
Keesokan harinya Zilla sadarkan diri.
Dari semalam tangga Ismail selalu saja memegang tangan Zilla tanpa melepaskannya. Hingga Ismail tertidur pulas dengan duduk di samping Zilla. Zilla mulai membuka matanya dan mulai melihat keadaan di sekitarnya yang entah di mana dia sendiri tidak mengetahuinya. Zilla melihat di samping ada seseorang yang sedang memegang tangan miliknya. Zilla segera menarik tangan dengan sangat pelan-pelan agar orang tersebut tidak terbangunkan. Ismail yang merasakan jari tangan Zilla gerak, Ia segera bangun dan melepaskan tangan Zilla.
"Maaf" Ucap Ismail melihat ke wajah Zilla
"Di mana kita? Tanya Zilla
"Tenanglah. Kau saat ini berada di rumah sakit desa Bunglon" Jawab Ismail menjelaskannya
"Apa? Apa yang sudah terjadi dengan ku? Tanya Zilla yang tidak ingat dengan kejadian kemarin
"Apa kau sudah melupakan sesuatu? Tanya Ismail balik dan tidak menjawab pertanyaan Zilla
"Apa? Aw..." Teriak Zilla kesakitan yang akan hendak duduk
"Tetap berbaringlah. Jangan banyak bergerak, kemarin kau habis melahirkan bayimu" Ucap Ismail
"Astaga. Aku melupakan itu" Jawab Zilla dengan mengelus perutnya yang sudah rata
"Iya. Untung saja saat itu ada Uswa yang menolong dirimu. Entahlah apa yang akan terjadi kalau kau sampai tidak tertolong" Ucap Ismail lirih
"Hm" Jawab Zilla meneteskan air matanya
"Kenapa kau menanggis? Tanya Ismail
"Aku sangat bersyukur berada di dekat orang-orang seperti kalian" Jawab Zilla menghapus air matanya
"Apa yang sebenarnya terjadi dengan mu sampai kau harus melahirkan bayimu di usia kandungan mu yang masih tujuh bulan ini? Tanya Ismail
"Ini semua gara-gara Asril" Jawab Zilla memalingkan wajahnya
"A s r i l" Ucap Ismail menggejah nama A s r i l
"Dia orang yang sudah menghamili ku" Jawab Zilla
"Bukannya Asril sudah lama tidak ada kabar dan pergi begitu saja. Kenapa Asril bisa muncul di desa kita? Tanya Ismail
"Asril pergi tanpa kabar itu semua rencana Papa. Papa menyuruh Boy dan anak buahnya untuk menculik Asril karena Papa saat itu sudah mengetahui terlebih dahulu kalau aku hamil dan mengandung anak Asril. Papa menculik dan mensekkap Asril. Bahkan Papa menghajar Asril tanpa henti hingga Asril hampir mati. Papa dari dulu tidak merestui hubunganku dan Asril. Sampai akhirnya Asril di buang ke dalam hutan" Jawab Zilla menjelaskannya
__ADS_1
"Apa? Bener-bener gila Papamu itu. Ternyata bukan cuma aku yang pernah di sekap oleh Pak Pandu" Ucap Ismail
"Kau juga pernah? Tanya Zilla memastikan
"Iya. Untung saja aku bisa melarikan diri" Jawab Ismail memelototkan kedua matanya
"Dan kenapa Asril bisa bertemu dengan mu? Tanya Ismail
"Saat pertama kali aku pergi ke pasar Bunglon dengan Uswa. Aku pernah sekali melihat Asril berada di pasar itu, hingga aku mengejar orang yang mirip Asril itu. Tapi sayang aku kehilangan jejak orang yang mirip Asril itu. Setelah beberapa minggu kemudian, Aku terkejut melihat Asril datang ke rumah kita. Dia selalu saja datang ke rumah saat kau tidak berada di rumah" Jawab Zilla menghela nafasnya
"Kau bahkan selama ini tidak pernah menceritakan kepadaku" Ucap Ismail protes
"Maaf. Aku benar-benar minta maaf soal Asril, Aku merasa terkejut dengan kehadiran Asril yang tiba-tiba muncul di desa Bunglon. Siapa yang sudah memberi tahu keberadaan ku di desa ini? Asril begitu kasar dengan ku, setiap Asril datang ke rumah selalu saja mengatakan hiduplah bahagia bersamaku dengan anak kita dan tinggalkan suamimu. Kemarin dia datang saat kau pergi kerja, saat pintu di ketuk aku berpikir itu adalah kau ternyata bukan. Dan itu adalah Asril dia datang kembali setelah satu minggu lagi-lagi Asril ingin membawaku pergi. Asril nekat, mencengkeram tangan ku dengan kuat dan menyeret ku. Setelah aku berhasil lepas dari cengkeraman tangannya. Aku berlari menuju ke lantai atas. Namun sayangnya aku tersandung dan perutku terbentur di pinggir meja membuatku kesakitan hingga mengeluarkan darah" Jawab Zilla menanggis sesenggukan
"Jadi ini semua karena Asril" Ucap Ismail mengeleng-ngelengkan kepalanya
Zilla tidak lagi mampu berkata-kata dan hanya menanggis sesenggukan.
"Jangan-jangan orang yang menculik bayi mu kemarin adalah Asril" Ucap Ismail menutup mulutnya dengan kedua tangannya
"Apa" Jawab Zilla memelototkan kedua matanya
"Dimana anakku sekarang? Tanya Zilla
"Ada di ruang bayi. Sedang di rawat karena usianya baru tujuh bulan" Jawab Ismail lirih
"Aku ingin pergi ke sana untuk melihatnya" Ucap Zilla segera bangun
"Kau masih lemah, tetaplah di sini dan istirahat" Perintah Ismail
"Tidak aku harus melihat bayiku sekarang juga" Ucap Zilla membantahnya
"Tunggulah di sini sebentar aku akan mengambil kursi roda untuk mu" Jawab Ismail segera mengambilnya kursi roda yang tidak jauh dari tempat tidurnya
"Bantu aku untuk duduk" Perintah Zilla
"Iya aku akan membantumu" Ucap Ismail mengendong Zilla dan mendudukkannya di kursi roda
"Apa kau sudah siap untuk bertemu dengan bayimu" Ucap Ismail mendorong kursi roda tersebut keluar ruangan dan menuju ruang bayi
__ADS_1
"Iya. Apa kau sudah memberikan nama untuknya? Tanya Zilla
"Belum" Jawab Ismail
"Kenapa? Tanya Zilla
"Itu bayimu jadi kau yang harus memberikan nama yang sesuai keinginan mu. Aku ini siapa? Aku tidak pantas untuk memberikannya nama karena dia bukan anak kandung ku" Jawab Ismail
Deg seketika detak jantung Zilla berhenti.
Setelah itu di antara Zilla dan Ismail sudah tidak ada lagi pembicaraan di antara mereka, hingga mereka sampai di ruang bayi.
"Selamat pagi Nyonya Zilla" Ucap salam Suster Lili
"Selamat pagi, Sus" Jawab salam Zilla dengan tersenyum
"Di mana anakku? Tanya Zilla
"Oh. Ini Bu, anak Ibu Zilla" Sambung Suster Mila menunjukkaannya kepada Zilla
Zilla segera berdiri dari tempat duduknya dan mulai melihat anaknya dari luar kaca. Begini banyak selang yang berada di tubuh bayinya.
"Hi sayang ini Ibu datang" Ucap Zilla lirih dengan meneteskan air matanya
"Selamat datang di dunia ini sayang. Lihatlah di sini juga ada Papa Ismail" Ucap Zilla tersenyum melihat ke arah Ismail, sedang Ismail yang di sebut namanya oleh Zilla hanya bisa berdiri dan diam saja tanpa berkata
"Jagoan mama kuat iya. Mama selalu berdoa agar kau cepat sehat" Ucap Zilla terbata-bata
Ismail yang tidak mampu melihat ke Zilla saat ini, Ismail dengan segera memeluk Zilla dan menenangkannya
"Kau jangan menghawatirkannya. Pasti Ziko bisa melewati semua ini" Ucap Ismail menghapus air mata Zilla
"Kau memanggil dia Ziko" Jawab Zilla tersenyum
"Ziko Faris Arbiantoko nama yang bagus bukan" Ucap Ismail tersenyum
"Terimakasih sudah memberikan nama untuk bayiku" Jawab Zilla semakin mempererat pelukan Ismail
Bersambung... ✍️
__ADS_1