Past For Future

Past For Future
Tentang Marcel


__ADS_3

"Aku selalu bicara padamu untuk tidak mencampur adukkan urusan pribadi dan urusan kantor."


"Saya tidak mencampur adukkan, Tuan. Hanya saja saya ingin mengembangkan bisnis saya sendiri." tegas Marcel.


"Lalu kenapa baru sekarang?"


"Karna saya akan menikah, Tuan. Saya akan menjadi tulang punggung keluarga saya kelak."


"Siapa yang akan kau nikahi?" tanya Dirga sinis.


"Tentu saja Olivia calon istri saya, Tuan."


"Lalu apakah keluarganya merestui hubungan kalian?"


"Lalu apakah anda memiliki saran agar keluarganya merestui hubungan kami?"


"Tidak," tegas Dirga "Terkecuali bila Oliv sudah mengetahui semua rahasia tentangmu tanpa terkecuali." imbuh Dirga dengan penuh penekanan.


deg


Marcel diam beberapa saat saat Dirga membicarakan tentang rahasia besarnya. Sebenarnya ia enggan memberi tahu Oliv karna itu pasti akan berdampak buruk pada hubungan mereka. Namun ia juga takut bila suatu saat Oliv mengetahuinya sendiri.


Dirga mengetuk-ngetuk kan jarinya di meja sembari menunggu jawaban dari Marcel. Mau bagaimana pun ia adalah seorang kakak yang pasti menginginkan yang terbaik untuk adiknya.


"Saya akan segera memberi tahu Oliv, Tuan." lugas Marcel.


"Apa kau yakin hubunganmu akan selamat?' desak Dirga lagi.


"Saya akan berusaha untuk itu, Tuan." mantap Marcel.


"Baiklah, selamat berjuang." ujar Dirga "Silahkan kemas barang-barang mu. Dan ingat, jangan lukai hati adikku. Atau aku akan mengirimnya ke tempat itu." imbuh Dirga dengan ancaman.


"Permisi Tuan." Marcel membungkukkan badannya hormat.


Marcel melangkahkan kaki dengan perasaan campur aduk. Bagaimana ia harus melewati rintangan yang sulit seperti ini.


drrrrttt drrrrttt


Ponsel Marcel bergetar, ia pun langsung menghubungkan nya pada earphone yang ia pakai.


"Ada apa, Ta?" to the poin Marcel.


"Cel, kamu di mana? Boy di bawa ke rumah sakit, demamnya tinggi banget. Kamu bisa ke rumah sakit sekarang?" tutur Verta dengan nada yang sangat cemas.


"Apa??? Kamu kirim alamat rumah sakitnya sekarang. Aku akan kesana secepatnya." Marcel tak kalah panik.


Buru-buru Marcel mengambil kunci mobilnya. Dengan lari yang tergesa-gesa membuat semua karyawan yang melihatnya terheran-heran. Marcel tak lagi membalas sapaan-sapaan karyawan.


Dengan kecepatan penuh ia mengendarai mobilnya sembari mulutnya komat-kamit memanjatkan doa.


Setelah menempuh perjalanan sekitar 45 menit, Marcel akhirnya sampai di rumah sakit yang ia tuju. Ia segera bertanya pada resepsionis untuk menanyakan keberadaan ruangan Boy.


"Sus, pasien atas nama Boy Cristian ada di ruangan nama?" tanya Marcel tergesa.

__ADS_1


"Sebentar, saya periksa dulu." Suster itu tampak mengotak-atik komputer "Pasien atas nama Boy Cristian ada di ruangan UGD, Tuan. Saat datang tadi sepertinya pasien sempat kejang-kejang." Suster memberi penjelasan.


"Apa?? Baik Sus, terimakasih." Marcel kembali tergesa-gesa berlari menuju ruangan UGD.


Beberapa kali ia menabrak orang yang berpapasan dengannya. Hingga ia sampai di depan ruangan UGD. Nampak seorang wanita tengah menangis pilu di bangku tunggu.


"Ta..." Marcel menghampiri Verta.


"Cel..." Verta menghambur ke pelukan Marcel "Boy... hiks." Verta semakin sesegukan di dada Marcel.


"Kenapa Boy bisa kayak gitu, Ta?"


"Awalnya Boy demam biasa, Cel. Setelah aku kompres dan aku kasih obat, demam Boy makin tinggi." Verta menjelaskan dengan nada yang masih sesegukan.


"Ya Tuhan." Marcel menghela nafas.


"Maafin aku yang nggak bisa jagain Boy dengan baik, Cel. Huwaaa." Verta semakin meraung.


"Nggak, Ta. Ini bukan salah kamu, ini semua salah aku yang nggak bisa jagain kalian dengan baik." Marcel semakin mendekap erat tubuh Verta "Maafin aku. ini semua salah aku." Marcel memejamkan mata menahan perasaan bersalahnya.


Verta melepaskan pelukannya sembari mengusap air matanya "Ini bukan salah kamu sepenuhnya, Cel. Ini kesalahan kita." Verta kembali berlinang "Maafin aku atas kejadian waktu itu, Cel. Aku nggak tau kalau kita di mata-matai." Verta menundukkan kepalanya.


"Ta, udah jangan dipikirin." Marcel mengusap air mata Verta.


"Tapi pasti Oliv marah banget ya? Aku yakin perasaan dia pasti hancur banget waktu itu. Tapi kamu beruntung, Cel. Oliv masih setia sama kamu dan mau memperjuangkan kamu." Verta tersenyum tipis.


"Iya, kamu bener, Ta. Oliv itu keras kepala, tapi aku nggak tau gimana reaksi dia nanti saat tau semuanya, Ta." Marcel menundukkan kepalanya.


"Cel, aku yakin Oliv akan terima kamu apa adanya. Oliv akan nerima masa lalu kamu." Verta meyakinkan Marcel.


Verta terdiam dengan ucapan Marcel. Bagaimana bila tiba-tiba Oliv memutuskan hubungan mereka saat mengetahui privasi Marcel.


"Kamu banyak-banyak berdoa sama Tuhan, supaya ada jalan untuk kalian berdua." Marcel mendongak, Verta mengangguk meyakinkan.


"Makasih, Ta." Marcel tersenyum tipis "Terus gimana sama kamu, Ta?" tanya Marcel yang membuat Verta melepaskan tangannya.


"Tentu hati aku akan hancur, Cel. Tapi ini demi kamu. Demi kebahagiaan kamu. Aku yakin kamu akan bahagia sama Oliv." gumam Verta dalam hati.


"Aku ya gini-gini aja, Cel." Verta nyengir kuda.


"Kamu nggak ada rencana untuk menikah?" tanya Marcel lagi.


"Aku belum ada rencana, Cel. Aku mau fokus jagain Boy dulu. Aku takut dia nggak bahagia kalau punya ayah baru." Verta terkekeh, Marcel pun ikut terkekeh.


cklekk


Pintu ruangan UGD dibuka. Menampilkan dokter dan beberapa perawat yang mendampinginya. Marcel dan Verta pun langsung menghampiri Dokter itu.


"Gimana keadaan putra saya, Dok?" tanya Marcel antusias.


"Putra anda sudah siuman, Syukur demamnya juga sudah mulai menurun." ujar Dokter itu.


"Syukurlah." ucap Marcel dan Verta bersamaan.

__ADS_1


"Pasien akan segera dipindahkan ke ruang rawat. Mohon segera lengkapi administrasi nya." lanjut Dokter itu.


"Baik, Dok. Apa sekarang kami bisa melihat putra kami dulu?" tanya Verta.


"Silahkan, Nyonya. Sejak tadi putra anda sudah siuman dan menanyakan keberadaan ibunya terus. Kalau begitu saya permisi dulu, Tuan Nyonya."


"Baik, Dok. Terimakasih."


Marcel dan Verta pun memasuki ruangan dimana Boy berada. Marcel tersenyum simpul saat melihat Boy dengan antengnya duduk bersama seorang suster.


"Hai, baby Boy." Sapa Marcel


"Are you okay, Baby?" Verta duduk di ranjang kemudian mengusap kepala putranya.


"Boy nggak papa kok Uncle, Mom." wajah mungil nan pucat itu tersenyum.


"Gimana? Kangen nggak sama uncle Cel?" tanya Marcel sembari mencubit gemas pipi Boy.


"Boy kangen banget sama Uncle. Uncle kok jarang nemuin Boy sama Mommy sih?" anak laki-laki berusia sekitar 10 tahun itu memanyunkan bibirnya.


"Uncle lagi banyak kerjaan, Boy." Marcel mengelus lembut kepala Boy "Kan nanti kalo duit nya Uncle banyak untuk Boy juga."


"Hmm iya deh." Boy masih dengan nada kecewa.


"Boy, harusnya kamu berterimakasih dong sama Uncle Cel, Uncle udah capek-capek kerja loh buat beliin Boy mainan baru." bujuk Verta.


"Udah-udah. Yang penting sekarang Boy sehat ya. Nanti kalau Boy udah sembuh, Uncle beliin Play Station. Biar kita bisa nge game bareng." rayu Marcel berwibawa ke-bapakan.


Boy menggelengkan kepalanya "Boy nggak mau PS, Boy maunya Uncle Cel nikah sama Mommy terus jadi Daddy nya Boy."


deg


.


.


.


.


.


.


.


.


.


Makin penasaran tentang rahasia Marcel yang sebenarnya 🤔


Ikuti terus kelanjutan ceritanya ya 🤗

__ADS_1


Jangan lupa like, komen, and vote. Tambahkan ke keranjang favorit kamu juga yaaa 😉😉😉


__ADS_2