
Satu bulan kemudian,
Sudah terbiasa dengan situasi dan kondisi di desa Bunglon, Zilla mampu beradaptasi dengan lingkungan sekitar maupun dengan orang-orang yang berada di desa Bunglon. Berkat Uswa, dengan teguh mengajarkan kehidupan kepada Zilla. Uswa mengajarkan begitu banyak hal kepada Zilla mulai dari memasak, membereskan rumah, mencuci baju, menyeterika, membaca Al-Qur'an, bahkan untuk shalat kini Zilla juga sudah bisa melakukannya sendiri.
Tak mau kalah dengan Zilla, Ismail kini memiliki usaha sendiri yang Ia bangun dari uang sisa almarhum Ibunya. Ismail mendirikan sebuah mebel yang berdiri di atas lahannya sendiri dan memiliki beberapa karyawan yang bekerja untuk membantunya.
Hari ini acara yasinan seratus hari meninggalnya almarhum Bu Sukma. Uswa meminta Hadi untuk mengantarkan Zilla dan dirinya berbelanja ke pasar Bunglon memberi kebutuhan acara nanti malam. Akhir-akhir ini Ismail di sibukan dengan pengantaran mebel pesanan para pelanggannya, sehingga tidak bisa mengantarkannya.
Perjalanan menuju pasar, Hadi duduk di depan sebagai pengemudi. Sedangkan Uswa duduk di samping Hadi dan Zilla duduk di kursi belakang. Tak mereka sadari Zilla sudah menjadi saksi di antara Uswa dan Hadi. Uswa dan Hadi bercanda tawa dan sesekali Uswa membalas senyuman Hadi. Zilla yang duduk di belakang hanya bisa membatin.
"Apakah Uswa sudah melupakan Ismail? Tanya Zilla dalam hati
"Sepertinya Hadi juga mencintai Uswa, namun Uswa tak menanggapinya! Ucapan batin Zilla
Sungguh saat ini aku tidak rela jika Ismail meninggalkanku. Ismail sangat mengerti dengan perasaanku. Dia selalu saja sigap setiap aku ingin sesuatu. Bahkan Ismail rela melakukan apa saja yang aku inginkan. Ia aku akui aku ini hanya istri kontaknya. Meskipun begitu kenapa cinta ini harus hadir di dalam pernikahan ini. Cukup dengan waktu sembilan bulan aku dan Ismail akan berpisah.
"Apa kita akan benar-benar perpisah? Tanya batin Zilla dengan mengelus perutnya yang sudah membesar dengan bertambahnya hari dan juga bulan
"Zill" Panggil Uswa yang melihat Zilla sedang memegang perutnya
"Iya" Jawab Zilla tersenyum
"Apa perutmu sakit lagi? Tanya Uswa, sebab akhir-akhir ini Zilla sering merasa nyeri di perutnya
"Tidak" Jawab Zilla
"Apa kau yakin? Sebaiknya tadi kau di rumah saja dengan Bu Tia dan Bu Zaroh. Kan aku dengan Hadi bisa berbelanja
"Iya. Aku baik-baik saja" Ucap Zilla
__ADS_1
"Ya sudah kau Istirahatlah. Aku tidak tega melihatmu seperti kemarin kesakitan" Jawab Uswa
.
.
Sampai di pasar Bunglon
Zilla, Uswa, dan Hadi segera turun dari mobilnya. Uswa mengandeng tangan Zilla dengan sangat erat. Uswa tidak ingin Zilla berlari dan kabur seperti saat pertama kali belanja di pasar Bunglon. Entah apa yang di lihat Zilla sampai-sampai Uswa harus mengejarnya. Dan tidak mengejarnya saja, saat itu Zilla juga merasa pusing dan lemas. Setelah kejadian itu Zilla tidak di perbolehkan oleh Ismail untuk pergi ke pasar lagi.
Kedua kalinya Zilla pergi ke pasar Bunglon. Dalam jantung Zilla agak terasa dag dig dug, Zilla merasakan sesuatu yang sangat aneh pada dirinya.
"Ada apa dengan ku? Tanya Zilla
Untuk pertama kalinya saat pergi ke pasar Bunglon Zilla melihat Asril berada di pasar Bunglon tersebut. Membuat Zilla terkejut kenapa orang yang selama ini menghilang entah di mana keberadaannya. Kok malah sekarang berada di desa Bunglon.
"Zill. Apa yang akan kita beli duluan? Tanya Uswa kepada Zilla yang membuyarkan pikirannya
"Aku ikut saja. Aku tidak mengerti dengan acara seratus hari meninggalnya almarhum Bu Sukma" Ucap Zilla
"Hm... Baiklah kita mulai dari arah sana saja" Ucap Uswa dengan menunjuk
Mereka bertiga berjalan ke arah daging-dagingan mulai membeli dan menawarnya. Sedangkan Hadi membawa belanjaan yang mereka beli dan mengikutinya dari belakang.
Tanpa mereka sadari sedari tadi ada seseorang yang sedang mengintai gerak-gerik mereka. Orang tersebut mengikuti setiap langkah kakinya mereka dari kejauhan. Agar tidak di sadari olehnya.
Untuk pertama kalinya orang tersebut tidak percaya dengan apa yang di lihatnya. Sampai orang itu menggucek-nggucek matanya berulang kali dan memelototkan kedua matanya.
"Apa yang aku lihat itu benar Zilla? Ucap Asril sedari tadi melihat Zilla dari kejauhan
__ADS_1
"Apa yang Zilla lakukan di desa ini? Tanya Asril semakin penasaran
"Ah... Sebaiknya aku mengikutinya saja kemana mereka akan pergi" Ucap Asril terus berjalan mengikuti mereka dari kejauhan
Asril mengikuti langkah kakinya mereka hingga mereka selesai berbelanja. Mereka bertiga masuk ke dalam mobil dan menjalankan mobilnya ke arah desa Bunglon. Asril yang mengikutinya hanya menggunakan sepeda motor tidak mampu mengikuti mobil Hadi di karenakan ban motor miliknya Asril pecah.
"Ah... Sial kenapa saat genting begini harus pakai acara ban pecah lagi" Ucap Asril menendang ban bagian kiri
"Aw... Sakit" Teriak Asril kesakitan saat menendang ban motornya miliknya
Asril masih kepikiran dengan Zilla yang kenapa berada di desa Bunglon yang tidak jauh dari desa yang Ia tempati untuk saat ini.
POV ASRIL
Pada pagi hari saat Pak Pandu menghajar habis-habisan Asril di gudang dekat pabriknya. Membuat Asril tak sadarkan diri, pada saat itu Asril belumlah meninggal melainkan Asril hanya pingsan saja. Boy dan anak buah Boy membawa Asril ke desa Biawak yang merupakan desa yang bersebelahan dengan desa Bunglon. Asril yang berada di dalam hutan, saat dirinya bangun mereka terkejut dengan keberadaannya saat itu. Beberapa hari Asril berada di dalam hutan tidak mampu untuk mencari jalan keluar dari hutan tersebut.
Untung saja di hari berikutnya ada sebuah rombongan anak buah Pak Doni yang akan menebang kayu di dalam hutan desa Biawak mendengarkan sebuah teriakan seseorang yang meminta tolong. Dengan segera anak buah Pak Doni berlari dan menuju asal suara tersebut. Saat di lihatnya mereka menemuka seseorang yang tergeletak lemas di bawah pepohonan dalam keadaan berdarah di seluruh tubuhnya.
"Hei... Apa yang kau lakukan di sini? Apa kau tersesat saat masuk ke dalam hutan ini? Tanya salah seorang
"Kau ini sudahlah jangan banyak bertanya. Bawalah dia dan bawa ke rumah Pak Doni sekarang!" Perintah yang lainnya
Akhirnya mereka membawa Asril ke rumah Pak Doni yang merupakan Bos kayu mereka. Asril di sana mendapatkan perawatan yang cukup baik. Dengan seiringnya waktu keadaan Asril pulih seperti biasanya. Tanpa Pak Doni sadari ternyata adiknya Pak Doni jatuh cinta kepada Asril. Pak Doni meminta Asril untuk menikah dengan Laila dan pernikahan mereka sudah berjalan beberapa minggu.
Bersambung... βοΈ
Mohon dukungannya untuk novelku ini dengan cara rate β 5, vote, like, comen, share, dan berikan hadiah kalian.
# π SALAM SAYANG PALING DI SAYANG DARIKU π #
__ADS_1