
Uswa meninggalkan desa Bunglon, tanpa berpamitan kepada Abang Ismail, Bu Zaroh, bahkan Bu Tia. Uswa menuliskan sebuah surat yang ditulis olehnya berisikan agar Abang Ismail tidak mencarinya saat dia pergi dari desa Bunglon yang Uswa letak di atas meja riasnya. Uswa sudah tidak ingin menjadi beban siapapun, Uswa meletakkan surat tersebut dengan menandainya dengan air mata yang Uswa teteskan di surat itu.
Pagi itu sebelum matahari terbit Uswa sudah terlebih dahulu menunggu Aira di tempat yang Aira janjikan itu. Terlihat sebuah mobil yang menghampiri Uswa, Uswa segera bangkit dari tempat duduknya dengan melambaikan tangannya.
"Aku pikir kau tidak mau ikut denganku Uswa" Ucap Aira turun dari mobilnya
"Aku ikutlah" Jawab Uswa segera masuk ke dalam mobil dan meletakkan tas pakaiannya di kursi belakang
"Apa kau yakin? Tanya Aira
"Iya. Ayolah cepat nyalakan mobilmu" Perintah Uswa
"Siap Bos" Ucap Aira segera menyalakan mesin mobilnya dan berjalan menuju ke kota dengan wajah gembira
Perjalanan menuju ke kota membutuhkan waktu yang cukup lama. Sampai-sampai Uswa tertidur pulas di dalam mobil. Sedangkan Aira masih fokus dengan menyetir.
"Tin... Tin... Tin..." Suara klakson mobil milik Aira saat sampai di depan kontraknya yang tidak membangunkan tidur Uswa
"Uswa... Uswa..." Panggil Aira dengan pelan
"Hm" Ucap Uswa
"Bangunlah kita sudah sampai" Ucap Aira mengoyangkan tubuh Uswa
"Hm... Kita sudah sampai kah? Tanya Uswa mengucek-ngucek matanya
"Iya. Ayolah turun dan bawa itu pakaianmu yang berada di kursi belakang" Perintah Aira
"Iya" Ucap Uswa lirih dan segera turun dari mobilnya
Aira turun terlebih dahulu dari mobilnya, Aira segera membukakan pintu rumahnya untuk Uswa.
"Apa ini sudah malam? Tanya Uswa melihat sekelilingnya
"Iya sudah malam. Karena kau tadi asyik tidur saja" Jawab Aira masuk ke dalam rumah
"Maaf" Ucap Uswa yang masih berdiri di depan rumah
__ADS_1
"Masuklah Uswa" Perintah Aira
"Benar ini kontrak mu. Besar sekali rumah ini Aira! Berapa uang yang kau bayar untuk mengontrak rumah ini? Tanya Uswa terkejut saat masuk ke dalam rumah dengan melihat barang-barang mewah
"Ini murahlah Uswa" Jawab Aira berbohong
"Mari, sini aku akan tunjukkan di mana kamar mu! Ajak Aira menaiki anak tangga menuju ke lantai atas
"Aku di lantai atas dan kau di lantai bawah? Tanya Uswa mengikutiku langkah Aira dari belakang
"Iya. Tara... Ini kamar untuk mu Uswa. Apa kau menyukainya? Tanya Aira membuka kamar tersebut dan masuk ke dalam
"Wah... Besarnya kamar ini. Ada Ac-nya juga" Jawab Uswa terheran-heran
"Letakkan pakaian itu ke dalam lemari, habis itu kau pergilah mandi. Kamar mandi berada di sebelah sana, setelah itu kau bisa lanjut istirahat" Ucap Aira tersenyum
"Terimakasih banyak Aira sudah merepotkan dirimu" Jawab Uswa tersenyum
"Aku hanya ingin menolongmu Uswa dan hanya ini saja yang bisa aku lakukan untuk mu" Ucap Aira
"Terimakasih" Jawab Uswa mengulanginya
"Iya" Ucap Uswa menutup pintu kamarnya
Uswa meletakkan pakaiannya ke dalam lemari, setelah itu Uswa duduk di pinggir tempat tidurnya. Uswa sejenak memikirkan Aira yang tidak habis pikir mampu mengontrak rumah sebesar ini. Sedangkan Ibunya hanya seorang janda dan Bapak Aira sudah meninggal dunia. Orang tua Aira tidak kaya raya, di tambah lagi Aira saat ini kuliah kedokteran yang membutuhkan biaya yang sangat besar sedangkan adiknya masih di bangku SMA. Dari mana semua biaya kehidupan ini.
"Apa pekerjaan sampingan Aira? Tanya Uswa pada dirinya sendiri
"Kenapa aku jadi memikirkan urusan hidup orang lain" Ucap Uswa segera bangkit dari tempat duduknya dan menuju ke kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya
Setelah selesai mandi Uswa merasa haus dan ingin pergi mengambil air minum yang berada di ruang makan. Uswa menuruni anak tangga, tanpa sengaja Uswa melihat Aira baru saja keluar dari kamar dengan mengenakan pakaian yang super minim.
"Aira" Teriak Uswa segera mempercepat langkahnya menuruni anak tangga dan menuju ke arah Aira
"Uswa. Kau membuat aku terkejut tau" Ucap Aira dengan menurunkan sedikit rok yang Ia kenakan karena malu melihat kedatangan Uswa
"Kau mau pergi iya? Tanya Uswa
__ADS_1
"Iya aku harus bekerja malam ini kalau tidak Bosku akan memecat ku" Jawab Aira tersenyum
"Bekerja dengan pakaian seperti ini? Apa kau tidak lihat ini sudah malam dan pukul sembilan malam" Ucap Uswa lirih
"Ini masih sore Uswa. Kita di kota dan waktu itu tidak jadi masalah" Jawab Aira memalingkan wajahnya
"Kau bekerja apa iya Aira? Tanya Uswa melihat wajah Aira
"Aku bekerja di mall. Aku harus pergi Uswa, Kau tidurlah jika kau mengantuk dan jangan tunggu aku pulang" Jawab Aira segera keluar rumah
"Aira. Bajumu itu sangat seksi" Teriak Uswa dari dalam rumah
Uswa menyusul Aira untuk keluar rumah. Namun mobil Aira sudah pergi duluan.
"Apa iya pekerjaan Aira? Malam begini harus bekerja" Ucap Uswa mengaruk kepalanya yang tidak terasa gatal dan langsung masuk ke dalam rumah mengunci pintunya
"Kruk... Kruk... Kruk..." Suara lapar berasal dari perut Uswa
"Hah... Kenapa di jam seperti ini. Aku terasa lapar sekali" Ucap Uswa menuju ke ruang makan dan meminum air putih
"Kalau aku hanya meminum air putih saja mana kenyang. Hm... Apa yang harus aku masak" Pikir Uswa membuka kulkas dan di temukannya hanya terdapat telur yang berjejer di rak kulkas
"Sebaiknya aku membuat telur ceplok kecap saja" Ucap Uswa langsung memasak telur tersebut
Tanpa membutuhkan waktu berjam-jam, akhirnya telur ceplok tersebut sudah jadi dan Uswa langsung memakannya dengan lahap. Uswa yang belum merasa ngantuk pergi ke ruang tamu menyala televisi sembari menunggu pulang Aira. Uswa mula-mula hanya duduk diam di kursi. Uswa mengambil ponsel miliknya melihat foto orang-orang yang Ia sayangi selama ini tanpa Uswa sadari Uswa meneteskan air matanya. Uswa yang hanyut dalam kesedihannya tersadarkan dengan suara lonceng jam dinding yang menunjukkan pukul dua belas malam. Uswa segera menghapus air matanya dan mematikan televisi tersebut.
Uswa masih menunggu Aira pulang ke rumah. Uswa merasa cemas apabila Aira belum pulang juga. Uswa hanya bisa berjalan mondar-mandir di depan pintu rumahnya saat Aira tidak menjawab telepon darinya. Uswa kembali duduk di kursi ruang tamu, semakin malam semakin mengantuk. Uswa akhirnya tertidur pulas di kursi ruang tamu.
Suara Adzan subuh berkumandang terdengar dengan sangat jelas.
"Krek..." Suara pintu terbuka
"Uswa yang mendengarkan suara tersebut segera bangun dan membuka matanya. Aira..." Ucap Uswa dengan pandangan samar-samar melihat Aira dan memanggil
"Uswa" Jawab Aira lirih
"Kau baru pulang! Aku menunggu mu dari semalam dan aku sampai tertidur pulas di kursi ini" Ucap Uswa dengan menepuk kursi tersebut
__ADS_1
"Kan aku sudah berkata kepada mu. Jangan tunggu aku pulang, itulah akibatnya kau tertidur di ruang tamu. Aku masuk ke dalam kamar dulu iya Uswa, aku ngantuk sekali" Pamit Aira menguap dan segera masuk ke dalam kamar miliknya
Bersambung... ✍️