Papa Untuk Anakku

Papa Untuk Anakku
Episode 39


__ADS_3

Setelah membawa Ismail dan menyekapnya di gudang dekat pabrik milik Pak Pandu. Boy menghubungi Pak Pandu kembali, Pak Pandu memberikan sebuah pesan singkat kepada Boy agar tetap berjaga-jaga berharap tidak lengah. Pak Pandu juga menyuruh Boy membeli sebuah makanan untuk Ismail dan keesokan harinya Pak Pandu akan menemui Ismail di karenakan hari ini ada pekerjaan yang jauh lebih penting.


Boy yang mendapatkan perintah dari Pak Pandu segera menyuruh anak buahnya membeli sebuah makanan untuk Ismail. Setelah mendapatkannya Boy segera masuk membawa makanan ke dalam ruangan gelap yang bersinarkan lampu remang-remang.


Krek... Suara pintu terbuka


"Aku harap kau suka dengan tempat ini!" Ucap Boy tertawa


"Ck. Dasar tidak berguna" Umpat Ismail


"Kau yang tidak berguna" Ucap Boy


"Kau. Bebaskan aku dari tempat terkutuk ini" Teriak Ismail


"Tidak usah berteriak, tidak ada orang yang akan mendengarkan suara mu dan tidak akan ada orang yang membantumu. Ini lebih baik kau makan saja makananmu ini. Aku sudah membelikannya untukmu cepat makanlah" Ucap Boy menyodorkan makanan tersebut untuk Ismail.


"Aneh. Kau menyuruhku makan sedangkan kau ikat kedua tanganku. Bagaimana cara ku memakan makanan itu? Tanya Ismail


"Pakailah mulutmu" Jawab Boy


"Apa? Siapa yang akan makan dengan tangan terikat? Bawalah kembali makanan itu, aku tidak sudi untuk memakannya" Ucap Ismail memalingkan wajahnya


"Oke. Baiklah aku akan melepaskan ikatan di tanganmu. Awas saja kalau kau melarikan diri dari tempat ini. Aku akan... Iya aku akan menembak kaki kirimu" Ucap Boy mengancam Ismail


"Siapa yang mau kabur? Bilang dengan Bosmu itu kalau berani suruh dia datang kemari untuk menemuiku" Jawab Ismail menantang Boy


"Sombong sekali ucapan mu" Ucap Boy tertawa


"Kalian semua orang-orang aneh" Ucap Ismail lantang dan menuju ke arah Boy


"Berani sekali kau menunjuk ke diriku. Turunkan tangganmu atau aku akan mengikat kembali ke dua tangan mu itu" Jawab Boy


Setelah Boy membantu melepaskan ikatan di kedua tangan Ismail. Boy meninggalkan Ismail yang berada di dalam ruangan tersebut. Tak lupa Boy pun mengunci pintunya dan berjalan menuju ke arah anak buahnya


"Kalian semua tetap awasi Ismail, jangan sampai dia kabur dari tempat ini. Aku akan pergi sebentar" Ucap Boy berpamitan kepada anak buahnya


"Baik Bos" Ucapnya

__ADS_1


"Bagus" Jawab Boy


.


.


Sore hari saat Pak Pandu pulang dari kantor,


Zilla yang mendengarkan suara klakson mobil milik Pak Pandu. Segera turun ke bawah, Zilla berdiri tepat di tengah pintu rumah miliknya. Zilla sudah geram dengan sikap Ismail yang menampar dirinya tadi pagi. Zilla berpikir ini semua pasti ada hubungannya dengan Papa Pandu. Tidak mungkin Ismail menampar ku tanpa sebab pikir Zilla sedari tadi.


"Zilla apa yang kau lakukan dengan berdiri di tengah pintu seperti itu. Kau tidak ingat kalau dirimu sedang hamil dan orang hamil di larang berdiri di tengah pintu" Ucap Papa Pandu menjelaskan


"Pa. Jawab pertanyaan Zilla! Kenapa Ismail datang ke rumah ini memanggilku dengan berteriak-teriak dan menamparku tanpa sebab? Aku tidak pernah berbuat salah kepada Ismail. Apa yang sudah Papa lakukan kepada Ismail sehingga dia menamparku. Pasti ini semua di sebabkan oleh Papa kan? Tanya Zilla


"Apa yang kau tanya Zilla. Papa tidak mengerti dengan ucapanmu" Jawab Papa Pandu


"Jangan berbohong, Pa. Jawablah Zilla ingin tahu saja. Apa yang sudah terjadi di antara kalian" Ucap Zilla memaksa


"Beri Papa jalan, minggirlah" Jawab Papa Pandu mengeluh


"Iya Papa akan menjelaskannya kepada mu. Kita masuk ke dalam dulu oke" Ucap Papa Pandu


Akhirnya Zilla memberi jalan masuk ke dalam rumah untuk Papa Pandu, Zilla mengikuti langkah Papa Pandu dari belakang dan duduk di ruang tamu.


"Jelaskan, Pa" Perintah Zilla


"Hm... Papa menyuruh Ismail untuk mentandatangani surat perjanjian. Tapi Ismail tidak mau dan menolaknya, lalu dia marah pergi begitu saja" Ucap Papa Pandu


"Perjanjian? Perjanjian soal apa, Pa. Jelaskan secara detail, Pa. Zilla tidak mengerti maksud Papa? Tanya Zilla


"Papa sudah menghentikan Ismail untuk tidak menjadi supir mu dan Papa juga sudah memberikan pekerjaan yang lebih baik untuk Ismail dengan bekerja di kantor Papa"Jawab Papa Pandu


"Kalau Papa sudah berbaik hati untuk menerima Ismail bekerja di kantor Papa. Tapi kenapa Ismail marah. Apa isi surat perjanjiannya, Pa? Tanya Zilla


"Suara itu berisikan..." Ucap Pak Pandu tidak mampu meneruskan ucapannya


"Berisikan soal apa, Pa? Jangan buat Zilla berpikir dan bertanya-tanya terus kepada Papa" Jawab Zilla

__ADS_1


"Berisikan soal perjanjian nikah kontrak mu dengan Ismail" Ucap Papa Pandu


"Apa" Jawab Zilla kaget dan berdiri dari tempat duduknya


"Tenanglah dulu, Nak" Ucap Papa Pandu


"Bagaimana Zilla bisa tenang, Pa. Papa memutuskan segala hal tanpa sepengetahuan dan persetujuan Zilla. Zilla tidak ingin menikah dengan Ismail, Pa. Karena ulah Papa yang sangat konyol itu pantas saja Ismail menghampiri dan menamparku" Jawab Zilla menentang


"Papa tidak membutuhkan jawaban dari mu. Ini sudah keputusan Papa dan kamu harus mengikutinya. Kalau kamu tidak menyetujuinya tinggalkan rumah ini, hidup saja sebagai gelandang di luar sana" Ucap Papa Pandu


"Zilla tidak ingin menikah dengan Ismail. Zilla tidak ingin hidup miskin, Pa" Jawab Zilla menangis


"Kalau tidak mau hidup miskin, turuti saja apa kata Papa! Kalau kamu mau menikah dengan Ismail hidupmu akan tetapi terjamin karena di surat perjanjian itu Papa memberikan setengah harta Papa kepada Ismail" Ucap Papa Pandu tersenyum


"Harta!" Jawab Zilla


"Iya. Setengah harta Papa, Papa akan berikan kepada Ismail. Bagaimana tawaran Papa sangat menarik bukan. Pikiran lagi baik-baik sebelum kau memutuskannya. Dari pada hidup dengan anak tengil itu yang tidak mau tanggung jawab" Ucap Papa Pandu


" Bukan anak tengil, Pa. Dia punya nama dan namanya itu Asril. A s r i l" Ucap Zilla mengejanh nama Asril


"Terserahlah apa namanya tidak penting juga untuk Papa" Jawab Papa Pandu


"Di mana Ismail sekarang, Pa? Tanya Zilla


"Kenapa kamu menanyakan Ismail kepada Papa. Mana Papa tau Ismail sekarang berada diana" Jawab Papa Pandu


"Hanya tanya saja, Pa" Ucap Zilla


"Apa kamu setuju untuk menikah dengan Ismail. Wah... Papa makin tambah sayang kepada anak Papa ini" Jawab Papa Pandu memeluk Zilla


"Zilla belum memutuskan keputusan Zilla iya, Pa. Jadi Papa jangan senang dulu" Ucap Zilla ketus dan pergi meninggalkan Papa Pandu yang masih berada di ruang tamu


Papa Pandu yang melihat Zilla pergi meninggalkannya di ruang tamu hanya bisa tersenyum.


Bersambung... ✍️


Hai pecinta novel PAPA UNTUK ANAKKU mohon dukungannya dengan cara rate, vote, like, share, dan berikan komentar terbaik kalian untuk novelku yang satu ini. Jika ada saran tolong sampaikan 🥺

__ADS_1


__ADS_2