
Satu bulan kemudian
Hari ini seperti biasa Dirga masih saja uring-uringan karna Alyssa sama sekali tidak memberinya kabar. Tak jarang ia melampiaskan kemarahannya pada Bulan karna Bulan adik dari sang kekasih. Namun ia semakin jengkel karna dirinya selalu kena getahnya sendiri.
"Bulan, ke ruangan saya sekarang!!" Perintahnya dan langsung menutup sambungan telepon.
tok tok tok
"Permisi Tuan, ada yang bisa saya bantu?" tutur Bulan sopan.
"Bagaimana dengan kakakmu?" Dirga balik tanya.
"Kakak saya di luar kota tuan." jawab Bulan yang membuat Tuannya tambah kesal.
"Hei bodoh. Aku tidak menanyakan ia kemana." Sulut nya emosi.
"Maaf tuan saya juga tidak tahu" Bulan masih menjawab dengan nada datar.
"Hubungi dia sampai sampai bisa." titahnya tak ingin dibantah.
"Maaf tuan, itu masalah pribadi anda. Pekerjaan saya masih banyak." Bulan sudah mulai kesal dengan kelakuan Tuannya yang selalu mencampur adukkan hal pribadi dan urusan kantor dengannya.
"Apa katamu?? Hei gadis bodoh!! apa kau lupa dengan isi surat kontrak yang kau tandatangani??" Dirga sudah mulai naik pitam "Semua yang aku ucap adalah perintah dan harus kau lakukan tanpa bantahan." Dirga mulai memanfaatkan isi surat kontrak
"Baik tuan." Bulan hanya bisa pasrah dan tak ingin menambah masalah.
tiga jam kemudian
"Maaf tuan, kakak saya benar-benar tidak bisa dihubungi. Dan yang saya dengar dari ibu saya, tempat dimana kakak saya dinas itu terisolasi untuk mencegah wabahnya menyebar. Dan juga sinyal disana sangatlah sulit." Bulan mencoba untuk menjelaskan lagi pada boss nya
"Hufft," Dirga menghela nafas berat "Lanjutkan pekerjaanmu." titah Dirga
"Permisi Tuan."
...kediaman keluarga Bulan...
"Assalamualaikum Bulan pulang."
"Waalaikumsalam dek." sambut Bang Wisnu pada Bulan
"Abaaang. Sejak kapan disini?" Bulan menghambur ke pelukan Abang nya.
"Baru aja. Kamu baru pulang? Kenapa kamu nggak kerja di kantor ayah aja sih dek. Ayah pasti kasih jabatan yang tinggi untuk kamu." ucap bang Wisnu seraya melepaskan pelukan adiknya.
"Bulan pengen mandiri bang."
"Duduk dulu yuk," Bang Wisnu menuntun Bulan agar duduk di sofa. "Makin kesini kamu makin cantik aja dek. kemana kacamata sama rambut kepang kamu? tapi dulu kalo Abang nggak salah lihat ada tompel juga kan di pipi kamu?? hahaha cupu banget." bang Wisnu menggoda adiknya. Yang digoda pun mengerucutkan bibirnya.
Bang Wisnu memang sering mengunjungi Bulan di kota S karena ia juga ada perjalanan bisnis kesana. Tujuannya yang tak lain adalah agar Bulan mau menerima keadaan dan menerimanya sebagai seorang Abang. Dan tentu dengan segala upaya yang dilakukan bang Wisnu membuahkan hasil. Namun sampai saat ini Bulan masih enggan menemui ayahnya atau hanya sekedar bertegur sapa.
__ADS_1
"Abang emang nggak tau ya kalo Bulan sekarang itu udah jago nampol orang." jawabnya dengan nada sombong.
"Iya iya... adek Abang emang ter the best deh,"ucapnya sambil mengacak-acak rambut adiknya. "Ya udah sana kamu mandi terus istirahat jangan lupa ibadahnya. Abang pulang dulu. Tadi cuman mau mampir kesini bawain kamu banyak cemilan. Ambil aja di belakang nanti okeee."
"aaaaa makasih Abang. Ya udah Abang hati-hati di jalan titip salam untuk istri Abang sama Rafa ya"
***
Pukul 19.30
"Nak, kamu mau kemana lari-lari begitu. Ayok kita makan dulu." ibu mencegah Bulan yang tengah buru-buru.
"Bulan langsung aja ya buk. Ada kerjaan mendadak sama Tuan Dirga." ucap Bulan yang langsung meraih tangan ibunya dan berpamitan.
"Tapi baju kamu nak..." belum sempat menyelesaikan perkataannya Bulan sudah berlari keluar rumah.
Sesampainya di alamat Apartemen Dirga, Bulan langsung menekan-nekan tombol password yang sudah diberitahukan Dirga sebelumnya.
Flashback on
"Halo Bulan. Apakah kamu sudah bisa menghubungi kakakmu?" suara berat Dirga dari seberang sana
"Belum tuan" Jawab Bulan
"Cepat datang ke apartemen ku. Aku ingin memastikan kalau kau tidak sekongkol dengan kakakmu," ucap Dirga masih dengan suara beratnya. "Saya kasih kamu waktu 20 menit untuk sampai sini. Saya kirim alamat saya sekarang. Tidak ada bantahan. Atau kamu saya denda 1M karna melanggar aturan kontrak kerja kamu!"
tuuut. Panggilan diakhiri sepihak.
Flashback off
Bulan segera masuk ke dalam apartemen yang sangat luas milik pak tua yang mulai gila itu. Iya gila karna kakaknya.
Dilihatnya sekeliling ruangan yang sudah seperti kapal pecah. Barang-barang terlihat habis dibanting.
"Tuaaaaan. Anda dimana??" Bulan menyapu ke seluruh ruangan yang terlihat sepi. Ia pun segera naik ke lantai atas untuk memastikan Tuannya ada di dalam kamar.
tok tok tok
Tidak ada sahutan dari dalam. Setelah mengumpulkan keberaniannya ia masuk ke kamar itu.
cklek
"Ya ampuuun. Apa yang anda lakukan tuan??" Ia melihat sekeliling kamar yang tak kalah seperti ruangan tamu tadi. Dan yang lebih membuat ia terkejut ialah darah segar yang mengalir di tangan tuannya serta botol-botol minuman beralkohol di dekatnya.
"Tuan. Apakah anda selalu seperti ini hanya karna perempuan?" Yang hanya melenguh. Bulan pun dengan susah payahnya memindahkan tubuh kekar tuannya ke atas ranjang. Namun saat Bulan hendak melangkah tubuhnya kehilangan keseimbangan karna ditarik oleh Dirga, mau tidak mau ia kini sudah ada dalam pelukan Dirga dan,
"eeeemmmphh." Bulan memukul-mukul dada bidang yang ada di bawahnya. Bulan tidak menyangka dengan serangan mendadak dari Dirga.
"Huuuh huuuh. Sial ciuman pertamaku." umpat Bulan setelah berhasil melepaskan ciumannya dengan Dirga yang semakin brutal. Dan lihat, kancing piyamanya lepas dua karna tarikannya.
__ADS_1
Dengan segera ia mencari kotak P3K dan mengobati luka ditangan Tuan Dirga
"ssssssshh," Dirga meringis perih saat Bulan mengoleskan antiseptik ke tangannya.
"Tahan sedikit tuan. Ini salah anda sendiri." ucap Bulan meski tak dihiraukan tuannya
. "Pak tua ini benar-benar sudah sinting karna kak Alyssa. Haaah dan lihat ini, aku juga ikutan sinting karna kelakuannya" Gerutunya dalam hati.
Ia pun segera membersihkan kekacauan-kekacauan yang di perbuat tuan Dirga. Karna kondisi kakinya yang nyeker ia tak sengaja memijak pecahan kaca di lanta.i
"Awwwwwww." ia meringis dan segera duduk ditepi ranjang tapi agak jauh dari jangkauan tuannya untuk menghindari Serang dadakan lagi.
"Bulan. Apa yang kau..." Kedatangan Marcel yang tiba-tiba sontak membuat Bulan kaget dan refleks ia menutup bagian dadanya yang sedikit terekspos karna kancingnya lepas.
"Marcel, tolong aku." pinta Bulan yang membuat Marcel beranggapan bahwa Bulan telah dinodai oleh tuannya. Padahal Bulan sudah tidak tahan lagi dengan perih di kakinya.
Marcel menghampiri Bulan
"Bulan apa yang sudah kau lakukan dengan Tuan Dirga?? Apa kau sudah berhubungan dengannya?" Ucap Marcel khawatir dan membuat Bulan mengerutkan keningnya.
"Apa yang kau katakan Marcel?? Tolong kaki ku sangat perih karena memijak pecahan kaca." Bulan segera meminta pertolongan pada Marcel.
"Jadi kau dengan tuan Dirga tidak (Marcel mencium-cium kan kedua tangannya yang bermaksud berhubungan itulahh)."
"Hei. apa maksud mu. Jelas tidak." Bulan berhenti sejenak sebelum melanjutkan perkataannya untuk mencerna yang di katakan Marcel. Apakah yang di maksud berciuman? kalau iya maka jawabannya adalah ia tadi memang di sosor oleh tuannya.
"Tolong aku. kakiku terkena banyak serpihan kaca." Bulan segera meminta Marcel lagi.
"Oh astaga. Baiklah. Tapi sepertinya kita harus ke rumah sakit sekarang. Aku takut nanti infeksi." Bulan hanya mengangguk pasrah dan Marcel segera menggendongnya ala bridal style.
"Tunggu Marcel. Bagaimana dengan Tuan Dirga?" Cemas Bulan.
"Besok dia akan sadar sendiri. Sekarang ia hanya mabuk. Dan apartemen ini punya ART yang akan membersihkan ini semua." Marcel menenangkan Bulan.
.
.
.
.
.
.
.
.
__ADS_1
.
Habis baca tinggalkan jejak yaa. Biar Author tambah semangat 😉😉 see you next episode