Past For Future

Past For Future
Rasa yang terpangkas mati


__ADS_3

Oliv berlari menelusuri koridor rumah sakit. Berkali-kali ia menabrak orang lain yang berpapasan dengannya. Nafas yang tersengal tak membuatnya menyerah untuk terus mencari ruangan yang ia tuju.


Kini ia berada di luar sebuah ruang rawat, ia menatap nanar pintu ruangan itu. Rasanya bertambah sesak, pikirannya melayang entah kemana. Ia menoleh ke arah kursi tunggu, matanya menatap sosok ibu yang memeluk anaknya dengan sayang. Wanita itu tersenyum pada Oliv kemudian menepuk kursi sebelahnya untuk mengode Oliv agar ikut duduk bersamanya.


Dengan langkah lunglai Oliv menghampiri kursi itu dan mendudukkan tubuhnya. Ia masih membisu, tak ada niat untuk membuka percakapan atau hanya sekedar menyapa wanita di sampingnya.


"Semalam... huhff," Verta menghela nafas sebelum melanjutkan ucapannya. "Marcel ngejar kamu pake mobil." imbuhnya yang membuat Oliv menoleh.


"Tubuhnya nyetir, tapi pikirannya ke kamu, Liv." Verta menunduk sembari mengusap kepala putranya dengan sayang. "Kalo kamu anggap Marcel itu cowok pengecut dan pengkhianat, itu salah besar. Kamu tau?" Verta menoleh ke samping untuk menatap Oliv.


"Jangan membela dia agar aku mau kembali sama dia. Aku kesini cuma sebagai rasa manusiawi aja." Oliv membuang muka untuk menghindari tatapan Verta.


"Oke kalau kamu anggap aku gitu. Tapi kamu harus denger cerita versi aku." Oliv hanya diam tapi tetap menunggu kata-kata selanjutnya dari mulut Verta.


"Kami bersahabat sejak SMA, saat itu aku cuma punya dia di kota ini," Verta tersenyum tipis, "Orang tua aku udah meninggal sejak aku kecil. Itu sebabnya aku kurang kasih sayang dan didikan orang tua. Aku yang memaksa Marcel untuk melakukan hal keji itu sama aku, yaaa bisa dibilang aku bodoh, minim pengetahuan. Aku nggak nyangka kalau pada akhirnya aku harus menanggung akibat dari perbuatan ak...


"Stop, Kak." Oliv memotong pembicaraan Verta sembari melirik kearah Boy.


"Kamu nggak usah cemas. Boy udah tau semua cerita ini sebelum aku dan Marcel mengungkapnya." jawab Verta enteng yang membuat Oliv melongo.


"Mom, Boy mau main game dulu. Boy main di sana ya." Verta mengangguk lembut.


"Kamu boleh kecewa sama kami, Liv. Tapi jangan kamu limpahkan semua kekesalan kamu ke Marcel. Ini dampak dari kecerobohan aku sendiri." Verta mengusap tangan Oliv.


"Kenapa kamu begitu murahan Kak?" Oliv tersenyum sinis.


"Bahkan aku pun nggak punya harga diri waktu itu, Liv." Verta menambahkan celaan Oliv. "Aku dikeluarkan dari sekolah karna aku hamil. Dan aku nggak pernah bilang kalau aku hamil anak Marcel. Semuanya salah aku. Aku nggak mau hidup Marcel ikut hancur."


"Terus kenapa kalian nggak nikah?" Oliv akhirnya buka suara.


"Marcel udah bersikeras untuk menikahi aku, Liv. Tapi saat itu aku tetep pada pendirian ku. Aku nggak bisa menikah tanpa cinta. Ikatan pernikahan di antara kami hanya akan menimbulkan luka. Tapi satu hal yang perlu kamu tahu, Liv. Marcel bukan pria pengecut. Dia tetep merawat Boy dengan baik, dia menafkahi kehidupan kami. Bahkan Marcel memberikan beberapa aset untuk keluargaku melanjutkan hidup," Verta menjeda ucapannya, "Marcel pria yang baik, Liv. Marcel juga butuh sosok yang menerima dia apa adanya." Verta tersenyum ke arah Oliv, "Kalian saling mencintai. Harusnya kalian mau menerima satu sama lain. Aku yakin kalian akan bahagia. Menikahlah dengan Marcel, Liv."

__ADS_1


Oliv hanya diam tak merespon ucapan Verta. Hatinya sedikit terenyuh dengan pernyataan sebenarnya tentang Marcel, namun ia sudah bertekad untuk mengakhiri hubungannya dengan Marcel. Sulit baginya untuk mengulang luka yang sama.


"Seenggaknya kasih Marcel waktu untuk memperbaiki semua, Liv." imbuh Verta.


cklekk


Pintu ruangan di mana Marcel dirawat terbuka, menampilkan beberapa tenaga medis yang terlihat profesional membawa beberapa berkas.


"Keluarga Pasien?"


"Iya benar, Dok." Verta berdiri dengan antusias menyambut Dokter. Namun Oliv tetap tak bergeming. Ia masih setia dengan sikap acuhnya.


"Kondisi pasien saat ini stabil. Namun sementara pasien mengalami kelumpuhan karna benturan di bagian tulang keringnya cukup kuat yang mengakibatkan tulangnya retak." Jelas Dokter.


"Lumpuh, Dok?" Verta sangat terkejut.


Oliv yang menyimak semua percakapan Dokter dan Verta. Sebenarnya ia peduli, namun enggan menunjukkan sikapnya. Mau bagaimanapun ia harus tetap memperbaiki hubungannya dengan kedua orangtuanya.


"Aku mau urus administrasi dulu. Kamu masuk kedalam jagain Marcel dulu ya. Marcel belum siuman kok. Kamu tenang aja." Verta menepuk pundak Oliv.


Oliv tetap diam, sebenarnya ia ingin segera pulang setelah memastikan keadaan Marcel. Namun hatinya menahannya untuk tetap di sini.


Oliv berdiri dari duduknya hendak beranjak pulang, namun lagi-lagi hatinya sulit diajak berkompromi. Ia benar-benar ingin memastikan langsung keadaan Marcel di dalam ruangan.


"Oke Oliv. Kembali ke mode awal. Dia cuma menganggap kamu adik. Jadi apa salahnya seorang adik menjenguk kakaknya." gumam Oliv dengan hati yang kembali perih.


cklekk


Oliv mengedarkan pandangannya pada ruangan putih polos di mana di dalamnya terdapat banyak alat-alat medis yang berjejer di dekat brankar. Matanya kini terfokus pada sosok pria yang terbaring lemah di atas brankar dengan beberapa perban melekat pada tubuhnya.


Oliv melangkah perlahan dan berusaha untuk menapak tanpa suara. Dipandanginya wajah tampan yang sampai kini masih memenuhi otak dan pikirannya. Dada Oliv masih terasa sesak meski ia telah tahu keseluruhan cerita tentang Marcel.

__ADS_1


Tangannya terulur mengusap bagian wajah Marcel yang diperban. Rasanya baru kemarin ia memeluk tubuh hangat Marvel, namun kini berbeda. Ia tak dapat lagi meneruskan perjalanan cintanya, sudah cukup luka untuk selama ini. Kini Oliv tahu apa penyebab orang tuanya tak merestui hubungannya dengan Marcel.


"Maaf..." hanya suara lirih itu yang keluar dari mulut Oliv.


Oliv menggenggam bagian tangan Marcel yang tidak diinfus. Seketika ia mengingat perjuangannya untuk mendapatkan cinta Marcel. Berawal dari sebuah kesepakatan yang mereka bangun, hingga perasaan muncul pada salah satu diantaranya mereka. Oliv mengingat betul bagaimana Marcel mencintai Bulan kakak iparnya, meski status hubungannya sedang menjalani hubungan dengan Oliv. Oliv menghela nafas kemudian meletakkan tangan Marcel kembali.


"Semua udah cukup. Selama ini aku udah berjuang banyak. Tapi maaf, kali ini aku nggak bisa. Aku harus menghormati keputusan orang tuaku. Aku nggak bisa mempertaruhkan hatiku lebih dalam. Makasih udah ngisi hari-hariku meski hatimu tetap untuk kak Bulan." Oliv tersenyum kecut sembari mendongak menahan buliran bening dari matanya agar tidak jatuh. "Aku pamit, ya. Kamu harus sembuh."


Cupp


Oliv mengecup kening Marcel dengan air mata yang sudah meleleh. Cukup lama Oliv menempelkan bibirnya di dahi Marcel sembari mengusap kepalanya. Berat. Rasanya sungguh tidak mampu menghadapi semua. Rasa yang tertanam telah berhasil tumbuh dengan sempurna, namun kali ini harus terpangkas habis. Dan kali ini harus menginjak mati setiap rasa yang kembali tumbuh. Sesak. Namun ia tak mampu lagi untuk kembali terluka. sudah cukup.


Sedangkan dari balik pintu, seorang wanita yang juga telah terluka selama ini, mengamati pemandangan di depannya dalam diam. Hanya isak tangisnya yang menjadi saksi bisu atas dirinya. Ia mengorbankan harga dirinya untuk tetap mempertahankan hubungan orang lain.


.


.


.


.


.


.


.


Sekian dan terimakasih. Episode bersambung. See you next episode cuy.


Like, komen jangan lupa. Tambahkan ke rak favorit juga ya😍 Oh iya, mau kasih Vote juga boleh 🤭

__ADS_1


__ADS_2