
Hari pertama Ismail Marzuki masuk bekerja di perusahaan Pandu Company. Ismail mengenakan pakaian kemeja berwarna biru laut serta celana hitam. Setelah dilihatnya rapi lewat kaca lemari Ismail segera menuruni anak tangga dan menuju ruang makan. Di sana tampak terlihat jelas Andi sudah berada di ruang makan terlebih dahulu. Andi yang sedang mengambil roti dan mengoleskannya dengan selai coklat.
"Tidak seperti biasanya. Dia memakai baju seperti itu" Ucap batin Andi
Ismail yang sedari tadi sibuk di perhatikan oleh Andi tidak meresponnya. Ismail bahkan tidak ingin melihat wajah Andi yang saat ini melihat dirinya dengan sangat intens.
Sesampainya di meja makan Ismail segera duduk di samping Andi. Ismail meraih gelas yang berada di atas meja makan yang berisikan segelas susu. Ismail meminumnya hingga tak tersisa, Ismal tidak mempedulikan lagi punya siapa minuman tersebut.
"Hey. Itukan susuku" Ucap Andi melihat Ismail meminum susu miliknya
"Sudah lah ikhlaskan saja untuk ku minum" Jawab Ismail santai
"Astaga Isma. Kau terlihat tidak seperti biasanya. Ada apa dengan mu? Tanya Andi
"Kenapa dengan ku? Tanya balik Ismail dengan menunjuk dirinya sendiri tanpa menjawab pertanyaan Andi
"Iya. Kenapa? Kau terlihat tampak tergesa-gesa? Tanya Andi
"Hari ini adalah hari pertama aku kerja Andi. Aku merasa sidikit agak gugup, Apa penampilan ku sudah cukup rapi? Tanya Ismail merapikan kerah baju miliknya
"Kau ini, ya Mail. Emang benar kamu baru datang ke kota ini kemarin. Tapi kamu sudah lama bekerja dengan Pak Pandu. Apa yang membuat mu merasa gugup? Tanya Andi balik
"Maaf aku tidak bisa menceritakan mu hari ini aku bekerja di mana? Nanti kamu juga bakalan tahu, aku bekerja dengan siapa? Dan di perusahaan mana" Jawab Ismail penuh percaya diri
"Apa perusahaan" Ucap Andi memelotot
"Astagfirullah" Jawab Ismail terkejut melihat Andi memelototkan kedua matanya
"Maaf-maaf sudah membuat terkejut. Kau itu sampai terkejut seperti itu. Di perusahaan milik siapa? Bukannya kamu sedang bekerja dengan Pak Pandu sebagai supir Zilla? Tanya Andi
"Sudah di pecat" Jawab Ismail berbohong
"Di peca t..." Ucap Andi terbata-bata dan tidak percaya dengan ucapan Ismail
"Iya begitu lha" Jawab Ismail berbohong
"Seriusan ini kamu di pe cat...Tapi kalau aku lihat dari wajahmu, aku coba Ramal dulu iya hm... Seperti tidak seperti itu. Kau sedang berbohong kepada ku kan Mail" Ucap Andi tertawa
"Tau aja kamu. Iya ramalanmu benar Andi" Jawab Ismail
"Jadi sekarang kamu bekerja dengan siapa? Tanya Andi
"Masih dengan Pak Pandu" Jawab Ismail lirih
"Bekerja sebagai apa sekarang? Bukan menjadi supir pribadi Pak Pandu kan? Tanya Andi
"Entahlah. Sepertinya tidak sebagai supir, Aku Juga tidak mengerti dengan Pak Pandu yang meminta ku untuk bekerja di perusahaannya. Cuma lulusan SMA, Apa coba yang bisa aku banggakan dari ku" Jawab Ismail
"Jangan begitu Ismail. Kalau Pak Pandu meminta mu seperti itu pasti Pak Pandu ada niatan baik untuk mu" Ucap Andi memberikan semangat kepada Ismail
"Semoga saja, An" Jawab Ismail
"Aku turut berduka cita iya atas meninggalnya Bu Sukma" Ucap Andi
"Iya. Kamu tahu dari siapa kalau Ibuku sudah meninggal? Tanya Ismail
"Dari Hadi. Waktu itu dia meneleponku, aku juga sudah berulangkali meneleponmu tapi kamu tidak mengangkatnya" Jawab Andi menjelaskannya
"Maaf" Ucap Ismail lirih
"Sudah lah lupakan, yang terpenting sekarang kamu sudah baik-baik dan bisa menerima kepergian Ibumu" Ucap Andi menepuk pundak Ismail
__ADS_1
"Aku harus berangkat ke Kantor, atau nanti aku akan terlambat sampai kantor" Ucap Ismail hendak pergi meninggalkan ruang makan, namun di cegah oleh Andi
"Tunggu dulu. Bukanya kita bakalan satu kantor. Kenapa kita tidak berangkat bersama-sama saja. Ikutlah bersama ku naik mobilku" Ucap Andi menawarkan tumpangan mobil kepada Ismail
"Apa tidak merepotkan mu" Jawab Ismail
"Tidak ada yang di repotkan. Aku malah senang punya teman seperti dirimu. Duduklah kembali, kamu belum sarapan kan" Ucap Andi menepuk tempat duduk yang berada di sampingnya
Mendengar ucapan Andi seperti itu, Ismail akhirnya duduk kembali ke tempat duduknya.
"Ini roti untuk mu. Makanlah terlebih dahulu!" Ucap Andi menyodorkan piring yang berisikan roti
"Terimakasih Andi" Jawab Ismail
"Iya sama-sama, Mail" Ucap Andi
.
.
Tidak membutuhkan waktu yang cukup lama untuk sampai ke tempat kerja. Sudah banyak karyawan yang berlalu lalang berdatangan. Para karyawan pun saling sapa menyapa di pagi hari ini dan siap untuk bekerja.
"Zoel" Panggil Andi yang lagi-lagi tidak menyebutkan tanpa embel-embel Pak
"Hm..." Jawab Zoel yang sudah terbiasa menghadapi sikap Andi, tidak menghormati kepada Zoel karena sudah di anggap seperti temannya sendiri, tidak mempedulikan tempat dan jabat
"Apa Pak Pandu sudah datang? Tanya Andi
"Entahlah" Jawab Zoel singkat
"Kau kan sekretaris asistennya Pak Pandu. Masa tidak tau Pak Pandu sudah datang apa belum" Ucap Andi
"Kenapa? Tanya Zoel
"Hi Ismail. Selamat bergabung di perusahaan Pandu Company" Ucap Zoel yang melihat Ismail berdiri di belakang Andi dan mengulurkan tangannya
"Terimakasih Zoel" Jawab Ismail menjabat tangan Zoel
"Jadi kamu juga sudah tahu kalau Ismail akan bekerja di perusahaan ini" Ucap Andi
"Hm..." Jawab Zoel menganggukkan kepalanya dengan malas
"Benar-bener iya teman tidak tau diri" Ucap Andi protes
"Kenapa? Tanya Zoel
"Kamu tahu sedangkan aku tidak" Jawab Andi
"Makanya kalau di kantor jangan main game saja" Ucap Zoel
"Astaga aku itu... Ucap Andi tidak di lanjutkan karena ada Pak Pandu yang baru datang dan menuju ke arah Andi, Zoel, dan juga Ismail
"Ismail. Ke ruangan ku sekarang! Perintah Pak Pandu
"Baik Pak" Ucap Isma mengikuti langkah Pak Pandu menuju ruang kerjanya
"Duduklah" Ucap Pak Pandu saat masuk ke dalam ruangan kerjanya dan menyuruh Ismail duduk di kursi tamu
"Terimakasih, Pak" Ucap Ismail tersenyum
"Sebentar aku akan mengambilkan surat perjanjian kerja kita" Ucap Pak Pandu menuju meja kerjanya untuk mengambil surat perjanjian
__ADS_1
"Surat perjanjian" Ucap batin Ismail
"Ini bacalah terlebih dahulu. Sampaikan ke padaku, kalau kamu tidak mengerti" Ucap Pak Pandu meletakkan surat perjanjian di atas meja
Ismail mulai membukanya, sedangkan Pak Pandu berjalan ke arah jendela dan berdiri di depan kaca jendela ruagan miliknya membelakangi Ismail. Dalam pikiran Pak Pandu berharap sekali Ismail dapat menerima surat perjanjian tersebut.
Saat Ismail membaca halaman pertama yang bertuliskan Perjanjian Nikah. Ismail berpikir sejenak dan menghela nafasnya. Namun Ismail masih melanjutkan membaca surat perjanjian tersebut dengan mengeleng-gelengkan kepalanya miliknya tidak percaya dengan apa yang sudah di bacanya.
Pak Pandu membelakangi Ismail, tidak ingin melihat ekspresi wajah Ismail sama sekali. Meskipun nantinya kalau jawaban Ismail menolak. Maka Pak Pandu sudah siap untuk memaksa Ismail dan akan mengancamnya.
"Apa maksud isi surat perjanjian tersebut Pak" Ucap Ismail lantang dan membuang surat perjanjian itu ke sembarang arah
"Kau hanya perlu mentandatangani saja" Jawab Pak Pandu
"Aku tidak bodoh seperti yang Bapak pikiran" Ucap Ismail
"Kau miskin. Kau butuh harta kan, jadi terima saja tawaran ku itu" Jawab Pak Pandu membalikan badannya yang berkacak pinggang
"Ck. Aku bukan orang seperti itu, Pak" Ucap Ismail
"Jangan munafik, Mail" Jawab Pak Pandu
"Aku tidak akan pernah menerima tawaran Bapak yang sangat menjijikkan seperti ini" Ucap Ismail keluar dari ruangan Pak Pandu, namun tanggannya terlebih dahulu di cekal oleh Pak Pandu
"Aku tahu kau itu orang seperti apa" Ucap Pak Pandu berbisik di telinga Ismail, memepetkan tubuh Ismail ke dinding
"Aku pikir Bapak orang baik selama ini. Ternya sekarang aku sadar sudah bekerja dengan orang seperti sampah" Jawab Ismail berbisik dan mendorong tubuh Pak Pandu duduk di kursi kebesarannya
"Orang miskin. Tapi sombong sekali" Ucap Pak Pandu berdiri dari tempat duduknya
"Iya aku memang miskin. Tapi aku masih punya harga diri. Kecamkan itu" Jawab Ismail mendorong Pak Pandu agar duduk kembali. Aksi Ismail tidak hanya berhenti di situ saja, bahkan Ismail nekat untuk mencekik leher milik Pak Pandu
"Lepaskan" Ucap Pak Pandu memberontak
"Dasar keluarga aneh, Bapak dan anak sama saja" Umpat Ismail meninggalkan ruangan Pak Pandu dengan emosi
"Tunggu" Ucap Pak Pandu yang tidak menghentikan langkah kaki Ismail
"Sial. Berani sekali dia mencekik leher ku" Ucap Pak Pandu memegang lehernya
Pak Pandu mengambil ponsel miliknya yang berada di saku celana miliknya dan menyalakan ponsel tersebut untuk menelepon seseorang.
"Hallo" Ucap Pak Pandu
"Hallo" Jawabnya
"Awasi Ismail kemanapun dia pergi. Pastikan dia tidak meninggalkan kota ini! Perintah Pak Pandu
"Siap" Jawabnya mengakhiri telpon
Bersambung... ✍️
UNTUK SEMUA PENDUKUNG KARYA NOVEL PAPA UNTUK ANAKKU SAYA MENGUCAPKAN TERIMAKASIH UNTUK KALIAN SEMUANYA YANG SUDAH MENDUKUNGKU.
dan terimakasih juga untuk kemarin siang sudah berpartisipasi dalam acara tebaran poin. Meskipun sedikit dapatnya, tapi aku berharap kalian tidak kecewa.
KALAU KALIAN SUKA DENGAN NOVELKU TOLONG RATE, VOTE, LIKE, KOMEN, DAN SHARE.
JIKA KALIAN ADA LEBIH POIN, BISA MEMBERIKAN HADIAH DI NOVEL KU INI.
untuk kalian yang ingin mendapatkan hadiah menarik lainnya dari ku boleh di lihat gambar dibawah ini.
__ADS_1
TBC ☺️