Past For Future

Past For Future
Calon istri


__ADS_3

Suasana pagi masih sangat mencengkeram. Sebagian orang telah sibuk menyusun rencana untuk memulai harinya. Tak sedikit orang pula yang masih sibuk bergelimpungan dengan mimpi mereka masing-masing.


Pagi ini, Oliv sudah terbangun dari tidurnya namun enggan untuk beranjak. Matanya masih sembab, semalam ia habiskan waktunya untuk menangisi nasibnya. Percuma? tentu saja. Mau bagaimana lagi, nasi sudah menjadi bubur.


Oliv menatap langit-langit kamar sembari mendekap kan tangannya di dada. Pikirannya kosong, namun lagi-lagi ia menitikkan air mata. Dengan sigap ia mengusap air mata yang kembali menetes lagi dan lagi.


"Apa udah bener keputusan gue untuk menikah dengan pria yang nggak mencintai gue?" Oliv menghela nafas "Apa gue anak durhaka karna ngelawan restu dari orang tua gue?" Oliv mengatupkan kedua tangannya di wajah.


"Gue cuma mau bahagia. Tapi kenapa susah banget. Kenapa kisah percintaan gue selalu rumit?" geram Oliv seraya mereemas selimut dan menggigitnya.


"Ini pasti gara-gara Genius," Oliv mendengus kesal "Iya, gue harus hubungi Genius sekarang." Oliv meraih ponselnya di atas nakas.


"E-mail dia masih kayak yang dulu nggak ya?" Oliv bertanya pada diri sendiri "Gue coba aja deh. Lagian gue yakin hp gue udah diretas sama dia. Mau chat sama siapapun pasti dia baca."


Oliv mengetik sesuatu di ponselnya kemudian berhenti "Bentar, kalo gue chat Genius sambil marah-marah, gue nggak yakin bakalan selamat. Gue masih sayang sama diri gue sendiri. Genius lebih ngeri dari kak Dirga ataupun Marcel, hiih merinding gue. Jangan deh jangan, Liv. Jangan cari gara-gara." Oliv melemparkan ponselnya asal di atas ranjang.


"Kira-kira wajah Genius sekarang kayak apa ya? Ganteng kah? Jelek kah? Atau jangan-jangan mukanya serem?" Oliv bergidik sembari menggelengkan kepalanya.


"Genius," Oliv masih terus berbicara sendiri.


"Bahkan nama asli kamu aja aku nggak tau. Sesepesial apa sih kamu sampe-sampe kak Dirga dan Papa menutup semua identitas tentang kamu?"


"Whatever. Yang jelas kamu yang udah buat gue dimusuhin keluarga gue. Hiih Genius nyebeliiiin." Oliv menggigiti bantal nya sebagai bentuk tanda protes.


drtt drtt


Ponsel Oliv bergetar tanda ada yang sedang menghubunginya. Dengan cepat ia mencari ponsel yang ia lemparkan asal tadi.


"Iiih, mana sih."


"Halo, Kak." sapa Oliv pada Marcel.


"Liv, apa kamu baik-baik aja?" tanya Marcel dari sebrang sana.


"Aku baik kok kak. Kak Marcel gimana?"


"Hari ini aku mau resign dari perusahaan."


"What?? maksud kak Marcel mau mengundurkan diri dari perusahaan Baskara?" kejut Oliv.


"Iya Liv, Aku udah mempertimbangkan semuanya."


"Apa ini karena kejadian tadi malam?" Oliv menggigiti kukunya.


"Aku nggak akan miskin hanya karna berhenti jadi asisten Dirga, Liv"


"Maksud aku bukan gitu kak. Tapi apa kakak yakin sama keputusan kakak?


"Aku udah yakin Liv. Ini udah saatnya aku mengembangkan bisnis aku sendiri. Ini untuk kita juga nantinya. Cepat atau lambat kamu akan jadi tanggung jawabku." ucap Marcel yang membuat pipi Oliv merona.


"Aku akan dukung keputusan kak Marcel. Semoga sukses sayang."


tuuut


Panggilan diakhiri Oliv karna ia sudah sangat kegirangan saat ini. Ucapan Marcel sukses membuat Oliv merasa dicintai. Oliv segera berlari seperti anak kecil menuju kamar mandi untuk menyegarkan diri. Karna saking senangnya, Oliv tak fokus saat berlari.


brukk


"Aduuuuuh," Oliv memegangi wajahnya "Ini tembok kenapa di sini siiiih." kesal Oliv kemudian menendang tembok itu.


"Awwww luka gue. Ah, tembok nggak punya sopan santun!!!" Oliv mengepalkan tangannya ke arah tembok "Hiiiiih..."

__ADS_1


"Kak Marcelllll... Calon istri kamu kesakitan." rengek Oliv seperti orang gila.


***


"Sayang, Mas berangkat kerja dulu ya." Pamit Dirga pada Bulan yang masih bergelimpungan di kasur.


"Hmm."


"Jangan ngambek lagi dong." Dirga mencubit gemas hidung Bulan "Nanti Mas pulang mau dibeliin apa?" tawar nya.


"Nggak mau apa-apa." ketus Bulan.


"Ya udah, Mas pamit dulu ya. Assalamualaikum." Dirga mengecup kening Bulan cukup lama.


"Waalaikumsalam."


"Jangan lupa rujak buah nya ya sayang. Mas pending ngidamnya sampe nanti malem." Dirga mengedipkan sebelah matanya.


brak


Bulan bangkit dari tidurnya saat Dirga telah keluar dari kamar. Ia segera beranjak mencari tas yang terdapat surat di dalamnya.


"Ini dia." Bulan meraih surat itu kemudian duduk di meja rias.


"Pelan-pelan, atur nafas." Bulan mengatur nafasnya sebelum membuka surat itu.


Dear Bulan.


Aku tak punya banyak kata-kata untuk menggambarkan tentang dirimu. Yang aku tau adalah kamu wanita yang sangat sempurna, siapapun akan takjub akan keindahan yang Bulan punya.


Aku yakin kamu habis nggeledah kamar aku yaaa...tuh kan ketahuan kalo kamu lagi kangen sama aku hehehe. Apa kabar si baby? Pasti baik kan? udahan ya basa-basi nya hehe.


Hari di mana aku nulis surat ini, aku udah menekadkan diri untuk melepaskan cintaku, mengikhlaskan cinta ku, dan meredam cintaku yaitu kamu. Berbahagialah, Bulan. Jadikan masalalu sebagai pembelajaran hidup untuk masa depan.


Terimakasih telah menjadi kesan yang paling indah dalam hidupku dan terimakasih telah menjadi cintaku yang sempurna. Aku Bintang, aku mencintaimu hari ini untuk yang terakhir kali. Aku melepaskan cintaku saat mata ini tertutup. Terimakasih, Bulanku.


^^^Love, Bintang^^^


(Jadikan masalalu sebagai pembelajaran hidup untuk masa depan adalah alasan mengapa novel ini berjudul "Past For Future" yang artinya masalalu untuk masa depan.)


Bulan mengusap lembut surat itu kemudian melipatnya kembali. Bulan tersenyum sembari mendekap surat itu di pelukannya. Cukup lama ia tertegun hingga dering ponselnya berbunyi menandakan ada yang menghubunginya.


drrrrttt drrrrttt


"Halo mbul," sapa Bulan


"Halo Lan sabiiiittt. Jadi gimana ntar sore?" ujar Bayu dari sebrang sana.


"Jadi ya. Jam 5 sore elo ke rumah gue ya. Gue nggak sabar mau peluk elo." rengek Bulan.


"Oke siap. Yang penting laki elo nggak nyeremin nanti. Oke see you bumil. Semoga anak elo cakep kaya gue ya." Bayu terkekeh


"Aduh, jangan deh Mbul. Kasian kalo anak gue kayak elo nantik nggak laku-laku." seloroh Bulan.


"Yaelah Lan. Kejam banget sih elo."


"Ya udah iya, nanti jangan telat ya. Bawain gue martabak manis yang coklat nya lumer ya. Oh iya, jangan dikasih susu terus motongnya harus segi empat ya. Terus sama es teh manis nya satu deh."


"Ya ampun Lan. Gue lupa. Apa tadi?"


"Inget-inget sendiri deh. Gue lagi males ngomong ulang."

__ADS_1


tutt


Panggilan diakhiri sepihak oleh Bulan.


***


Gedung Perusahaan Baskara Group


tok tok tok


Marcel mengetuk pintu kemudian masuk saat orang di dalam sana mempersilakannya masuk.


"Permisi, Tuan."


"Ada apa?" Dirga menyahut tapi tak menoleh.


"Saya hanya ingin menyerahkan surat ini, Tuan." ujar Marcel sopan


"Hmm letakkan saja." Dirga masih sibuk berkutat dengan laptopnya.


"Tolong baca terlebih dahulu, Tuan."


Dirga pun akhirnya mendongakkan kepalanya dan menerima surat itu dari Marcel. Keningnya berkerut kemudian ia tersenyum miring.


"Surat pengunduran diri?"


"Benar, Tuan."


"Aku selalu bicara padamu untuk tidak mencampur adukkan urusan pribadi dan urusan kantor."


"Saya tidak mencampur adukkan, Tuan. Hanya saja saya ingin mengembangkan bisnis saya sendiri." tegas Marcel.


"Lalu kenapa baru sekarang?"


"Karna saya akan menikah, Tuan. Saya akan menjadi tulang punggung punggung keluarga saya kelak."


"Siapa yang akan kau nikahi?" tanya Dirga sinis.


"Tentu saja Olivia calon istri saya, Tuan."


"Lalu apakah keluarganya merestui hubungan kalian?"


deg


.


.


.


.


.


.


.


Go go go Marcel!!!


See You Next Episode 🎉

__ADS_1


__ADS_2