Past For Future

Past For Future
posesif


__ADS_3

Happy reading ♥️


.


.


.


.


.


.


.


.


.


Hoekk hoeekk


Dirga memuntahkan isi perutnya saat selesai mandi.


"Kamu kenapa mas?? buka pintunya" teriak Bulan dari luar kamar mandi


cklekk


Pintu dibuka dan menampilkan wajah pucat Dirga yang hanya memakai handuk di pinggangnya.


"Mas kenapa?" tanya Bulan lagi namun Dirga kembali masuk ke kamar mandi saat merasakan gejolak dari dalam perutnya.


"Mas masuk angin kayaknya ini." Bulan mengikuti lalu memijat tenguk suaminya.


Setelah selesai dengan acara mual nya, Bulan menuntun Dirga untuk duduk di sofa.


"Hari ini nggak usah ke kantor dulu ya. Aku ambil baju ganti mas dulu." ujar Bulan yang hanya dibalas anggukan kepala Dirga.


"Pakein." pinta Dirga manja saat Bulan membawakan baju.


Bulan melotot tak percaya dengan Dirga yang semakin hari semakin manja.


"Hei pak tua, lalu bagaimana dengan keadaan wajahku nanti saat melihat Pino mu itu" resah Bulan dalam hati


"Cepetan dong sayang. Dingin..." perintah Dirga lagi dengan manja.


"Emang nggak bisa pake sendiri?" tanya Bulan


"Pakein atau satu ronde lagi?" tanya Dirga balik dengan mengancam.


Dengan segala keterpaksaan akhirnya Bulan memakaikan bayi besarnya baju sambil sesekali menghela nafas.


"ini ni akibatnya terlalu semangat olahraga malam. Bukannya sehat malah buat masuk angin." omel Bulan saat mengancingkan baju Dirga.


"Aku lagi males debat sayang. Mau nya peluk" manja Dirga lalu merengkuh tubuh wangi istrinya.


"Kita sarapan dulu ya mas. Habis itu minum obat." bujuk Bulan.


"Perut mas masih mual sayang. Elus-elus dulu." pinta Dirga


"Pake minyak kayu putih ya."


"hmmm"


Bulan pun mengambil minyak kayu putih lalu mengelus perut sixpack Dirga.


"Gimana udah enakan?" tanya Bulan


"Lumayan. Tapi pinggang aku pegel banget sayang." keluh Dirga lagi pada istrinya.


"Itu artinya olahraga malamnya harus puasa dulu." ujar Bulan yang membuat Dirga mengerutkan keningnya.


"Mas udah terlalu sering puasa gara-gara kamu sibuk jaga Bintang loh. Bisa-bisanya kamu bilang gitu. Terus kamu tiap hari tiap malam mau jagain Bintang tanpa mikirin perasaan mas??" ucap Dirga dengan kesal.


"Kok jadi ngarah ke Bintang sih mas." tanya Bulan.


"Emang bener kan?? udah sebulan lebih loh kamu sibuk sama Bintang. Sebenernya selama ini mas kamu anggap apa sih??" tanya Dirga yang sudah tersulut emosi.


"Mas..." Bulan memegangi tangan suaminya untuk menenangkan.


"Mulai besok kamu ikut mas ke kantor. Nggak ada bantahan." ujar Dirga dingin.


"Mas kamu tau sendiri kan kalo Bin..."


"Bintang adalah cinta pertama kamu yang begitu berkesan di hidup kamu. Bahkan Bintang menjadi prioritas di hidup kamu dibandingkan suami kamu sendiri. Mas tau itu." Dirga memotong ucapan Bulan

__ADS_1


"Tapi Bintang butuh support mas. Bintang juga adik sepupu mas loh. Kenapa mas tega bilang kayak gitu?" Bulan mencoba memberi pengertian pada suaminya.


"Siapapun orang itu, suami mana yang nggak cemburu melihat istrinya bersama pria lain setiap waktu Bulaaan!!" ujar Dirga dengan nada yang tinggi dan penuh penekanan.


"Mas ma.."


"Terseraaaahhh!" teriak Dirga memotong ucapan Bulan.


brakkk


Dirga membanting pintu dan keluar dari kamar.


"hiks hiks" Bulan sangat terkejut dengan bentakan suaminya.


Setelah 30 menit menangis, kini Bulan berjalan gontai menuju makan. Dilihatnya suaminya duduk di kursi sembari menopang dagunya dengan kedua tangannya. Bulan menghela nafas sebelum melangkahkan kakinya menuju meja makan.


Bulan duduk di samping Dirga lalu mengisi piring suaminya dengan nasi dan lauk pauk kemudian mengisi piringnya sendiri.


Tak ada yang mengeluarkan sepatah katapun. Bulan membisu, begitupun dengan Dirga.


Ting


Dirga menjatuhkan sendok kasar lalu berlari menuju menuju wastafel dapur.


"hoeeek hoekk" Dirga kembali mengeluarkan isi perutnya yang baru saja terisi.


"Kita ke dokter ya mas." ujar Bulan sambil memijat tenguk suaminya.


"Nggak usah." ketus Dirga.


Bulan menghela nafas panjang.


"Kita ke Mansion hari ini." ujar Dirga datar.


"Tapi minum obat dulu ya." pinta Bulan namun ucapannya tak ditanggapi oleh suaminya.



Sepanjang perjalanan mereka berdua hanya membisu tanpa berniat membuka pembicaraan, hingga akhirnya mereka sampai di mansion orang tua Dirga.


"Assalamualaikum." salam Dirga saat memasuki Mansion.


"Waalaikumsalam. Tuan Dirga, Nyonya Dirga silahkan duduk dulu. Saya panggilkan Tuan dan Nyonya sebentar" ujar pelayan yang menyambut mereka.


Setelah menunggu beberapa saat, papa dan mama kini turun lalu menyapa Bulan dan Dirga.


"Hai anak-anak mama..." sapa mama


"Hai pa, ma." Bulan bangkit lalu menyalimi tangan mertuanya dengan takzim.


"Mama kangen banget sama kamu." Mama memeluk erat tubuh Bulan.


"Bulan juga kangen ma." Bulan membalas pelukan ibu mertuanya.


"Hai Ga. Sini dong kamu kok diem aja sih." Mama hendak memeluk Dirga namun Dirga mundur sambil menutupi hidungnya.


"Mama pake parfum apa sih. Dirga mual banget" ucap Dirga.


"Mama pake parfum biasanya kok Ga." Mama menciumi tubuhnya sendiri untuk memastikan.


"Mama kangen sama kamu. Sini." Mama memeluk Dirga namun dengan cepat Dirga melepasnya dan berlari menuju toilet terdekat.


"Dirga kenapa Lan?" tanya papa keheranan


"Masuk angin pa. Bentar ya." Bulan menyusul Dirga ke toilet


"Emang mama salah parfum pa?" tanya mama pada suaminya


"Bau nya kayak biasanya kok ma. Dirga aja yang lebay." jawab papa



Di lain sisi, Bulan tengah sibuk memijit tenguk suaminya dengan sabar.


"Udah." Dirga melepaskan tangan Bulan dari tenguk nya.


"Mas makan ya. Dari tadi belum ke isi loh." bujuk Bulan


"Apa kamu nggak lihat kalo aku mual waktu makan?" tanya Dirga ketus


"Ya udah makan bubur aja gimana?" tawar Bulan


"Nggak" ketus Dirga lalu melangkah meninggalkan istrinya


"Sabar Bulan. Ini salah kamu sendiri. Kamu sendiri yang membuat diri kamu terjebak dalam posisi ini." Bulan berbicara dengan dirinya sendiri dalam hati.

__ADS_1



di ruang keluarga


"Nak, ayo kita ke taman. Mama mau lihatin bunga-bunga koleksi mama" ajak mama sembari menggandeng tangan Bulan


"Besok aja ma. Biar Bulan nemenin Dirga aja, Dirga bener-bener nggak enak badan ini." pinta Dirga pada mama


"Ya udah sana ke kamar. Bulan tolong sabar sama bayi besar kamu ya." timpal papa


"Iya pa. Ya udah kami ke kamar dulu ya pa, ma." Pamit Bulan pada mertuanya


"Ayok mas." Bulan menggandeng Dirga menuju kamar pribadi Dirga.



"Minta pelayan buatin rujak buah. Jangan yang pedes." pinta Dirga saat mereka telah sampai di kamar


Bulan pun meng iyakan perintah Suaminya lalu membawa rujak buah ke hadapan suaminya.


"Makan bubur dikit dulu ya. Biar perutnya nggak panas." ujar Bulan pada Dirga yang hanya di angguki kepala.


"Suapin." ucap Dirga ketus yang membuat Bulan mengerutkan keningnya bingung.


"Tadi manja, terus marah, dan sekarang minta disuapin. Kamu makin hari makin aneh mas" gumam Bulan dalam hati.


Selesai dengan acara makan rujak, kini Dirga merebahkan tubuhnya di atas ranjang.


"Sini." Dirga memberi isyarat pada Bulan dengan lambaian tangan.


Bulan duduk di tepi ranjang lalu Dirga memindah kepalanya ke paha Bulan.


"eh" kejut Bulan.


"Pusing. Pijetin." titah Dirga namun masih dengan nada yang ketus.


Bulan pun memijat kepala suaminya hingga terlelap.


Ting


Satu pesan masuk di ponsel Bulan. Ia membuka pesan yang dikirimkan oleh grup teman absurdnya.


Tanpa sadar ada mata yang mengawasi Bulan saat Bulan sibuk bertukar pesan sambil senyum-senyum sendiri. Tiba-tiba ponsel Bulan melayang dan


Praakk


Ponsel Bulan dilempar ke dinding dengan kuat dan tanpa ampun hingga hancur. Bulan menoleh kebawah melihat suaminya yang masih terpejam. Dengan segera Bulan memindahkan kepala suaminya.


"Berhenti jadi anak kecil mas!!!" teriak Bulan dengan air mata yang sudah bergelimang.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


Baku hantam yok mas Dirga 😑😑


Jangan lupa tinggalkan jejak cuyy 😁


Jangan segan untuk memberikan kritik dan saran. Supaya author bisa lebih baik lagi kedepannya 🙏🤗

__ADS_1


__ADS_2