
Hari sudah cukup sore, namun kedua insan yang tengah mabuk asmara ini masih enggan untuk pulang. Keduanya masih saling asik dengan menu yang tengah mereka santap.
Oliv terus membuang muka, ia sangat malu untuk menatap wajah Marcel. Kejadian di butik tadi sungguh membuatnya malu semalu-malunya. Oliv masih menunduk sembari mengunyah makanan yang ada di mulutnya.
"Liv..." panggil Marcel yang membuat Oliv menatapnya sekilas.
"Apa?" Oliv kembali menundukkan kepala dan melanjutkan makannya.
"Kamu suka ayam kan?" tanya Marcel pada Oliv yang tak menatap dirinya, "Kamu mau nggak? ini dadanya gede banget."
Uhuk uhuk uhook
Oliv tersedak makanannya sendiri setelah mendengar kata-kata yang keluar dari mulut Marcel. Ia buru-buru meraih minum dan meneguknya hingga tandas. Entah mengapa ia malah berpikiran kalau Marcel sedang membicarakan dadanya.
Marcel memberikan tisu pada Oliv dan diterima dengan cepat oleh Oliv. Pipinya sudah terasa terbakar, malu sekaligus mengutuk kebodohannya yang malah memikirkan hal yang kotor.
"Kok malah batuk-batuk sih, Liv. Orang aku nanya mau nggak dada ayamnya." Marcel menggelengkan kepalanya.
"Dia pura-pura bego atau memang nggak peka sih. Untung sayang, kalo nggak udah gue sentil ginjalnya." gerutu Oliv dalam hati.
"Nggak usah, Kak. Aku udah kenyang." tolak Oliv.
"Ya udah, tunggu dulu ya. Aku masih mau makan lagi." Marcel kembali melanjutkan makannya.
Oliv berusaha semaksimal mungkin untuk menetralkan perasaannya. Ia meraih handphone dan memainkannya sebentar. Ia menggoyang-goyangkan kakinya untuk mengusir rasa tidak nyamannya. Saat ia mendongak, pandangannya tertuju pada pria bermasker yang baru saja masuk kedalam restoran.
Pria itu duduk tak jauh dari Marcel Oliv, ia terlihat sibuk dengan ponselnya. Mata Oliv terus meneliti untuk memastikan sesuatu. Saat pria itu membalas tatapan Oliv, dengan segera Oliv menatap kearah lain.
Sedangkan pria bermasker yang baru saja menangkap tatapan Oliv itu menyeringai tipis, sangat tipis. Bahkan kerutan matanya pun tak terlihat sama sekali.
"Berjuanglah sayang. Berjuanglah walaupun semua hanya percuma." pria itu masih menatap tajam kearah Marcel dan Oliv.
Oliv menggigiti bibir bawahnya, perasaan cemas masih terus menghantuinya. Pikirannya terus bertanya-tanya, apakah laki-laki itu pria yang menyelamatkannya saat itu? Atau mungkin pria yang memata-matai nya. Pikirannya semakin kalut, ia tak ingin ancaman pria yang mematainya benar-benar terjadi. Meskipun ia Tuan Putri keluarga Baskara, namun tak menutup kemungkinan itu terjadi, karna ia sama sekali tidak memiliki bodyguard khusus.
"Liv..." Marcel meraih tangan Oliv. Oliv yang terkejut dari lamunannya pun langsung menepis tangan Marcel.
"U...udah Kak?" Oliv gelagapan sembari melirik kearah pria bermasker tadi duduk. Namun kursi yang tadi di duduki pria itu tampak kosong. Tiba-tiba bulu kuduk Oliv berdiri merasa ngeri.
"Kenapa sih?" Marcel mengikuti arah pandang Oliv seraya mengerutkan keningnya.
"Nggak papa, Kak. Ya udah, kita ke Masjid dulu ya Kak. Udah mau masuk Maghrib ni." Oliv menggaruk tengkuknya.
"Oke." setuju Marcel.
***
"Kak Marcel nggak turun?" tanya Oliv saat telah sampai di halaman Masjid.
"Kamu duluan aja." Marcel tersenyum canggung.
"Ya ayok. Itu udah pada rame loh." desak Oliv.
"Ya udah, kamu masuk duluan. Nggak enak kan kalo bukan suami istri turunnya bareng-bareng." Marcel beralasan.
__ADS_1
"Oh, oke deh. Aku turun duluan." Oliv melepaskan seatbelt kemudian turun dari mobil meninggalkan Marcel sendiri.
Marcel menyandarkan kepalanya di sandaran kursi mobil. Ia memejamkan mata sembari memukul-mukul kepalanya yang terasa berat kemudian menjambak rambutnya dengan frustasi.
"Gimana caranya ngomong sama Oliv? Sedangkan pernikahan kami tinggal sebulan lagi."
brukk
"Siaall!!" umpatnya sambil memikul setir kemudi.
***
Setelah pulang dari Masjid, Marcel memutuskan untuk membawa Oliv ke apartemennya untuk berbicara empat mata. Semakin hari pikirannya semakin kacau karna sebuah rahasia yang selama ini ia sembunyikan.
"Kok ke apartemen, Kak?" protes Oliv.
"Ada sesuatu yang mau aku omongin ke kamu, Sayang." ucap Marcel lembut.
"Ya kak bisa diomongin di mobil aja."
Marcel tak menggubris perkataan Oliv, ia meraih tangan kanan Oliv kemudian mengecupnya lama dengan sayang.
"Perlakuan kamu yang cuek aja aku bisa jatuh cinta, Kak. Apalagi kalau kamu manis kayak gini." gumam Oliv dalam hati.
"Sini," Marcel merentangkan tangan kirinya untuk memeluk Oliv, sedangkan tangan kanannya ia gunakan untuk menyetir.
grepp
"Udah sampe, mau digendong hmm??" Marcel merapikan tatanan rambut Oliv.
"He'em." Oliv mengangguk.
Marcel membopong tubuh Oliv kepangkuan nya yang membuat Oliv terkejut. Ia merangkup wajah Oliv. Mereka saling beradu pandang, tatapan yang begitu lekat. Kini tangan Oliv juga terulur untuk mengusap wajah tampan yang akan menyandang status sebagai suaminya itu. Hembusan hangat menerpa kedua wajah mereka, kini wajah mereka saling dekat dan,
cup
Mereka saling berciuman lembut dan penuh dengan kasih sayang. Tak berlangsung lama, Oliv kemudian memeluk tubuh kekar Marcel. Air matanya telah luruh karna haru.
"Sayang..." Panggil Marcel dengan lembut.
"Aku bahagia, Kak. I Love you." lirih Oliv sembari mengeratkan pelukannya.
"I Love you too, Olivia Ratu Pradigta." Oliv terkekeh dalam pelukan Marcel.
"Tuan Pradigta, apakah anda bahagia?" Oliv mendongakkan kepalanya.
"Biasa aja." ujar Marcel didampingi kekehannya.
"Mulai, nyebeliiiin." Oliv mengerucutkan bibirnya.
"Aku bahagia banget, Sayang. I Love you more. Ya udah, kita turun yuk." Marcel membopong tubuh Oliv keluar dari mobil.
"Kak, nggak usah. Nanti kaki Kak Marcel sakit lagi."
__ADS_1
"Nggak, kamu tenang aja." Marcel melanjutkan langkahnya.
Oliv melingkarkan tangannya di leher Marcel. Ia menyembunyikan wajahnya di tenguk sang kekasih.
"Oliv?" sapa seorang pria yang berpapasan dengan mereka berdua.
Oliv menoleh kearah sumber suara. Matanya membulat, kemudian ia meminta Marcel menurunkannya, namun Marcel malah semakin mempererat agar Oliv tak bergerak.
"Eh, Mas Fahmi hehe." Oliv melirik kearah wajah Marcel yang mulai tak bersahabat. "Kami permisi dulu ya, Mas." wajahnya mulai merah menahan malu. Marcel pun segera melanjutkan langkahnya dengan wajah yang sudah ditekuk.
Marcel menurunkan Oliv pelan saat telah sampai di depan pintu apartemen. Sedari pertemuan dengan Fahmi, Marcel tampak murung. Mungkin ia cemburu.
Oliv hanya menunduk, sebenarnya ia bahagia karna akhirnya Marcel cemburu. Itu berarti cinta Marcel memang sungguh-sungguh padanya. Tapi ini juga sebenarnya ialah ujian untuk Oliv. Ia harus membujuk ABG tua yang merajuk akibat sapaan pria lain.
"Mau minum apa?" tanya Marcel lembut.
"Eh??" Oliv terkejut, "Kak Marcel nggak marah?"
"Ya udah, nanti ambil sendiri." Marcel semakin mendekat pada Oliv yang membuat Oliv beringsut mundur.
"Kak...."
*grepp
cuppp*
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Aaaaaaaaaaa akhirnya setelah 4 hari nggak up, hari ini bisa up 😭
See you next episode guys ♥️
__ADS_1