Papa Untuk Anakku

Papa Untuk Anakku
Episode 34


__ADS_3

Pagi sekali Ismail pergi ke rumah Uswa untuk berpamitan dan sekaligus menyerahkan kunci rumah miliknya, agar saat Ismail berada di kota bisa sesekali datang untuk melihat rumahnya serta membersihkan rumah tersebut.


Sebenarnya dalam hati Ismail yang paling dalam, Ia tidak ingin meninggalkan Uswa sendirian di desa. Keterpaksaan keadaan dan keinginan Ismail untuk memiliki rumah sendiri, serta memiliki sebuah usaha yang Ia angan-angankan selama ini agar tercapai keinginannya.


Ismail berjalan menuju ke rumah Uswa dengan mengendong tas ransel miliknya yang berisikan baju. Saat Ismail tepat berada di depan rumah Uswa. Tampak terlihat sebuah mobil yang terparkir tepat di depan rumah Uswa.


"Mobil Hadi" Ucap Ismail


"Kenapa sepagi begini Hadi berada di rumah Uswa. Apa yang terjadi dengan mereka sehingga aku sendiri tidak tahu apa-apa soal mereka? dan akhir-akhir ini aku sering melihat Hadi dan Uswa selalu bersama" Pikir Ismail


"Ah... Mungkin ini hanya kebetulan saja. Tidak seharusnya aku mencurigai merek. Aku yakin Uswa akan tetap mencintaiku dan Hadi juga sahabat ku mana mungkin Hadi menyukai Uswa" Ucap Ismail membuang jauh kecurigaannya terhadap Hadi


"Eh... Ada Ismail" Panggil Hadi


"Iya ini aku" Jawab Ismail


"Kamu mau kemana? Tanya Hadi yang melihat Ismail membawa ransel


"Kamu juga kenapa ada di sini pagi-pagi begini? Tanya balik Ismail dan tidak menjawab pertanyaan Hadi


"Aku..." Jawab Hadi dengan menunjuk dirinya sendiri


"Iya kamu. Siapa lagi yang ada di sini, kalau bukan kita berdua" Ucap Ismail


"Menjemput Uswa lha" Jawab Hadi


"Mau pergi ke mana kalian" Ucap Ismail


"Kita akan pergi kerumah ku. Ibuku menyuruh Uswa untuk membantu memasak" Jawab Hadi


"O..." Ucap Ismail duduk di kursi yang berada di depan rumah Uswa


"Kamu sendiri mau pergi ke mana dengan membawa tas ransel. Apa kamu akan kembali kota? Tanya Hadi


"Iya. Aku akan kembali ke kota, Pak Pandu sudah menelepon ku untuk kembali secepatnya" Jawab Ismail


Ismail dan Hadi asyik berbicara dan bercanda tawa. Uswa yang mendengarkan percakapan di antara mereka terkejut mendengarkan suara Ismail yang berada di rumah nya.


"Apa itu suara Abang? Tanya batin Uswa meraih ponselnya yang berada di atas meja rias dan segera pergi menuju ke depan rumah


Saat di lihatnya ternyata benar itu suara Abang Ismail. Ismail terlihat tidak seperti biasanya yang hanya murung dan berdiam diri setelah kematian Ibunya. Uswa hari ini yang melihat langsung Ismail dapat tersenyum dan tertawa ceria hatinya sangat senang.


"Abang Isma" Ucap Uswa


"Uswa. Apa kabar kamu? Tanya Ismail berbasa-basi

__ADS_1


"Alhamdulillah baik Bang" Jawab Uswa


"Hadeh Mail... Kamu ini ya. Tanya kabar segala seolah-oleh tidak bertemu Uswa sekian tahun saja" Sambung Hadi mengeleng-gelengkan kepalanya


"Tidak ada salahnya kan Uswa. Bertanya kabar kepada calon Istriku? Tanya Ismail kepada Uswa


"Tidak ada yang salah Bang" Jawab Uswa


Hadi yang melihat Ismail dan Uswa hanya bisa memalingkan wajahnya.


"Abang kenapa membawa tas ransel. Apa Abang aka n? Tanya Uswa dengan terbata-bata


"Iya benar Uswa yang apa kamu ucapkan. Abang hari ini akan berangkat ke kota. Pak Pandu sudah beberapa hari ini menelepon Abang dan meminta Abang untuk kembali ke kota" Jawab Ismail


"Apa Abang akan benar-benar pergi hari ini. Ibu baru meninggal Bang, empat puluh hari saja belum. Bagaimana mungkin Abang tega pergi? Tanya Uswa dengan menundukkan kepalanya


"Soal itu, Abang serahkan kepada mu Uswa. Ini ada uang sedikit untuk mu tolong terimalah dan ini kunci rumah. Abang harap Uswa dapat membantu memberikan rumah Abang. Walaupun tidak setiap hari" Jawab Ismail


"Uswa akan menjaga rumah Ibu, Bang. Abang di sana baik-baik, ya. Jangan pernah meninggalkan sholat" Ucap Uswa


"Terimakasih sudah mengingatkan" Jawab Ismail


"Hadi. Aku titip Uswa, ya. Aku harap kau menjaga Uswa dengan baik seperti aku menjaga Uswa selama ini" Ucap Ismail kepada Hadi


"Terimakasih" Ucap Ismail


"Ayo, Aku akan mengantarkan mu ke terminal setelah aku mengantarkan Uswa ke rumah ku terlebih dahulu" Ajak Hadi


"Apa tidak merepotkan mu? Tanya Ismail


"Iya tidak lah Mail" Jawab Hadi merangkul Ismail dan masuk ke dalam mobil miliknya


.


.


Pak Pandu yang mendapatkan pesan dari Ismail berisikan kalau Ismail akan kembali ke kota hari ini sangat senang. Dengan begitu Pak Pandu bisa melancarkan aksinya menikahkan Zilla dengan Ismail.


Bahkan Pak Pandu meminta kepada Boy untuk langsung menjemput Ismail di terminal, ini semua dilakukan oleh Pak Pandu dengan cuma-cuma.


Pak Pandu juga sudah menyiapkan posisi yang paling pantas untuk bekerja di kantornya. Pak Pandu meminta Zoel agar membantu Ismail saat bekerja. Pak Pandu ingin Ismail nantinya yang akan memegang perusahaan miliknya. Sedangkan Pak Pandu di sisa akhir hidupnya ingin hidup bahagia tanpa harus bekerja keras menjalankan perusahaannya.


.


.

__ADS_1


Zilla hari ini masih bermalas-malasan rasanya tidak ingin pergi dari tempat tidurnya. Pak Pandu sudah pergi ke kantor. Bu Ain sedari tadi tidak melihat Zilla sarapan pagi bersama Pak Pandu memuntuskan untuk melihat Zilla di kamarnya.


"Kenapa Zilla tidak ikut sarapan bersama Pak Pandu pagi ini? Tanya batin Bu Ain


"Tadi malam aku melihat mereka baik-baik saja dan tidak terjadi sesuatu di antara mereka" Ucap Bu Ain yang semalam tidak mendengarkan keributan yang terjadi di antara Zilla dan Pak Pandu


Tok... Tok... Tok... Suara pintu di ketuk


Zilla yang mendengarkan suara itu hanya diam saja dan langsung menarik selimut sampai menutupi kepalanya.


"Zilla" Panggil Bu Ain dari luar pintu


Zilla tidak menjawab


"Zilla. Apa kamu di dalam, Nak? Tanya Bu Ain


Zilla tidak menjawab


Saat Bu Ain memegang gagang pintu, ternyata tidak di kunci.


Ckelek... Pintu kamar milik Zilla terbuka


"Zilla" Teriak Bu Ain melihat kamar Zilla berantakan


Bu Ain berlari menuju ke arah Zilla, Bu Ain membuka selimut yang menutupi Zilla.


"Bu Ain" Panggil Zilla geram langsung duduk dengan bibir manyun


"Apa yang terjadi dengan mu? Zilla kamu baik-baik saja kan? Zilla jawab pertanyaan Bu Ain? Tanya Bu Ain memegang kedua bahu Zilla


"Bu Ain. Bisa lihat sendiri kan sekarang apa yang sudah terjadi dengan Zilla" Jawab Zilla


"Ibu sangat menghawatirkan keadaan mu, Nak. Apa anak yang kamu kandung baik-baik saja" Ucap Bu Ain keceplosan


"Apa" Ucap Zilla tak percaya dengan apa yang di ucapkan Bu Ain. Mulut Zilla sampai mengganga dan menutupinya dengan kedua tangannya


"Astagfirullah" Ucap Bu Ain berlari keluar dari kamar Zilla


"Bu Ain jangan pergi, tunggu dulu" Teriak Zilla


"Jadi selama ini Bu Ain sudah tahu kalau aku hamil" Ucap Zilla meneteskan air matanya


Bersambung... ✍️


#MOHON MAAF BILA ADA KEKURANGAN#

__ADS_1


__ADS_2