
Tiga bulan sudah usia pernikahan Dirga dan Bulan. Keduanya terlihat lebih dekat dan saling terbuka. Hanya saja Bulan belum terbuka tentang masa lalunya pada Dirga.
"Hari ini mau kemana?" tanya Dirga dengan mata yang masih terpejam sembari mengendus-endus di leher Bulan
"Kita ke makam kak Alyssa dulu gimana? Mas geli"
"Hmmm oke. Habis itu kemana lagi?" tanya Dirga yang masih asik dengan aktivitasnya
"Pengennya jalan-jalan tapi..." Bulan terdiam sejenak
"Ya udah kita jalan-jalan. Gimana kalo ke pantai?" tawar Dirga
"Jangan" refleks Bulan yang membuat Dirga mengerutkan keningnya
"Why?" tanya Dirga yang kini menatap Bulan
"Emmm.. nggak papa, saya cuma lagi nggak pengen ke pantai aja. Tapi mas, saya masih ragu kalau mau keluar-keluar sama mas Dirga. Pernikahan kita kan baru keluarga aja yang tau" ucap Bulan
"Ya udah kita jalan-jalan aja. Nanti saya gampang. Bisa pake topi sama masker" Dirga mencoba menenangkan kecemasan istrinya
"Yah jangan. Malah kayak bodyguard dong" tolak Bulan
"Saya kan emang Bodyguard kamu. Orang yang selalu jagain kamu kemanapun dan kapanpun bahkan di atas ranjang begini" Dirga menaik-turunkan alisnya
"iiis mulai"
"Mau nggak? Black card yang saya kasih juga belum kamu pake sama sekali lo"
"Iya juga ya. saya belum sempet ngehabisin duit mas Dirga hehehe" ucap Bulan cengengesan. Dirga menarik hidung mancung Bulan
"Aaaw sakit" keluhnya
"Coba aja habisin uang saya dalam sehari" tantang Dirga
"Itu gampang" jawab enteng Bulan
"Masa??"
"Iya tinggal kasihin aja ke saya semuanya. Jadi uang mas Dirga habis deh" khayal Bulan
"Nanti saya jadi miskin emang kamu mau?"
"Nggak mau lah. Saya kan matre hahaha" jawab Bulan bercanda
"Saya cium nih" goda Dirga
"Saya mau mandi" Bulan segera berlari menuju kamar mandi
Setelah selesai dengan urusan mereka, kini Bulan dan Dirga sudah dalam perjalanan menuju makam Alyssa.
"Kamu kenapa tegang gitu mas?" tanya Bulan
"Eh nggak papa kok" Dirga memaksakan diri untuk tersenyum
"Kamu mau ikut-ikutan aku ngendaliin raut wajah mas? Kayaknya nggak berhasil deh. karna aku tau kalo kamu lagi mikirin kak Alyssa" batin Bulan dalam hati
Setelah sampai di pemakaman Bulan dan Dirga menuju makam Alyssa dengan membawa buku Yasin dan bunga
"Assalamualaikum kak" Bulan
"Assalamualaikum Al" Dirga
"Waalaikumsalam" jawab Bulan dengan nada yang di buat menakutkan untuk menghibur Dirga. Dirga hanya terkekeh
Mereka mulai memanjatkan doa lalu menaburi bunga di atas makam Alyssa
"Makasih kamu udah menitipkan Bulan sama aku Al. Bulan adalah hadiah terbesar di hidup aku. Aku akan menjaganya dan mencintainya" Gumam Dirga di hati
"Kak, terimakasih udah meminta mas Dirga untuk menjaga Bulan. Bulan beruntung semoga aja mas Dirga bisa menerima kekurangan Bulan nanti. Tapi bulan harus gimana kak? Bulan belum bisa memastikan apakah Bulan sudah mencintai mas Dirga atau belum. Bintang masih sangat berkesan di hati dan hidup Bulan. Tapi Bulan juga nggak bisa ninggalin mas Dirga. Egois banget kan??" gumam Bulan dalam hati
"Udah Bulan? ayok" Dirga merangkul bahu Bulan.
__ADS_1
Setelah mereka meninggalkan pemakaman, kini mereka menuju Mall
"Inget ya. Habis-habisin. Kartu saya masih banyak" ujar Dirga dengan sombong
"Cih. Tapi mau beli apa ya? baju saya udah banyak" Bulan memikirkan apa yang akan ia beli
"Gitu tadi gayaan mau ngabisin uang saya" ledek Dirga "Beli baju aja yang banyak. perhiasan, tas, sepatu, atau apa terserah kamu"
"Ya udah keluar yuk" ajak Bulan
Mereka berjalan terpisah. Bulan yang memimpin di depan diikuti Dirga di belakangnya
"Bulan" panggil Dirga. Bulan menoleh ke arah Dirga
Dirga menoleh kanan kiri untuk memastikan tidak ada yang memperhatikannya lalu menarik tangan Bulan ke sebuah butik.
"Mas disini kan mahal-mahal" bisik Bulan pada suaminya
Dirga hanya mengedikkan bahu lalu melepas masker nya
"Mas. kok di lepas?" Bulan panik
"Pelayan" panggil Dirga
Ke tujuh karyawan Disana langsung berbaris saat mengetahui yang datang adalah Tuan muda mereka
"Ada yang bisa kami bantu tuan" ujar salah satu dari mereka yang tak lain adalah manager disana
"Tutup butik. Pastikan tidak ada pelanggan selain kami berdua" titahnya pada pelayan
"Baik tuan" ujar mereka serempak.
Bulan mengerutkan keningnya
"Mas sa..." belum sempat Bulan menyelesaikan bicaranya, Dirga sudah memotongnya
"Ssssst" bulan meletakkan telunjuknya ke bibir Bulan
"Dan kamu, kamu, kamu, kamu" tunjuknya pada empat pelayan "Pilihkan baju wanita terbaik yang ada disini untuk wanita di samping saya. sebanyak nya" perintah Dirga
"Mas saya mau beli satu aja" Bulan berbicara secepat mungkin agar tidak di potong Dirga
"Oke. kamu beli satu. Selebihnya biar saya yang beli" Dirga mengedipkan sebelah matanya. Bulan hanya mendelik kesal
"Dan kalian berdua" tunjuk Dirga pada pelayan yang masih menunggu perintah " Pilihkan sepatu dan tas model terbaru dan yang terbaik di butik ini. Untuk sepatunya ukuran 37 dan jangan yang terlalu tinggi " perintah Dirga
"Baik Tuan muda"
Setelah selesai berbelanja selama 3 jam penuh, Dirga memerintahkan mereka untuk membawa belanjaan ke mobil
"Mas" Panggil Bulan
"Masih ada yang kurang?" tanya Dirga
Bulan mencubit lengan suaminya
"Kalo mau cubit-cubit jangan disini dong nyonya Dirga" goda Dirga
"Habisnya saya kesel sama mas Dirga. Belanjaan itu tadi banyak banget dan yang pastinya mahal-mahal. Saya jadi pengen nangis mas" Bulan memijit keningnya
"Hehehe. Kamu mau borong seisi Butik ini juga nggak papa orang ini butik nya mama gratis kok" ujar Dirga santai
"What??? terus nanti kalo mama marah gimana mas? Itu tadi banyak banget lo" tanya Bulan
"Butik ini bukan untuk nyari duit sama mama. Mama cuma gabut aja kemarin jadi mendirikan butik ini"
"Enak ya. Orang kaya mah bebas" seloroh Bulan
" Ya udah pake lagi maskernya" Bulan mengambil masker di tangan Dirga lalu memakaikannya
"So sweet" Dirga menatap dalam manik mata Bulan. Bulan hanya tersenyum menanggapinya
__ADS_1
Setelah keluar dari Butiik mereka kembali berjalan terpisah. Bulan melangkahkan kakinya menuju restoran yang ada di Mall itu. Bulan dan Dirga duduk di meja yang berbeda namun tetap berhadapan untuk bisa saling menjaga (Biar nggak hilang kata author)
"mbak pesen steak nya satu, terus minumnya rainbow ocean ya" ujar Bulan pada pelayan
Sedangkan Dirga terlihat hanya memesan minum
"Nggak makan?" tanya Bulan tanpa mengeluarkan suara yang hanya di jawab gelengan kepala Dirga
"Bulan...!!" sapa seorang pria yang kini menghampirinya
"Aku telpon nggak di angkat. Aku WA juga nggak kamu bales. Ternyata kamu di sini" ujar pria itu yang tak lain adalah Marcel
"eh. ponsel aku ketinggalan di rumah Cel" Bulan melirik ke arah Dirga yang masih mendengarkan percakapannya dengan Marcell
"Oh iya kamu sendiri?" tanya Marcel
"a..aku sama suami ku Cel" ucap Bulan terbata
"Hahaha bisa bercanda juga kamu Lan? Aku kira kamu itu cuma bisa kaku aja" ucap Marcel
"ehehe" Bulan terkekeh garing saat ucapannya di anggap bercanda oleh Marcel. Ia terus-terusan melirik ke arah pria bertopi itu yang tak lain adalah suaminya
"Lan" tegur Marcel
"eh iya ke... kenapa Cel?" tanya Bulan gugup
"Kamu ngelamun terus dari tadi"
"em maaf aku laper. Jadi nggak fokus" jawab Bulan asal
"Hahaha tapi udah pesen makan kan? Aku pengen ngomong sesuatu sama kamu Lan" tutur Marcel
"Ngomong aja cel" Bulan melirik ke arah suaminya yang sudah mengepalkan tangannya
"Ini tentang perasaanku Lan" ucap Marcel dengan serius
"Perasaan kamu kenapa Cel?" tanya Bulan polos
"Aku udah jatuh cinta pandangan pertama sama kamu Lan. Aku selalu nunggu waktu yang pas untuk ngungkapin perasaan ini ke kamu. Dan aku rasa ini waktu yang tepat" Marcel menyatakan cintanya
Bulan sudah merinding. Keringat dingin sudah bercucuran saat Marcel mengeluarkan kotak dari saku celananya.
"Bulan Leo Putri. Will you marry me?"
braaaaaakkk
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
__ADS_1
Kabur deh. Kayaknya Singa yang lapar siap menerkam nih
Hayoo jejaknya jangan kelewatan ♥️