Past For Future

Past For Future
Berjuang untuk restu


__ADS_3

brakk


Dirga membanting foto-foto Marcel dan Oliv yang sudah setengah telanjang malam itu. Oliv menatap nanar foto-foto itu sembari menundukkan kepalanya. Mama dan Papanya pun ikut menatap tajam Oliv seolah bersiap untuk memaki Oliv juga. Takut, itulah yang Oliv rasakan saat ini. Ia tak cukup nyali untuk membantah pria-pria yang ia hormati.


"Apa kalian tau salah kalian?" hardik Dirga yang membuat seluruh ruangan seolah bergetar. Marcel maupun Oliv hanya bisa diam, tak mampu untuk menyela.


"Oliv, apakah ini yang selama ini kami ajarkan haaa??" Dirga sudah berapi-api seraya berkacak pinggang.


"Maaf," lirih Oliv.


"Apakah maaf bisa merubah kejadian yang telah kalian perbuat?" kini Papa yang bersuara.


"Maaf tuan, tapi kami benar-benar tidak melakukan apapun. Saat itu saya mabuk tapi beruntung ada yang menyelamatkan Oliv." timpal Marcel.


"Nggak ada yang nyuruh elo bersuara, bangs*t." Dirga menarik kerah baju Marcel. Marcel hanya diam tak melawan.


"Kak Dirga, jangan..." Oliv menggelengkan kepalanya dengan air mata yang sudah berlinang.


plakkk


Satu tamparan keras dari Papa mendarat di pipi Oliv "Anak kurang ajar!!"


"Tuan, jangan!!" Marcel menarik tangan Oliv untuk bersembunyi di belakangnya.


"Hei. Jangan sok jagoan kamu. Minggir!!!" bentak Dirga.


"Tolong pukul saya saja, Tuan. Saya yang bersalah. Oliv hanya korban di sini." Marcel mengatupkan kedua tangannya memohon pada Dirga dan Papa Tomi.


"Genius, aku tau kamu pelakunya. Aku akan buat perhitungan sama kamu." geram Oliv.


"Oliv, sini kamu!!" Papa menarik tangan Oliv hingga Oliv tersungkur di depan kaki Mama.


hiks hiks hiks


"OLIV...!!!" Marcel hendak menolong Oliv namun dicegah oleh Dirga.


"Kalo elo nggak bisa jagain adek gue. Mendingan elo lepasin adek gue sekarang juga." Dirga menunjuk-nunjuk dada Marcel dengan sengit.


"Enggak. Jangan, tolong jangan. Pukul saya semau kalian. Tapi jangan pisahkan kami." Marcel bersimpuh di kaki Dirga dan Papa.


"Kak Marcel, jangan kak. hiks" Oliv masih bersimpuh di depan kaki Mama yang sedari tadi enggan menatap Oliv.


"Tolong, Tuan. Saya akan menikahi Oliv secepatnya. Saya akan bertanggung jawab." ujar Marcel yang membuat mereka semua menatap Marcel.


"Kak..." lirih Oliv dengan isak tangisnya.


"Saya tidak sudi punya menantu kurang ajar seperti kamu!" bentak Papa.


"Dan gue nggak akan merestui hubungan kalian. Kalian udah melanggar batasan. Dan gue nggak akan ngebiarin hubungan kalian berlanjut lebih." imbuh Dirga sembari menunjuk-nunjuk Marcel.


"Saya mohon, Tuan. Saya ingin menikahi Oliv."


"Ma... Oliv mohon, restui kami." Oliv bersujud di kaki sang Mama.


"Oliv!! Jangan keras kepala kamu."


hardik Dirga.


"Kak, Pa. Tolong untuk sekali ini aja. Restuin hubungan kami, Oliv mohon hiks."

__ADS_1


"Mama nggak akan ngerestuin hubungan kalian!"


deg


"Tapi gimana kalo Oliv hamil, Ma?" ujar Oliv yang membuat mereka semua melotot ke arah Oliv.


Marcel melirik ke arah Oliv. Geram sudah pasti. Bagaimana bisa Oliv menghalalkan berbagai cara seperti ini. Tentu ini akan semakin mencoreng nama baik Marcel Pradigta di mata keluarga Baskara.


Papa, Mama, Dirga masih diam mematung dan masih mencerna ucapan Oliv barusan. Tiba-tiba Mama memegangi dadanya dan beringsut mundur.


"MAMA!!!" kejut mereka semua.


"Dasar anak nggak punya adab. Pergi kamu!!" teriak Mama sembari memegangi dadanya yang semakin sakit.


"Ma...


"PERGI!!!!"


"Bawa dia ke rumahku." perintah Dirga pada Marcel.


"Liv, kita pergi dulu ya." Marcel merangkul bahu Oliv.


"Tapi Mama...


"Keluarga kamu butuh waktu. Kita pergi dulu ya." bujuk Marcel.


Oliv mengangguk setuju. Ia tak pernah melihat Mama nya semarah ini sebelumnya. Bahkan saat menghadapi kelakuan Oliv di luar sana Mama hanya menasehati Oliv dengan lembut. Tapi ini semua murni bukan kesalahan didikan orang tua Oliv. Oliv hanya terlalu manja dan keras kepala hingga seperti ini jadinya.


Oliv menoleh kebelakang sebelum benar-benar melangkah keluar. Dilihatnya sang Mama masih menahan sakit dan menangis, sedangkan kakaknya sibuk menelepon seseorang yang mungkin dokter untuk menangani Mama.


"Kamu nggak papa kan? Kaki kamu masih sakit?" Marcel mengalihkan perhatian Oliv.


"Ya udah, yuk." Marcel menuntun Oliv menuju mobil yang akan mereka kendarai.



Rumah Dirga dan Bulan


"Mas Dirga mana sih. Lama banget, katanya cuma ada urusan dikit sama papa." Bulan terus menggerutu


"Sabar Mbak, mungkin urusan Tuan sangat penting." pelayan yang menemani Bulan di ruang tamu mencoba menenangkan Bulan.


"Iya Bik. Tapi kok lama banget ya. Aku udah ngantuk nih."


"Oh, Mbak Bulan nggak bisa tidur tanpa Tuan Dirga ya. Sama kayak saya dulu waktu hamil anak pertama juga suka nya ngunyel-nguyel suami terus."


"Bibik juga gitu?"


"Iya non, kadang nggak enak sama keluarga Tuan Baskara. Saya suka ngidam aneh-aneh pas suami lagi kerja." pelayan itu terkekeh sendiri.


"Berarti nggak aku aja ya Bik. Baru-baru ini aku pengen nya nempel terus. Padahal niat hati masih pengen marahan." Bulan mengerucutkan bibirnya.


"Tapi Mbak Bulan beruntung loh,"


"Beruntung gimana maksudnya Bik?"


"Ya beruntung aja soalnya mual-mual nya Mbak Bulan udah digantiin sama Tuan Dirga." pelayan itu terkikik.


"Itu mah resiko dia udah ngehamilin aku Bik hahahahaha."

__ADS_1


***


"Ayok turun." ajak Marcel saat mereka telah sampai di halaman rumah Bulan Dirga.


"Kak..." Oliv menggenggam tangan Marcel.


"Iya?" Marcel membalas sapaan Oliv selembut mungkin yang membuat Oliv sedikit tersentuh.


"Makasih Kakak udah bersedia nikahin aku." Oliv tersenyum lebar.


"Aku harus mempertanggung jawabkan perbuatan ku Liv. Untuk menjaga kamu." Marcel menyibakkan rambut Oliv.


"Maaf kak. Nggak seharusnya aku bilang kalo aku hamil." Oliv menundukkan kepala.


"It's oke. Semua udah terlanjur. Mungkin cuma itu jalan satu-satunya supaya mereka merestui kita." Marcel menaikkan dagu Oliv agar menatapnya.


"Tapi kak Marcel bisa batalin semuanya. Aku nggak mau nanti hubungan kita berjalan tanpa cinta dari kak Marcel. Melainkan cuma rasa tanggung jawab."


"Ssssstt kamu ngomong apa sih. Aku akan tetep ngelanjutin hubungan kita ke pernikahan sesuai janji aku waktu itu."


"Tapi ini tentang masa depan kita kak. Kita harus ambil jalan yang nggak akan membuat kita terluka nantinya."


"Aku udah yakin dengan langkah yang akan kita ambil. Aku ingin jadi suami kamu, Liv."


"Kak Marcel serius?" tanya Oliv


"Aku serius, Liv. Kita harus mulai hubungan kita lebih serius. Kita harus bisa dapetin restu dari orang tua kamu." Marcel memegangi bahu Oliv dan menatapnya dalam.


"Kenapa kamu selalu berbicara untuk meyakinkan aku tapi mata kamu berbohong kak. Aku cinta sama kamu. Tapi aku ragu untuk melangkah bersama kamu. Aku takut terluka lagi." batin Oliv


"Entah kenapa semakin kesini aku makin sulit untuk pisah dari kamu Liv. Ini bukan perasaan cinta, tapi rasa seorang kakak yang ingin terus bersama adiknya. Maafin aku yang diam-diam masih menyimpan rasa untuk Bulan, Liv." ujar Marcel dalam hati.


"Olivia Ratu Baskara, Will you marry me?" tanya Marcel sembari mengangkat kedua tangan Oliv.


Oliv mengangguk "Yes, i will." Marcel pun merengkuh tubuh Oliv dengan erat.


"Tapi bagaimana dengan rahasia yang aku tutupi selama ini. Apa kamu masih mau menerima aku Liv?" gumam Marcel seraya memejamkan matanya.


.


.


.


.


.


.


.


.


Masih banyak rahasia yang belum terkuak. Akankah perjalanan cinta Oliv dan Marcel berjalan dengan mulus?


Simak terus kelanjutan cerita Past For Future 🤗♥️


Jangan lupa like dan simpan di rak favorit ya😍😍

__ADS_1


__ADS_2