Papa Untuk Anakku

Papa Untuk Anakku
Episode 53


__ADS_3

Satu minggu kemudian


Uswa tidak bisa menerima kenyataan bahwa Ismail sudah menikah dengan Zilla Zulaina binti Pandu. Uswa satu minggu ini mengurungkan diri di dalam rumahnya. Uswa tidak membuka pintu rumah miliknya, bahkan tidak membuka sedikitpun cendela rumah miliknya. Uswa mengubur semua harapan dan angan-angan selama ini untuk bisa hidup bersama Ismail Marzuki.


"Buat apa aku masih tetap hidup, sedangkan orang yang aku cintai sudah meninggalkan ku" Ucap Uswa menanggis di dalam kamar milik Ibunya


"Orang yang pertama meninggalkan ku adalah Ibu dan Bapak, setelah itu Bu Sukma, dan sekarang Abang Ismail juga meninggalkan ku" Ucap Uswa lirih


"Saat ini aku sungguh malu untuk keluar rumah. Apa yang harus ku katakan pada mereka. Kalau mereka bertanya soal hubungan ku dengan Abang Ismail dan juga Zilla" Ucap Uswa memeluk foto almarhum Ibunya


"Ibu. Bawa saja aku pergi bersamamu, aku tidak sanggup menghadapi ini semua sendiri" Ucap Uswa mengusap wajah Ibunya yang berada dalam bingkai foto


.


.


Di rumah Hadi


Bu Zaroh yang beberapa hari ini tidak melihat Uswa sangat menghawatirkan keadaan Uswa. Bu Zaroh sudah mendengarkan kabar yang menggemparkan seluruh desa Bunglon. Kalau Ismail Marzuki sudah menghamili anak orang. Perempuan itu sudah menikah dengan Ismail dan saat ini sedang mengandung anak Ismail.


"Hadi" Panggil Bu Zaroh saat Hadi tiba di ruang makan


"Iya, Ibu. Ada apa? Tanya Hadi


"Apa kau sudah bertemu dengan Uswa. Ibu menghawatirkan keadaan Uswa, pasti saat ini Uswa kecewa dan sedih terhadap sikap Ismail" Jawab Bu Zaroh


"Aku belum menemui Uswa, Bu. Hadi masih sibuk ada sedikit urusan" Ucap Hadi duduk dan mengambil piring


"Cobalah kau sempatkan untuk melihat ke rumah Uswa. Ibu tidak tega, Nak" Perintah Bu Zaroh


"Iya, Bu. Nanti Hadi pergi ke rumah Uswa" Jawab Hadi tersenyum


"Iya, Nak. Ayo, kita sarapan dulu!" Ajak Bu Zaroh


"Hm" Jawab Hadi


"Makasih iya, Bu. Masakan Ibu sangat enak sekali" Ucap Hadi tersenyum


"Iya. Makanlah yang banyak. Oh... Ya. Nanti kau ajak Uswa kemari iya" Perintah Bu Zaroh


"Iya, Bu. Kalau Uswa mau sih" Jawab Hadi menggaruk kepalanya yang tidak terasa gatal


"Kalau Uswa kemari kan ada Ibu yang bisa di ajak berbicara dari pada di rumah sendiri. Nanti malah kepikiran terus dengan Ismail. Setiap hari ke sini juga tidak masalah kok untuk Ibu. Malahan Ibu senang punya anak perempuan seperti Uswa" Ucap Bu Zaroh


"Uhuk" Hadi tersedak saat makan karena ucapan Bu Zaroh


"Pelan-pelan makannya, Nak" Ucap Bu Zaroh


.

__ADS_1


.


Satu minggu berada di desa Bunglon, Zilla masih saja tidak bisa menyesuaikan diri dengan lingkungan sekitar. Apalagi saat ini di tambah lagi dengan gosip dia hamil dan merebut Uswa dari Ismail. Sedangkan Ismail mendapatkan tudingan bahwa Ismail yang sudah menghamili Zilla.


"Apa orang-orang yang berada di desa ini sudah bodoh? Tanya Ismail marah


"Aku tidak percaya dengan ucapan mereka semua bisa-bisanya mereka menyimpulkan aku yang sudah menghamili mu dan sudah menyakiti Uswa" Ucap Ismail yang baru datang dan masuk rumah ingin rasanya melemparkan sesuatu ke wajah Zilla yang sedang duduk di ruang tamu


Saat itu Zilla duduk di kursi ruang tamu dengan santai. Zilla tidak menanggapi ucapan Ismail, Zilla menutup kedua telinganya dengan tangannya


"Apa kau sudah tidak ingin mendengarkan ucapanku lagi? Tanya Ismail saat melihat Zilla menutup kedua telinganya


Zilla diam dan tidak menjawabnya


"Woi... Apa kau bisu? Tanya Ismail menendang kursi di sebelah Zilla


"Apa kau sudah gila menendang kursi di hadapanku. Kau sudah membuatku terkejut dan jantungan saja" Umpat Zilla


"Ah... Terserah semua ini salahmu" Ucap Ismail menunjuk ke diri Zilla


"Aku pula yang salah" Ucap Zilla menyangkal


"Iya" Teriak Ismail


"Aku sudah muak hidup seminggu dengan mu. Aku ingin pergi, rasanya ingin sekali mengakhiri pernikahan ini secepatnya" Jawab Zilla ketus


"Baguslah kalau kau sudah sadar diri. Pergilah, pergi sejauh mungkin dari hidup ku. Pergi..." Teriak Ismail marah


"Bodo..." Teriak Ismail


"Nih uang seratus ribu untuk mu, mulai besok kau harus menggunakan uang seratus ribu itu untuk kebutuhan sehari-hari kita selama satu minggu kedepan. Kau pergi ke pasar sendiri, aku sudah tidak punya wajah lagi untuk keluar rumah. Mereka selalu melihat ku dengan rendah" Ucap Ismail melempar uang seratus ribu kepada Zilla


"Apa kau sudah gila, Mail. Kau memberiku uang seratus ribu untuk satu minggu. Mana cukup untuk seminggu dengan uang seratus ribu" Jawab Zilla memelototkan kedua matanya


"Aku tidak peduli. Kau harus bisa belajar menghemat, uang seratus ribu itu uangku satu-satunya untuk saat ini. Aku sudah tidak memiliki uang lagi" Ucap Ismail terpaksa berbohong


"Aku tidak bisa, Ismail. Aku tidak bisa melakukan semua ini" Jawab Zilla menolak


"Kau harus belajar hidup sederhana. Pergilah ke rumah Uswa untuk belajar kehidupan dengannya. Bagaimana cara menjadi istri yang benar" Perintah Ismail


"Aku tidak akan berteman bahkan bertemu dengan Uswa" Ucap Zilla memalingkan wajahnya


"Terserah" Ucap Ismail masuk ke dalam kamar


Zilla yang melihat Ismail pergi hanya bisa mengumpat.


"Astaga hari-hariku sangat menyebalkan" Ucap Zilla Mengacak-ngacak rambut miliknya


Jam sudah menunjukkan pukul 12:00, Ismail bangun dari tidurnya di karena lapar. Ismail turun dari lantai atas dan menuju ke dapur untuk makan. Saat sampai di dapur Ismail segera membuka tudung saji tersebut. Dan ternyata tudung saji tersebut kosong tidak ada makanan.

__ADS_1


"Apa Zilla tidak masak" Ucap Ismail mengeleng-gelengkan kepalanya


"Zilla" Panggil Ismail


"Zilla" Teriak Ismail


Tidak ada jawaban dari Zilla


"Di mana Zilla? Apa dia sudah pergi dari rumah ini? Tanya batin Ismail


"A... Sudahlah kenapa aku harus memikirkan Zilla" Ucap Ismail masa bodoh


Saat mendengarkan adzan dzuhur Ismail segera mengambil air wudhu dan naik ke lantai atas menuju ke kamar miliknya untuk melakukan shalat dzuhur.


Sedari tadi Zilla hanya duduk-duduk santai di halaman depan rumahnya untuk menghirup udara segar, sedangkan kalau pada siang hari rumah Ismail sangatlah panas. Zilla masuk ke dalam rumah menuju ke kamarnya. Saat masuk di lihatnya Ismail sedang shalat dzuhur. Zilla masuk ke dalam kamar dengan mengendap-endap agar tidak menggangu shalat Ismail. Zilla naik ke atas tempat tidur dan langsung tidur siang.


"Sedang apa kau di sini? Tanya Ismail saat selesai shalat


"Aku mau tidur. Jangan ganggu aku" Jawab Zilla


"Apa kau tadi tidak mendengarkan Adzan? Tanya Ismail


"Dengar" Ucap Zilla


"Kenapa tidak shalat? Tanya Ismail


"Aku lagi datang bulan" Jawab Zilla berbohong


"Apa orang hamil juga datang bulan? Tanya Ismail


"Iyalah" Jawab Zilla membantah


"Berapa hari? Tanya Ismail


"Satu minggu bisa jadi" Jawab Zilla berbohong


"Selama aku bersamamu, aku tidak pernah melihatmu melakukan shalat" Ucap Ismail curiga


"Kau kan baru seminggu hidup dengan ku" Jawab Zilla menyangkal


"Apa jangan-jangan kau tidak pernah shalat? Tanya Ismail curiga


"Pertanyaanmu sangat aneh sekali. Aku pernah shalat" Jawab Zilla berbohong


"Cepatlah pergi shalat. Ambil mukena di lemari Ibuku" Perintah Ismail memaksa


"Aku lagi datang bulan, Mail" Jawab Zilla


"Jangan berbohong Zilla" Ucap Ismail

__ADS_1


Zilla tidak lagi ingin berdebat dengan Ismail hanya karena shalat. Saat Isma akan berbicara lagi dengannya. Zilla segera menutup telinganya dengan bantal.


Bersambung... ✍️


__ADS_2