Papa Untuk Anakku

Papa Untuk Anakku
Episode 48


__ADS_3

Hari pernikahan


Sekejap saja rumah Pak Pandu sudah di sulap menjadi tempat pernikahan Zilla dan Ismail yang terlihat sangatlah indah. Tidak membutuhkan banyak para tamu undangan. Pernikahan Zilla dan Ismail hanya mengundang para tamu undangan dari keluarga dekat, serta rekan bisnis Pak Pandu.


Sahabat Zilla yang bernama Nidya dan Mira tidak mempercayai saat mengetahui kabar pernikahan Zilla. Mereka syok mendengarkan Zilla akan menikah dengan Ismail, sedangkan yang mereka ketahui adalah Asril yang sudah menghamili Zilla.


"Apa kau tidak salah memberikan informasi kepada ku? Tanya Mira sedang menelepon


"Tidak. Bukannya kau sahabat Zilla, Kenapa Zilla akan menikah dan kau tidak mengetahuinya? Tanya Andi


"Tidak. Semenjak Zilla meminta cuti untuk tidak ke kampus, aku dan Nidya tidak lagi berkomunikasi dengannya lagi" Jawab Mira menjelaskan


"Kau sekarang berada di mana? Tanya Mira


"Aku masih berada di rumah dan sebentar lagi aku akan mengantarkan Ismail untuk pergi ke rumah Zilla" Jawab Andi


"Di mana mereka akan menikah? Tanya Mira


"Di rumah Pak Pandu" Jawab Andi


"Kalau mereka benar-benar akan menikah hari ini, pukul berapa mereka akan melangsungkan pernikahannya? Tanya Mira


"Pukul 11:00" Jawab Andi


"Yasudah terimakasih sudah memberitahuku, sebentar lagi aku dan Nidya akan pergi ke rumah Zilla" Ucap Mira menutup telponnya


.


.


"Nidya" Teriak Mira


"Mir. Aku tidak tuli" Jawab Nidya dari belakang


"Aku punya berita yang sangat amat menggemparkan dunia" Ucap Mira


"Berita apa? Paling juga tidak penting" Jawab Nidya


"Sini-sini mendekat dengan ku" Perintah Mira


"Apa? Tanya Nidya saat berada di dekat Mira


"Zilla akan menikah hari ini" Jawab Mira


"Astaga. Akhirnya nikah juga tu bocah iya, padahal selama ini Pak Pandu melarang Zilla untuk menikah dengan Asril" Ucap Nidya


"What? Ape lu bilang Asril. Hello Nidya Zilla menikah dengan Ismail, bukan dengan Asril" Jawab Mira membenarkannya


"What? Jadi Aa ganteng yang menikah dengan Zilla. Ya... Terlambat deh akunya" Ucap Nidya cemberut


"Lu suka juga dengan si Mail? Tanya Mira


"Ho'oh Mir. Eh... Ngomong-ngomong kapan mereka akan menikah? Tanya balik Nidya


"Hari ini jam 11:00" Jawab Mira


"Terus Asril? Tanya Nidya


"Entahlah" Jawab Mira


"Ayo, kita siap-siap sekarang. Jangan sampai kita terlambat" Ajak Nidya


"Hayuk" Jawab Mira


.


.


Zilla sudah selesai di rias, mengenakan pakaian kebaya berwarna putih. Bu Ain yang menemani Zilla sedari tadi tidak mampu berkata-kata. Bu Ain hanya bisa tersenyum dan meneteskan air matanya.


"Cantik sekali, Nak" Ucap Bu Ain mendekat ke arah Zilla


"Terimakasih, Bu" Jawab Zilla


"Ibu tidak percaya kalau hari ini kau akan menikah dengan Ismail" Ucap Bu Ani meneteskan air matanya


"Terimakasih, Bu. Sudah menemaniku hingga saat ini. Tolong jangan menangis atau Zilla akan ikut menangis juga" Jawab Zilla mengusap air mata Bu Ain


Pak Pandu yang melihat Zilla dan Bu Ain ikut terharu juga. Tidak terasa air mata Pak Pandu menetes dengan segera Pak Pandu mengusap air matanya dengan tangannya sendiri, sebelum orang lain melihatnya menangis. Pak Pandu masuk ke dalam kamar Zilla.


"Hm..." Pak Pandu berdehem


"Eh... Ada Pak Pandu" Ucap Bu Ain


"Pa..." Sambung Zilla melihat ke arah datangnya Pak Pandu

__ADS_1


"Zilla... Ibu pergi ke depan sebentar iya, Nak" Ucap Bu Ain


"Iya Bu" Jawab Zilla


"Ada apa, Pa? Tanya Zilla kepada Papa Pandu


"Tidak ada apa-apa. Papa hanya ingin melihatmu saja" Jawab Papa Pandu


"Apa Ismail sudah datang, Pa? Tanya Zilla


"Belum" Jawab Papa Pandu


"Ismail pasti datang kan, Pa? Tanya Zilla


"Iya. Kau janyalah cemas, Papa sudah mengatur semuanya. Papa ingatkan kembali kepada dirimu, sebentar lagi kau akan menjadi istri seorang Ismail Marzuki. Jangan pernah membantah perkataannya dan ikuti semua ucapannya. Karena surga ada di telapak kaki suamimu, jadilah istri yang menurut untuk suamimu. Jadikanlah pernikahanmu sakinah, mawadah, dan warahmah. Sekarang bukan tanggung jawab Papa lagi untuk menjagamu" Jawab Pak Pandu mencium kening Zilla


"Pa..." Ucap Zilla lirih


"Papa akan ke depan lagi untuk menyambut para tamu undangan. Tetaplah di sini, nanti ada Bu Ain yang akan membantumu untuk keluar saat Ismail tiba" Jawab Papa Pandu


"Iya, Pa" Ucap Zilla


Pak Pandu keluar dari kamar Zilla dan menemui tamu para undangan. Di depan pintu masuk ada seseorang yang sedang membuat keributan dan ingin masuk ke dalam acara pernikahan Zilla.


.


.


"Stop kalian berdua berhenti" Ucap Boy


"Kami mau masuk ke dalam" Jawab Nidya


"Tunjukkan kartu undangan kalian" Perintah Boy


"Kartu undangan apa? Tanya Nidya


"Kartu undangan pernikahan Zilla dan Ismail kalau kalian berdua memilikinya tunjukkan kepada kita agar kalian boleh masuk ke dalam" Jawab Boy menjelaskan


"Kita tidak punya. Lagian kita itu sahabat Zilla, jadi tidak perlu pakai kartu undangan segala" Sambung Mira


"Ini perintah Pak Pandu. Jika kalian tidak punya tolong tinggalkan tempat ini dan jangan membuat keributan" Ucap perintah Boy


"Apaan sih Boy" Ucap Nidya menerobos


"Stop" Teriaknya


"Siap Bos" Ucapnya


"Tunggu. Kalian jangan mendekat atau aku akan berteriak" Ucap Nidya


"Ck. Kalian ini" Jawab Boy


"Tunggu aku akan menelepon Zilla" Sambung Mira


"Zill.. Hallo aku dan Nidya ingin masuk ke dalam rumahmu. Tapi Boy tidak mengizinkan aku dan Nidya untuk masuk. Di karenakan kita tidak memiliki kartu undangan" Ucap Mira menelepon Zilla


"Berikan ponselmu kepada Boy, biarkan aku yang berbicara kepada mereka" Jawab Zilla


"Ini" Ucap Mira menyodorkan ponsel miliknya kepada Boy


"Apa? Tanya Boy


"Bicaralah" Jawab Mira


"Hm... Hallo" Ucap Boy


"Boy biyarkan Mira dan Nidya masuk" Perintah Zilla


"Tidak bisa. Pak Pandu sudah menyuruh kita untuk berjaga agar orang yang tidak memiliki kartu undangan tidak di perbolehkan masuk ke dalam" Jawab Boy


"Aku yang saat ini sedang berbicara kepadamu dan menyuruhmu bukan Papa" Ucap Zilla


"Tidak bisa ini perintah Pak Pandu" Jawab Boy


"Atau kamu mau aku akan kabur bersama mereka" Ucap Zilla mengancam


"Jangan. Baiklah aku akan menyuruh mereka untuk masuk" Jawab Boy


"Bagus" Ucap Zilla mematikan teleponnya


Setelah mendapatkan perintah dari Zilla, akhirnya Boy mengizinkan Mira dan Nidya untuk masuk ke dalam.


"Kalian masuklah" Ucap Boy dengan mengembalikan ponsel milik Mira


"Gitu donk dari tadi" Jawab Nidya tersenyum

__ADS_1


Nidya dan Mira masuk ke dalam rumah Zilla, mereka segera menaiki anak tangga dan menuju ke kamar Zilla. Saat sampai di depan kamar Zilla mereka langsung masuk tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu.


"Lu sudah gila ya, Zill" Umpat Mira masuk ke dalam kamar Zilla


"Kau mengejutkanku saja" Jawab Zilla


"Kau kenapa menikah dengan Ismail? Orang yang tidak kau cinta. Di mana Asril sekarang? Tanya Mira kepada Zilla


"Aku terpaksa harus menikah dengan Ismail agar Papaku tidak membunuh bayi yang aku kandung. Aku ingin bayi ini tetap hidup meskipun bagaimana cara? Dan untuk Asril sampai saat ini aku tidak tahu keberadaannya" Jawab Zilla singkat


"Lu kan bisa kabur" Sambung Nidya


"Kalau aku kabur siapa yang akan membiayai hidupku. Aku tidak pandai bekerja, aku juga tidak ingin hidup miskin. Pasti Papa akan memblokir semua kartu kredit ku" Ucap Zilla


"Astaga Zill... Beneran lu akan menikah dengan Mail? Tanya Nidya


"Hm" Jawab Zilla menganggukkan kepalanya


"Lu yang sabar ya, Zill" Sambung Mira


Tanpa mereka sadari pembicaraan di antara mereka sudah di dengarkan oleh Bu Ain


"Apa yang kalian lakukan di sini? Tanya Bu Ain yang membuat terkejut mereka


"Eh... Bu Ain. Hallo Bu bagaimana kabar Bu Ain? Tanya Mira berbasa-basi


"Baik" Jawab Bu Ain singkat


"Nak Zilla. Ayo, turun ke bawah Ismail sudah datang" Ajak Bu Ain tersenyum


"Benarkan Bu. Ismail sudah datang? Tanya Zilla memastikan


"Iya. Ayo" Ajak Bu Ain


"Dan untuk kalian pergilah sebelum Pak Pandu melihat kalian berada di sini" Ucap Bu Ain mengusir Mira dan Nidya


"Bu..." Jawab Zilla lirih


"Iya Zill... Kami berdua pamit dulu ya. Semoga pernikahan kalian langgeng" Sambung Nidya berpamitan


.


.


Pak Pandu yang masih berada di depan pintu masuk merasa senang karena Ismail datang dan tidak melarikan diri. Pak Pandu menyambut kedatangan Ismail dengan senyuman bahagia.


"Terimakasih sudah mau menjadi suami anakku" Ucap Pak Pandu berbisik di telinga Ismail


"Hm" Jawab Ismail


"Jangan bikin ulah kalau kau ingin hidup tenang sebagai suami Zilla" Ucap Pak Pandu berbisik di telinga Ismail


"Hm" Jawab Ismail


"Ayo, masuklah semua orang sudah menunggu kedatanganmu. Kalau mereka bertanya tentang dirimu jawab saja kau itu lulusan kuliah dari luar negeri dan sekarang bekerja di Pandu Company sebagai wakil pimpinan. Jika mereka masih banyak bertanya. Menjauhkan dari mereka" Ucap ancaman Pak Pandu


"Hm" Jawab Ismail lagi-lagi hanya hm saja


"Ck" Ucap desis Pak Pandu


Ismail yang baru masuk ke dalam tempat acara sudah di sambut oleh Zilla yang menuruni anak tangga. Ismail segera berlari untuk menjemput Zilla dan membantunya untuk turun ke bawah.


"Aku pikir kau tidak akan datang" Ucap Zilla lirih


"Aku bukan tipe laki-laki seperti itu, yang suka ingkar janji" Jawab Ismail lirih


"Hm" Jawab Zilla tersenyum


"Hari ini kau cantik, anggun dengan memakai kebaya berwarna putih. Laki-laki yang membiarkanmu akan rugi. Pasti akan menyesal" Ucap Ismail lirih


Mereka sampai di lantai bawah dan duduk di depan penghulu. Keduanya saling bertatap muka dan membalas senyuman di antara Zilla maupun Ismail.


"Bagaimana? Sudah bisa di mulai? Tanya Penghulu


"Bisa" Jawab Ismail


"Bismillahirrahmanirrahim. Saudara Ismail Marzuki bin Harjo (Almarhum). Saya nikahkan dan kawinkan kau dengan saudari Zilla Zulaina binti Pandu. Dengan maskawin seperangkat alat salat, di bayar tunai" Ucap Penghulu


"Saya terima nikah dan kawinnya Zilla Zulaina binti Pandu. Dengan maskawin tersebut, di bayar tunai" Jawab Ismail


"Bagaimana para saksi? Tanya Penghulu


"Sah..." Jawab para tamu undangan


"Alhamdulillah" Ucap Penghulu

__ADS_1


Bersambung... ✍️


__ADS_2