
"Tuh kan, firasat gue emang bener kayaknya. Terus yang nyium gue waktu pingsan siapa? Habis itu yang meluk? Oh my God, jangan-jangan hantu di gunung ini naksir sama gue lagi!!"
Cletak
"Aaaaaaaaa...," teriak Oliv kemudian berlari memeluk dada bidang yang ia dapatkan lebih cepat. "Suara apa itu!" teriak Oliv histeris.
"Jangan teriak-teriak, nanti penjaga di sini bangun." Pria yang dipeluk oleh Oliv menahan gelak tawa.
"Aaaa nggak mau," Oliv semakin mempererat pelukannya. "Suara apa itu!!"
"Apa sih, Liv. Orang suara kayu nih." Nia menggelengkan kepalanya. "Malu sama umur deh, masak meluk-meluk Kak Gema sih." Nia terkikik geli.
Oliv tersadar atas ucapan Nia, ia langsung melepaskan pelukannya dari tubuh Gema. Pipinya bersemu merah menahan malu akibat jiwa takutnya yang over dosis. Oliv memundurkan diri untuk menjauh dan kabur dari situasi canggung. Namun tiba-tiba tangannya ditarik oleh Gema yang membuatnya berhenti.
"Mampus gue." gerutu Oliv sembari memejamkan mata.
"Bisa lebih sopan?" udara pegunungan semakin dingin akibat kata-kata dingin yang keluar dari mulut Gema.
"Ma-maaf," Oliv menunduk di hadapan Gema.
Gema melepaskan cengkeramannya kemudian berlalu meninggalkan Oliv tanpa sepatah katapun. Oliv hanya bisa mendengus kesal seraya mengepalkan tangannya kesal.
"Kenapa semua cowok ganteng itu nyebelin sih. Sok kegantengan banget, emang ganteng sih. Aaaaaa gue mau pulang, kangen Kak Marcel yang udah gue taklukkan."
Malam ini mereka lewatkan di tengah hutan dengan tenda dan api yang mereka nyalakan di dekat tenda. Malam ini adalah malam terakhir mereka berada di tempat ini. Tujuan telah tercapai, saatnya untuk kembali pulang.
Setelah melewati malam yang panjang, kini mereka tengah melaksanakan kewajiban mereka sebelum melanjutkan perjalanan pulang. Tenda-tenda kembali mereka benahi kemudian menyajikan makanan seadanya untuk mengisi tenaga kembali.
Terik pagi mulai menyingsing, saatnya untuk kembali melangkah melanjutkan perjalanan pulang. Oliv dan kawan-kawan berhenti sejenak di basecamp yang mereka singgahi sebelum mendaki.
"Ni, daerah sini yang ada sinyal dimana?" Oliv menggoyang-goyangkan ponselnya yang sama sekali tidak memiliki jaringan.
"Ya elah. Mau ngapain sih. Harus keluar dari sini dulu lah." jawab Nia.
"Ya nggak papa, gue mau ngabarin keluarga gue aja sekalian mau nelfon kak Marcel, hehe." Oliv cengengesan, "Lagian ini kan perdana gue lepas dari pengawasan keluarga gue."
"Ya udah, bentar lagi kita otw pulang kok."
"Kayaknya elo aja, Liv." sahut Adam menghampiri Oliv dan Nia. "Gue sama Nia mau langsung ke Kota B jenguk Nenek gue yang lagi sakit." Adam meletakkan sebungkus gorengan yang ia dapat dari warung.
"Kok nggak bilang-bilang sih kalo mau langsung otw ke Kota B?? Ya udah deh, aku mau ikut aja."
"Jangan, Liv. Mending kamu pulang aja. Bukannya pernikahan kamu sebentar lagi?" larang Adam.
__ADS_1
"Terus gue gimana doooong?" Oliv memasang wajah memelas.
"Kak Gema kesini bawa mobil kok, Liv. Kak Gema mau kok anterin elo pulang. Iya kan Kak?" Nia mengedipkan sebelah matanya kearah Gema. Oliv pun menoleh kearah Gema yang sibuk membersihkan lensa kamera.
"Apa?" cetus Gema membalas tatapan Oliv dan Nia.
Oliv dan Nia langsung kincep tak menjawab Gema. Mereka berdua saling melirik untuk mengekspresikan ketakutan mereka. Gema memasukkan kameranya kemudian meraih tas Carrier-nya dengan raut wajah yang sulit diartikan.
"Ayo cepet!" perintah Gema pada Oliv tanpa menoleh.
Oliv yang mendengar perintah Gema langsung gelagapan sembari berbicara isyarat pada Nia. Nia hanya mengangguk mengiyakan kemudian mengibaskan tangannya tanda mengusir Oliv agar cepat pergi.
"Oke Oliv, cuma beberapa jam aja. Setelah itu elo bebas dari cowok sialan itu. Inget, elo udah janji sama Marcel untuk pulang dalam kondisi masih gadis." Oliv membujuk dirinya sendiri dalam hati.
Oliv dengan malasnya membopong tas dan mengikuti langkah Gema yang sudah cukup jauh darinya. Dalam hati tak lepas dari sumpah serapah yang ia tujukan pada Gema. Kini langkahnya sudah berjarak cukup dekat dengan Gema. Namun Gema tiba-tiba berhenti mendadak yang membuat Oliv kehilangan kendali rem.
brukk
"Awwwwwh," Oliv mengusap wajahnya yang dicium oleh tas carrier Gema yang mungkin di dalamnya terdapat benda keras. "Jangan ngerem mendadak dong." Protes Oliv.
Gema tak menghiraukan keluhan Oliv. Ia merogoh sakunya kemudian melemparkan kunci mobil pada Oliv. Yang membuat Oliv terkejut dan tergopoh-gopoh menangkap kunci itu.
"Kamu pasti bisa bawa mobil kan?" Gema melirik Oliv sesaat. "Mobil saya parkir di ujung sana. Tolong kamu bawa kesini." Gema mengarahkan pandangannya ke arah ujung parkiran. Oliv hanya melongo dibuatnya.
"Gilakk, gue udah ngos-ngosan jalan segini jauhnya malah disuruh ke ujung sana lagi? Gue sumpahin elo bakal sujud-sujud minta maaf." gerutu Oliv dalam hati.
"Iya-iya." Oliv mendengus kesal tapi ia tetap tahu diri sebagai seorang penumpang.
Citt
Mobil berhenti tepat di samping Gema yang menunggunya sembari melipat kedua tangannya. Oliv dibuat kebingungan saat ia hendak turun, namun Gema malah memutari mobil dengan gaya tangan dimasukkan kedalam saku celana.
"Sekalian supir ya. Saya capek, mau tidur." ucap Gema kemudian masuk kedalam mobil jog penumpang.
Oliv mengepalkan tangannya. Rasanya ingin mencekik leher pria sok kecakepan yang kini duduk di samping stir kemudi. Andai di Negara ini tidak ada pasal tentang pembunuhan, maka ia tak akan segan-segan menghabisi pria yang seenaknya memerintah seorang Putri Baskara yang cantik jelita mempesona ini. Oliv memejamkan matanya untuk mengembalikan kewarasannya, kemudian kembali mengemudi mobil.
Sudah dua jam perjalanan, namun di antara mereka tidak ada yang membuka suara hanya untuk sekedar bertanya-tanya seperti teman baru pada umumnya. Ralat, bukan teman baru, tapi calon musuh baru.
Oliv yang sebenarnya juga sangat lelah, akhirnya memarkirkan mobil di halaman sebuah Warung makan yang terlihat cukup besar. Gema yang sedari tadi hanya memainkan ponsel mengerutkan keningnya saat mobil terparkir di depan sebuah Warung makan.
"Makan aja sana. Saya nggak ikut." celetuk Gema.
"Gue mau tidur, bukan makan." balas Oliv tak kalah ketus. Ia menyandarkan tubuhnya pada jog mobil Jeep milik Gema dan memejamkan matanya.
__ADS_1
"Calon pengantin, ck." gumam Gema sembari memandangi wajah cantik Oliv. "Pengantin prianya siapa?" Gema terkekeh dengan wajah yang tetap cool.
***
Sedangkan sepasang suami istri yang tak pernah ada habisnya ber-drama, kini tengah menyusun skenario untuk melancarkan aksi mereka untuk malam ini. (Jangan langsung ngeres ya emak-emak xixixi)
"Jadi gimana? udah keren belom?" Bulan memamerkan penampilannya pada suaminya.
"Oke sih. Tapi kamu yakin, Sayang? kamu lagi hamil loh." cemas Dirga.
"Yaelah Mas, kamu udah nanya berapa kali sih?" Bulan mendengus kesal. "It's okay, lagian aku nggak berantem kan."
"Yakin?" tanya Dirga lagi.
"Of course, demi Oliv kita harus lakukan apapun." Bulan mengedipkan sebelah matanya.
"Ooowww Sayang nya Mas, gemes banget." Dirga memeluk Bulan manja. "Idea aku pokoknya keren banget deh. Yang penting jangan sampe bocor ke Mama sama Papa ya. Apalagi Oliv. I Love you, Sayang muaccch."
"Kalo berhasil bayarannya mahal ya, Pak." Bulan cengengesan.
"Mau apa aja terserah deh." Dirga menyelundup di leher Bulan.
"Ya udah, sekarang kita berangkat yuk. Perlengkapan udah beres semua kan?"
"Udah aman. Anak buah udah siapin semua. Cusssss ayo kita berangkat!!!!" sorak Dirga penuh semangat.
"Let's go Babe...."
.
.
.
.
.
.
.
.
__ADS_1
Satu bab untuk readers tersayang 😚
See you guys♥️