
Hari ini Asril bangun lebih awal, Asril mulai merasa bosan hidup di desa dan di tambah lagi karena kemunculan Zilla yang juga tinggal di desa. Namun sayangnya Zilla menolak ajakan Asril untuk pergi bersama dari desa tersebut, yang membuat Asril tambah nekat melakukan berbagai cara agar dirinya bisa bersama-sama dengan Zilla seperti dahulu lagi.
"Abang" Ucap Laila bangun tidur saat mendapati Asril sudah mandi dan sedang bersiap-siap
"Hm..."Jawab Asril
"Abang mau pergi ke mana? Tanya Laila dengan menggucek-nggucek matanya
"Kerja" Jawab Asril singkat
"Hah... Kerja di mana Bang? Tanya Laila segera duduk di pinggir tempat tidurnya
"Ada deh. Mau tau aja!" Jawab Asril
"Abang" Ucap Laila dengan manja dan bergelayut di lengan Asril
"Lepas. Cuci wajah mu sana dan mandi" Perintah Asril
"Iya Bang. Sayang Abang" Ucap Laila mencarimu pipi kiri Asril
"Apaan sih" Jawab Asril mendorong tubuh Laila dan pergi ke luar kamar
"Sakit tau bang" Umpat Laila
Asril menuju ke ruang makan, di sana sudah ada Kak Astari dan Kak Doni yang akan sarapan juga. Asril segera duduk dan mengambil makanan.
"Laila mana? Tanya Kak Doni
"Masih mandi mungkin" Jawab Asril
"Tidak seperti biasanya, kau bangun pagi seperti ini. Kau mau kemana? Tanya Kak Doni dengan menaikan salah satu alisnya
"Kerja Kak" Jawab Asril santai
"Kerja apa dan di mana? Tanya Kak Doni balik
"Kerja di tempat Kak Doni" Jawab Asril pura-pura tersenyum
"Apa? Aku tidak salah mendengarkannya. Kalau kau ingin kerja di tempat ku. Kau tidak perlu pakai baju sebagus itu" Ucap Kak Doni tertawa
"Aku tidak ingin kerja seperti karyawan Kakak. Aku ingin kerja di kantornya saja, kalau jadi supir bagian pengantar kayu aku juga mau kok" Jawab Asril bersemangat
"Oya" Ucap Kak Doni
"Abang. Sudahlah ikuti saja apa kemauan Asril!" Sambung Kak Astari
"Tapikan"Jawab Kak Doni membantah Istrinya
"Sttt" Ucap Kak Astari
"Gimana boleh tidak? Tanya Asril cengegesan
"Hm" Jawab Kak Doni
"Abang" Sambung Kak Astari
"Iya boleh" Jawab Kak Doni
"Yes" Ucap Asril
"Awas aja kalau kau macam-macam" Ucap Kak Doni mengancam
"Aku akan bekerja baik di perusahaan perkayuan milik Abang" Jawab Asril menegaskan
"Aku rasanya ingin menempatkan mu di bagian penebangan pohon atau sebagai pendorong kayu saja" Ucap Kak Doni lirih
"Apa Kak? Tanya Asril yang mendengarkan samar-samar suara Kak Doni
"Diamlah dan cepat makan" Perintah Kak Doni
__ADS_1
"Iya" Jawab Asril melanjutkan kegiatan makanya
Setelah selesai sarapan pagi Doni berpamitan kepada Astari untuk berangkat kerja. Karena hari ini ada pesanan kayu dari pelanggannya dan Doni harus mengeceknya dengan teliti.
"Tunggu Kak" Ucap Asril mencegahnya
"Apa? Tanya Kak Doni
"Aku ingin menumpang satu mobil dengan Kakak, kan kita satu tempat kerja" Jawab Asril dengan mengangkat satu jari telunjuknya
"Iya-iya bolehlah" Ucap Kak Doni malas
"Laila" Panggil Asril dari ruang makan
Laila tidak menjawabnya
"Laila" Teriak Asril dengan kencang
"Astagfirullah" Ucap Kak Astari mengelus dadanya
"Iya" Sambung Laila dari dalam kamarnya dan segera menuju ke ruang makan
Kak Doni yang melihat kelakuan Asril hanya diam saja dan tidak menegurnya. Kak Doni langsung pergi meninggalkan ruang tamu.
"Kenapa kau memanggilku Bang? Tanya Laila yang berada di ruang makan
"Aku pergi kerja dulu" Pamit Asril dengan berjalan menuju ke depan rumah
"Beneran Abang kerja hari ini? Tanya Laila memastikan dan mengikuti langkah Asril
"Iya" Jawab Asril
"Bang kerja di mana? Tanya Laila kembali
"Sudah Abang pergi dulu. Sudah di tunggu Bos Abang itu" Jawab Asril berlari menuju ke mobil Kak Doni
"Oh... Jadi Abang Asril kerja dengan Kak Doni" Ucap Laila tersenyum gembira dan masuk ke dalam rumah
"Turunlah" Perintah Kak Doni saat sampai di depan perusahaan
"Makasih Kak" Jawab Asril segera turun dari mobilnya
"Kau kerja yang bener. Jangan mentang-mentang kau Adikku terus kau berbuat seenak mu saja" Ucap Kak Doni mengancamnya
"Iya Kak" Jawab Asril lirih dan menundukkan kepalanya
"Kau tunggulah sebentar. Mereka akan menyiapkan kayunya dan nanti kau yang akan mengantarkan ke pembelinya" Ucap Kak Doni
"Iya" Jawab Asril menganggukkan kepalanya
"Aku ke sana dulu" Ucap Kak Doni
"Hm" Jawab Asril
Setelah kepergian Kak Doni, Asril duduk-duduk di depan kantor. Tak lama kemudian datanglah Jamet.
"Hallo Bosku" Panggil Jamet kepada Asril
"Aduh... lu lagi-lu lagi, met... Jamet" Ucap Asril memalingkan wajahnya
"Lu tidak suka dengan ku? Tanya Jamet
"Hm" Jawab Asril
"Sombong lu" Ucap Jamet duduk di sebelah Asril
"Ngapain di sini? Tanya Asril
"Duduklah" Jawab Jamet
__ADS_1
"Kerja sana" Perintah Asril
"Entaran dulu napa. Masih pagi, eh... Gimana perempuan yang kemarin cantik kan? Tanya Jamet
"Perempuan yang mana" Jawab Asril
"Desa sebelah" Ucap Jamet
"Perempuan gitu kamu bilang cantik. Di mana-mana perempuan hamil itu tidak ada cantik-cantiknya" Jawab Asril berbohong
"Mata lu siwer kali" Umpat Jamet
"Apaan siwer? Lu aja yang selera rendahan" Jawab Asril
"Oh iya" Ucap Jamet tertawa
"Apa tidak ada perempuan lain yang jauh lebih cantik? Tanya Asril mengalihkan pembicaraannya
"Tidak ada" Jawab Jamet pergi
"Tunggu dulu" Ucap Asril menarik lengan Jamet dan menyuruhnya duduk kembali
"Kenapa? Tanya Jamet mengibaskan tangannya
"Lu tau tidak bagaimana caranya mendapatkan hati perempuan agar terpesona kepada kita" Jawab Asril berbisik di telinga Jamet
"Apa. Kau begitu saja tidak tau" Ucap Jamet berteriak dan memelototkan kedua matanya
"Jangan teriak" Jawab Asril lirih
"Berikan saja bunga dan coklat" Ucap Jamet berbisik di telinga Asril
"Yang lain" Jawab Asril
"Berikan saja uang" Ucap lirih Jamet
"Kalau tetap tidak mau dan tidak tertarik kepada kita bagaimana" Jawab Asril mengeluh
"Kasih saja perempuan itu guna-guna" Ucap Jamet lirih dan melihat keadaan di sekitarnya
"Maksudmu? Tanya Asril tidak mengerti
"Sini" Perintah Jamet menyuruh Asril lebih mendekat lagi di sampingnya
"Di sini itu ada seorang dukun yang top banget. Kau bisa minta kepada dia untuk memberikan guna-guna pemikat perempuan itu. Agar Perempuan itu tertarik lagi kepada dirimu" Ucap Jamet berbisik
"Hah... Masih jaman iya dengan cara seperti itu" Jawab Asril tidak mempercayainya
"Dasar bule"Umpat Jamet
"Wah-wah mulai nih ngajakin ribut" Jawab Asril yang sudah mengepalkan tangannya ke wajah Jamet
"Asril" Panggil Sumio dari arah belakang Asril
"Apa? Tanya Asril membalikan tubuhnya dan melihat ke arah datangnya Sumio
"Kayunya sudah siap dan Pak Doni menyuruh kau segera mengantarkannya" Jawab Sumio
"Iya aku akan ke sana" Ucap Asril segera pergi
Asril menuju ke depan dan di sana sudah ada Kak Doni yang sudah selesai mengecek kayu tersebut.
"Asril kau yang pergi mengantarkan kayu ini ke desa sebelah. Ini alamatnya, nota kayu, dan kau di antara oleh Pak Sumio" Perintah Kak Doni dan memberikannya kepada Asril
"Mebel Ismail Marzuki" Ucap Asril membacanya
"Iya namanya Pak Ismail" Jawab Kak Doni
"Ayo, Pak naiklah. Kita akan pergi sekarang" Ajak Asril kepada Pak Sumio
__ADS_1
Bersambung... ✍️