
~Kehilangan adalah hal yang paling menyayat hati setelah perpisahan
"Gimana keadaan kakak dan paman saya dok?" Tanya Bulan saat dokter keluar dari ruang operasi.
"Untuk pasien wanita operasinya berjalan lancar, namun saat ini pasien mengalami koma" jawab dokter bernama Reno
Semua orang langsung lega sekaligus cemas. Dan jangan tanya bagaimana kondisi ibu. Ibu sudah sangat banyak menghabiskan air mata dari tadi. Dirga pun sudah terlihat acak-acakan sedari tadi.
"Lalu bagaimana dengan kondisi suami saya dok?" kini bik Yun yang bertanya disela isak tangisnya
"Kami sudah berusaha semaksimal mungkin. Tapi Tuhan berkehendak lain. Saat tengah menjalani operasi, nyawa pasien laki-laki sudah diambil yang maha kuasa" ujar dokter lain bernama Ryan
"Innalilahi wa innailaihi rojiun" semua orang berduka cita
Bik Yun pun sudah tak dapat lagi menahan isak tangisnya. Dia sudah meraung dan sangat terpukul. Bulan mendekati bik Yun
"Bik. Bik Yun" Bulan segera membawa bik Yun ke dalam pelukannya.
Setelah tangisnya sedikit reda Bulan segera menuntun Bik Yun untuk pulang dan mengurus pemakaman almarhum Pak Maman
"Ibuk, tuan Leo, dan tante Santi. Kalian disini aja jagain kakak dulu. Biar Bulan sama bang Wisnu yang ngurus pemakaman pak Maman." Merekapun hanya mengangguk tanda setuju
"Em Tuan Dirga. Saya titip orang tua saya sama kak Alyssa ya" Ujar Bulan lalu menepuk bahu Dirga untuk menguatkan.
"Tentu. Hati-hati" Dirga memaksakan untuk tersenyum.
…
Malam ini Bulan benar-benar tidak tidur. Setelah melangsungkan pemakaman yang di lakukan malam itu juga, Ia menemani Bik Yun semalaman yang masih sangat berduka. Sesekali ia menasehati bik Yun agar sabar menghadapi takdir.
Pagi harinya ia berangkat ke rumah sakit dan meminta istrinya bang Wisnu untuk menemani Bik Yun di rumah.
…
...Pelita Hospital...
Setelah operasi tadi malam, kini Alyssa telah di pindahkan ke ruang rawat VIP.
"Buk, gimana keadaan kakak?" Bulan menghampiri ibunya dan merangkul ibunya
"Kakakmu belum sadar sama sekali. hiks hiks" ibu mulai menitikkan air lagi
Bulan menoleh ke arah Dirga yang masih diam. Lingkar matanya terlihat sangat jelas, begitupun dengan ayahnya. Tidak ada lagi Tante Santi disana, mungkin sudah pulang pikirnya.
"Buk, tuan Leo, tuan Dirga. Mending sekarang kalian makan dulu. Bulan udah bawain makan" Bulan menyerahkan nasi kotak pada mereka
"Ibuk nggak laper Lan" tolak ibu
"Ayah juga belum laper nak, nanti saja" tolak ayah ganti
"Pliss kalian semua jangan egois. Makan sekarang. Kalo kalian nggak makan terus sakit gimana mau jagain kakak. Malah nambah repot tau nggak?" Bulan mencoba untuk tegas dengan mereka
Dirga beranjak dari tempat duduknya untuk berlalu dari mereka semua. Bulan hanya bisa menghela nafas panjang melihat kepergian Dirga.
Setelah membujuk orang tuanya makan, Bulan meminta orang tuanya pulang terlebih dahulu. Meski awalnya menolak, akhirnya mereka mau pulang karna bujuk rayu Bulan.
cklekk
Bulan memasuki ruang dimana kakaknya di rawat.
"Kakak cepet sembuh ya" Bulan menitikkan air mata. Setelah puas mengamati kakaknya Bulan duduk di sofa yang ada di ruangan itu.
Saat ia tak sengaja tertidur di sofa itu. Tiba-tiba punggungnya di goyang seseorang.
"Bulan bangun" terdengar suara pria yang tak asing di telinga Bulan. Bulan pun mengerjapkan matanya.
"Eh, tuan. Ada apa?" Bulan langsung terduduk
"Jangan jadi sok jagoan. Saya tau kamu belum makan. Nih makan dulu" pria itu menyodorkan makanan untuk Bulan
"Terimakasih kasih tuan" Bulan menerima bungkusan itu
"Lain kali kalo mau nasehatin orang, lihat kondisi diri sendiri dulu" ujar Dirga dengan nada yang teduh tidak seperti biasanya. Bulan hanya tersenyum menanggapi Dirga dan memulai makannya
"Apa anda sudah makan tuan?" tanya Bulan
__ADS_1
"Saya sudah makan dari kamu tadi" jawabnya
"Tuan makan? saya kira dibuang"
"Saya bukan tipe orang yang suka mubazir dengan makanan. Saya akan merasa bersalah saat bertemu orang yang kelaparan seperti kamu tadi" ledeknya yang membuat Bulan tersedak
"uhuk uhuk. Ya mau gimana lagi tuan. Uang saya sudah habis untuk biaya operasi kakak sama pak Maman tadi malam. Sisanya cuma cukup untuk beli tiga bungkus. hehehe" Bulan cengengesan. Hal langka yang baru dilihat Dirga
Dirga merasa nyeri mendengar apa yang di ucapkan Bulan meski telah di iringi tawa.
"Bisa nyengir juga kamu ternyata. Saya kira kamu selama ini cuma robot yang bisa ngomong" lagi-lagi Dirga mencairkan suasana dengan ledekan nya.
Belum sempat menjawab, Suara serak dari Alyssa terdengar.
"Ha...us"
"Kakak" sahut bulan
"Sayang kamu udah sadar. Aku panggil dokter dulu ya" Dirga secepat kilat berlari keluar ruangan
"Kakak... nanti dulu minumnya ya. Tunggu dokter dulu." ujar Bulan dengan menggenggam tangan kakaknya
"Permisi, saya akan memeriksa pasien dulu. Silahkan keluarga menunggu di luar dulu" ujar dokter itu
"Baik dok." ucap mereka bersamaan
dua puluh menit kemudian
"Gimana keadaan Alyssa dok?" Tanya Dirga yang sudah semangat 45
"Puji syukur sungguh ini keajaiban Tuhan. Pasien sudah siuman, namun kondisinya masih sangat lemah. Diharap untuk tidak membuat beban pikirannya dulu. Silahkan masuk. Karna ada yang ingin pasien sampaikan" jawab dokter disertai memberi nasehat
"Baik dok. terimakasih banyak" ujar Bulan
Merekapun masuk ruangan.
"Kakak" Bulan
"Sayang" Dirga
"Kamu mau apa sayang" Dirga segera menggenggam tangan lemah kekasihnya
"Kalian janji bisa nepatin kan? uhuk uhuk" Alyssa masih berbicara dengan nada yang berat
"Kami janji kak" Bulan segera meng-iya kan perkataan kakaknya
"Kalian berdua menikahlah"
deg
"Kamu ngomong apa sayang. Aku maunya nikah sama kamu" Dirga terkejut dengan permintaan sang kekasih
"Kak, kakak ini jangan ngaco" Bulan tak kalah terkejut
"Aku mohon. Turuti permintaan terakhir ini" Alyssa meraih tangan Dirga dan Bulan dan menyatukannya.
"Kak, aku harus ngehubungi orang rumah dulu. Kakak istirahat dulu ya" Bulan melepas genggamannya dan berlari keluar.
"Bulaaaan. hiks hiks" Alyssa mencoba memanggil adiknya namun tak di hiraukan.
"Al, kamu tenangin diri kamu dulu. Kamu pasti sembuh" ujar Dirga menenangkan
"Aku mohon mas. Ini untuk yang terakhir kalinya. Umur ku nggak akan lama lagi. Aku akan tenang kalo Bulan menikah sama kamu mas. Tolong mas uhuk uhuk" Alyssa memotong ucapannya
"Tolong bujuk Bulan mas. Menikahlah dengannya nanti sore. Aku mohon hiks hiks" mohon Alyssa
"Aku nggak bisa Al, maaf. Aku cuma cinta sama kamu" Dirga menolak
"Aku mohon mas. Apa perlu aku sujud di kaki kamu? mungkin ini permintaan terakhir aku mas. pliisss" tangis Alyssa sudah pecah
"Oke okeee. kalo itu yang kamu mau aku akan turuti. Tapi tolong kamu juga harus sembuh Al."
"Cepet kejar Bulan sekarang" pinta Alyssa
Dirga segera berlari mencari Bulan. Jujur ia sangat kecewa dengan permintaan Alyssa. Namun ia juga tidak tega wanita yang dicintainya menangis memohon. Dirga berlarian mencari Bulan, sesekali ia bertanya pada orang-orang di rumah sakit itu. Hingga akhirnya ia menemukan Bulan di mushola yang ada di rumah sakit itu. Tatapannya terpaku
__ADS_1
"Bulan" panggil Dirga lirih
Bulan mengusap air matanya lalu menoleh ke belakang.
"Tuan" Bulan segera melepaskan mukenanya dan keluar dari mushola lalu mengajak Dirga duduk di bangku rumah sakit
"Menikahlah dengan saya, Bulan" ucap Dirga tanpa basa-basi
"Apa maksud anda tuan? apa anda ingin mengabulkan permintaan konyol kakak saya?" Bulan terkejut dengan ucapan Dirga yang secara tidak langsung melamarnya.
"Saya serius dengan ucapan saya. Menikahlah dengan saya. Saya berjanji akan memperlakukan kamu dengan baik. Saya berjanji, Bulan" Dirga menggenggam tangan Bulan untuk meyakinkan
"Maaf tuan. Saya tidak bisa" Bulan hendak melepas genggaman Dirga namun Dirga menahannya
"Setidaknya lakukan ini demi kakak mu. Tolong jangan egois" Dirga menatap Bulan
"Tolong beri saya waktu untuk berpikir tuan" Bulan sudah tidak bisa lagi membendung air matanya
"Tolong pikirkan baik-baik Bulan. Saya tau kamu sangat menyayangi kakakmu. Sama seperti saya. Saya sudah menghubungi orang suruhan saya untuk mengurus pernikahan kita nanti sore" titah Dirga
Bulan mengerutkan keningnya. Itu sama saja mau tidak mau ia harus menikah dengan Dirga.
"Saya permisi tuan. Keluarga saya pasti sudah sampai" pamit Bulan
Dirga hanya memandang kepergian Bulan. Ia mengusap wajah nya kasar.
"Kenapa wanita selalu membuat pusing. Aaaaaaaargghh" teriak Dirga frustasi
……
Bulan menghampiri ibu, ayah, dan Tante Santi yang sudah ada di sana
"Buk, kakak udah istirahat?? kok ibuk di luar" panggil Bulan
"Iya, kakakmu sudah istirahat nak. Bagaimana keputusan mu nak?"
"Sedang Bulan fikir kan buk." Bulan menunduk
"Ayah yakin Dirga lelaki yang baik dan bertanggung jawab nak. Jangan membebani fikiran mu dengan masa lalu. Tidak semua pria seperti ayah." nasehat ayah. Tante Santi pun hanya mengusap-usap punggung suaminya
"Kami akan menikah nanti sore om, Bu, Tante" ujar Dirga yang baru saja tiba
Bulan hanya diam membisu. Lidahnya seolah kelu untuk bicara. Jujur saja, Bulan masih takut dengan yang namanya pernikahan. Pernikahan orang tuanya yang gagal seolah menjadi trauma tersendiri untuknya. Apalagi kini ia harus menikah dengan orang yang sama sekali tidak Bulan inginkan
Ayah mendekati Dirga dan menuntunnya agak jauh
"Ayah percayakan Bulan padamu nak. Meski kalian tidak saling cinta, tapi tolonglah jaga perasaan Bulan. Di balik sikap nya yang kuat, dia hanyalah wanita biasa yang sangat rapuh. Ayah merasa Bulan masih trauma dengan sebuah hubungan pernikahan. Jadi ayah sangat berharap dengan mu nak untuk membuktikan bahwa tidak semua laki-laki itu sama seperti ayah" Ayah memberikan nasihat seraya menepuk pundak Dirga
" Anda adalah ayah yang baik om. Saya akan mengingat semua itu dengan baik. Saya akan menjaga Bulan"
.
.
.
.
.
.
.
.
Kira-kira Bulan sanggup nggak ya untuk menikah dan melupakan Bintang serta masalalu orang tuanya? 🤔
Disini perjuangan Dirga baru akan dimulai
Ikuti terus kelanjutan Past for future
Kalo suka tinggalkan jejak yaaa GRATIS KOK♥️♥️
My Instagram @Hello_Maymune
__ADS_1