Past For Future

Past For Future
Perkenalan dengan Gema


__ADS_3

Dilanjutkan dengan perjalanan menggunakan mobil, mereka kembali menempuh perjalanan selama 3 jam untuk sampai ke basecamp dekat gunung yang Adam maksud kan tadi.


Setelah mereka sampai, mereka dibuat terpesona pada pemandangan indah yang ada di hadapan mereka. Gunung yang menjulang tinggi seolah menantang untuk ditaklukkan. Sejenak mereka menikmati udara sejuk yang menyeruak ke rongga hidung mereka.


"Selamat datang di alam kebebasan, Oliv." gumam Oliv dengan senyum yang tak pernah pudar dari bibirnya sedari tadi.


Mereka berjalan menuju basecamp, ada beberapa orang yang tengah berada di sana yang diyakini juga akan memulai trip ke puncak. Oliv membenarkan posisi tas yang ia gendong. Perasaannya benar-benar sejuk terlepas dari masalah-masalah yang terus ia hadapi.


"Heiiii...," Adam melambaikan tangannya pada salah satu orang di sana. "Ayok, itu temen gue." ajak Adam pada Oliv dan Nia.


Adam dan Nia berlari kecil, Oliv pun mengikuti mereka santai dengan pandangan terus ia tujukan pada hamparan hijau di sisi kanannya.


"Liv, cepetan sini!!" teriak Nia yang langsung membuyarkan Oliv. Oliv dengan segera mendekat kearah mereka bertiga.


"Berat ya? taruh dulu sini tasnya." Nia membantu Oliv melepaskan tas dari punggungnya. "Gimana? elo pusing nggak sama jalan yang mananjak manikung manurun??" canda Nia.


"Lumayan sih. Tapi gue seneng kok, akhirnya gue bisa ketempat ini." Oliv memandang takjub sekitarnya.


"Eh, kenalan dulu dong. Ini temen gue namanya Gema." Adam menyodorkan tangan Gema kearah Oliv.


"Olivia," Ia menjabat tangan Gema sembari tersenyum.


"Gema," balasnya tanpa menampilkan senyumnya.


"Oke, kita istirahat dulu di sini. Kalo ada yang mau dibeli bilang ya. Masih ada warung kok di deket sini, ada nasi juga." Adam memecahkan suasana.


"Ya udah kita kesana dulu yuk. Gue laper lagi nih. Dam, Ni ayok." ajak Oliv.


"Lo duluan sama Nia sama Kak Gema aja, Liv. Perut gue mules." Keluh Adam sembari memegangi perutnya.


"Duh, elo duluan sama Gema aja, Liv. Biar gue yang jagain tas kita. Nanti gantian deh." Nia pun beralasan. "Udah, nggak papa sana. Kak Gema tau kok tempatnya." Nia mendorong Oliv agar berjalan.


"Ayo," ajak Gema tanpa menoleh, tangannya di masukkan kedalam kantong jaket yang ia kenakan.


Oliv menoleh pada Nia, Nia hanya mengangguk seraya mengibas-ngibaskan tangannya mengusir. Oliv akhirnya meraih mini bag yang ia bawa dan mengikuti Gema dari belakang. Oliv membalas sapaan beberapa pendaki yang menyapanya. Ia sebenarnya sedikit aneh, karna hampir semua orang melontarkan sapaan dan tersenyum pada Oliv dan Gema. Berbeda dengan kota, tidak mengenal maka pura-pura tidak melihat.


Langkahnya melambat saat telah sampai di teras warung kecil berdindingkan papan yang terlihat sederhana namun kokoh. Ia mencari tempat duduk yang kosong, karna ada juga beberapa pengunjung yang sedang mampir di warung itu.


"Mau pesen apa?" tanya Gema pelan namun terkesan cuek.


"Nasi goreng seafood." jawab Oliv jahil.


"Oke." jawab Gema singkat yang membuat Oliv menahan tawa.

__ADS_1


"emangnya ada? hihihi." batin Oliv.


"Mbaknya dari mana?" tanya pria berusia sekitar 40 tahun-an yang duduk tak jauh dari Oliv.


"Saya dari Ibukota, Pak." jawab Oliv sopan.


"Oh, emang suka daki atau pengalaman pertama?" tanya pria itu.


"Ini pengalaman pertama saya, Pak." Oliv menjawab seperlunya.


"Oh, iya-iya. Yang penting hati-hati ya mbak, ikuti instruksi. Dan jangan sombong dengan sesama pendaki. Jangan pernah ada niat kotor juga, di sini banyak pantangan yang harus mbak ketahui dulu." nasihat pria itu.


Oliv hanya manggut-manggut mengerti. Mungkin itu sebabnya para pendaki ramah terhadapnya dan juga pada pendaki lainnya.


"Kamu ngomong sama siapa?" Gema menepuk pundak Oliv yang membuat lamunannya buyar.


"Eh??" Oliv mengerjapkan matanya. "Itu tadi--"


"Nih," Gema memotong ucapan Oliv seraya menyerahkan piring berisikan nasi lengkap dengan lauk pauknya kepada Oliv. "Makanya orang tuh kalo mau berangkat Bismillah dulu." ketus Gema.


"Tapi tadi aku ngomong sama---"


"Cepetan dimakan." lagi-lagi Gema memotong ucapan Oliv.


Perutnya yang awalnya lapar, menjadi tak berselera. Sedari tadi ia hanya mengaduk-aduk nasi di hadapannya tanpa berniat memakannya.


"Apa mending gue pulang aja ya. Aduh, tapi mau sama siapa? Nanggung juga udah nyampe sini." gumamnya dalam hati.


"By the way, penunggu di sini paling nggak suka sama orang yang mubazir. Jadi jangan salahkan kami kalo nanti ada apa-apa." ujar Gema dengan nada tenang tanpa melirik kearah Oliv.


Oliv dengan cepat menyendok makanannya tanpa protes sedikitpun. Dengan lahap ia memakan nasi dan lauk pauk yang sudah tak terasa lagi di lidahnya. Yang terpenting ialah menghabiskan makanan itu dengan cepat dan tanpa sisa.


Gweeek


Oliv tak sengaja bersendawa di hadapan Gema. Ia menutup mulutnya yang keceplosan, malu ya jelas malu. Bahkan Gema ialah orang yang baru saja ia kenal.


"Makanannya udah dibayar, ayo." ajak Gema setelah meneguk air di gelasnya.


"Emang nggak bisa bentaran lagi, Kak? Perutku kekenyangan banget, susah jalan." keluh Oliv namun tak digubris oleh Gema yang tetap melanjutkan langkahnya.


Oliv hanya mendengus kesal, kemudian berlari kecil untuk mengejar Gema yang memiliki langkah yang panjang. Berkali-kali ia mengelus perutnya yang kekenyangan. Pasalnya ia tak mempertimbangkan porsi dulu sebelum memesan, alhasil porsi komplit yang harusnya di makan pria dewasa pun masuk dengan paksa ke dalam perutnya.


huffft... hufft

__ADS_1


Oliv membungkuk karna perutnya semakin tak nyaman, "Kak Gema, tolongin dulu. Perut aku sakit." Keluh Oliv lagi. Gema pun dengan terpaksa menghentikan langkahnya dan memutar balik kearah Oliv.


"Eh...," Oliv terkejut karna tiba-tiba tubuhnya melayang ke udara. Ia bertambah terkejut kalau ternyata yang menggendongnya ialah Gema. Ia tak berani memberontak, karna memang perutnya sedang tidak nyaman.


Sebenarnya tak cukup jauh, tapi berjalan juga menghabiskan waktu sekitar 10 menit dari warung ke basecamp. Oliv membulatkan mulutnya saat merasakan degup jantung berdebar Gema yang berada tepat di depan telinganya.


"Apa dia nggak pernah deket sama cewek sampe-sampe deg-degan gini? Tapi dia cukup manis sih." batin Oliv yang hanya berani membatin.


"Turun di sini aja. Nggak enak dilihatin orang." Gema menurunkan Oliv kemudian berjalan meninggalkan Oliv sendiri.


"Ya elah, gue tarik omongan gue barusan. Ngeselin amat sih. Tapi dia kayaknya judes deh, galak juga. Mending diem deh, daripada gue dibentak-bentak ngena mental." gerutu Oliv dalam hati.


Oliv yang memiliki iman sepucuk sendok pun langsung celingukan merasa merinding lagi. Ia akhirnya berjalan beberapa langkah menuju basecamp yang ia singgahi tadi.


"Gimana udah kenyang?" tanya Nia, "Sini duduk." Ia menepuk tikar yang ia gelar.


"Kekenyangan, Ni. Perut gue sakit gara-gara langsung jalan tadi." jawabnya sambil menyindir Gema.


"Ya udah, istirahat dulu deh. Mau rebahan dulu juga nggak papa. Ini kan pengalaman pertama elo, jadi kita nggak mau buru-buru biar elo nggak kecapean banget." Oliv hanya mengangguk lalu merebahkan kepalanya di paha Nia.


Oliv terus bergerak karna bayangan pria yang mengajaknya bicara di warung tadi masih terngiang dalam ingatannya.


"Aku akan mengikuti mu kemanapun kau pergi..." suara seram membisik di telinga Oliv.


.


.


.


.


.


.


.


.


Nggak sengaja nyemplungin horor dikit. Karna emang di gunung biasanya terkenal dengan aura mistisnya hehe.


Sedikit bocoran, pendakian di gunung kali ini akan menjadi pengalaman tak terduga bagi Oliv. Hayooo harus penasaran...

__ADS_1


ikuti terus kelanjutan ceritanya guys ♥️🤗


__ADS_2