Past For Future

Past For Future
Titik rapuh seorang Bulan


__ADS_3

~Kujadikan bahuku untuk tangismu agar tak ada bahu lain yang menumpu sedihmu. Dirga


"Ya Allah ibuuuukkk" teriak Bulan


"Tuaaaaan. Tuan Dirga tolong saya" Bulan memanggil suaminya


"Ya Allah Bu" Dirga segera membopong tubuh ibu ke atas ranjang.


"Maafin ibuk nak. Ibuk bisanya buat susah" ucap ibu sambil menangis.


"Buk... ibuk sama sekali nggak buat susah. Kalo mau apa-apa ibuk panggil Bulan ya" Bulan menenangkan ibunya


"Ibu juga bisa minta tolong sama saya. Saya sekarang juga anak ibu" Dirga menggenggam tangan ibu


"Terimakasih nak. Selamat ya untuk pernikahan kalian. Kalian harus saling jaga ya, ibuk takut hal yang nggak di inginkan terjadi lagi" ibu mengeratkan genggaman tangannya pada Dirga


"Ibuk tenang ya. Dirga janji akan menjaga pernikahan ini" Ibu memeluk Dirga dan Bulan.



malam hari di kediaman keluarga Bulan


Bulan menghampiri ayahnya di ruang tengah. Karna sedari sore ayahnya hanya banyak diam.


"Ayah, Bulan boleh ikut duduk?" Bulan menepuk bahu sang ayah


"Ayah seneng banget kamu udah manggil dengan sebutan 'ayah' nak" Bulan duduk lalu memeluk ayahnya


Ayah Leo sudah tak bisa menahan tangis harunya.


" Maafin ayah yang nggak becus jadi orang tua nak. Semua salah ayah. Karna Ayah nggak bisa menjaga anak-anak Ayah, sehingga Alyssa yang jadi korban" Ayah masih belum melepaskan pelukan pada putrinya


"Ayah jangan nangis lagi. Semua bukan salah ayah. Semua memang sudah takdir. Ayah sekarang makan dulu ya. Bulan udah bawain makanan ini" Bulan mencoba untuk menenangkan ayahnya. Sang ayah hanya mengangguk



"Hai bro!!" Bang Wisnu menghampiri Dirga di taman dan menepuk bahunya


"Hai bang" ujar Dirga


"Gimana perasaanmu sekarang?" Bang Wisnu mencoba mencari topik pembicaraan. Namun hanya di balas senyuman tipis oleh Dirga.


"Apa kamu tau siapa yang paling terluka di situasi ini?" ucap Bang Wisnu. Dirga menoleh ke arah Abang iparnya


"Ibu" tebak Dirga yang di balas gelengan kepala bang Wisnu


"Kamu lihat ke belakang sana" Bang Dirga menuntun Dirga untuk menoleh ke belakang


"Om Leo? atau Bulan?" tanya Dirga


Bang Wisnu tersenyum


"Apa kamu tau hanya berapa jam istrimu tidur selama tiga hari ini?" tanya bang Wisnu yang di jawab gelengan kepala Dirga


"Lalu apa kamu tau hanya berapa suap Bulan makan?" tanyanya lagi. Dirga hanya diam untuk mencerna kata-kata dari bang Wisnu


"Coba lihat wajahnya yang pucat itu" Bang Wisnu menoleh kebelakang yang diikuti oleh Dirga.


"Ia sibuk menghibur orang-orang yang berduka. Bik Yun, ibuk, ayah, dan kamu. Dia terus memperhatikan kalian untuk tidak telat makan. Dan menghabiskan malamnya untuk menumpahkan air mata. Apakah ada juga yang memperhatikannya?" ujar Bang Wisnu


"Mungkin kalau kita di posisinya sekarang kita sudah nangis meraung-raung. Apalagi Bulan adalah orang yang tumbuh dengan Alyssa sedari kecil. Abang yakin Bulan sangat terpukul. Namun dia wanita yang hebat bukan? Dia mampu menyembunyikan luka yang sangat dalam" Dirga hanya menatap dan mendengarkan setiap ucapan yang keluar dari mulut Abang iparnya


"Dia juga punya masalalu yang kelam dengan ayah dan juga perceraian orangtuanya. Untuk itu Bulan memutuskan untuk tinggal di Kota S untuk menghilangkan traumanya. Tapi malah dia hampir di lecehkan teman semasa SMP nya, hingga akhirnya Bintang datang di kehidupan Bulan. Menjaga Bulan, menjadikan Bulan wanita yang kuat, bahkan merubah tampilan Bulan menjadi buruk rupa untuk menghindari tatapan liar lelaki. Saat itu Bintang benar-benar mendidik Bulan hingga akhirnya mereka jatuh cinta." Bang Wisnu menghela nafas untuk melanjutkan ceritanya

__ADS_1


"Lalu dimana Bintang sekarang bang" Dirga bertanya pada bang Wisnu


"Kurang lebih tiga tahun yang lalu Bintang pergi. Saat itu Bulan sangat kehilangan arah. Bulan mencari Bintang kemanapun tapi nihil. Bulan sangat terpukul saat itu, hingga ia baru bisa menyelesaikan studi nya lima tahun."


"Bulan mencari Bintang hingga satu tahun penuh?" tanya Dirga lagi


"Iya benar. Meski terlihat kuat tapi sebenernya Bulan adalah orang yang sangat rapuh, tapi dia enggan menunjukkan pada orang lain" jawab bang Wisnu


"Lalu kenapa Bulan saat itu memanggil om Leo dengan sebutan 'tuan'?"


"Dia hanya trauma. Karna dia juga pernah mendapat kekerasan fisik dan batin dari ayah. Tapi sekarang ternyata ia bisa melawan rasa traumanya itu. Abang bangga sama dia" bang Wisnu tersenyum sembari memandangi Bulan


"Ya Tuhan. Aku nggak nyangka ternyata sesulit itu menjadi Bulan. Aku merasa bersalah karna udah memperlakukan Bulan dengan buruk. Bahkan aku melupakan janji suci aku sendiri" sesal Dirga dalam hati


"Aku permisi dulu bang" pamit Dirga


"Mau kemana?" bang Wisnu heran dengan Dirga yang terburu-buru


"Mau ngajak Bulan makan" jawab Dirga


"Tunggu. Tolong jangan bahas apapun tentang masa lalu Bulan sebelum Bulan yang cerita sendiri" pesan bang Wisnu


"Iya bang. Makasih banyak ya bang" Dirga tersenyum dan berlalu ke dalam



"Bulan" Panggil Dirga


"Eh, iya. Ada yang bisa saya bantu tuan?" Bulan


"Om Leo, saya pinjem Bulannya ya" pamit Dirga


"Bawa aja, dan jangan pernah dibalikin" jawab ayah Leo. Mereka pun terkekeh dengan perkataan sekaligus nasihat untuk mereka berdua


"Eh. iya tuan"


"Kenapa anda membawa saya kesini tuan? Anda ingin makan lagi, saya panaskan dulu makanannya" ucap Bulan


"Kamu duduk manis aja disini. Biar saya yang panasin makanan. Dan jangan banyak tanya" titah Dirga pada istrinya


Setelah selesai menyiapkan makanan, Dirga mengambil makanan ke piring dan ia berikan pada Bulan.


"Eh, tuan. Saya sudah makan" tolak Bulan


"Mau makan sendiri atau mau disuapin" ucapnya tanpa menjawab tolakan Bulan


"Tapi sa..."


"Ya udah saya suapin. Dan nggak boleh nolak" Ujar Dirga yang sudah menyodorkan makanan ke mulut Bulan


"Tapi an... "


"Aaaamm gitu dong. Jangan suka ngebantah suami" Dirga menjejali makanan ke mulut Bulan


"Suami??" Bulan tertegun sejenak lalu mata mereka bertemu dan saling tatap


"Saya memang ganteng kok. Lihatnya nggak usah sampe kaya gitu" ucap Dirga yang sudah menjejali Bulan makanan lagi agar tidak menjawab.


Pipi Bulan sudah merona. Namun sebisa mungkin ia normalkan ekspresinya.


"Saya sudah kenyang tuan" ucap Bulan


"Ya udah nih minum dulu. Banyak juga porsi makan kamu" Dirga menyodorkan air minum dan menggoda Bulan. Bulan hanya tersenyum malu

__ADS_1


"manisnya" guman Dirga dalam hati


"Ya udah ayo kita tidur. Udah malem" ajak Dirga. Bulan hanya mengangguk



cklekk


Pintu kamar mandi terbuka menampilkan Dirga yang sudah memakai piyamanya lalu tersenyum pada Bulan. Dirga segera merebahkan tubuhnya ke ranjang. Yang membuat Bulan terkejut.


"Em. Biar saya saja yang tidur di sofa malam ini tuan" Bulan hendak bangkit namun di tahan oleh Dirga


"Ranjangnya nggak sempit kok. Disini aja. Lagian udah halal kan kalo mau pekuk-pekuk" Ujar Dirga dengan menaik-naik kan alisnya


Bulan tertawa sumbang lalu ia kembali merebahkan tubuhnya di kasur


"Bulan" panggil Dirga


"Hmm" jawab Bulan


"Boleh saya peluk kamu?" tanya Dirga. Bulan hanya diam menimbang-nimbang.


"Apa secepat ini tuan Dirga mau meminta haknya" pikir Bulan


Tak kunjung mendapat jawaban, Dirga menarik Bulan ke dalam pelukannya. Tak ada penolakan dari Bulan.


"Kamu boleh bersandiwara di depan orang. Tapi jangan di depan saya. Saya mau sekarang kamu menjadikan bahu saya untuk bersandar. Dan menjadikan dada dan punggung saya tempat berlindung" ujar Dirga seraya mengusap-usap kepala Bulan


Bulan mendongak untu mennatap pria yang sudah berstatus kan suaminya itu. Dirga hanya mengangguk


"Saya nggak mau ada bahu yang lain. Cukup bahu saya dan selamanya" ucap Dirga lalu mencium kening istrinya untuk pertama kalinya


"Hiks hiks hiks" Tangis Bulan pecah. Ia pun membalas pelukan Dirga dan mengeratkan nya.


"Menangis lah sepuasnya Bulan. Jangan ada yang kamu pendam. Saya tau ini sulit untuk kita. Tapi saya yakin kita bisa melewati semua ini hingga nanti kita saling jatuh cinta. Hiduplah dengan saya selamanya" Dirga mencium kening Bulan sangat lama.


Bulan semakin terisak dengan kata-kata Dirga. Hingga akhirnya mereka terlelap dengan posisi saling memeluk.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


Author nulis sambil nahan sesek🥺

__ADS_1


Lanjut ke episode selanjutnya ya guys🤗 Jejakmu sangat berarti untukku ♥️


__ADS_2