
"Maaf, i... ini maksudnya apa?" Oliv semakin panik saat para pelayan membawa banyak bingkisan masuk.
"Kedatangan kami tak lain ialah untuk melamar putri dari Tuan dan Nyonya Baskara, Olivia."
deg
Oliv membulatkan matanya tak percaya. Jemarinya mereemas sofa sembari menggigiti bibir bawahnya. Oliv melirik kearah kedua orangtuanya yang juga menoleh kearahnya. Tiba-tiba mereka dikejutkan dengan suara teriakan pria yang baru saja datang.
"Berhenti...!!!"
Semua orang berdiri terkejut karna kehadiran Dirga. Perasaan Oliv semakin kacau, masalah besar akan segera datang. Sorot tajam dari mata sang kakak yang semakin mendekat, membuat Oliv tak mampu lagi untuk menopang tubuhnya.
brukk
Kini semua orang mengalihkan perhatiannya pada Oliv yang ambruk tak sadarkan diri.
"Oliv...!!"
Dengan segera Dirga menghampiri Oliv dan menggendongnya menuju kamar terdekat. Wajah pucat dan mata sembab Oliv sudah cukup untuk membuat orang-orang tahu bahwa Oliv tengah menanggung luka yang dalam.
Marcel dengan susah payahnya menjalankan kursi rodanya menuju Oliv. Semua orang yang berkerumun di sisi ranjang Oliv, menyingkir dan memberi akses agar Marcel dapat melihat Oliv.
Dipandangnya wajah yang selalu ia rindukan. Kini terlihat sedikit berantakan dan tidak terurus. Marcel menggenggam tangan Oliv sembari menciumi tangan Oliv.
"Apakah tidak ada sela sedikitpun untuk kami berdua?" tanya Marcel. Semua orang terdiam tak membalas. "Kenapa sesulit ini untuk kami berdua?" Marcel bersuara lebih tinggi.
"Marcel, tenang dulu ya. Nanti Oliv keganggu." Mama Marcel mengusap punggung putranya.
Sedangkan Mama , Papa Tomi, dan Dirga saling bertatapan, kemudian Papa mengisyaratkan untuk keluar. Dirga patuh, namun tatapan mengintimidasi nya tetap ia layangkan pada Marcel yang berada di sisi Oliv.
"Papa sama Mama udah buat keputusan." ucap Papa saat telah berada cukup jauh dari kamar. "Kami akan merestui hubungan Oliv dan Marcel."
Dirga melotot tak percaya, tangannya sudah mengepal dengan sempurna. Rasanya sungguh tidak terima melepaskan adiknya pada pria yang tidak bermoral seperti Marcel.
"Aku nggak setuju, Pah!!" tegas Dirga.
"Coba untuk pahami adikmu, Ga. Apa kamu tega melihat adikmu seperti itu? Oliv sudah dewasa, dia bisa menentukan pilihannya sendiri. Tolong jangan terlalu keras, Ga." Papa mencoba memberi pengertian.
"Tapi, Pa-"
"Semoga Marcel mau mengorbankan itu." pungkas Papa.
"Ck. Arggghh," Dirga mengacak-acak rambutnya frustasi. " Tapi keluarga kita dan keluarga Marcel berbeda, Pa. Papa kenapa jadi berubah keputusan gini sih?? Papa tolong pikirin untuk kedepannya, Pa. Tuhan kita-"
"Dirga..!!" Mama angkat bicara. "Seenggaknya beri mereka ruang, Nak. Mereka baru mau lamaran, bukan menikah. Biarkan Oliv menentukan Pilihannya setelah ia mengetahui identitas Marcel. Tolong, Nak." Mama menepuk pundak Dirga, "Serahkan semua keputusannya sama Oliv. Mama yakin, Oliv akan bijak dalam menghadapi masalah selanjutnya setelah mengetahui identitas Marcel. Sekarang kamu sabar dulu, ya." Mama menepuk-nepuk punggung Dirga.
"Terserah kalian !!! Aku nggak akan ikut campur lagi." kesal Dirga kemudian berlalu dari orangtuanya.
__ADS_1
"Satu lagi," Dirga menghentikan langkahnya tanpa menoleh. "Pikirkan Genius. Apa kalian lupa siapa yang mengabdi pada kalian selama ini? Pikirkanlah, harta kita bisa hangus dalam sekejap di tangan Genius." Dirga tersenyum miring kemudian melanjutkan langkahnya.
"Pa..." Mama meraih lengan Papa yang masih menatap Dirga.
"Papa lebih kenal Genius daripada Dirga. Tapi Dirga sepertinya sudah kehilangan akal untuk tetap menggagalkan hubungan Oliv dan Marcel." Papa menyunggingkan senyum.
"Mama juga heran, kenapa Dirga sebodoh itu. Otaknya tidak digunakan dengan baik untuk mencerna keputusan kita."
"Permisi, Jeng Ranti, Tuan Baskara. Oliv sudah siuman. Oliv ingin bertemu dengan kalian." Mama Marcel berbicara dengan sopan.
Kini mereka kembali berkumpul, namun tetap di dalam kamar yang Oliv tempati. Kursi-kursi sudah sediakan oleh para pelayan agar para tamu dapat nyaman.
Oliv terduduk di ranjang dengan Marcel di sisi ranjangnya. Ia membuang muka enggan untuk menoleh kearah Marcel. Papa berdeham sebelum membuka pembicaraan.
"Baiklah, terimakasih atas kunjungan keluarga dari Tuan Cristian. Mohon maaf jika penjamuan dari kami kurang berkenan. Baik, langsung ke pembahasan inti saja. Saya dan istri saya sebagai orang tua dari Olivia Baskara, telah membuat keputusan, yakni kami merestui dan menerima niat baik Marcel untuk melamar putri kami." lugas Papa Tomi.
Semua orang menghela nafas lega. Perasaan bahagia menyelimuti mereka semua.
Kini Oliv yang masih membisu, ia masih mematung tak percaya pada ucapan yang Papa nya lontarkan. Rasanya sungguh aneh, kemarin orangtuanya sangat menentang hubungan Oliv dan Marcel, namun kini dengan cepatnya orangtuanya berubah pikiran. Oliv menoleh kearah Marcel saat merasa tangannya digenggam. Terlihat pancaran raut bahagia dari wajah Marcel.
Oliv masih tak percaya, ia memandang kearah kedua orangtuanya yang tengah tersenyum padanya. Masih seperti mimpi.
"Oliv, apa kamu bahagia bersama Marcel, Nak?" Mama menghampiri Oliv kemudian mengucap kepala Oliv lembut, "Maafin Mama sama Papa yang terlalu keras sama kamu. Kamu pantas untuk menentukan pilihanmu." imbuh Mama.
"Ma?? Pa??" Oliv memandangi wajah Mama dan Papanya bergantian. Mama dan Papa hanya mengangguk sebagai tanda 'iya'.
"Nak, kamu lihat tuh, Marcel bawa apa?" Mama melepaskan pelukan Oliv.
"Ma... hiks." Oliv masih bertahan di dada sang Mama.
"Kamu nggak malu sama Marcel dan keluarganya?? udah gede nangis begini." Mama kembali melepaskan pelukan Oliv.
Oliv mengusap air matanya dengan sisa isak yang masih tersisa. Oliv menoleh kebelakang memandang pria yang begitu memenuhi relung hatinya. Oliv tersenyum saat Marcel meraih tangannya dan menyematkan sebuah cincin di jari manisnya.
"I love you, Olivia Baskara."
"I love you more, Marcel Pradigta." Oliv tersenyum bahagia.
"Cieeeeeeeee....." sorak semua orang yang ada di kamar itu.
***
Dirga membanting semua yang terlihat di matanya. Ia menendang benda-benda yang tak bersalah tanpa ampun. Emosinya kian meluap. Ia mengacak-acak rambutnya dengan kasar.
prakk
"Maaasss..!!!" teriak Bulan yang baru masuk keruangan kerja Dirga.
__ADS_1
"Mas, kenapa dibanting semua. Kamu kenapa??" Bulan mendekat ke arah suaminya. "Mas..." Bulan menggandeng tangan suaminya yang tengah berkacak pinggang.
"Jangan ganggu Mas dulu Sayang." Dirga memijati pelipisnya.
"Duduk dulu, duduk dulu." Bulan menuntun Dirga untuk duduk di sofa. "Aku ambilin minum ya." tawar Bulan namun Dirga menggeleng.
"Nggak usah Sayang."
"Mas kalo marah jangan gitu dong. Nanti kalo baby nya batin Mas gimana? Baby kan harus jadi anak yang sabar." Bulan mengusap perutnya yang mulai buncit.
Emosi Dirga sedikit turun saat Bulan menyebut baby "Anak Papa baik-baik ya." Dirga ikut menyusupkan tangannya di perut Bulan.
"Papa kenapa kok malah-malah?" suara Bulan di buat seperti anak kecil.
"Mertua kamu nerima lamarannya Marcel. Kesel banget rasanya. Mas nggak rela banget huuh." Dirga menyandar pada sandaran sofa.
"Semua orang punya masalalu, Mas. Aku yakin Oliv mau nerima Marcel apa adanya."
"Sayang!" kesal Dirga sembari mengerutkan keningnya.
"Biarkan Oliv bahagia, Mas. Aku takut suatu hari nanti hanya ada penyesalan saat mereka nggak bersamaan. Jangan sampe nasib Oliv sama kayak aku, Mas."
"Ohhhh." Dirga menegapkan tubuhnya. " Jadi kamu nyesel karna nggak bersama sama masa lalu kamu? Kamu nyesel karna nikah sama Mas?" Dirga berdiri dan beranjak meninggalkan Bulan.
"Eh, Mas. Bukan gitu maksud aku. Massss.."
brakkk
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
__ADS_1
See you next episode guys ♥️