
Pov Bulan
Ku usap batu nisan bertuliskan namamu, kubawakan setangkai bunga mawar untukmu, cintaku. Ku tegar kan hati untuk melangkah kembali. Bintang, terimakasih untuk semua.
Tuhan begitu baik telah menghadirkan kamu di hidupku yang rumit. Terimakasih sudah menjadi Bintang yang menemani Bulan untuk bersinar. You will always be in my heart, Bintang.*
Begitu lama aku memandangi batu nisan itu. Air mataku sudah berhenti mengalir. Tinggallah rasa sesak di dada. Disini hanya tinggal ada aku, dan kurasa ada orang yang setia menemani di belakangku. Namun aku memilih membisu, karna untuk berbicara pun mungkin air mata ini akan kembali meleleh.
"Sayang, kita pulang ya. Ini udah mau dzuhur." ujar pria itu sembari memeluk bahuku dari samping.
"Nggak." ketus ku
"Kamu belum makan sayang, besok kita kesini lagi ya. Sekarang kita pulang dulu, makan, istirahat, isi tenaga untuk besok ya." Mas Dirga membujuk ku. Aku pun mengangguk setuju karna aku pun harus memikirkan janin yang ada di perut ku juga.
Dalam perjalanan pulang hening. Aku maupun Mas Dirga saling membisu enggan membuka suara. Aku hanya menatap keluar jendela mobil. Jalanan nampak padat pengendara hingga akhirnya kami terjebak macet.
Aku menghela nafas panjang. Sebenarnya aku enggan untuk makan, tapi perutku sudah sangat keroncongan minta diisi. Tiba-tiba mataku membulat saat mobil di sampingku membuka kaca mobil nya.
deg
"Lissa!!"
Aku hendak menutup kaca mobil namun tak bisa.
"Mas tutup kacanya." ujar ku dengan nada sepelan mungkin
"Apa??" Mas Dirga dengan suara kerasnya yang membuat Lissa menoleh ke arah kami.
Tanpa basa-basi aku segera membungkam mulut suamiku dengan mulutku. Tak ada cara lain, hanya ini cara jitu agar wanita itu jengah melihat kami. Terbukti, wanita itu langsung menutup kaca mobilnya. Dengan segera aku mencari tombol untuk mengunci kaca mobilku tanpa melepaskan bibirku dari bibir suamiku.
"haahh... hahhh... hufft."
Nafas Mas Dirga tersengal saat aku telah melepaskan ciumanku. Aku menyerngitkan dahiku. Ada apa gerangan? Biasanya dia yang membuatku tak bisa bernafas, sekarang malah sebaliknya.
"Sayang, kalo kamu lagi pengen di rumah aja ya. Jangan langsung nyosor di jalan." ucapnya dengan nafas yang masih terengah-engah "Kamu tumben agresif banget. Lihat nih si Pino udah on." Mas Dirga mengarahkan pandangannya pada senjata pusaka nya yang selalu membuatku sesak dan melayang.
blush
Pipi ku sudah merah merona, dengan cepat aku membuang muka kearah lain. Aku melirik ke arahnya yang sedari tadi seperti merintih. Kulihat muka suami ku yang memerah sembari meringis kesakitan. Aku ingin tertawa tapi juga aku kasihan padanya. Salah siapa? gitu aja udah on, dasar es Pino. Tapi aku suka es Pino hahaha.
Sepanjang perjalanan pulang aku masih diam tak bergeming. Aku masih setia menjadikan Mas Dirga bahan tertawaan di hati. Lihat saja, sedari tadi ia terus mengusap-usap Pino yang tidak juga tidur. Ditambah lagi sepertinya ia menahan gejolak diperutnya karna bau badan ku yang belum mandi.
"Sayang, kita langsung pulang atau ke rumah Bunda dulu?" tanyanya memecahkan keheningan sambil menahan nafas.
"Terserah." jawabku ambigu
Mas Dirga akhirnya membelokkan mobilnya ke arah kanan yang berarti ia memutuskan untuk ke rumah Bunda terlebih dahulu.
Pov Bulan End
...
...Di kediaman Bunda Bintang...
"Apa?" ketus Oliv saat Marcel terus menatapnya. Namun Marcel tetap menatap Oliv tanpa menjawab.
Merasa sangat jengah, akhirnya Oliv tak menghiraukan Marcel. Ia fokus untuk melanjutkan mencuci piring. Sebenarnya Oliv sedikit merinding, bagaimana tidak? tatapan Marcel seperti elang yang hendak menyambar mangsanya. Oliv yang kekasihnya saja merinding, apa lagi orang lain.
prakk
Oliv membanting sendok di atas wastafel.
__ADS_1
"Nih. Kalo kak Marcel mau bantuin aku cuci piring. Aku mau ngerjain yang lain." Oliv memberikan spons cuci piring pada Marcel.
"Tunggu..." cegah Marcel saat Oliv hendak melangkah.
"Apa?"
Marcel membawa tubuh Oliv dihadapannya. Marcel sedikit membungkuk untuk mensejajarkan wajahnya dan Oliv. Tercium aroma maskulin dari tubuh Marcel yang membuat Oliv meremang. Oliv memejamkan mata saat wajah Marcel semakin dekat.
"Loh, kok nggak terasa." gumam Oliv dalam hati
"Liv..." panggil Marcel pelan yang membuat Oliv membuka matanya.
Mereka berdua saling bertatapan.
"Kamu ternyata bisa nangis juga Liv. Dari tadi aku lihat mata kamu merah." ujar Marcel yang membuat Oliv melotot.
"Yaelah dari tadi ternyata cuma mastiin aku nangis apa enggak. Ya ampun Marcel... aku udah kayak di setrum dari tadi dan kamu malah ya ampun." gerutu Oliv dalam hati
"Kamu beneran nangis Liv?" tanya Marcel
"Elo goblok apa gimana sih Cel. Ya jelas lah gue nangis, sepupu gue Bintang meninggal. Eh, Bintang?" Gumam Oliv dalam hati.
Tiba-tiba air mata Oliv kembali meleleh saat mengingat tentang Bintang lagi. Dengan sigap Marcel membawa Oliv kedalam dekapannya. Ia mengelus kepala Oliv dengan lembut.
Oliv semakin terisak kemudian mengeratkan pelukan Marcel. Nyaman. Itulah yang Oliv rasakan saat di pelukan Marcel. Ia tidak menyangka Marcel begitu peduli padanya di saat seperti ini. Marcel yang selama ini begitu dingin dan cuek membuat Oliv semakin terharu akan perlakuannya saat ini.
Sekelibat terlintas di kepala Oliv saat Marcel hendak memperkosanya. Ia melepaskan pelukan Marcel dengan paksa.
plakk
Satu tamparan keras dari tangan mulus Oliv mendarat di pipi Marcel. Oliv menghapus air matanya kemudian berlari untuk menjauhi Marcel.
"Liv... Liv..." panggil Marcel namun tak digubris oleh Oliv.
brukk
Dengan sigap Marcel menahan tubuh orang yang ia tabrak agar tidak terjatuh.
"Bulan."
Bulan segera bangkit dari pelukan Marcel kemudian merapikan pakaiannya. Marcel yang lupa akan tujuannya, terus memandang ibu hamil itu yang masih penuh mengisi hatinya.
"Maaf, Lan." tutur Marcel tanpa berkedip.
"Eh, i..iya nggak papa kok." gugup Bulan sembari melirik kesana kemari untuk memastikan suaminya tak sedang mengawasinya.
"Kamu nggak papa kan?" cemas Marcel seraya memegangi bahu Bulan.
"Nggak papa kok." Bulan melepaskan tangan Marcel dari bahunya.
"Sayang, yang tadi jadikan? Aku udah nggak tahan nih." timpal Dirga yang baru datang kemudian merangkul bahu istrinya.
"Eh, iya." Bulu kuduk Bulan sudah merinding saat Dirga mulai merangkulnya dengan sangat erat.
"Ya udah, yuk. Permisi Marcel." pamit Dirga dengan ketus. Marcel hanya menunduk hormat.
"Iiiiiihhh dasar cowok kegatelan. Nyebelin banget sih. Bukannya ngejar aku malah meluk-meluk kak Bulan." Oliv yang mengintip dari balik tembok menghentakkan kakinya kelantai dengan kesal.
" Nyesekk cuy." Oliv memegangi dadanya dengan mata yang sudah memanas.
...
__ADS_1
"Sayang, kamu mandi duluan ya." ujar Dirga sambil menahan mual.
"Hmmm."
Sebelum Bulan masuk kedalam kamar mandi terdengar suara orang berlari kearahnya.
"Sayang, bentar. Mas mau muntah dulu." Dirga nyelonong masuk ke dalam kamar mandi.
Bulan hanya geleng-geleng kepala dibuatnya. Bagaimana tidak? Ia yang hamil tapi suaminya yang mengalami mual dan ngidam. Sungguh hal yang sangat menguntungkan bagi kaum wanita.
Selesai dengan urusan kamar mandi, Bulan keluar dari walk-in closet dengan menggunakan dress panjang dan lengan yang tertutup. Setelah ini pasti masih banyak kerabat yang datang, pikirnya.
Dirga terduduk dari rebahan nya saat melihat istrinya sudah fresh.
"Sayang..." panggil Dirga manja namun Bulan memilih duduk di sofa dan meraih ponsel dari tasnya.
"Yank..." manja Dirga dengan suara serak
"Biarin dulu deh. Biar kapok dia." batin Bulan
Dirga menyusul istrinya yang duduk di sofa kemudian memeluknya dari samping. Ia mengendus-endus leher Bulan yang beraroma sweet candy itu.
"Sayang... ibu hamil boleh makan Pino nggak sih?" tanya Dirga kemudian meraih tangan Bulan untuk mengusap Pino.
awwwww😂
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Author : Like, komen, vote, hadiah, dan tambahkan ke favorit.
Readers : Idihh... Author banyak banget mau nya!!
__ADS_1
Author : Ya kan biar makin serrrr gitu 😁