Past For Future

Past For Future
Kebanyakan drama


__ADS_3

...Masih part yang panas, anak di bawah umur Author usir jauh-jauh dari part ini. Selamat membaca, para warga dewasa 🙏...


.......


.......


.


.


.


.


.


"Mas, bangun dong. Nanti telat ke kantor!!" teriak Bulan entah untuk yang keberapa kalinya.


"Ck, nanti."


"Nanti kapan? Ini udah jam delapan loh, Mas." Bulan berkacak pinggang. "Bangun nggak!!" Bulan menjewer telinga Dirga.


"Adududu. Iya-iya ini bangun. Ya ampun, kamu makin kurang ajar sama suami." Dirga mendengus kesal.


"Heh, yang kurang ajar tuh siapa? Makanya jangan ngebo jadi orang. Siapa cobak yang buat-buat masalah?" nyinyir Bulan tak mau kalah.


"Kamu." Dirga tetap ngotot.


"Kok aku sih. Kamu tu-"


"Emang kamu nggak ada rasa empatinya sama aku apa Yank? Pinggang Mas rasanya mau patah gara-gara kamu." Dirga mengusap-usap pinggangnya.


"Cih, kayak ngerasa tersakiti banget. Padahal seneng kan dapet servis full?" Bulan menyilangkan tangannya.

__ADS_1


"Seneng sih seneng. Tapi kamu sekarang berat banget duuh."


Bulan memelotot kan matanya, "Jadi maksud Mas aku gendut?" suara mulai meninggi. "Aku gendut juga gara-gara siapa cobak? Gara-gara Mas juga kan yang ngehamilin aku." Bulan meletup-letup.


"Sayang...,"


Bulan memukuli Dirga dengan bantal. "Aaaaaaa kamu jahat Mas. Awas aja kamu, Mas." Bulan semakin liar.


Dirga yang menghindari pukulan Bulan, tanpa sengaja keluar dari selimut dan menampilkan tubuh polosnya. Bulan tersenyum devil, ia semakin mendekat pada Dirga.


"Nggak, udah sayang. Jangan lagi. Mas capek." Dirga semakin beringsut mundur.


"Tapi aku mau makan Pino lagi." Bulan menaik-turunkan alisnya. Dirga semakin belingsatan, dan akhirnya


*brukk


"awwwhh*"


Dirga terjatuh kelantai dengan keadaan yang sangat memalukan. Lain halnya dengan Bulan yang malah semakin menggila melihat tubuh suaminya. Bulan berjalan memutari ranjang dan menghampiri Dirga. Matanya terfokus pada wajah tampan Dirga serta tubuh yang sangat sensuual, ditambah lagi banyaknya cap stempel yang semalam ia cetak dengan sempurna di tubuh putih suaminya. Ia meneguk saliva nya kasar.


"Nggak sa-"


"Iya juga nggak papa. Tapi aku yang di atas ya." Bulan duduk mengangkangg di atas paha Dirga.


"Sayang, arggghh," Dirga mengeerang saat Bulan menggesek-gesek kan miliknya. "Di atas kasur aja." Dirga menggendong Bulan dan merebahkannya dengan pelan. Ia sudah tak memikirkan lagi pinggangnya yang terasa remuk akibat berat badan Bulan. Kini yang ia inginkan ialah tubuh istrinya ada di bawah kungkungannya.


Dirga menyentuh bagian-bagian tubuh istrinya yang membuat Bulan tertawa terbahak-bahak karena geli, sekaligus puas karna telah berhasil merayu suaminya. Tangan Dirga tak tinggal diam, ia melucuti jubah mandi yang Bulan kenakan. Ia merasakan sensasi berbeda saat menyentuh tubuh Bulan yang dingin sedangkan tubuhnya masih hangat.


Dirga menyeesap kuat bibir mungil istrinya yang sudah agak membengkak itu. Ia mengekspos mulut Bulan dengan agresif. Jemarinya sudah sudah menjajah ke hutan amazon yang lembab. Bibirnya turun ke leher mulus sang istri, dan menyesapnya tak kalah kuat.


Bulan yang berada di bawah kungkungan suaminya hanya bisa melenguh menikmati nikmatnya pemujaan yang Dirga berikan. Ia mereemas rambut Dirga saat suaminya itu memainkan bagian dadanya yang membusung.


Dirga semakin menurunkan kepalanya hingga akhirnya sampai di depan gua sempit selalu ingin ia kunjungi untuk mendapatkan harta karun. Ia terus memberikan rangasangan plus plus hingga ia merasakan sesuatu yang tidak bisa ia tahan. Dirga kembali ke wajah istrinya, menatap manik wajah ayu yang sudah berkabut gairaah itu.

__ADS_1


"Mas, cepet..." rengek Bulan dengan nafas yang sudah tak naik turun.


"Oke, Beb." Sekelibat terlintas di pikiran Dirga untuk mengerjai istri nakalnya terlebih dahulu. Ia mulai menggesek-gesek kan Pino di daerah rawan Bulan. Bulan memejamkan mata menahan geli dan perasaan yang menginginkan lebih.


Bulan yang kesal dengan suaminya, langsung memegang pinggang Dirga agar berhenti untuk bermain-main. Otaknya sudah berkabut, ia hanya ingin menuntaskan apa yang ia inginkan.


Dirga tersenyum miring melihat kelakuan istrinya yang tidak sabaran. Lagi-lagi ide nya kembali muncul. Ia ingin istrinya memohon padanya sebagai balasan karna istrinya itu telah membuatnya kecewa melalui kata-kata beberapa hari silam.


"Udah deh. Aku lagi males, katanya nyesel nikah sama Aku." Dirga merebahkan tubuhnya di samping Bulan.


Bulan yang kaget langsung duduk dan menghadap suaminya yang memejamkan mata disampingnya. Ia mendengus kesal melihat Dirga yang malah memunggunginya.


"Mas..." Bulan menggoyangkan tubuh Dirga namun tak direspon. "Mas, aku kan udah minta maaf. Masak masih marah sih? Aku udah kasih servis full loh." rengek nya.


"Mas, ayo dong. hiks." Bulan memeluk tubuh suaminya dari belakang.


Dirga sekeras mungkin menahan diri saat merasakan dada empuk Bulan menyentuh naked punggungnya. Ia merasa punggungnya mulai basah, ia yakin Bulan tengah menangis dengan posisi yang sangat intim.


"Mas Dirga jangan diem aja dong. hiks." dibalik punggung, Bulan tersenyum tipis saat ia memijat Pino yang ternyata sudah ON. Ia tau suaminya hanya mengerjai dirinya. "Ya udah deh, aku mau ke Mall aja belanja sama Oliv." Bulan hendak beranjak namun tangannya ditahan oleh Dirga.


"Mau kemana? Mas kan belum maafin kamu." kesal Dirga.


"Aku udah berkali-kali minta maaf, tapi kayaknya Mas lebih suka kalo aku pergi aja." Bulan dengan nada pura-pura tersakiti.


grep


"Terus kalo Mas belum maafin kamu mau pergi gitu aja?" Dirga memeluk Bulan.


"Mas sensitif banget, apa-apa marah. Aku mau pergi aja, minggir." Bulan pura-pura memberontak.


"Pergi aja kalo bisa." Dirga tersenyum sinis. Kata-katanya bukan hanya kata-kata, itu berupa ancaman untuk Bulan kalau sampai berani melangkahkan kakinya keluar.


"A-"

__ADS_1


cupp


__ADS_2