus rambut bayinya dan tersenyum
"Bagaimana kau bisa berbicara seperti itu. Aku tidak akan bisa melanjutkan hidup ku tanpa ada kau dan Ziko. Aku akan menjaga kalian berdua selamanya dan aku tidak akan pernah menceraikanmu" Ucap Ismail memeluk Zilla dan Ziko
__ADS_1
____________________TAMAT__________________