
Bu Zaroh dan Bu Tia sudah mulai memasak makanan untuk acara nanti malam dan di bantu oleh para tetangga sekitar rumah Ismail. Datanglah Uswa, Zilla, dan Hadi membawa barang belanjaannya masuk ke dalam dapur.
"Eh... Nak Hadi sudah pulang dari pasar, iya? Tanya Bu Tia basa-basi
"Iya, Bu. Ini barang belanjaan" Jawab Hadi tersenyum
"Letakkan situ saja, Nak" Ucap Bu Tia
"Had. Di mana Uswa dan Zilla? Tanya Bu Zaroh kepada Hadi
"Oh... Itu Bu mereka ada di ruang tamu" Jawab Hadi
"Iya sudah. Ini teh hangat kasih ke mereka, pasti Zilla dan Uswa haus, Nak" Perintah Bu Zaroh
"Ibu bahkan tidak menawariku minum. Ibu cuma peduli dengan Zilla dan Uswa saja" Jawab Hadi protes
"Astaga Hadi kau ini ya, Nak. Minumlah Hadi jika kau merasa haus, Nak" Ucap Bu Zaroh tersenyum kepada anaknya
"Terimakasih, Ibu" Jawab Hadi membalas senyuman Ibunya. Setelah itu Hadi kembali menemui Uswa dan juga Zilla yang masih duduk di ruang tamu dengan membawa teh hangat untuk mereka
"Minumlah" Ucap Hadi meletakkan teh hangat di atas meja
"Wah... Kak Hadi tau aja kalau Uswa haus" Ucap Uswa mengambil teh hangat tersebut di atas meja dan langsung meminumnya
"Gimana? Tanya Hadi yang melihat Uswa meminum teh hangat tersebut
"Manis, enak. Meskipun hangat" Jawab Uswa
"Benarkah? Tanya Hadi memastikan
"Iya" Jawab Uswa dengan menganggukkan kepalanya
"Zill. Aku ke belakang dulu iya mau membantu Ibu-ibu" Ucap Uswa
"Iya" Jawab Zilla malas
"Kau istirahatlah di kamar" Perintah Uswa
Zilla tidak menjawab pertanyaan Uswa dan hanya menganggukkan kepalanya dengan malas
Uswa pergi ke dapur, di sana banyak Ibu-ibu yang sudah bekerja dengan bagiannya masing-masing.
"Uswa anakku. Ke marilah, Nak" Ucap Bu Tia yang melihat Uswa berdiri di depan pintu dapur
"Iya, Nak. Ke marilah" Sambung Bu Zaroh
__ADS_1
Akhirnya Uswa mendekat dan bergabung dengan mereka yang sedang memotong sayuran.
"Bagaimana tadi saat kau pergi ke pasar. Apa dia sangat merepotkan mu? Tanya Bu Zaroh
"Dia siapa yang Ibu maksud? Tanya Uswa balik tanpa menjawab pertanyaan Bu Zaroh terlebih dahulu
"Iya dia. Siapa lagi kalau bukan si Zilla" Ucap Bu Zaroh
"Oh.. Zilla" Jawab Uswa hanya ber oh ria saja
"Iya. Bagaimana tadi dia saat di pasar? Tanya Bu Tia mengulangi pertanyaannya Bu Zaroh
"Zilla tidak merepotkan, Bu. Bahkan Zilla tidak pernah merepotkan ku sama sekali" Jawab Uswa tersenyum
"Kau ini ya, Nak. Jangan mau di suruh-suruh oleh Zilla" Ucap Bu Tia
"Iya, Bu" Jawab Uswa
"Entahlah Bu Tia. Aku terkadang merasa sedih melihat Uswa yang berada dalam keadaan seperti ini. Terbuat dari apa sih, Nak hatimu itu" Ucap Bu Zaroh
"Aku hanya ingin membantu Zilla saja Bu, Tidak lebih kok" Jawab Uswa
Zilla yang sudah selesai meminum teh hangat segera membereskan kembali minumannya itu dan meletakkan kembali ke dapur.
"Apa Ismail tidak berencana untuk berpoligami? Tanya Bu Tia kepada Uswa
"Astagfirullah, Bu. Berpoligami" Jawab Uswa terkejut
"Iya bisa saja Ismail berpoligami. Setelah Ibu pikir-pikir kalian itu bisa menerima satu sama lain. Apa salahnya kalau Ismail berpoligami" Ucap Bu Tia
"Sepertinya Abang Ismail bukan tipe seperti orang yang serakah akan istri dan aku juga tidak akan pernah mengganggu rumah tangga Abang Ismail dan Zilla" Jawab Uswa memalingkan wajahnya
"Ini kan seandainya kan, Nak" Jawab Bu Tia
"Bu Tia ini ada-ada saja. Uswa itu sudah melupakan Ismail. Apa Bu Tia tidak tau kalau Uswa sudah punya pengganti yang lainnya yang jauh lebih baik ketimbang Ismail Marzuki" Sambung Bu Zaroh
"Benarkah Uswa" Jawab Bu Tia tertawa tidak percaya dengan omongan Bu Zaroh
Zilla yang mendengarkan ucapan di antara mereka hatinya sangat terluka. Zilla kembali meletakkan sisa teh hangat di atas meja ruang tamu. Zilla segera naik ke lantai atas dan masuk ke dalam kamar dan menguncinya. Zilla membaringkan tubuhnya di atas tempat tidur, Zilla melihat langit-langit kamar miliknya.
"Apa benar Ismail akan menduakanku? Bagaimana kalau Ismail sampai berpoligami? Pikir Zilla yang semakin tidak karuan
"Kalau aku dan Uswa menjadi istri Ismail. Maka orang pertama yang selalu mendapatkan perhatiannya adalah Uswa. Bagaimana nasib aku dan anakku" Ucap Zilla segera bangun dan duduk di pinggir tempat tidurnya dengan mengelus perutnya
"Apa yang harus aku lakukan? Tanya batin Zilla mondar-mandir di depan cermin
__ADS_1
"Ayo, Jawablah Zilla" Ucap Zilla di depan cermin dan menunjuk bayangannya sendiri
"A..." Teriak Zilla mengacak-ngacak rambut miliknya sendiri
.
.
Di tempat lain
"Laila" Panggil Asril kenapa istrinya saat sampai di rumah istrinya
"Laila... Laila... Oh Laila" Teriak Asril memanggil nama Laila berulang kali
"Abang" Ucap Laila membuka pintu rumahnya
"Kau ini tuli atau apa sih" Umpat Asril kenapa istrinya
"Maaf Bang. Laila kan sudah memberitahu Abang kalau sampai dan bertamu tolong ucapkan salam atau Assalamualaikum dan jangan berteriak. Malu Bang di dengarkan oleh tetangga" Ucap Laila menasihati suaminya
"A... Terserah aku tidak peduli dengan semua itu" Jawab Asril masuk ke dalam rumah dan melemparkan barang belanjaan ke atas meja ruang tamu
"Abang kenapa sih pulang marah-marah tanpa sebab? Tanya Laila
"Aku tidak mau tau aku minta motor baru! Kau harus bilang ke Kakakmu untuk membelikan ku motor yang baru" Jawab Asril duduk di ruang tamu
"Motor itu kan masih bagus, Bang" Ucap Laila menunjuk ke arah luar rumah
"Bagus apannya. Orang itu motor sudah tua, setiap aku memakainya selalu saja sial. Kau tau aku hari ini pulang dari pasar mendorong motor itu karena ban motornya pecah" Jawab Asril dengan membentak Laila
"Sabar Bang. Abang pasti capek iya? Sini Laila pijitin kaki Abang" Ucap Laila mendekat ke arah Asril yang duduk di kursi ruang tamu
"Apaan sih kamu" Ucap Asril menendang Laila yang ingin memijit kakinya
"Sakit Bang" Jawab Laila
"Siapa suruh" Ucap Asril ke luar rumah
"Abang... Abang mau pergi ke mana? Tanya Laila segera mengejar Asril yang hendak pergi
"Pergi main. Bosan di rumah" Jawab Asril pergi tanpa melihat wajah Laila
"Astagfirullah Bang. Sampai kapan kau akan melakukanku seperti ini" Ucap Laila mengelus dada miliknya yang terasa sesak
"Kenapa aku harus menikahi Laila" Tariak Asril yang berada di tengah-tengah jalan.
__ADS_1
"Minggir woi. Mau mati apa!" Ucap salah satu pengendara yang melintas jalanan tersebut
Bersambung... ✍️