
~Aku tahu rindu ini terlarang. Namun aku tak dapat membohongi hatiku yang masih penuh dengan namamu
Pagi ini hari ketiga Alyssa meninggalkan Dunia ini. Bulan melangkahkan kakinya menuju kamar kenangannya. Kamar yang di penuhi foto-foto masa kecilnya dengan Alyssa, dengan orang tuanya, masa remajanya bersama orang-orang terdekatnya tak terkecuali Bintang. Bintang kesayangannya.
cklekk
Bulan melangkah masuk dan tak lupa mengunci pintu kamarnya. Di lihatnya sekeliling kamar. Bukan seperti kamar gadis pada umumnya. Di kamar bulan tidak banyak benda-benda hiasan ataupun boneka. Hanya penuh foto-foto yang di tempel di dinding. Langit-langit kamar yang di gantungi aksesoris Bulan dan Bintang-bintang.
Bulan meraih figura dirinya dan kakaknya saat kanak-kanak. Wajah yang hampir mirip hanya berbeda tinggi badan saja. Bulan mengusap wajah kakaknya
"Kak..." Bulan menitikkan air matanya
Diletakkannya kembali figura itu ke tempat semula. Kemudian beralih ke dinding dimana foto-foto dirinya bersama Bintang di tempel. Foto berukuran 2R dari kamera palaroid milik Bintang itu sangatlah banyak bahkan sampai ratusan, belum lagi yang sengaja di cetak dengan ukuran besar. Bahkan dulu Bulan dan Bintang sering menyisihkan uang jajan demi kamera itu tetap dapat di fungsikan.
"Aku nggak mau nyalahin takdir. Tapi andai kamu nggak pergi dan tetep disisi aku. Mungkin aku nggak akan berada di posisi ini. Kakak nggak akan meminta Dirga untuk menjaga aku. Maafin aku Bin. Aku menikah tanpa sepengetahuan kamu" Bulan mengecup salah satu foto mereka
Bulan membuka laci meja dan mengambil selembar kertas yang pernah Bintang beri sebelum pergi. Kertas yang sudah kusut karna Bulan meremasnya saat itu. Ia baca kembali isi surat itu
Dear Bulan ku tersayang,
Bul-bul ku yang tercinta
Yang memiliki senyum indah nan menawan
Bahkan Bulan di langit pun tak mampu mengalihkan indah Bulan Leo di mataku
Bintang pamit pergi ya Bul. Jangan pernah cari Bintang karna itu akan sia-sia. Tetap jalani hidupmu dengan cinta mu. Lepaskan semua dendam yang ada di hatimu. Jangan pernah jadi wanita yang lemah Bintang nggak suka itu.
Nggak tau sampai kapan Bintang pergi. Bintang nggak bisa janji sama Bul. Mungkin juga Bintang selamanya nggak bisa ketemu sama Bulan. Lanjutkan hidupmu. Bintang akan selalu ada di hati Bulan meski Bintang tak ada lagi di sisi Bulan. Saat Bulan nanti menemukan pria yang mencintai Bulan ala adanya, tolong jaga hatinya seperti Bulan menjaga hati Bintang. Ingat satu hal. Bintang bahagia kalau Bulan Bahagia.
Tetaplah bersinar layaknya Bulan di langit. Bulan mampu menyinari redupnya malam meski bintang terkadang tak ada di sisinya.
^^^Love Bin-bin kesayangan Bul-bul*^^^
Mata Bulan menetes lagi setelah membaca surat itu. Entah sudah berapa kali banyaknya ia membaca surat itu. Hatinya masih terasa perih. Bulan seger menuju wastafel di kamar mandi dan menghapus jejak air matanya meski matanya sudah sangat sembab. Ia keluar dari kamar lalu mengunci rapat pintu kamarnya lagi.
"Bulan" Dirga mengejutkan Bulan dari belakang
"Eh. ada apa tuan." Bulan yang kaget langsung mengantongi kunci kamarnya
"Kamu dari tadi saya cariin ternyata cuma disini" tegur Dirga
"Maaf tuan. Ada yang bisa saya bantu?" Bulan mengalihkan perkataan Dirga
"Ajak saya jalan-jalan keliling kompleks yuk" ajak Dirga
"Jalan kaki tuan? Apa tidak papa?" cemas Bulan
"Kamu pikir kaki saya tidak kuat untuk berjalan?"
"Eh. baiklah. mari tuan"
Ibu sudah ada istrinya bang Wisnu dan Bik Yun yang menemani. Jadi hari ini mereka hanya jalan berdua. Duduk di taman, makan ice krim, jamaah di masjid, hingga makan di warteg.
Hari ini benar-benar mengalihkan rasa duka mereka. Dirga berbagi cerita tentang bisnis, masa kecil, bahkan kebiasaan buruknya. Bulan hanya menjadi pendengar yang baik dan sesekali menanggapi cerita Dirga. Bulan masih enggan bercerita tentang masa lalunya. Hingga jam setengah 3 mereka baru pulang.
"Tuan mandi duluan saja. Saya mau masak dulu biar nanti tinggal manasin" ujar Bulan yang hanya di jawab anggukan kepala Dirga
Setelah Dirga selesai mandi, ia menghampiri istrinya yang tengah berkutat dengan peralatan dapur.
__ADS_1
"Belum selesai?" tanya Dirga
"Eh ini tinggal goreng ikan nya saja tuan" jawab Bulan
"Ya udah sana kamu mandi dulu biar saya yang lanjutin" titah Dirga
"Emang bisa?" tanya Bulan
"Saya dulu kuliah di luar negeri dan hidup sendiri. Jadi saya cukup berpengalaman"
"Oh ya sudah. Silahkan tuan. Saya mandi dulu" pamit Bulan
…
"Bulan udah belum?" tanya Dirga yang menyusul Bulan ke kamar
"Bentar lagi" teriak Bulan dari dalam kamar mandi
"Cepetan ada temen-temen kamu di bawah." ujar Dirga
"Iya. Tuan duluan saja ke bawah" teriak Bulan
Dirga menghampiri teman-teman Bulan yang sudah pindah tempat di lantai beralaskan karpet. Mereka menonton TV dengan asiknya seolah di rumah sendiri.
"Assalamualaikum" Teriak orang dari luar. Dirga pun segera membukakan pintu utama
"Eh, elo disini juga bro" ucap pria itu yang tak lain adalah Marcel
"Hmm. masuk" Dirga mempersilahkan Marcel untuk masuk
"Bulan dimana bro?" Tanya Marcel
"Hai semua" sapa Marcel pada teman-teman bulan yang terdiri dari tiga laki-laki dan satu perempuan
"Hai" sapa mereka bersamaan
"Eh, Pak Marcel disini juga. Saya kira cuma Tuan Dirga yang kemari" ucap Sandra sok akrab
"Iya" Marcel tak terlalu menghiraukan sapaan Sandra. Ia pun ikut bergabung duduk di atas Karpet
"Hai semuanya" sapa Bulan yang baru datang
"Lan sabiiiittt" teriak Bayu yang langsung berdiri dan memeluk sahabatnya itu
"Woyyy gentong. Gue nggak bisa nafas" Canda Bulan
"Ayok duduk" Bayu mendorong bahu Bulan menuju karpet. Namun suara tiga orang mengejutkan Bulan
"Duduk disini aja" ucap Bima, Marcel, dan Dirga Secara bersamaan
"Disini aja lan samping gue" tutur Bima
"Bulan apa kabar. Sini di samping aku aja" ucap Marcel tak mau kalah
"ehemmm" Dirga hanya berdeham
"Aku mau duduk di samping Sandra aja. Vid minggir dong. Elo suka banget nempel sama Sandra" Bulan memecahkan kecanggungan di antara mereka.
"Amit-amit dah" ujar Sandra dan David bersamaan
__ADS_1
Bima, Marcel dan tak terkecuali Dirga sudah menampilkan raut wajah kecewa mereka.
"Lan sabit gue kangen" Bukan Sandra tapi David yang memeluk Bulan dari Samping dengan manja. Sontak membuat Dirga dan Marcel membulatkan matanya geram. Tangan Dirga sudah mengepal. Bukan karena cinta, namun entah kenapa dia sangat tidak suka miliknya di sentuh orang lain.
"iiiih apaan sih pekuk-pekuk. Nggak sopan!!" Sandra melepaskan pelukan David dari Bulan
"Apaan sih lo. B aja kalik." ucap David yang geram dengan Sandra
"Udah Lan. Elo pindah sini aja samping babang Bayu yang gantengnya melebihi Lee min Hoo" ucap Bayu sombong
uweeeek. Teman-teman absurd muntah angin di buatnya tak terkecuali Marcel dan Dirga yang muak mendengarnya.
"Apaan sih kalian sirik amat. Oh ya Lan, itu dibelakang lo ada buku-buku novel dari penulis-penulis favorit elo" ucap Bayu
Bulan langsung berbinar dan membawa paketan yang sangat berat berisi buku itu, namun Dirga langsung beranjak mengangkat kan karna melihat Bulan kesulitan.
"Terimakasih Tuan"
Dengan segera ia membuka bungkusan bubble wrap itu
"Aaaaaa ini beneran. Makasih banyak Bayu" mata Bulan sangat berbinar dan mereka semua tersenyum melihat ekspresi Bulan yang fresh
"1 2 3 4 5...." Bulan menghitung banyaknya buku itu
"18 buku?? makasih mbul. Gue doain semoga jodoh elo beneran Ariel Tatum." Bulan langsung memeluk Bayu dengan gemas
"Ehem" Kembali terdengar suara deheman dari Dirga yang membuat Bulan segera melepaskan pelukannya. Dia baru ingat kalo dia sudah menikah.
"Udah deh kalian. Acaranya lagi seru nih. Jadi nggak kedengeran kan ngelawak apa sih Sule" protes Sandra yang mencairkan suasana
Sore itu mereka menghabiskan waktu untuk menonton TV acara komedi. Sejenak Bulan merasa lega dan terhibur dengan kehadiran teman-temannya yang sama sekali tidak menyinggung tentang almarhumah kak Alyssa.
"Bintang, aku sudah menjadi wanita yang kuat" ucap Bulan dalam hati
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Semoga suka sama ceritanya ya guys. Jejakmu sangat berarti untukku ♥️
__ADS_1