Past For Future

Past For Future
Amarah Dirga


__ADS_3

Bruumm... bruumm...


"All you ready....??"


"One... Two... Three... Goooo...!!"


Semua peserta balap mulai melepaskan kuda mereka. Mereka semua beradu kecepatan di jalan hingga menghempaskan dedaunan.


"Gue udah nggak bisa mikir apa-apa lagi. Gue pengen rileks hari ini. Persetan dengan aturan-aturan yang dia buat. Gue benci banget sama dia!!" geram Oliv kemudian menambah laju kecepatan motornya.


citttt


brukkk


Sebuah mobil menyalip motor Oliv dan berhenti menghadang di depannya.


"Aduuuuuh." Oliv meringis kesakitan karna kakinya tertimpa motornya sendiri.


"Kamu nggak papa?" cemas seorang pria kemudian mengangkat motor Oliv dan menolongnya "Duduk dulu." imbuhnya.


"ih, lepas. Aku bisa sendiri." Oliv menepis tangan pria itu.


"Diem dulu, kaki kamu berdarah."


"Biarin. Aku mau pulang aja. Gara-gara kamu aku jadi kalah." ketus Oliv


"Liv..


"Udah minggir, aku mau pulang."


"Tanah kuburan sepupu kamu belum kering, bisa-bisanya kamu malah balapan liar. Bener-bener nggak punya hati nurani kamu, Liv!"


deg


Oliv menoleh "Kak Marcel ngomongin hati nurani?" Oliv menyeringai "Emang anda punya hati?" mode nyindir dimulai.


"Oke Liv, oke. Maaf." Marcel mengalah "Maaf karna aku hampir ngelecehin kamu. Tapi aku nggak sadar Liv, aku mabuk."


"Cih," Oliv hanya berdecih.


"Sekarang kita pulang." Marcel meraih tangan Oliv


"Aku mau naik motor aja." Oliv hendak menepis tangan Marcel, namun Marcel mengeratkan genggamannya.


"Nggak. Kaki kamu lagi sakit, jangan nekad." Marcel menarik tangan Oliv namun Oliv menarik berlawanan arah.


"Nggak mau, ih." Oliv tetap ngeyel.


Dengan sigap Marcel menggendong Oliv seperti membawa karung di pundaknya.


"Aaaaaa... turunin breng*sek!!" Oliv memukuli punggung Marcel.


"*Haduh tangan ku... Ini punggung atau batu sih."


bruk*


"Diem dan duduk. Jangan bantah." ujar Marcel dengan tatapan yang mematikan.


brrrrr


Bulu kuduk Oliv langsung berdiri saat tatapan Marcel menusuk hingga ke tulang-tulanng.


"Aku belum maafin kamu. Minggir, nggak usah sok peduli." jawab Oliv yang masih setia dengan egoisnya.


Marcel menghadang dengan tubuh kekarnya.


cupp


"Jangan susah diatur." dingin. Ya, suhu kota tiba-tiba dingin.


Oliv hanya diam mematung. Mau tak mau ia harus menuruti Marcel demi keselamatan mentalnya. Ia mengusap bibirnya yang basah akibat ulah Marcel. Sepanjang jalan mereka saling bisu. Jantung Oliv yang masih berdetak tak karuan membuatnya grogi. Dan Marcel, entahlah apa yang ada di pikiran pria itu. Datar, tak ada yang bisa menebak.

__ADS_1


"Loh loh. Kok malah ke apartemen sih." gumam Oliv saat Marcel membelokkan mobilnya di apartemen.


"Kamu mau turun atau tidur di sini?" tanya Marcel saat Oliv sibuk melamun.


Oliv menoleh "Atau mau di bukain kaya Cinderella?" tanya Marcel lagi. Oliv hanya menggeleng lemah kemudian membuka pintu mobil dan keluar.


"Manisnya cuma waktu minta cium dan ada maunya doang. Selebihnya aku yang harus manis. Nyebelin!" gerutu Oliv.


"Ayok cepet!" Marcel berjalan mendahului Oliv.


"Aku mau pulang." ucap Oliv yang membuat Marcel berhenti.


"Apa kamu mau pulang dengan kondisi seperti itu? Bukannya keluarga dan para pelayan kamu lagi di rumah Bintang? Siapa yang mau ngobatin kamu?" Marcel masih stay tanpa menoleh ke belakang.


"Tapi...


"10 menit. Aku tunggu di atas" Marcel melanjutkan jalannya. Oliv pun terpaksa mengikuti Marcel dengan jalan yang tertatih.


"Yaelah. Tau kaki gue sakit malah ditinggalin. Oliv-oliv, pake acara cinta segala elo sama dia. Sekarang elo makan deh cinta elo sendiri."


"Sini gue bantu." tiba-tiba seorang pria menghampiri dan merangkul Oliv untuk membantunya berjalan.


"Eh??" Oliv terkejut refleks hendak melepaskan tangannya dari pundak pria itu.


"Jangan dilepas, nanti jatuh. Gue bukan orang jahat. Gue juga salah satu penghuni apartemen ini kok." Pria itu menahan Oliv agar tak melepas tangannya.


"Em, thanks ya."


"Belum apa-apa kok udah makasih, hehe."


Oliv hanya tersenyum menanggapi pria yang mau menolongnya itu.


"Duduk dulu bentar ya." pria itu mendudukkan Oliv di kursi "Gue ambilin minum di mobil dulu." ujar pria itu sembari tersenyum ke arah Oliv. Oliv hanya mengangguk setuju.


"Baik banget sih... ganteng lagi. Aaaa lesung pipinya. Aduh manis banget." teriak kagum Oliv dalam hati.


"Tapi gue harus tetep was-was. Siapa tau kan ada maksud lain."


"Makasih." Oliv menerima dengan menyengir kuda.


"Oh, ya. Aku obatin dulu kaki kamu ya, biar nggak infeksi." pria itu berjongkok di hadapan Oliv dengan kotak P3K di tangan nya.


"Eh, nggak usah. Nggak papa kok. Nanti gue obatin sendiri aja."


"Tenang aja. Elo kayaknya takut banget sama gue." pria itu menggelengkan kepalanya seraya merogoh kantongnya.


"Bukan gitu...


"Ini kartu identitas gue. Elo bisa hubungi pihak berwajib kalo gue macem-macem. Nama gue Fahmi." pria itu menyodorkan sebuah kartu pada Oliv. Oliv pun menerimanya.


"Eh, pak polisi ternyata."


"Eh, maaf pak. Saya nggak tau kalo bapak itu polisi." ujar Oliv sopan


"Santai aja, jangan terlalu formal. Gue bersihin luka elo dulu ya."


"Ah, andai Marcel datang ngelabrak gue sama cowok ini, kayaknya seru. Tapi mustahil sih hahaha. Tapi semoga aja dia menyaksikan ini biar kebakaran jenggot"


Dengan telaten Pak Polisi bernama Fahmi itu membersihkan dan mengobati luka Oliv. Oliv dibuat takjub dan kagum olehnya. Tanpa rasa jijik sama sekali, pria itu mengelap darah Oliv dengan tangannya sendiri. Dan nilai plusnya adalah pria itu tampan hihihi.


"Elo emang suka pake jeans ya?" tanya Fahmi memecah keheningan.


"Eh, iya pak. Gue lebih nyaman pake celana ketimbang pake rok."


"Oh iya, buk." Fahmi terkekeh


"Kok 'buk' sih?" Oliv menyerngitkan dahinya.


"Abisnya elo manggil gue pak. Jadi gue panggil elo buk lah." Fahmi kembali terkekeh sembari mengobati luka Oliv.


"Iya, tapi kan...

__ADS_1


"Fahmi. Panggil gue Fahmi."


"Eemmm gimana kalo bang Fahmi aja?" tawar Oliv


"Panggil aja 'mas' kalo mau. Gue lebih nyaman gitu."


"Oh, oke deh mas Fahmi." Oliv menyengir kuda.


"Oliv...!!" teriak Marcel sambil berlari. Membuat Oliv dan Fahmi menoleh kearahnya.


"Adegan cemburu akan segera di." Oliv bersorak dalam hati.


"Oliv, gawat!!" ujar Marcel terengah-engah.


"Gawat kenapa?" Oliv ikut terkejut.


"Dirga. Gawat. Ayo cepet kita ke Mansion!"


"Kak Dirga kenapa??" Oliv ikut cemas seraya berdiri.


"Dirga tau tentang kita malam itu!!"


"Hah??" Oliv menutup mulut saking terkejutnya.


"Sekarang kita kesana. Atau kita akan..." ucapan Marcel menggantung.


"Akan apa kak?" cemas Oliv yang takut bila ia akan dikirimkan ke pulau terpencil yang pernah kakaknya ancam kan.


"Sekarang kita kesana dulu. Jangan banyak tanya." Marcel menarik tangan Oliv menuju mobil.


"Tunggu." Oliv melepaskan tangan Marcel kemudian berjalan menuju Fahmi lagi.


"Mas Fahmi, makasih banyak ya. Gue pamit dulu, see you. Assalamualaikum." pamit Oliv.


"Hati-hati ya. Waalaikumsalam." Fahmi tersenyum lebar menampilkan lesung pipi di bagian kiri pipinya.


"Oliv jangan genit. Cepetan!!" teriak Marcel dari dalam mobil.


flashback on


"Elo sama Oliv lagi di mana?" tanya Dirga dari seberang telepon.


"Kami lagi...


"Gue udah tau kelakuan elo sama Oliv. Cepet elo bawa Oliv ke rumah gue!!" suara Dirga sudah sangat emosi


"Tapi...


"10 menit elo nggak dateng bawa Oliv, gue akan kirim Oliv ke tempat yang pernah gue omongin ke elo!" ancam Dirga


*tuttt


flashback off


.


.


.


.


.


.


.


.


Jangan lupa tinggalkan jejak sobat 🤗*

__ADS_1


__ADS_2