
Masih di tempat yang sama, namun suasana basecamp kini kian riuh karna salah satu di antara mereka tak sadarkan diri. Nia yang tengah berusaha untuk menyadarkan Oliv pun menjadi ikut panik. Pasalnya Oliv sudah lima menit tak kunjung membuka matanya.
"Liv, cepet bangun dong, heiii." Nia terus menepuk pipi Oliv dan mengolesi minyak kayu putih di sekitaran leher Oliv.
flashback on
"Aku akan mengikuti mu kemanapun kau pergi..." suara seram membisik di telinga Oliv.
Oliv langsung mendelik kemudian menoleh ke kanan dan ke kiri dan rupa rupanya tak ada orang.
"Aaaaaaaaaaaa..." Oliv bangkit dari rebahan nya sembari menutup matanya.
"Kamu kenapa, Liv?" tanya Nia cemas.
"Nggak, nggak, jangan ganggu aku--"
bruk
Oliv ambruk tak sadarkan diri akibat kaget dan jiwa penakutnya kambuh. Semua orang yang masih ada di basecamp langsung mengerubungi Oliv. Hingga Akhirnya Oliv menjadi objek utama mereka saat ini.
Flashback off
"Ini gara-gara kamu sih, Dam. Pake acara nakutin Oliv segala. Gimana nih jadinya?" kesal Nia. Si Adam hanya cengengesan sembari menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
"Kasih nafas buatan aja, mbak." Usul salah satu pendaki.
"Duh, tapi saya nggak tau caranya." Nia menggaruk tengkuknya. "Kak Gema aja deh." Usul Nia diiringi cengengesan nya.
"Hei kamu, sini." Gema memanggil salah satu pendaki wanita. "Kamu pasti bisa kan nolongin dia?" Wanita itu hanya mengangguk antusias kemudian mendekatkan bibirnya pada bibir Oliv.
"Woeeeek woeeek." Oliv mual-mual dan sadar dari pingsannya. "Busetttt bauk apa inii, woeeek." Oliv terus mual.
"Bubar dulu ya." Gema meminta para pendaki yang berkerumun untuk membubarkan diri. "Sini minyak kayu putih nya." pinta nya pada Nia.
Gema mengucir rambut Oliv dengan gelang yang ia pakai, kemudian membaluri tenguk Oliv dengan minyak kayu putih sembari memijitnya pelan.
"Udah keluarin aja, kekenyangan ya?" Gema berbicara dengan nada halus. "Udah??" Oliv hanya mengangguk. Gema dengan sigap mengelap mulut Oliv dengan telapak tangannya tanpa rasa jijik sama sekali.
Oliv yang kesadarannya belum pulih seratus persen, hanya menerima saja semua perlakuan Gema padanya.
"Sini, masih pusing hmm?" Gema membawa kepala Oliv ke dadanya seraya mengusap kepala Oliv dengan lembut. "Rileks, jangan tegang. Kita pulang aja abis ini ya." bujuk Gema.
"Nggak, jangan sekarang." Lirih Oliv masih dalam dekapan Gema.
Adam dan Nia saling pandang dan sama-sama menyunggingkan senyum melihat adegan mesra yang Gema lakukan untuk Oliv. Sedangkan Oliv tampak memejamkan matanya, mungkin pusing di kepalanya belum hilang.
"Gimana kalo kita ke pemukiman dulu. Kayaknya Oliv butuh istirahat dulu." Usul Nia, Adam dan Gema hanya manggut-manggut setuju.
__ADS_1
"Nggak, jangan, Ni. Gue beneran nggak papa kok. Gue cuma kaget aja tadi." elak Oliv. "Tapi mulai jalannya bentar lagi ya." imbuhnya masih tanpa sadar dengan posisinya saat ini.
deg
Oliv langsung membulatkan matanya dengan sempurna saat ia merasakan degupan jantung yang berdebar tepat di depan telinganya. Ia mengumpulkan kepingan-kepingan ingatannya. Terakhir ia juga merasakan degupan jantung dari Gema saat ia digendong.
Akhirnya Oliv melepaskan pelukannya dengan perlahan, ia melirik kearah pria yang tadi ia peluk. Muka Oliv semakin merah, ia tersenyum kecut saat melihat wajah cuek Bima itu tersenyum padanya.
"Udah mendingan?" tanya Gema.
"Udah kok, By the way, thanks ya." Oliv tersenyum canggung sembari memijat tenguknya. "Ya udah, kita lanjut yuk. Gue udah nggak papa kok."
"Kita ke pemukiman warga aja dulu, Liv." bujuk Nia.
"Ya ampun, Ni. Gue pokoknya mau lanjut. Ayok." Oliv beranjak dari duduknya kemudian meraih tas Carrier- nya.
"Tapi nanti kalo ada yang capek jangan ditahan ya. Harus langsung bilang." Adam memberi instruksi.
Mereka bertiga hanya menggelengkan kepala melihat tingkah Oliv. Dan dengan terpaksa mereka ikut bergegas menuju trip selanjutnya. Dengan semangat membara disertai doa yang telah mereka panjatkan pada Tuhan Yang Maha Kuasa.
Untuk menuju pos selanjutnya, mereka harus menempuh perjalanan selama tiga jam dengan berjalan kaki. Inilah awal perjuangan untuk menuju puncak gunung yang tinggi menjulang tinggi menantang langit.
Keempat pendaki yang teramat cinta pada alam itu tampak bersemangat. Keinginan menuju puncak dengan selamat tanpa terjadi apapun. Karna mereka tiba di basecamp tadi sudah cukup terik, belum lagi istirahat yang cukup lama, kini waktu sudah menunjukkan sore hari.
"Break!!!" Seru Oliv dengan nafas tersengal. Mereka akhirnya berhenti dan beristirahat sejenak.
"Thanks Ni. Ya udah lanjut yuk." Ajak Oliv.
"Mau kemana?" Adam terkekeh.
"Kan belum sampe pos." jawab Oliv polos.
"Kata siapa? terus itu apa??" Adam membawa pandangan Oliv menuju pos yang ada disebelah Timur.
Oliv hanya cengengesan saat melihat pos yang ternyata ada di dekatnya. Ia tak sengaja melirik kearah Gema yang sejak dari basecamp tadi hanya diam dan cuek, bahkan ia tak melirik sedikitpun pada Oliv.
"Ya udah, kita ambil wudhu dulu yuk. Terus jamaah." usul Nia yang dibalas anggukan oleh Oliv, Adam, dan Gema.
Mereka berempat dengan khusu' melakukan kewajiban mereka sebagai umat muslim. Adam yang menjadi imam, sedangkan Gema, Oliv, dan Nia menjadi makmum.
Hari semakin gelap, namun mereka memutuskan untuk langsung melanjutkan perjalanan menuju pos selanjutnya yang lebih jauh dari pos sebelumnya. Dengan langkah yang semangat serta doa-doa yang terus mereka ucapkan dalam hati mereka, kini mereka berjalan dengan senter yang menyorot.
Happp
Tanah yang lembab dan berlumut membuat jalan menjadi licin bila tak berhati-hati. Oliv memejamkan matanya saat dirinya hendak mencium tanah, namun tak kunjung terjatuh. Gemetar hebat dalam tubuhnya seolah berangsur menghilang. Ia membuka matanya perlahan, satu objek yang kini ia tangkap ialah mata tajam yang terkadang menjengkelkan untuknya.
"Makanya kalo jalan tu pake mata." Ketus Gema kemudian membantu Oliv berdiri.
__ADS_1
"Ya namanya juga musibah." Oliv membela dirinya.
Oliv mendengus kesal saat Gema tak merespon ucapannya. Mereka mengejar langkah Nia dan Adam yang berjalan mendahului mereka. Tak berselang lama, mereka sampai pada pos kedua setelah menempuh perjalanan selama kurang lebih empat jam.
Keempat pendaki yang membawa satu amatir itu segera memasang tenda yang mereka bawa. Satu tenda untuk Nia dan Oliv, satu tenda lagi untuk Adam dan Gema.
Oliv dan Nia membuat api untuk memasak mie instan dan membuat minuman. Perjalanan yang sudah cukup panjang membuat tenaga mereka cukup terkuras. Setelah usai, mereka menyantap makanan seadanya ala pendaki, kemudian melakukan kewajiban sebagai umat muslim.
"Gue masuk duluan ya, Liv." pamit Nia pada Oliv.
"Gue juga ya. Inget, nanti harus tidur. Karna nanti jam dua kita mulai track lagi." pamit Adam kemudian memberi instruksi.
hening
Kini tinggal Oliv dan Gema yang berada di depan api dengan. Oliv mendekatkan tangannya kearah api untuk menyalurkan hangat ke tubuhnya. Suhu udara yang semakin dingin membuat siapapun orang yang baru ingin mencoba mendaki akan merasakan tantangan beratnya.
Gema hanya diam memandangi wajah Oliv dalam keremangan cahaya. Wanita yang ada di depannya sungguh keras kepala, namun juga gigih.
"Kak Gema..." panggil Oliv tanpa menoleh kearah Gema. "Kak Gema udah berapa kali daki gunung?" tanya Oliv.
"Tiga belas." Jawab Gema singkat. "Dan mungkin ini jadi yang terakhir." imbuhnya bicara dalam hati.
"Wooow, keren banget." Oliv tersenyum sambil memandangi api yang mungkin sebentar lagi tinggal arang. "Aku boleh nanya lagi?"
"Hmm," Gema berdeham meng-iyakan.
"Kenapa jantung Kak Gema selalu berdebar?"
*Duarrr
Mak Kluntang*
.
.
.
.
.
.
.
Terimakasih sudah baca, silahkan tinggalkan jejak mas, mbak, Mak, Pak😁
__ADS_1
Sampai jumpa di episode selanjutnya ♥️♥️