
Ismail keluar dari ruangan Pak Pandu dengan wajah yang sangat kecewa. Orang yang berpapasan dengannya pun tidak ingin rasanya berlama-lama untuk menatapnya.
Orang-orang yang berada di lobi pun sama, mereka sedang berbisik-bisik saat Ismail lewat di hadapannya. Entah apa yang mereka bicarakan, Ismail tidak mempedulikannya lagi.
"Eh... Eh sini-sini itu bukannya Ismail ya. Yang supirnya Zilla itu" Ucap salah satu resepsionis memanggil dan mengajak teman-temannya untuk ngerumpi
"Oh iya bener itu Ismail" Jawab salah satu Karyawan
"Kenapa iya wajah kaya orang habis kena marah gitu. Kalian lihat tidak sih, kayak gimana gitu. Aku lihat saat dia datang ke kantor ini biasa aja tuh... Tidak seperti sekarang ini serem..." Sambung yang lainnya
"Bukanya dia orang yang di rekomendasikan untuk bekerja di perusahaan ini. Kenapa iya" Ucap Resepsionis
"Entahlah. Bubar-bubar entar Bos lihat kita lagi ngerumpi, kita pasti dapat marah" Ucap salah satu Karyawan
"Ya udah bubar-bubar cantik" Sambung yang lainnya dan kembali bekerja
Saat berpapasan dengan Zoel, Ismail melewatinya dengan begitu saja. Ismail tidak mampu menahan amarahnya seakan-akan Ismail ingin berteriak sekeras mungkin.
"Ismail. Iya itu kan Ismail. Kenapa dia tidak menyapaku atau melihat sama sekali" Ucap batin Zoel
"Ismail" Panggil Zoel yang tidak menghentikan langkah kakinya
Ismail nampak berjalan lurus menghadap ke depan, tanpa membalikan badannya.
"Ada apa dengannya? Tanya Batin Zoel
"Bukannya hari ini pertama dia bekerja? Mau ke mana dia pergi ke arah sana. Di sana kan pintu keluar" Ucap Zoel yang berbicara sendiri dan menunjuk arah perginya Ismail
"Ah... Sebaiknya aku kejar dia saja. Mungkin saja Ismail masih berada di depan" Ucap Zoel berlari menyusul Ismail
"Ismail" Panggil Zoel yang melihat Ismail masih berada di depan
Ismail tidak menjawab panggilan Zoel.
"Hei... Mau ke mana kamu? Tanya Zoel menepuk pundak Ismail
"Pulang" Jawab Ismail singkat
"Pulang... Bukan seharusnya kamu bekerja hari ini? Kok pulang sih gimana maksudnya gitu? Ada apa dengan mu? Apa sudah terjadi sesuatu denganmu dan Pak Pandu? Tanya Zoel
"Tidak ada sesuatu yang sudah terjadi. Percaya aku tidak apa-apa, aku hanya ingin pulang saja" Jawab Ismail lirih
"Apa kamu sakit? Tanya Zoel
"Tidak" Jawab Ismail
"Jika terjadi sesuatu dengan mu, cerita saja dengan ku. Siapa tau aku bisa memberikan mu solusi. Ya sudah, sekarang kamu pulanglah dan istirahatlah jaga kesehatan mu itu jauh lebih penting saat ini" Ucap Zoel asal
"Terimakasih" Ucap Ismail
Sedari tadi ada seseorang yang sedang memperhatikan membicarakan di antara mereka. Iya pasti itu adalah Karyawan-karyawan perusahaan Pandu Company.
"Apa lho liat-liat" Bentak Zoel kepada mereka
__ADS_1
"Maaf Pak" Jawabnya dengan menundukkan kepalanya
"Kerja yang bener sana! Jangan kepo dengan urusan orang lain! Kalian disini untuk bekerja bukan untuk mengosip" Ucap Zoel meninggalkan mereka
"Ganteng-ganteng tapi galak..." Keluh salah satu karyawan
"Gitu mah atasan. Kita mah apa atuh" Sambung temannya tersenyum
.
.
Pak Pandu yang berada di dalam ruangannya mengambil surat perjanjian yang tergeletak di lantai. Pak Pandu menyimpannya kembali ke dalam laci meja kerjanya. Pak Pandu duduk kembali di kursi kebesarannya dan menyenderkan tubuhnya di kursi. Untuk sejenak Pak Pandu memijat kepalanya yang terasa pening dan sesekali Pak Pandu menarik nafas dalam-dalam dan menghembuskan nya secara perlahan.
"Maafkan aku yang sudah menjadi orang jahat" Ucap Pak Pandu
Pak Pandu melihat foto almarhumah istrinya yang berada di atas meja kerja miliknya. Pak Pandu mengambilnya dan mengusap-usap foto tersebut tak terasa Pak Pandu meneteskan air matanya. Pak Pandu merasakan kekecewaan yang sangat mendalam.
Tok... Tok... Tok... Sura pintu di ketuk
Sura ketukan pintu menyadarkan Pak Pandu, Pak Pandu segera mengusap air matanya yang mengalir dengan tangan miliknya.
Tok... Tok... Tok... Suara pintu di ketuk
"Siapa? Tanya Pak Pandu dari dalam ruangan
"Saya Pak, Zoel" Jawabnya dari luar pintu
"Kenapa Zoel? Tanya Pak Pandu
"Masuklah Zoel" Ucap Pak Pandu
Krekkk... Suara pintu terbuka
Zoel yang membuka pintu ruangan tersenyum kepada Pak Pandu yang sedang duduk di kursinya. Dengan sigap mata Zoel melihat arah dalam ruangan Pak Pandu.
"Sepertinya tidak terjadi sesuatu" Ucap batin Zoel
"Duduklah Zoel. Ada apa? Tanya Pak Pandu
"Iya. Pak" Jawab Zoel duduk di depan Pak Pandu
"Bagaimana? Tanya Pak Pandu
"Itu Pak. It u... Tadi itu" Jawab Zoel terbata-bata
"Kenapa? Tanya Pak Pandu
"Ismail. Iya benar Ismail" Jawab Zoel asal
"Iya kenapa dengan Ismail? Tanya Pak Pandu
"Tadi saat berpapasan dengannya di depan, wajah Ismail seperti orang habis marah. Kenapa iya Pak? Tanya balik Zoel
__ADS_1
"Sepertinya Ismail baik-baik saja saat menemui ku" Jawab Pak Pandu berbohong
"Begitu iya, Pak. Tapikan kenapa Ismail malah pulang dan tidak bekerja? Tanya Zoel
"Mungkin Ismail sakit" Jawab Pak Pandu lagi-lagi berbohong
"Iya-iya mungkin saja begitu Pak" Ucap Zoel menggaruk kepalanya yang tidak terasa gatal
"Apa ada yang ingin kamu sampaikan lagi yang tidak berkaitan dengan Ismail? Tanya Pak Pandu
"Tidak ada, Pak" Jawab Zoel
"Silakan keluar dari ruangan saya" Ucap Pak Pandu
"Iya, Pak. Maaf sudah menganggu Bapak" Jawab Zoel menundukkan kepalanya
.
.
Ismail yang pergi dari kantor dalam keadaaan marah, rasanya ingin memberikan sebuah pelajaran kepada seseorang. Saat ini Ismail berada di rumah Zilla.
"Zilla" Teriak Ismail
Zilla... Zilla... Zilla...
"Zilla keluar kamu" Teriak Ismail dengan sangat keras membuat terkejut orang yang berada di dalam rumah mendengarkan suaranya.
"Siapa yang sudah berteriak-teriak? Tanya batin Zilla yang mendengarkannya
"Zilla keluar kamu! Aku tau kamu ada di dalam" Teriak Ismail dengan sangat keras dan Ismail tidak hanya diam saja bahkan Ismail menggedor-gedor pintu rumah Zilla
Bu Ain yang mendengarkan suara seseorang dari dapur, segera berlari menuju ke luar rumah.
"Suara siapa, Bu? Tanya Zilla menuruni anak tangga yang berpapasan melihat Bu Ain keluar dari dapur
"Kurang tau, Nak. Suara siapa itu? Tapi kalau ibu dengarkan baik-baik sepertinya itu suara Ismail" Jawab Bu Ain
"Ismail" Ucap Zilla
Zilla dan Bu Ain berlari ke luar rumah, saat di lihatnya ternyata benar itu adalah suatu Ismail.
Ismail yang melihat Zilla keluar rumah segera menghampirinya dan mendekat menuju ke arah Zilla.
Plak... Sebuah tamparan yang mendarat di pipi kiri Zilla
"Aw... Sakit" Teriak Zilla merasakan sakit di pipi kiri nya
"Itu tamparan pantas untuk mu" Ucap Ismail pergi meninggalkan Zilla begitu saja
"Apa kau sudah gila Ismail" Teriak Zilla
Bersambung... ✍️
__ADS_1
MOHON DUKUNGANNYA TEMAN-TEMAN KU SEKALIAN