Past For Future

Past For Future
Cemburu


__ADS_3

~Memulai hidup baru bersamamu


Seminggu kemudian Bulan dan Dirga memutuskan untuk tinggal di rumah baru yang sebelumnya Dirga siapkan untuk Alyssa. Meski awalnya Bulan menolak karna tak ingin meninggalkan ibunya, akhirnya memutuskan setuju setelah ibunya mengatakan tentang bakti seorang istri.


"Buk. Bulan pamit ya. ibuk baik-baik di rumah. Kalo ada apa-apa langsung telfon Bulan." pamit Bulan seraya memeluk ibunya


"Iya kamu hati-hati di jalan ya nak. Jadi istri yang nurut sama suami. Jangan lupa 5 waktunya" Ibu mengusap kepala anaknya


"Nak Dirga, ibuk titip Bulan ya. Jaga Bulan baik-baik" ucap ibu pada Dirga


"Ibuk tenang aja ya. Dirga bakal jaga Bulan baik-baik. Kami pamit ya buk" Dirga mengecup tangan ibu mertua nya



"Tuan, boleh mampir ke supermarket dulu untuk beli bahan-bahan? Tapi bayarin ya hehehe" ujar Bulan


"Hahaha oke. Tapi ada syaratnya" jawab Dirga


"what's that?" tanya Bulan


"Rubah panggilan untuk saya " Dirga menoleh dan menaik-turunkan alisnya


"Hmmm gimana kalo saya panggil Abang?" tawar Bulan


"Saya bulan Abang kamu" jawabnya


"Kakak?"


"No" tolak nya lagi


"Aa' "


"No no no"


"Pak tua??" tanya Bulan dengan tawa garing nya


"What??? Itu panggilan gadis ceroboh ke saya saat di Bandara. Ganti" Dirga sudah bad mood karna panggilan Bulan


"Anda masih mengingat itu?"


"Tentu. Kamu itu orang yang paling berani memanggil dengan sebutan absurd itu" ujar Dirga mengerucutkan bibirnya


"Oke-oke. Sorry, gimana kalo saya panggil 'mas' ?" Bulan memberi usulan lagi


"Mas?? ya udahlah itu lebih baik. Kita udah sampai. ayo turun" ajak Dirga


"Tu.. eh mas Dirga tunggu aja di sini. Biar saya yang turun"


"Saya ikut. Nanti kamu di culik om-om lagi"


"Hahaha ya nggak papa sekalian saya mau coba jadi sugar baby" canda Bulan yang membuat Dirga melotot tak percaya


"Saya masih sanggup biayain kamu. Jangan macem-macem" tegas Dirga lalu mengeluarkan kartu dari dompetnya


"Saya cuma bercanda mas" ujar Bulan cengengesan


"Nih untuk pegangan kamu. Terserah untuk apa aja" Dirga menyerahkan black card pada Bulan


"Black card???" mata Bulan berbinar


"Ini ambil."


"Mas Dirga simpan aja. Nanti saya minta uang cash aja kalo butuh. Saya takut khilaf megang kartu itu." tolak Bulan yang membuat Dirga tercengang


"Hei. Uang saya nggak bakalan habis kalo kamu tau. Sering-sering aja kamu khilaf. Hitung-hitung untuk ngurangi harta saya." ujar Dirga dengan sombongnya


"Cih, sombong" ucap Bulan lalu meraih kartu itu


"Suka-suka dong. Kode nya 235******" Dirga memberikan password-nya pada Bulan


"Makasih mas" ucap Bulan dengan senyum manisnya



Sesampainya di rumah baru, mereka segera membersihkan diri masing-masing. Bulan menggulung rambutnya yang basah dengan handuk dan menampilkan leher jenjangnya.


"Mas mau kemana udah kok udah rapi?" tanya Bulan yang melihat suaminya memakai setelan jas


Dirga tertegun sejenak dengan penampilan Bulan

__ADS_1


"Mau ke kantor. Kerjaan udah numpuk banget soalnya" jawab Dirga


"Ke kantor. Ya udah saya ikut ya. Saya siap-siap sebentar." ujar Bulan


"Emang siapa yang ngizinin kamu kerja?" Bulan langsung menghentikan langkahnya


"Saya di pecat?" tanya Bulan


"Iyup" jawab Dirga


Bulan memutar otaknya agar Dirga mengizinkannya bekerja. Lagian mau apa di rumah. Sedangkan pernikahan mereka saja masih di rahasiakan publik.


"Tapi mas. Kalo nanti saya di rumah aja terus tiba-tiba ada perampok gimana? Saya juga nggak berani keluar-keluar sendirian. Nanti kalo ada yang jahatin saya gimana?? Mas mau jadi duda muda??" ucap Bulan dengan nada mengancam


"Hei. Jangan bicara macam-macam. Saya cuma mau nikah sekali seumur hidup. Tapi Bukannya kamu jago bela diri?"


"Eh, jadi dia mau mempertahankan hubungan ini. Tapi Bintang" gumam Bulan


"Tapi kalo di keroyok gimana? Kan lebih baik saya ikut sama mas Dirga kerja aja. Biar mas Dirga bisa mantau saya." bujuk Bulan


"Ya udah cepet siap-siap. 10 menit dari sekarang" ujar Dirga sambil melirik jam tangannya


"Siap tuan" Bulan segera bergegas dan membiarkan rambut basahnya tergerai


....


Jam 9.30 mereka baru sampai ke kantor. Kedatangan Boss dan sekertaris nya itu tak luput dari gosip-gosip karyawan, pasalnya sudah seminggu ini Boss dan sekretarisnya tak menampilkan batang hidungnya.


Bulan segera menuju ke ruangan Marcel untuk menanyakan berkas yang akan ia kerjakan


"Maaf ya Lan berkasnya banyak. Kalo kamu capek bilang aja ke aku" ucap Marcel


"Nggak papa kok Cel. Makasih ya perhatiannya. Aku permisi dulu"


Hari ini mereka benar-benar lembur hingga malam. Bahkan untuk makan pun mereka makan di ruangan sambil mengerjakan pekerjaan meneka. Kini mereka bertiga sudah berpindah menuju ruangan Dirga untuk menyelesaikan pekerjaan mereka bersama-sama.


"Dari divisi pemasaran sudah kamu periksa Cel?" tanya Dirga yang kini duduk di samping Bulan.


"Sedang saya periksa tuan." Jawab Marcel yang masih fokus dengan laptopnya


"Lanjutkan"


"Mas" ucap Bulan tanpa mengeluarkan suara lalu menggelengkan kepalanya. Karna Marcel pun belum mengetahui status pernikahan mereka


"Ssssttt" Dirga menempelkan telunjuknya di bibir tanpa mengeluarkan suara juga


"Bulan, apa kamu sudah selesai dengan berkas yang saya minta tadi?" tanya Marcel yang membuat Bulan langsung melepas paksa pelukan suaminya


"Eh ini tuan Marcel, sudah saya selesaikan. ini" Bulan menyodorkan berkas yang Marcel minta


Bulan sekarang benar-benar tidak fokus. Karna Dirga terus menempel padanya dan mencuri-curi ciuman di leher yang membuat Bulan kegelian. Setelah semua selesai, kini mereka bersiap untuk pulang.


" Bulan, leher kamu kenapa?" tanya Marcel saat mereka telah masuk ke dalam lift


Bulan terkejut. Ia melirik ke arah suaminya yang hanya diam tanpa rasa berdosa.


"Eh, iya Cel. Ini tadi gatel-gatel. Kayaknya aku ada alergi sama makanan yang kita pesen tadi deh" Bulan mencari-cari alasan yang pas


"Tapi kamu nggak papa kan? Kita nanti mampir ke apotek ya. Sekalian aku anter kamu pulang" ucap Marcel dengan cemas seraya memegangi pundak Bulan.


"Ehemmm" Bulan membeku saat mendengar deheman suaminya


"Eh, nggak usah Cel. Aku numpang tuan Dirga aja. Soalnya tuan Dirga udah ada janji sama ibuk di rumah." Bulan mencoba memberi alasan meski ia gugup


Belum sempat menjawab pintu lift sudah terbuka. Dirga berjalan keluar mendahului mereka berdua.


"Cel. Aku duluan ya. bye" Bulan segera berlari untuk mengejar Dirga


"Lan.." Panggil Marcel yang tidak di hiraukan oleh Bulan


...


Dalam perjalanan pulang mereka sama sekali tak mengeluarkan sepatah kata pun. Hingga sampai di halaman rumah mereka


brakk


Dirga membanting pintu mobil dengan kuat. Bulan hanya di buat glagapan dengan kelakuan Dirga. Tadi di kantor suaminya itu nempel terus. Sekarang malah dingin dan seolah ia marah pada Bulan.


Selesai mengganti pakaiannya di walk-in closet, Bulan tak menemukan Dirga di dalam kamar. Ia melirik ke arah balkon kamar ternyata Dirga tengah merokok disana. Ini pertama kalinya Bulan melihat suaminya itu merokok. Bulan menghampiri suaminya itu

__ADS_1


"Mas" panggil Bulan


Dirga segera mematikan rokoknya. Namun ia tak menjawab panggilan Bulan.


"Mas" Bulan memegang lengan kekar Dirga


Dirga hanya diam lalu meninggalkan Bulan dan langsung masuk ke kamar. Bulan di buat bingung oleh kelakuan suaminya itu. Ia segera menyusul ke kamar dan ikut merebahkan tubuhnya di ranjang. Namun Dirga tiba-tiba memeluknya erat dan menciumi leher Bulan.


"Mas. Mas mau bunuh saya? Saya nggak bisa nafas" Bulan mencoba untuk melepaskan pelukan suaminya


"Ini hukuman buat kamu karna udah deket-deket cowok lain" Dirga merenggangkan pelukannya


"Cowok lain?? Siapa yang mas maksud? saya seharian tadi kan sama mas terus." Bulan mengerutkan keningnya merasa bingung dengan suaminya


"Marcel dan temen-temen absurd kamu itu " jawabnya singkat


"Ya ampun. Dia ngungkit ketiga absurd ku lagi.


Dan sekarang Marcel." Bulan hanya membatin dalam hati


"Hahaha mas cemburu sama Marcel?" Bulan terkikik geli dengan perkataan Dirga


cuuuuup


Nafas Bulan tersengal-sengal karna ulah Dirga. Ia hanya diam dan muka nya sudah seperti kepiting rebus.


"Muka kamu kenapa merah gitu?" goda Dirga


"Nggak papa" jawab Bulan asal


"Kita udah 2 kali ciuman lo sebelum kita nikah" Dirga menaik-turunkan alisnya


"Satu" Bulan menolak pernyataan Dirga


"Jadi yang di apartemen nggak kamu hitung?"


blush. Bulan membenamkan wajahnya di dada Dirga karna menahan malu. Dirga hanya terkekeh dengan kelakuan imut istrinya.


"Gimana kalo kita umumin pernikahan kita ke publik ??" Bulan menatap wajah Dirga


"Jangan mas" refleks Bulan


Dirga mengerutkan keningnya heran


"Kamu keberatan kalo Marcel dan pacar-pacar absurd kamu tau?" desak Dirga


"Eh. Bukan gitu mas. Saya belum siap aja. Apalagi kita nikah karna kak Alyssa. Saya belum siap nerima cacian orang-orang nanti. Tentu mas tau apa yang saya cemaskan " Bulan menundukkan kepalanya


Dirga sejenak berfikir


"Ya udah oke kalo itu mau kamu. Yang penting sekarang kamu nyaman aja. Jangan sedih lagi okee" Dirga mencium kening Bulan dengan sayang


Bulan akhirnya terlelap dalam pelukan Dirga


"entah kenapa aku nyaman banget di dekat kamu. Apa karna wajah kamu mirip sama Alyssa atau karena memang aku udah tertarik sama kamu dan ingin mengeluarkan kamu dari kenangan masa lalu. Entahlah, aku cuma pengen menjaga kamu. Tapi bolehkah aku egois saat Bintang nanti kembali ke kehidupan kamu? Bolehkah aku tetap meminta kamu tetap di sisiku? " Dirga sibuk dengan pikirannya dan tak terasa ia ikut terlelap di pelukan Bulan.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


Perasaan yang belum jelas, namun sudah nyaman satu sama lain. Semangat Dirga


Jejakmu sangat berarti untukku ♥️♥️

__ADS_1


__ADS_2