
Dirga menyusul istrinya yang duduk di sofa kemudian memeluknya dari samping. Ia mengendus-endus leher Bulan yang beraroma sweet candy itu.
"Sayang... ibu hamil boleh makan Pino nggak sih?" tanya Dirga kemudian meraih tangan Bulan untuk mengusap Pino sembari menompang kepalanya di bahu Bulan.
Bulan acuh dan memilih tetap memainkanersen ponselnya. Padahal dalam hati ia sudah sangat ingin menampar suami mesuumnya itu. Bulan sedikit tersentak saat si Pino sudah mulai aktif.
"Awwwwwww...." teriak Dirga saat Bulan merems pino dengan sangat kuat.
"Sayang... haduhh hiks."
Bulan tersenyum devil kemudian beranjak dari duduknya dan keluar dari kamar. Bisa-bisanya suaminya itu tak memikirkan perut istrinya yang sudah kelaparan, malah sibuk menyuruh dirinya makan Pino. Sungguh keterlaluan.
Bruk
Bulan mendudukkan bokong nya di kursi dapur. Ia menompang dagunya di meja sembari menghela nafas setelah melihat tidak ada lagi makanan yang tersisa untuk dirinya. Mau masak pun malas.
"Kak Bulan," sapa Oliv yang baru datang
"Liv..." Bulan tersenyum menanggapi Oliv
"Kakak kenapa?" tanya Oliv
"Laper..." rengek Bulan
"What? kakak nggak dikasih makan sama kak Dirga? Ya ampun, kakak tunggu dulu ya. Biar Oliv masakin." antusias Oliv. Bulan hanya mengangguk hore saat Oliv menawarkan diri.
"Kak Bulan sering mual nggak kalo nyium bawang?" tanya Oliv sambil berkutat dengan peralatan dapurnya.
"Enggak tu Liv." Bulan menggeleng
"Wah, untung aja. Padahal kebanyakan orang hamil nggak suka bau nya loh. Tapi syukur deh kalo dedek nya nggak rewel." celoteh Oliv
"Kak Dirga kemana kak? Padahal di depan banyak tamu loh."
"Eh, itu anu,"
"Masak iya aku bilang kalo mas Dirga lagi angon Pino. Nggak banget kan." gumam Bulan dalam hati
"Anu apa hayooo." ledek Oliv yang membuat Bulan gelagapan.
"Nggak kok Liv. Itu mas Dirga lagi istirahat, katanya nggak enak badan gitu."
"Oooh. Hati-hati loh kak. Kak Dirga itu kalo lagi sakit kaya bayi gede." Oliv mengedikkan bahunya.
"Nggak perlu sakit Liv. Waras aja memang begitu." gerutu Bulan
"Ibu hamil nggak boleh ngedumel dalam hati loh." Oliv memperingatkan
"Siapa yang ngedumel. Nggak kok." elak Bulan
"Hmmm iya deh." Oliv mengalah
"Hai," sapa Marcel yang kemudian ikut bergabung dengan mereka.
Bulan hanya tersenyum tipis menanggapi sapaan Marcel. Sedangkan Oliv memilih bungkam tanpa memperdulikan keberadaan Marcel.
"Nih, Kak. Makan yang banyak ya Bumil." Oliv menyerahkan telur dadar yang terlihat sangat menggiurkan bagi Bulan.
"Wah. Aromanya wangi banget, nggak amis, kayaknya enak banget." puji Bulan.
"Buat aku mana?" tanya Marcel antusias namun Oliv hanya acuh.
Bulan memperhatikan Oliv dan Marcel secara bergantian sambil mengunyah makanannya.
"Kalian lagi marahan?" tanya Bulan dengan mulut yang penuh.
"Ya ampun kamu imut banget sih Lan." Marcel terus menatap Bulan tanpa menghiraukan ucapan Bulan. Sedangkan Oliv hanya mendengus kesal melihat Marcel yang sibuk memperhatikan kakak iparnya.
"Kok diem sih?" tanya Bulan saat telah menelan makanannya. Mereka berdua masih diam, yang satu sibuk menatap Bulan, yang satunya lagi sibuk menyumpahi pria dihadapannya.
brakkkk
__ADS_1
Bulan menggebrak meja dengan kuat hingga membuat mereka terkejut secara bersamaan.
"Ya Allah, Kak."
"Astaga, Bulan. Kamu kenapa?? Ada yang sakit??" tanya Marcel antusias.
Bulan hanya mengedikkan bahunya sembari melanjutkan makannya. Marcel dan Oliv saling pandang kemudian menggelengkan kepalanya isyarat 'Nggak tau nih'.
"Hai Guys!" sapa pria yang baru datang.
"Hai kak," Oliv menjawab dengan pelan.
"Lagi pada ngapain?" tanya Dirga. Oliv mengantarkan pandangan kakaknya ke arah Bulan.
"Kenapa?" tanya Dirga tanpa suara yang hanya dibalas gelengan kepala Oliv.
"Liv, mau nambah dong." pinta Bulan memecahkan keheningan.
"Eh, em iya kak. Oliv buatin lagi ya." gugup Oliv
"Kakak sekalian dong Liv." pinta Dirga
"Oke deh. Sekalian makan semua ya." tutur Oliv "Kak Dirga mending di kamar aja deh. Nanti biar dianter makanannya. Lihat tuh muka kakak udah pucet banget." usul Oliv saat melihat wajah lesu sang kakak.
"Nggak usah nggak papa kok. Di sini aja."
"Ya udah iya." Oliv menyerah
Hari semakin sore, para kerabat berangsur telah pulang. Hanya tinggal beberapa keluarga inti saja yang ada di sana. Namun Bulan tak nampak berada di sana.
Di sini, di kamar Almarhum Bintang. Sama seperti kamarnya, Bintang juga menempelkan banyak foto mereka di dinding dan beberapa sengaja dibingkai. Bulan meraih salah satu figura dirinya dan Bintang saat semasa SMP.
Foto itu nampak bersih tanpa debu, sepertinya memang sangat dirawat oleh pemiliknya. Sepintas teringat oleh Bulan bahwa Bintang suka menyimpan barang-barang kecil berharganya di tempat tisu 'biar nggak ada yang curiga' katanya.
"Tempat tisu... tempat tisu..." Bulan mencari tempat tisu milik Bintang sampai ia menemukannya di kolong ranjang.
"Nah. Ini dia ketemu. Kebiasaan lama yang nggak berubah." Bulan tersenyum sembari menyeka air matanya.
Bulan membuka tempat tisu itu dengan antusias.
pyarrrr
Semua isi di tempat tisu itu berserak ke kasur.
"Eh, miniatur. Banyak banget." mata Bulan berbinar.
"Tapi bentar, ini kayaknya punyaku." Bulan mendetail miniatur-miniatur itu.
"Tuh kan bener. Berarti selama ini miniatur ku hilang dicuri Bintang. Dasar!" Bulan terkekeh sendiri.
"Amplop apa ini?" Bulan menemukan amplop di bagian dasar tempat tisu itu yang bertuliskan 'Untuk Bulanku'
tok tok tok
Pintu diketuk dari luar, dengan segera Bulan menyimpan amplop itu kedalam bajunya.
"Sayang, pulang yuk."
…
Seperti di sebuah Kutub Utara, itulah yang menggambarkan suasana dalam mobil yang dikendarai Marcel dan Oliv. Oliv yang masih setia dengan merajuknya dan Marcel yang masih diam dengan ketidak pekaan nya.
"Makan dulu atau langsung ke mansion?" tanya Marcel tanpa menatap kearah Oliv.
"Terserah." ketus Oliv
"Oke."
Akhirnya Marcel memarkirkan mobilnya di sebuah restoran yang terkenal akan makanan sea food nya yang enak. Favorit dirinya dan Oliv.
"Kok diem? Ayok." ujar Marcel "Atau mau dibukain pintunya kayak Cinderella?" goda Marcel
__ADS_1
"Nggak."
"Jangan basa-basi deh Liv. Dari tadi kamu tu diem, nggak jelas banget. Aku tu capek kalo terus-terusan ngadepin sikap kamu yang kekanakan kayak gini." ucap Marcel penuh penekanan
"Bisa ngomong panjang juga ternyata." sinis Oliv dalam hati
"Olivia Ratu Baskara!!" hardik Marcel
"Marcel Pradigta!!" teriak Oliv sama tingginya.
"Ya ampun Oliv. Ngapain ikutan teriak. Nyari mati aja." gerutu Oliv dengan merinding saat tatapan Marcel semakin tajam.
Marcel mencengkeram dagu Oliv "Tolong jangan ngelunjak." Marcel menekan setiap kata-katanya
Mata Oliv langsung berlinang saat Marcel sudah seperti singa yang hendak mengamuk.
"Belajarlah untuk dewasa Liv. Aku nggak suka kamu diem-diem kayak gini. Ngomong!! Ada apa!!" bentak Marcel
"Belum jadi suami aja kamu udah bentak-bentak aku kayak gini kak." Oliv akhirnya memberanikan diri mengeluarkan suaranya.
Marcel melepas cengkramannya namun masih menatap Oliv dengan mata nya yang tajam.
"Cepet ngomong, ada apa." ujar Marcel datar
"Nggak ada yang perlu diomongin." Oliv menatap lurus ke depan
"Jangan bertele-tele Liv. Aku nggak suka."
"Selama ini aku selalu maafin kak Marcel, sebesar apapun kesalahan kakak."
Marcel hanya diam menyimak ucapan Oliv "Sekarang aku yang minta maaf karna udah buat kak Marcel selalu nurutin kemauan aku yang kekanakan." lirih Oliv sembari menundukkan kepalanya
"Bagus kalo kamu sadar." sinis Marcel
"Iya kak aku sadar. Aku cuma bahan pelampiasan. Aku sadar!!" teriak Oliv
"Pelan kan suaramu Liv!!" hardik Marcel yang tidak suka siapapun bernada tinggi padanya.
"Cobalah untuk sedikit peka kak. hiks." keluh Oliv seraya menutupi wajahnya dengan kedua tangannya.
Marcel meraih tangan Oliv agar membuka wajahnya "Liv, tolong jangan...
"Jangan begini, jangan begitu. Aku nggak pernah bener di mata kamu kak!" Oliv memotong ucapan Marcel sembari menepiskan tangan Marcel.
Oliv segera melepaskan sabuk pengamannya lalu membuka pintu mobil.
brakkk
"Oliiiiiiv..." teriak Marcel namun tak digubris oleh Oliv
"Aku harus peka gimana lagi?? Haaaah aku semakin nggak paham sama cewek!" Marcel memukul setirnya berkali-kali dengan umpatan yang terus keluar dari mulutnya.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
__ADS_1
See you PFF Lover ♥️🌹🌹🌹