
...Hai PFF Lover♥️...
...Area 21+ mohon bijak dalam memilih bacaan...
.......
.
.
.
.
"Haiii kak Bintang..." Sapa Bulan dari jalan dengan menggendong kucing itu kemudian melambaikan tangan kucing ke arah Bintang.
Bintang hanya tersenyum menanggapi tingkah Bulan. Seketika mata Bintang membulat sempurna saat mobil melaju dengan kecepatan tinggi ke arah Bulan.
"Bulaaaaaaan awaaaaasss."
brakk
brukkk
"Bulaaaaaaan...." teriak Bintang membuat dokter yang memeriksanya terkejut.
Dokter itu segera memeriksa detak jantung Bintang menggunakan stetoskop. Kemudian memeriksa kembali kondisi Bintang dengan alat-alat medisnya.
"Suster, beritahu pada keluarga pasien bahwa pasien telah melewati masa kritisnya." ujar dokter itu
"Baik dok." patuh suster
cklekk
"Keluarga pasien" ucap suster itu saat keluar dari ruangan
"Benar sus. Bagaimana keadaan sepupu saya?" tanya Dirga antusias
"Puji Tuhan, pasien sudah melewati masa kritisnya." ujar sister itu yang membuat Bunda dan Dirga ber- Alhamdulillah " Untuk keluarga pasien saat ini belum bisa menjenguk karna dokter sedang menjalani pemeriksaan lanjut." imbuh suster
"Baik sus. Terimakasih ya Allah." Bunda mengucap syukur pada sang Kuasa
"Maaf sebelumnya, apakah ada kerabat bernama Bulan?" tanya suster
"Ada apa ya sus?" tanya balik Dirga yang penasaran
"Tadi pasien sempat berteriak memanggil nama Bulan."
Dirga dan Bunda langsung bertukar pandang. Dirga menghela nafas panjangnya.
"Nggak bisa dipungkiri kalau aku masih mencintai Bulan kak, meski kini tak terbalaskan"
"Kakak tau waktu aku koma saat itu? Bulan yang menyelamatkan aku dalam mimpi itu."
"Dan saat aku mendengar Bulan diculik aku benar-benar shok. Tanpa sadar aku bisa berdiri dan berlari untuk menyelamatkan Bulan"
Ingatan Dirga melayang saat Bintang mengatakan tentang kekuatan cintanya. Lagi-lagi Dirga harus makan hati.
"Baik sus, terimakasih infonya." Dirga menyudahi
"Nak..." Bunda menepuk pundak Dirga "Duduk yuk." ajak Bunda. Dirga pun meng-iyakan
"Bunda tau kamu sakit hati, kecewa, dan marah." Bunda mengusap punggung Dirga
"Bunda ngomong apa sih. Justru Dirga seneng kalo Mahes sadar."
"Bunda tau nak. Tapi kamu nggak bisa menghindari perasaan cemburu kamu. Bunda akan meminta Bintang untuk nggak nemuin Bulan. Bunda janji."
__ADS_1
"Bunda..." Dirga menggenggam tangan Bunda "Bunda jangan mikir kesitu. Dirga nggak papa kalaupun Bintang minta untuk menemui Bulan. Mereka berdua adalah sahabat Bun."
"Tapi Bulan sudah bersuami nak, seharusnya mereka berdua nggak pantas untuk sekedar duduk berdua." Bunda menundukkan kepalanya
"Tapi suami Bulan mengizinkan Bun. Mereka harus bicara, mereka butuh waktu untuk bersama. Bun, Dirga mau menebus kesalahan Dirga karna udah merebut Bulan dari Bintang. Seenggaknya untuk sementara Bun, Mahes butuh support dari Bulan."
"Baiklah kalau itu yang kamu mau nak, tapi perlu digaris besari kamu bukan perebut nak, Tuhan yang menitipkan Bulan sama kamu. Terimakasih sekali lagi karna kamu mau ngerti kondisi Bintang nak. Semoga hidup di selalu bahagia." Bunda mengusap bahu Dirga
"Aamiin. Makasih Bunda."
…
Di mansion mewah keluarga Baskara terlihat Oliv sedang berlarian tergopoh-gopoh. Ia mengucir rambutnya kebelakang dengan asal. Pakaian yang ia pakai pun hanya jeans panjang dan kaos oblong.
"Mau kemana lagi kamu Oliv?" tanya papa dengan suara yang tinggi
"Eh, papa, Oliv pamit bentar ya pa. Ada urusan mendesak sama kak Marcel." pamit Oliv lalu melambaikan tangannya
"Oliv..." panggil papa namun tak digubris oleh Oliv
"Punya anak cewek satu aja berandal nya minta ampun." papa memijit pelipisnya
Papa langsung menelfon seseorang menggunakan ponselnya.
"Halo,"
"Ada yang bisa saya bantu tuan besar?" tanya seseorang dari sebrang sana
"Oliv keluar untuk menemui Marcel."
"Saya sedang membuntutinya tuan."
"Bagus. Kamu selalu cekatan bila berurusan dengan Oliv. Lanjutkan tugasmu." titah papa pada orang itu
"Baik tuan." patuh orang itu.
"Sial, ngapain tadi nggak bawa motor aja sih." berkali-kali Oliv memukul klakson mobilnya.
"Marcel-marcel, pake acara mabuk segala sih. Jadi aku kan yang repot. Huuh." kesal Oliv
Setelah menempuh perjalanan sekitar dua jam, Oliv memarkirkan mobilnya di sebuah bar. Tempat yang sama sekali belum pernah Oliv kunjungi meski ia terkenal brandal di jalanan.
Segera ia masuk kedalam bar dengan perasaan tak karuan, takut hal yang tak diinginkan terjadi nantinya. Ia menyapu ke seluruh ruangan, banyak wanita dan pria tengah asik berjoget ria bahkan duduk berpangkuan. Ia masih menyusuri ke setiap sudut ruangan namun tak menemukan Marcel.
Tak putus arang, Oliv bertanya kesana kemari pada pelayan di sana. Akhirnya ia menemukan di mana Marcel berada.
cklekk
Oliv membuka pintu ruangan VIP. Mulut Oliv menganga tak percaya melihat pemandangan di depannya. Marcel yang sangat mabuk dengan wanita yang tidur di paha nya. Oliv segera menarik paksa tubuh kekar Marcel dengan kekuatannya. Oliv menepuk-nepuk pipi Marcel namun Marcel hanya melenguh.
"Cihh, ini cewek apa-apaan sih. Nggak mungkin kak Marcel gitu-gituan sama cewek sembarangan. Sabar Oliv, mungkin cewek ini sewaan temen kak Marcel." Oliv mencoba menenangkan dirinya agar tak berasumsi lebih jauh
Oliv segera memapah Marcel menunju parkiran. Tak lupa ia membayar tagihan dari pelayan saat ia hendak keluar. Tak mampu lagi untuk memapah Marcel, akhirnya Oliv meminta penjaga Bar untuk membantunya.
Oliv melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi. Setelah sampai di apartemen Marcel, terpaksa ia harus memapah tubuh berat sang kekasih.
"Ya ampun kak, kamu ngapain sih aneh-aneh pake acara mabuk segala. Nyusahin tauk, sejak kapan sih kak Marcel jadi tukang minum begini." Oliv terus ngedumel selama memapah Marcel
brukk
fiuuuh
"Tauk ah, aku mau pulang, capek." ujarnya saat telah menidurkan Marcel di ranjang
"Oliv..." lirih Marcel yang membuat Oliv mengurungkan niatnya untuk pergi
"Apa??" ketus Oliv
__ADS_1
"Kamu itu bodoh!" ujar Marcel dengan suara parau nya
"Elo yang bodoh, goblok." kesal Oliv
Marcel yang hanya setengah sadar itupun menarik tangan Oliv hingga membentur dada bidangnya.
"Kak lepasin!" Oliv mencoba memberontak namun pelukan Marcel sangat erat
"Aku? harusnya kamu yang lepasin aku Liv. Kamu tu bodoh!" Marcel terus merancau tidak jelas
"Kak lepasin..." Oliv terus memberontak namun Marcel dengan sigap memutar posisi mereka dengan posisi Oliv dibawahnya.
"Kak- eeeemmmphh." mulut Oliv dibungkam oleh serangan dadakan Marcel
Oliv terus meronta saat ciuman Marcel semakin brutal, namun kekuatan Marcel jauh lebih besar sehingga membuat Oliv kehabisan tenaga.
"kak..." lirih Oliv saat Marcel menghisap lehernya dengan rakus. Oliv sangat terkejut saat tangan Marcel berhasil membuka bajunya dan hanya menyisakan b*ra di bagian atasnya.
"Kak jangan aku mohon, hiks." mohon Oliv namun tak digubris oleh Marcel.
Marcel terus melanjutkan aktivitasnya. Ia menyes*ap kuat leher Oliv, lalu kembali lagi ke bibir ranum Oliv. Bibir Oliv sudah luka-luka akibat gigitan Marcel. Cengkraman tangan Marcel yang kuat benar-benar membuat Oliv tak bisa melawan.
"Tolong jangan....!!!" teriak Oliv saat Marcel mulai mengecupi dadanya dan hendak menyentuh kedua aset berharganya.
braaaaaakkk
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Deg deg dug
Dag dig dug
Next nggak nih??
Jejaknya jangan lupa ya. Jangan hanya jadi pembaca bayangan🤗🤗
See you PFF Lover ♥️
__ADS_1