
Hari demi hari berlalu, kini pernikahan Oliv dan Gema tinggal terhitung dua hari lagi. Perasaan cemas kian melanda. Sudah berbagai cara untuk membatalkan pernikahan, namun tetap saja tidak berhasil.
Kini Oliv tengah berada di dalam kamar. Kulur kilir sembari menggigiti jarinya agar otaknya berjalan. Angin berembus menerobos masuk melalui jendela yang sengaja terbuka, menggoyangkan gorden dengan lembut mengirama seiring berjalannya waktu.
Sepintas ide cemerlang kembali menghampiri otak Oliv. Rasanya seperti mendapat durian runtuh yang jatuh tanpa kulit berdurinya. Ia yakin Gema tidak akan melanjutkan lagi pernikahan mereka setelah Oliv melakukan ide gilanya ini.
Dengan segera Oliv meraih ponselnya kemudian mengirim pesan untuk Gema dan mengajaknya untuk bertemu sore ini.
"Berhasil!! Oke, Oliv. Elo masih punya waktu. Semangat !!! Huuu!!!" sorak Oliv.
Setelah bersiap dengan segala keperluannya, Oliv segera menyusuri anak tangga hendak bertemu dengan Gema, sang calon suami yang akan menjadi mantan calon suami.
"Oliv!! Mau kemana kamu??" teriak Mama dari kejauhan. Oliv menghentikan langkahnya kemudian tersenyum ramah.
"Mama... Oliv pergi dulu ya. Oliv perginya sama Gema kok. Kalo nggak percaya telpon aja. Suwer, Oliv mau ketemu sama Gema kok." To the poin Oliv tanpa ba-bi-bu.
Mama tampak tak percaya hingga akhirnya memilih menelfon seseorang yang Oliv yakni ialah pria yang ingin ia temui, Gema. Tak butuh waktu lama, Mama akhirnya mengizinkan dengan syarat sopir dan bodyguard harus menemani perjalanan Oliv kali ini. Tentu bukan hal yang berat untuk Oliv, karna yang terpenting saat ini ialah bertemu dengan Gema.
Perjalanan menuju restauran tak memakan waktu lama. Karna Oliv memilih tempat terdekat yakni restauran milik keluarganya yang hanya berjarak empat kilometer dari mansion. Sebelumnya, Oliv sempat meminta sopir untuk mampir ke sebuah toko percetakan untuk guna melancarkan aksinya.
"Silakan, Nona." Salah satu bodyguard membukakan pintu mobil untuk Oliv. Oliv hanya mengangguk kemudian menenggerkan kacamata hitam.
Dua-tiga orang yang kebetulan melintasi, tak berani untuk menatap lama Oliv dengan lama. Putri kerajaan Baskara yang terkenal cukup berani dalam mengambil keputusan serta sering membuat onar karna balapan liar yang ia selenggarakan bersama teman-temannya. Tetapi meskipun begitu, mau sebanyak apapun ulahnya, tidak akan ada media yang berani meliputnya. Pernah sekali seorang wartawan nekad meliputnya, namun pada akhirnya wartawan itu, entahlah. Yang pasti wartawan itu mendapat pembalasan setimpal.
"Silakan, Nona. Kami sudah menyiapkan ruangan pribadi anda. Dan kami memastikan tidak ada yang berubah maupun berdebu." Manager restauran menyambut ramah Oliv. Meski dalam raut wajahnya terlihat sangat gugup karna Oliv datang secara tiba-tiba.
"Oke," jawab Oliv singkat. "Oh iya, lanjutkan pekerjaan kalian. Tidak perlu mengantar makanan. Aku akan menemui temanku. Apakah dia sudah di sini?" tanya Oliv.
"Temen?? Bukannya calon suami ya? Haduh, nggak tau deh. Mana tadi yang masuk Tuan Gema."
"Be-benar, Nona. Teman anda sudah ada di dalam. Mari saya antar." Oliv mengangguk setuju.
"Silahkan, Nona." Manager membukakan pintu untuk Nona nya.
"Hmm, dan kalian berdua bisa lihat dengan jelas, bukan. Aku menemui calon suamiku. Jadi tunggu saja di luar." Oliv menunjukkan pandangannya kearah Gema pada kedua bodyguardnya.
__ADS_1
"Baik, kami akan menunggu di depan pintu, Nona."
"Terserah..."
Brakk
Oliv menutup pintu dengan cukup kuat, menandakan ia sangat kesal pada kedua bodyguardnya.
"Minum?" Gema menyodorkan segelas minuman untuk Oliv.
"Hmmmm, makasih calon suamiku," ucap Oliv dengan senyum terpaksa nya. "Yang bakal jadi mantan calon," imbuh Oliv dengan gumamannya yang sangat kecil.
"Saya dengar," ujar Gema yang membuat Oliv gugup namun kemudian terkekeh untuk menetralkan rasa canggungnya.
"Ayo dong, Abang Gema... Jangan marah-marah. Nanti cepet tua loh, kalo udah tua nggak laku hahaha." Gema hanya bergeming tak merespon gurauan kering dari Oliv.
"Kamu mau apa ngajak saya ketemuan? Apa kamu sudah tidak sabar hmmm?" Gema menatap intens Oliv dengan tangan yang ia tumpuk di atas meja.
"Tarik nafas, buang perlahan. Oke, rileks Oliv. Elo pasti bisa."
"What is this?" Gema mengerutkan keningnya kemudian membuka amplop yang Oliv berikan.
"Gimana?? Cantik-cantik kan??" tanya Oliv antusias saat Gema mulai melihat satu persatu foto wanita yang ia berikan.
"Cantik," jawab Gema.
"Nah, di foto itu adalah cewek-cewek yang super cantik, seksii, dan yang pasti tajir melintir. Dan, kamu bisa milih siapa pun di antara mereka yang kamu suka. Aku yakin A-bang Gema pasti nggak akan nolak pesona aduhai mereka."
"Terus?"
Oliv mengangkat bahu dan kedua telapak tangannya. "Kita batalkan pernikahan kita, dan aku jamin Bang Gema bakal dapet cewek yang ada di foto itu dengan mudah. Aku bersumpah, mereka juga nggak akan ada yang nolak pesona A-bang Gema." Oliv mengedipkan sebelah matanya.
"Oooh." Gema hanya ber-oh ria kemudian menghamburkan foto-foto itu.
"Kok dibuang?" panik Oliv. "Kenapa?? mereka kurang cantik kah? Kurang seksii kah? Atau kurang kaya? Bilang aja, gue pasti cariin kok. Stok cewek masih banyak," cerca Oliv.
__ADS_1
"Nggak perlu, karna yang cantik, seksii, dan tajir ada di depan saya." Gema tersenyum licik sembari menyeruput minumannya.
"OMG!!! Gue harus gimana lagi. Andai pasal tentang pembuunuhan nggak pernah ada, pastinya udah gue jadiin dia steak daging yang super empuk dengan citarasa yang berbeda."
"He-he-he." Oliv ikut menyeruput minumannya dengan otak yang terus berkerja keras untuk mengeluarkan ide.
"Kak, eh Bang." Oliv mulai memasang wajah meng-sedih.
"Eh, kenapa nangis?" Gema pura-pura bertanya untuk tangisan Oliv yang terlihat pura-pura juga.
"A-aku sebenernya, hiks hiks." Oliv meraih tisu untuk menyeka air matanya. "Aku sebenernya malu, apalagi ini tentang harga diri aku."
Gema mulai serius dan memasang telinganya dengan jeli untuk mendengarkan kata-kata Oliv selanjutnya.
"Aku tau, waktu di hotel sebenernya kita nggak ngelakuin apa-apa, kita nggak pernah melakukan hal hina. Aku sebenernya kasihan sama Bang Gema, karna bang Gema harus tanggung jawab. Padahal kita nggak melakukan apapun." Oliv mendongakkan kepalanya dan menghapus lagi air matanya. "Aku juga sempet kaget waktu ada bercak darah yang banyak. Darah perawan nggak sebanyak itu. Aku tau. Karna sebenernya..."
"Sebenernya apa??" Gema sudah mode on seriously.
"Sebenernya a-aku udah pernah di tusuk-tusuk sama tupai. Huaaaa..."
"What??? Apanya yang ditusuk-tusuk?? Hahahahaha." Tawa Gema pecah saat mendengar pernyataan Oliv yang sudah ia simak dari tadi.
"Kok malah ketawa sih?? Aku serius. Aku udah nggak pw. Aku udah di..." Oliv memperaktekan adegan tusuk-tusuk tupai menggunakan jarinya.
"Terus masalahnya di mana??? Hahahaha." Gema masih terbahak-bahak yang membuat Oliv sempurna mengerucutkan bibirnya bak paruh bebek.
"Aku serius, Bang..." Oliv menekankan setiap kata-katanya.
"Hahh oke-oke." Gema mulai mengatur nafasnya yang habis karna tawanya. "Olivia Baskara, mau kamu masih pw, atau udah ditusuk-tusuk tupai, saya nggak peduli. Karna saya akan tetep nikahi kamu. Hahaha." Gema masih ingin tertawa lagi, namun ia segera beranjak dari duduknya.
Oliv mencegah tangan Gema, "Mau kemana? Pernikahan kita batalin aja ya... Plisss." mohon Oliv.
"Sampai jumpa di hari lusa, Miss Tupai." Gema mengedipkan sebelah matanya kemudian berlalu meninggalkan Oliv.
"Wooyyy!!! Percuma ngomong sama biawak!!" teriak Oliv mengantar kepergian Gema. "Ya Allah, bengek Ya Allah. Huaaaaa"
__ADS_1