
...Selamat malam PFF Lover ♥️ Selamat membaca dan sehat selalu 🤗...
.......
.......
.......
.......
.......
.......
.......
.......
.......
.......
Deru ombak menenangkan setiap orang yang menikmatinya. Terpaan angin mengalun lembut menggoyangkan dedaunan. Langit jingga menyapu wajah seorang wanita yang tengah berdiam diri merenungi hidup yang tengah ia jalani.
Ia menompang wajahnya, sesekali ia menghela nafas berat untuk mengeluh. Begitupun pria dihadapannya yang tengah memejamkan mata sembari memijat pelipisnya. Pria itu mendongak untuk menatap wanita dihadapannya. Ia hendak mengatakan sesuatu namun terasa kelu di lidahnya takut wanita itu tak memaafkannya atas kesalahan yang ia perbuat.
"Liv..." panggil pria itu lirih. Yang dipanggil diam tak bergeming.
"Maaf." imbuh pria itu tulus
"Dia temen aku pas SMA, kami nggak sengaja ketemu waktu itu." Marcel mencoba untuk menjelaskan pada Oliv. Oliv hanya ber-oh ria menanggapi.
"Kamu jangan langsung percaya sama foto itu dong. Bisa aja itu diedit karna orang itu nggak suka sama hubungan kita."
"Aku tau mana yang diedit mana yang enggak." ketus Oliv
"Liv, kamu harus percaya sama aku. Aku nggak selingkuh." bujuk Marcel
"Nggak selingkuh tapi duduk pangku-pangkuan sambil ciuman cihh." sinis Oliv
"Liv..." Marcel menggenggam tangan Oliv namun ditepis "Plis jangan kayak anak kecil gini dong."
"Aku emang anak kecil kak. Untuk itu sampe sekarang kak Marcel nggak cinta kan sama aku?" ujar Oliv datar tanpa menatap Marcel
"Liv, kita udah pernah bahas ini kan sebelumnya." Marcel menghela nafas "Oke aku akuin itu memang foto asli. Tapi itu jauh sebelum aku sama kamu Liv."
Oliv menatap Marcel dalam. Namun naas, Oliv tahu kalau Marcel tengah berbohong. Oliv menghela nafas lalu mengalihkan pandangannya ke arah lain lagi. Oliv mengetuk-ngetuk kan jarinya di meja untuk menetralkan perasaan kacaunya. Bukankah ciuman pertama Marcel itu bersama Oliv? Tapi kenapa Marcel berbohong?
"Liv, kamu percaya kan sama aku?" tanya Marcel sambil menggenggam kembali tangan Oliv.
"Aku pengen percaya sepenuhnya sama kak Marcel, tapi nggak bisa. Kamu selalu bohong dan nggak pernah bisa mencintai aku kak. Apa kurangnya aku di mata kamu." keluh Oliv dalam hati
"Maafin aku bohong sama kamu Liv. Maaf karna aku diem-diem masih ketemu sama Verta. Maafin aku yang masih mencintai Bulan. Maafin aku juga yang nggak rela melepaskan kamu meski aku nggak mencintai kamu. Maaf aku egois." batin Marcel
"Liv, aku mau melamar kamu secepatnya." tutur Marcel yang membuat Oliv langsung melepaskan genggaman Marcel.
"Kak, jangan main-main." ujar Oliv dengan alis berkerut
"Aku nggak main-main Liv. Aku pengen kita segera punya ikatan. Bukannya kamu pernah bilang setelah lulus kuliah mau nikah sama aku?" Marcel kembali menggenggam tangan Oliv
Oliv langsung glagapan dengan ucapan Marcel. Mukanya sudah merah menahan malu. Ada debaran aneh di dadanya. Bahagia? entahlah, mungkin iya. Karna Oliv memang menginginkan Marcel orang yang dicintainya itu menjadi suaminya.
Berkali-kali Oliv mencoba mengatur nafas gugupnya. Tiba-tiba terlintas dipikiran Oliv 'Tapi Marcel nggak cinta sama kamu. Kamu nggak bisa memastikan cinta itu ada nantinya. Sadar Oliv sadaarrr' deg. Oliv menggelengkan kepalanya untuk mengusir pikiran kotornya.
__ADS_1
"Liv, gimana?" tanya Marcel serius
"Marcel bodoh. Kamu harus terima konsekuensinya setelah ini Marcel" Marcel merutuki kebodohannya
"A...aku," gugup Oliv "Aku, maaf kak. Aku nggak bisa." ujar Oliv sambil melepaskan genggaman Marcel
"Yesss. Untung aja ditolak." sorak Marcel dalam hati
"Aku nggak bisa memutuskan ini sendiri. Sebaiknya kak Marcel membicarakan niat kak Marcel sama keluarga Oliv." lanjut Oliv yang membuat Marcel melotot
"Astaga, kenapa ada lanjutannya sih. Nolak ya nolak aja arrrrrrrggghhh"
"Kak..." tegur Oliv
"Eh i..iya Liv."
"Aku minta kakak bener-bener serius sama hubungan kita. Aku nggak mau kakak ketemu wanita itu lagi. Janji?"
"Eh em... iya Liv aku janji." jawab Marcel gugup
"Kamu harus belajar bertanggung jawab untuk hubungan kita kak. Cinta ataupun nggak, aku nggak peduli sekarang. Yang penting aku tetep berusaha untuk mendapatkan hati kamu. Suatu hari nanti, aku pastikan kamu udah jatuh cinta sama aku sebelum kita menikah."
"Ya udah kita pulang yuk. Udah mau malem nih." ajak Oliv yang dibalas anggukan kepala Marcel
Dalam perjalanan pulang Marcel hanya diam merutuki kebodohannya. Sesekali ia memejamkan matanya untuk meredam emosinya. Nasi sudah menjadi bubur, ia terlanjur mengatakan akan melamar Oliv, wanita yang sama sekali tidak ia cintai. Oliv tersenyum sinis saat melirik kearah Marcel. Oliv tau bahwa Marcel mengatakan niat lamarannya semata-mata agar tak membahas wanita itu lagi.
"Kak, kita ke masjid dulu ya. Kita sholat Maghrib dulu." pinta Oliv
"Oke." Marcel membelokkan mobilnya ke Masjid
"Ayok turun." ajak Oliv saat mobil telah berhenti di parkiran "Kak..." Oliv mengguncang lengan Marcel yang terdiam
"Kamu turun duluan, nanti aku susul ya." jawab Marcel
"Oke."
Oliv mengeluarkan selendang dari tasnya untuk menutupi rambutnya yang terurai kemudian turun dari mobil. Marcel menatap kepergian Oliv sampai wanita itu masuk kedalam masjid. Marcel mengetuk-ngetuk kan jarinya kemudian menghela nafas.
"Apa kamu yakin Oliv?" gumam Marcel
Marcel membuka laci mobil lalu mengambil sebuah kalung miliknya. Ia mengelus kalung itu kemudian mendekap kalung itu kedalam pelukannya.
"Apa Dirga nggak pernah cerita masalah ini sama kamu? Ini akan semakin berat kedepannya Liv." gumam Marcel
…
Di sebuah taman dua orang tengah duduk dengan mesra. Sang wanita terlihat tengah menyadarkan kepalanya di bahu sang pria. Kedua insan Tuhan itu tengah menikmati indahnya sore hari.
"Bin..." panggil Bulan
"Hmm..." Bintang mengelus lembut kepala Bulan
"Aku kangen banget sama kamu." Bulan mengeratkan pelukannya pada tubuh Bintang
"Kayak nggak ketemu setahun aja sih Bul." Bintang mencubit hidung Bulan gemas
"Iiiiiihhh biarin aja. Pokoknya aku kangen."
"Bul, kita pulang ya. Ini udah sore loh." bujuk Bintang
"Udah dibilangin aku mau di sini sampe besok sama kamu." manja Bulan
"Kamu tu bandel banget sih kalo dibilangin, nanti masuk angin loh." Bintang mengacak-acak rambut Bulan
__ADS_1
"Biarin." ketus Bulan
"Ya udah kamu di sini sendiri aja. Aku mau pulang sendiri." ancam Bintang
"10 menit lagi pliisss." rayu Bulan
"Dari tadi 10 menit terus."
"Kali ini beneran deh suerrr." bujuk Bulan lagi
"Oke deh"
Mereka berdua hanyut dalam indahnya sore hari. Tempat itu sunyi, hanya ada mereka berdua di sana. Bintang memejamkan matanya untuk ikut menikmati indahnya sinar jingga di ufuk barat. Matanya kembali terbuka saat dirasa Bulan melepaskan pelukannya.
"Kenapa Bul?" tanya Bintang heran
"Bentar ya Bin. Lihat tuh ada kucing di jalan. Kasihan nanti ditabrak mobil." Bintang mengangguk kemudian Bulan berlari kecil untuk menyelamatkan kucing itu.
"Haiii kak Bintang..." Sapa Bulan dari jalan dengan menggendong kucing itu kemudian melambaikan tangan kucing ke arah Bintang.
Bintang hanya tersenyum menanggapi tingkah Bulan. Seketika mata Bintang membulat sempurna saat mobil melaju dengan kecepatan tinggi ke arah Bulan.
"Bulaaaaaaan awaaaaasss."
brakk
brukkk
"Bulaaaaaaan...."
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Next nggak nih?
Oh iya hari senin nih, jangan lupa satu vote past for future ya🤗
__ADS_1
see you PFF Lover ♥️