
Sebelum baca siapin mental dulu ya. Awas ikutan nyesek.... Happy reading guys 🤗
.
.
.
.
"Hai semua." sapa Marcel yang tampil lebih segar dari sebelah.
"Kenapa lama banget sih." protes Oliv.
"Maaf ya." Marcel duduk di samping Oliv kemudian merangkul bahu Oliv.
Marcel melirik Verta dan Verta pun menganggukkan kepalanya.
"Kami mau ngomong sesuatu sama kamu, Liv." ujar Marcel serius.
"Ngomong aja, aku udah nungguin dari tadi."
"Sebenernya...
Ucapan Marcel menggantung. Tiba-tiba ia merasakan sesuatu yang menyangkut di tenggorokannya hingga sulit untuk mengeluarkan kata-kata. Verta yang berada di hadapan Marcel dan Oliv pun hanya bisa memilin tangannya kemudian menghela nafas untuk ikut bersuara.
"Olivia, apa kamu mencintai Marcel?" Verta menatap lembut Oliv "Kalau jawabannya 'iya', maka Marcel pun memiliki perasaan yang sama denganmu." Verta tersenyum yang membuat Oliv semakin tak mengerti maksud Verta.
"Ini maksudnya gimana sih? Kak Marcel, aku nggak ngerti." Olive menatap Verta dan Marcel secara bergantian.
Marcel menggenggam kedua tangan Oliv "Kamu tau, Liv. Hari ini aku mau ungkapin perasaan aku ke kamu, kalau aku udah jatuh cinta sama kamu." ungkap Marcel dengan lembut.
"Are you seriously?" Oliv menutup mulutnya dengan sorot mata yang sudah berbinar.
"Aku serius, Sayang." Marcel mengusap rambut Oliv. Oliv langsung menghambur ke dalam pelukan Marcel dengan air mata haru nya.
Verta yang menyaksikan pemandangan di depannya hanya bisa menahan gejolak pada dirinya. Verta menundukkan kepalanya seraya tersenyum tipis.
"Ini belum selesai, Ta. Kamu nggak boleh nyerah. Kamu harus bisa meyakinkan Oliv untuk tetap berada di sisi Marcel."
Cukup lama adegan itu berlangsung, rona bahagia di antara keduanya sangat terpancar. Oliv yang sangat terharu enggan untuk melepaskan pelukannya dari Marcel. Sekilas Marcel melirik Verta yang membuang muka.
Marcel merangkup wajah mungil Oliv "Liv, tapi harus ada yang kamu dengerin. Kamu janji kan bakal selalu ada di samping aku?" Oliv mengangguk.
"Aku akan selalu berada di samping pria yang aku cintai." Oliv tersenyum bahagia.
"Apa kamu berjanji, Liv?" timpal Verta yang membuat Oliv menoleh kearahnya.
__ADS_1
"Ya, tentu." mantap Oliv.
"Kamu punya masa lalu kan?" tanya Verta "Tentu Marcel juga punya masa lalu sama seperti kamu." Verta menganggukkan kepalanya pada Marcel kemudian mereka berdua berpindah posisi dengan Verta yang kini duduk di samping Oliv.
"Masa lalu indah maupun masa lalu buruk, itu bukan alasan untuk dihakimi di masa sekarang. Semua manusia punya kelebihan dan kekurangannya masing-masing. Manusia juga tempatnya bersalah. Tentu kamu tahu itu." Verta menggenggam tangan Oliv dengan lembut.
Oliv semakin bingung dengan ucapan Verta. Ia sama sekali tak mengerti arah tujuan ucapan Verta.
"Olivia, apa kamu mau berjanji untuk menerima Marcel apa adanya?" tanya Verta penuh harap.
Marcel yang menyimak percakapan Oliv dan Verta pun hanya bisa menunjukkan sikap groginya. Ia tak sanggup lagi untuk berbicara, ia sungguh tak bisa membayangkan jika Oliv pada akhirnya memilih meninggalkannya di saat perasaannya mulai tumbuh.
"Aku nggak paham sama ucapan Kak Verta. Tapi aku akan tetap di sisi Kak Marcel selagi Kak Marcel nggak mengkhianati aku dan meminta aku untuk pergi. Aku janji." Oliv menoleh ke arah Marcel sembari tersenyum. Marcel pun membalasnya dengan senyum penuh harap.
"Marcel punya rahasia yang mungkin akan membuat kamu sedikit kecewa, Liv. Tapi aku yakin, cinta kamu lebih besar dari rasa kecewa kamu. Aku harap kamu bisa menerima Marcel dan masa lalu Marcel." Verta menatap teduh wanita yang dicintai ayah dari anaknya itu.
"Rahasia?" Oliv mengerutkan keningnya seraya melirik ke arah Marcel "Rahasia apa? tolong jangan buat aku makin bingung."
"Setelah kamu tau, kamu harus tetap bersama Marcel, Liv." Verta menghela nafas panjang sebelum melanjutkan kata-katanya "Sebenernya aku dan Marcel adalah sahabat dari SMA. Dan karna suatu kejadian, kami melakukan kesalahan terbesar dalam hidup kami." Oliv semakin penasaran dengan kata-kata selanjutnya dari Verta. Marcel yang ada di hadapan mereka memijit pelipisnya dengan gusar.
"Kami melakukan kesalahan yang membuat aku mengandung anak kami berdua." Verta menundukkan kepalanya.
"Kak Verta jangan bercanda." Oliv melepaskan tangannya dari Verta.
"Boy adalah putra kami berdua Liv."
Bak petir di siang bolong, pernyataan dari Verta membuat Oliv bangkit dari duduknya. Ia masih mematung dan menatap tajam Verta berharap semua yang ia ucapkan hanya lelucon. Nafas Oliv sudah mulai naik turun dengan kasar, namun Verta tak juga menunjukkan ekspresi bercandanya.
"Maafin kami, Liv. Maaf." Verta bersimpuh di kaki Oliv dengan tangis yang sudah pecah.
Marcel yang melihat kejadian di depannya langsung menghampiri Verta untuk membawanya duduk, namun Verta menepis Marcel.
"Kalo dengan sujud, kamu bisa memaafkan masa lalu kami, aku rela sujud sampai kapanpun yang kamu mau, Liv. Maafin aku dan anak aku yang hadir di tengah-tengah hubungan kalian. Maaf..." mohon Verta dengan nada tergugu.
Oliv masih mematung untuk mencerna semua kata-kata yang Verta ucapkan. Tak bisa dipungkiri, hati Oliv seperti dirajam bara yang menusuk hingga ke relung hatinya. Sakit, sungguh sakit. Ia tak mampu lagi untuk berbicara, semua yang Verta ucapkan sudah cukup jelas dan padat.
Oliv meraih tasnya kemudian melangkah yang membuat Verta sedikit terseret oleh langkah Oliv.
"OLIV...." teriak Marcel dan Verta.
Marcel berlari untuk mencegah Oliv pergi. Verta yang menjadi pemeran utama dalam kejadian ini hanya bisa meraung melihat kepergian Oliv. Tak hanya sakit karna telah mengungkapkan kebenaran yang ada, tapi luka lamanya kembali terbuka saat masa kelam nya kembali diulik.
"Mommy..." Boy yang sedari tadi menguping, langsung menghampiri ibunya yang tengah tersedu-sedu.
"Maafin Mommy, nak." Oliv kembali meraung di pelukan sang putra.
Sedangkan Marcel berhasil mencegah Oliv sebelum Oliv membuka pintu. Oliv meronta saat Marcel memeluknya dari belakang. Namun Marcel tak menghiraukan Oliv dan tetap mendekapnya dengan erat.
__ADS_1
"Maafin aku, Liv. Maaf." Marcel menangis di punggung Oliv.
"Lepasin aku, baji*ngan!!" Oliv terus meronta, namun usahanya gagal karna tenaga Marcel lebih kuat.
"Jangan pergi, aku mohon. Jangan tinggalin aku, Liv." Marcel semakin terisak di punggung Oliv.
Oliv tak bisa menahan lagi air mata yang meminta untuk dialirkan dengan deras. Oliv semakin terisak tanpa mengeluarkan suara. Marcel memutar tubuh Oliv, kemudian memeluknya lagi dengan erat.
"Maaf, Liv. Jangan tinggalin aku. Aku cinta sama kamu."
Verta yang masih duduk di lantai pun belum bisa mengontrol dirinya yang terus meraung. Boy yang ada di pelukan Verta pun ikut menangis sendu.
"KALIAN SEMUA PENGKHIANAT!! AKU NGGAK SUDI DI SINI. LEPASIN AKU, BRENGSEEK!!" Teriak Oliv pilu sembari memukul-mukul punggung Marcel. Marcel melepas pelukannya namun tetap menahan tangan Oliv.
"Oliv, aku mohon. Jangan gegabah, tolong maafin kami." Verta mengatupkan kedua tangannya.
"Kenapa nggak dari awal?" Oliv menjeda ucapannya "kenapa kalian sembunyiin ini dari aku? KENAPA??" teriak Oliv lagi.
"Kenapa baru sekarang setelah aku mencintai laki-laki brengseek kayak kamu." Oliv menunjuk-nunjuk dada Marcel.
"Apa aku yang terlalu bodoh? Aku rela melawan orang tua ku demi laki-laki pengkhianat kayak kamu!!!"
plakk
Oliv menampar pipi Marcel dengan sangat kuat. Oliv menjambak rambutnya dan mundur beberapa langkah hingga terpentok dinding. Oliv merosot ke lantai dengan posisi wajah yang ia remat dengan kasar.
Marcel mendekati Oliv kemudian ikut duduk di lantai "Tampar aku, Liv. Tampar aku sebanyak yang kamu mau. Asalkan kamu mau maafin aku." Marcel membawa tangan Oliv untuk menampari pipi yang sudah sangat basah karna air matanya.
"Semudah itu kamu minta maaf. Selama ini aku terus memaafkan kamu, tapi kamu nggak pernah mau belajar dari kesalahan kamu. Kamu terus-terusan nyakitin hati aku, Kak. Terlihat mudah, namun ternyata kamu sangat sulit untuk digapai. Aku nggak bisa ngorbanin perasaan aku terus menerus kalau akhirnya kamu memang nggak ditakdirkan untuk aku. hiks hiks." Oliv memukuli dadanya "Sakit. Rasanya sakit." lirih Oliv dan terus memukuli dadanya.
Marcel mendekap tubuh Oliv dengan tangis yang sudah pecah sedari tadi. Ia menyesali perbuatannya, namun semua telah terjadi. Perasaan Oliv sudah tak tau bagaimana sekarang. Sakit hati karna ketidak jujuran ialah titik awal sebuah kehancuran dalam suatu hubungan.
.
.
.
.
.
.
.
.
__ADS_1
Pesan hari ini, "Katakan semua kekuranganmu, masa lalu mu, dan sisi burukmu pada pasangan sebelum akhirnya benar-benar bersama. Karna ketidak jujuran dalam hubungan akan menjadi mala petaka untuk hubungan itu nanti." ~NoerHBJ